Ibu Mirip Untuk Anakku

Ibu Mirip Untuk Anakku
51. Waktu Untuk Memahami


__ADS_3

Keesokan harinya, Arfan tidak sengaja melihat Tristan lagi dan seketika itu pula detak jantungnya jadi tak beraturan lagi. Dia langsung menelepon Asisten Hans, menanyakan apa artinya seorang pria mengantarkan wanita pulang.


"Kekasih yang sedang bermesraan." Jawab Asisten Hans.


Tapi menurut informasi yang Arfan dapatkan tentang Alina, tidak ada informasi tentang pria baru ini. Asisten Hans menyarankannya untuk berjuang lebih keras lagi. Pria baru setelah Zayn itu, kemungkinan bisa menjadi saingan cinta dan batu sandungan Arfan dalam mendapatkan Alina.


Maka, Arfan pun memutuskan mendatangi kliniknya Tristan dengan gaya pongahnya, padahal Tristan menyambutnya dengan ramah, mengira jika dia datang untuk melihat kucing peliharaannya Alina.


Arfan langsung kesal mendengar Tristan menyebut nama Alina dengan nada akrab. Sejak kapan 'Tunangannya' memelihara kucing?


Tepat saat Tristan membawa keluar kucing itu, Alina juga muncul untuk menjenguk kucingnya dan langsung mendorong Arfan ke samping. Arfan mencoba menarik perhatiannya dengan batuk-batuk, tapi Alina malah mengira dia flu dan langsung mengusirnya.


"Jika sakit, pergi jauh-jauh dari sini. Kau bisa saja menularkan virus berbahaya yang akan membuat semua di sini terinfeksi."


Alina bahkan mengabaikan Arfan untuk mengajak Tristan makan siang bersamanya di restoran biasa tapi terkenal dengan makanannya yang luar biasa nomor satu enak di kota ini untuk merayakan kembalinya Tristan.


"Aku setuju, Tapi apa Tuan Arfan juga ikut?" Tanya Tristan.


Arfan ingin, tapi Alina mendadak menyela, menyatakan jika Arfan tidak perlu ikut.


"Tidak perlu. Mana mungkin CEO ternama ingin masuk ke restoran biasa yang berminyak dan berisik." Sindir Alina.


"Benar. Tunangan ku lebih tahu banyak tentang diriku. Aku mana mungkin makan di tempat yang mungkin saja kumuh, digandrungi lalat dan makanan yang tidak sehat itu." Arfan dengan penuh harga diri menyetujui ucapan Alina dan mulai menggerutu menghina makanan yang sama sekali tidak sehat itu. Dia, Arfan, tidak pernah makan makanan semacam itu.


Padahal begitu kedua orang itu pergi, Arfan langsung mencari informasi mengenai restoran itu dan diam-diam membuntuti mereka. Dia duduk di meja terdekat, mengawasi mereka dengan ketat sambil menutupi setengah mukanya dengan buku menu, dan cemburu saat melihat Tristan mengambilkan lauk kesukaan Alina dan sebuah ikat rambut.


"Aku lihat semua artikel yang menggosipkan mu sudah hilang." Bincang Tristan.


"Itu semua berkat pria itu. Dia yang berbuat, dia juga yang harus membersihkan namaku. Aku akui dia tidak terlalu buruk." Alina mengaku jika itu berkat Arfan, dan dia akui, ternyata Arfan tidak begitu menyebalkan.


Di sisi lain, Seorang pelayan mencoba menanyainya tentang menu yang dia pesan.


"Tuan, Anda ingin pesan apa?" Tanya pelayan.


Arfan asal saja memesan sembarang menu saking fokusnya mengawasi mereka. Yang tidak disangkanya, menu yang dia pesan itu menu ulang tahun dan tiba-tiba saja para pelayan meletuskan konfeti dan kompak paduan suara menyerukan ucapan ulang tahun untuknya.


Pandangan Alina dan Tristan pun teralihkan. Dan membuat Arfan ketar-ketir penyamarannya diketahui.


"Sedang apa dia di sini? Apa dia mengikuti kita?" Kesal Alina.


