
"Alina kau dari mana saja nak, ayah dan ibu terus menelepon mu tapi kau sama sekali tidak mengangkat nya. Kami sangat khawatir padamu." Baru saja keluar dari mobil Alina langsung dihujani banyak pertanyaan dari orang tuanya
Zayn yang ikut keluar merasa familiar dengan orang tua Alina.
"Iya Alina, kau dari mana saja? Ibu sangat khawatir padamu." Pungkas Bu Maya
"Ayah, ibu. aku baik-baik saja seharian ini aku di rumah sakit. Maaf ayah, ibu handphone ku kehabisan baterai dan sekarang baru terisi, tapi aku tidak sempat melihat handphone ku. Jadi aku tidak tahu jika kalian berusaha terus menelpon ku."
"Yasudah tidak apa-apa, yang terpenting kau pulang dengan selamat. Ayah dan ibu senang kau baik-baik saja." Ucap Pak Hendro ayah Alina
"Tunggu! Di mana mobilmu nak? Ini mobil bukan mobilmu, kau diantar oleh siapa?" Tanya Bu Maya ibu Alina yang dari tadi merasa aneh
Sontak pak Hendro dan Bu Maya melirik kearah laki-laki yang sedang berdiri di samping pintu mobil dengan tegap yang tingginya 178 cm.
Saat Bu Maya dan pak Hendro melirik ke arahnya, Zayn langsung menunduk dan tersenyum seolah memperkenalkan diri.
"Zayn...??" Ucap pak Hendro dan Bu Maya yang bersamaan
Alina yang mendengarnya merasa keanehan.
"Jadi kalian sudah saling kenal." Tanya Alina
"Ya ampun aku mimpi apa hari ini, setelah bertahun-tahun akhirnya kita bertemu lagi zayn. Aku tidak menyangka kau tumbuh setampan dan setinggi ini, sampai mengalahkan paman." Senang Pak Hendro
"Terima kasih paman, aku juga senang bisa bertemu kembali dengan paman." Jawab Zayn sambil tersenyum
"Iya Alina, ini Zayn anaknya pak Irfan.
__ADS_1
kebetulan ayahnya adalah teman ayah." Jelas pak Hendro yang membuat Alina masih tidak menyangka
"Ayo Zayn masuk dulu?" Lanjut pak Hendro
"Tidak perlu paman, ini sudah malam.ayah dan ibu ku pasti sudah menunggu pulang, lagi pula ini sudah malam paman." Ujar Zayn
"Padahal paman ingin mengobrol denganmu. Tapi kau ada benarnya, ini sudah malam. Lain hari sempatkan waktumu ke rumah paman lagi bersama Alina."
"Iya paman. Jika begitu aku permisi."
Zayn pun masuk mobil dan melajukan mobilnya untuk pulang
Keluarga Alina pun masuk ke dalam.
"Alina ayah senang kau dekat dengan Zayn, Zayn itu anaknya sangat baik dan sopan. Kapan kalian akan segera menikah?" Ucap pak Hendro yang membuat Alina terkejut di kalimat akhirnya
"Tapi kalian sangat cocok, kapan-kapan ajak dia kemari lagi ya."
"Iya-iya, aku sudah mengantuk. Aku pergi ke kamarku ya, yah!"
"Iya, selamat tidur."
Alina pun meninggalkan ayah dan ibunya untuk beristirahat di kamarnya, saat sampai di kamar ia langsung merebahkan diri nya di kasur yang empuk dan mewah miliknya itu.
"Hahhh (Alina menghela nafas panjang) hari ini sangat melelahkan." Alina mengambil handphone di dalam tasnya.
Dan betapa terkejutnya ia ketika melihat begitu banyak panggilan dari pak Aris. pikirannya pun langsung tertuju pada Ivan.
__ADS_1
"Ivan!? Aku hampir lupa dengan dia. Ivan pasti sangat sedih karena aku tidak mengabari dirinya selama 1 Minggu ini. Aku akan berusaha menemui dia besok."
Alina pun memutuskan membersihkan diri. Setelah membersihkan diri ia langsung tidur.
Pagi hari~~
"Arfan, tepat hari ini usia kehamilanku 6 bulan. Sebentar lagi kita akan bertemu dengan anak kita." Ucap Nadine pada Arya yang sedang memakai dasi
"Aku tidak sabar menantikan anak kita. Setelah anak kita lahir nanti aku akan memberikan dia begitu banyak kasih sayang." Ucap Arfan sambil mengelus perut Nadine yang sudah membesar
"Aku akan menyiapkan sarapan untukmu, kau lanjutkan saja bersiapnya."
Arfan menjawab dengan anggukan.
Ivan sudah bersiap-siap untuk sekolah, setelah selesai dia langsung berjalan keluar kamarnya untuk sarapan pagi.
Tapi saat sampai depan kamarnya dia melupakan sesuatu, dan kembali masuk untuk mengambil barang yang ditinggalkan nya.
"Aku lupa membawa kelereng ku, ibu guru kan sudah meminta untuk membawa kelereng." Ivan masuk lalu setelah mengambilnya dia keluar kembali dan menuju meja makan menuruni tangga
Di tangga sudah ada Nadine yang sama menuruni tangga, Ivan belum menyadarinya ia masih sibuk menghitung kelerengnya siapa tahu kurang. Saat Ivan menghitung kelereng, salah satu kelereng terjatuh menyusuri tangga. Saat itu juga terdengar suara orang berteriak keras dan suara benturan jatuh keras dibawah.
"Aaaaaakkkhhh..." Suara Nadine berteriak,ia terpental-pental jatuh dari tangga. Dan tergeletak dibawah tangga dengan keadaan tak sadarkan diri.
Semua penghuni rumah yang mendengar suara teriakan keras, seketika langsung melihat ke arah sumber suara.
Terutama Arfan ia mengenali suara teriakan itu dan langsung berlari untuk melihat.
__ADS_1
Sedangkan Ivan yang menyaksikannya dengan mata kepalanya sendiri langsung terdiam membeku dengan perasaan yang tidak tenang dan ketakutan.