Parahnya lagi, tiba-tiba ada MC yang mengumumkan sebuah game. Aturannya, mereka akan menyalakan lagu. Saat lagu berhenti, jika ada seorang pelanggan yang memeluk lawan jenisnya, maka dia akan mendapat diskon 50%. Jika bisa menciumnya, maka makanannya gratis.


Wah! Arfan langsung panik mengira Tristan akan mencium Alina. Dan err... sepertinya Tristan memang memikirkan itu dilihat dari tatapannya pada Alina. Arfan menjadi makin panik menyadari tatapan Tristan itu. Apalagi kemudian MC mulai menyalakan musiknya.


Begitu musik berhenti, Tristan dan Arfan sontak beranjak bangkit pada saat yang bersamaan. Tristan ingin mendekati Alina, tapi dihadang tepat waktu oleh Arfan.

__ADS_1


Pose mereka yang terlalu menempel jadi terlihat seperti mereka yang berpelukan. Dan Alina mendadak berinisiatif mengajak mereka selfie bersama. Tapi bukannya Arfan tadi mengatakan tidak ingin datang. jika begitu dia duduk dan makan saja bersama mereka. Arfan langsung setuju dengan senang hati, Tristan yang tidak senang di sana.


...***...


Keesokan harinya, Arfan berolahraga bersama Asisten Hans. Tapi pikirannya tidak tenang memikirkan Tristan yang penuh perhatian pada Alina semalam. Ia pikir dengan menyingkirkan Zayn semua masalah sudah selesai, rupanya masih ada Tristan yang perlu ia habisi sekalian.


Ada banyak pengawal yang menjaga mereka. Asisten Hans menjadi kesal, keberadaan para pengawal itu bisa mencegah para wanita cantik mendekat. Ngomong-ngomong tentang wanita cantik, Asisten Hans penasaran apakah pesonanya sekarang sudah mulai menurun.


"Aku memang tidak tertarik padamu." Ujar Arfan.


"Tapi aku mencintaimu." Bercanda Asisten Hans.


Cih! Arfan langsung risih dan jijik menjauhinya. Asisten Hans sontak memprotes sikapnya ini, pantas saja dulu Kirana pergi ke luar negeri (Oh, siapakah itu Kirana? Mantan kekasihnya Arfan sebelum menikah dengan mendiang istrinya Alina, kah?).


"Apa Tuan tidak penasaran tentang alasan kepergian Nona Kirana?" Tanya Asisten Hans.


"Dia memiliki alasannya sendiri untuk pergi." Arfan menjawab santai dan dia sama sekali tidak peduli apa pun alasan itu.


"Tentu saja. Ada banyak orang yang menyukaimu, kau juga tidak kekurangan, kan? Jika begitu, Buka kembali hatimu dan berusahalah. Segera dapatkan Dokter Alina, lalu nikahi dia."


Tak lama kemudian, Arfan membawa Ivan ke kantin perusahaannya, lalu meninggalkannya di sana karena dia harus rapat. Ivan hanya bisa mendengus kesal karenanya.


Yang tidak dia sadari, dan entah bagaimana ada di sana, Ibu kandung Alina, Bu Maya ada di sana, berniat menyelidiki Arfan tapi malah tidak menyangka melihat Arfan membawa anak. Maka begitu Arfan pergi, Bu Maya langsung mendekati Ivan dan menyapanya ramah. Dia masih ingat dengan anak yang dibawa Alina dulu dan Bu Maya pikir Arfan adalah Ayah dari anak itu.


Ivan langsung memberi isyarat menjauh agar Bu Maya tidak mendekat, Tapi Bu Maya salah paham mengira Ivan menjawab salamnya dan langsung saja duduk di depannya. Dia langsung tanya-tanya pada Ivan.


"Kau ibu dari Ibu Mirip, kan? Kau nenek ku?" Tanya Ivan yang mengingat.


"Ibu mirip? Mungkin maksudnya Alina." Gumam Bu Maya.


"Agh... Iya benar. Kau pintar sekali. Rupanya kau masih ingat, ya. Anak baik!" Puji Bu Maya mengelus pucuk rambut Ivan.


"Emm... Namamu Ivan, kan. Emm... Nenek penasaran apakah pria tadi adalah ayahmu?"


Ivan mengangguk mengiyakannya.


"Emm... Lalu, Ibumu di mana?" Tanya Bu Maya lagi.


"Aku memiliki fotonya. Aku selalu membawa fotonya bersama ku." Maka Ivan pun menjawabnya dengan menunjukkan foto ibunya yang jelas membuat Bu Maya terkejut menatap foto yang ditunjukkan adalah putrinya sendiri.


"Hehe... Ini ibumu, ya. Jadi, tidak salah aku menyebut diriku sebagai Nenek." Ucap Bu Maya menjadi speechless.


...***...


Saat Alina pulang tidak lama kemudian, dia mendapati Ayahnya sedang duduk dengan canggung di hadapan Istrinya. Entah bagaimana saat ini Bu Maya menjadi lebih galak dari Pak Hendro. Pak Hendro diam-diam membisikannya bahwa Bu Maya baru saja menginterogasinya tentang Arfan. Alina tidak mengatakan apa-apa, tapi dia sudah tidak sanggup menghadapi mereka, jadi dia ingin pergi saja dengan alasan ingin joging.

__ADS_1


Alina ingin menghindar juga, tapi Ibu langsung memerintahkannya duduk di hadapan mereka dan to the point mengaku bahwa mereka sudah melihat Arfan dan sudah tahu jika Arfan memiliki anak. Dan anaknya Arfan sendiri yang mengatakan jika Alina adalah ibunya.


"Ayah dan Ibu tidak keberatan kau ingin berkencan atau menikah, tapi menikah dengan pria yang sudah memiliki anak itu tanggung jawab dan bebannya sangat besar. Dan lagi, Apa kau bahkan mengetahui segala sesuatu tentang Arfan? Keluarganya? Latar belakangnya? Masa lalunya?" Kata Bu Maya.


"Karena itulah, Ayah dan Ibu memutuskan untuk bertemu Arfan secara langsung besok. Kami ingin melihat orang seperti apakah Arfan itu dan apa yang dia rencanakan terhadap mu. Minta Arfan datang besok." Kata Pak Hendro.


Alina menolak, bersikeras meyakinkan mereka bahwa dia dan Arfan tidak ada hubungan apa-apa.


"Aku dan dia tidak ada apa-apa. Sudah ku katakan kemarin, itu hanya akting dan semuanya palsu. Terserah Ayah dan Ibu saja jika tidak percaya." Jawab kesal Alina.


"Oh, Ya Tuhan... Sekarang putriku sudah berani menyembunyikan rahasia dari orang tuanya. Tolong ampuni dia dan beri kesadaran sebelum aku mati." Bu Maya sontak berakting jantungnya kumat sambil mengeluhkan putri mereka yang sekarang mulai menyembunyikan segala sesuatu dari kedua orang tuanya. Hiks!


Alina santai saja makan buah dan menyuruh ibunya untuk menghentikan aktingnya. Bu Maya mengklaim jika dia tidak berakting, dia benar merasa tidak enak, rasanya ingin mati saja.


Untung saja Alina terselamatkan berkat chat dari Tristan yang menyuruhnya keluar. Alina langsung berakting heboh, beralasan jika Tristan keseleo lalu bergegas keluar. Tapi alasan Tristan menyuruhnya keluar bukan demi menyelamatkan Alina dari persidangan kedua orang tuanya, melainkan karena Arfan datang setelah tidak lama baru sampai di depan rumah Alina dan sempat mendengar Alina sedang disidang.


"Kau dengar itu, Suamiku? Setelah Arfan... Datang Tristan yang entah siapanya. Entah berapa banyak pria disekelilingnya di luar sana. Sejak kapan putri kita menjadi playgirl." Sedih Bu Maya meratapi nasibnya yang memiliki putri seperti Alina.


Arfan ingin masuk ke rumah Alina, tapi Alina dengan cepat mencegahnya dengan alasan menyuruh Arfan membantunya menghalangi teriknya matahari.


"Hari ini mataharinya terik sekali. Intinya, jangan lihat!"


Arfan jelas heran dengan sikap anehnya ini. Bahkan setiap kali dia menoleh, Alina langsung menarik wajahnya.


"Ada apa? Apa kau takut akan sesuatu?" Tanya Arfan.


Alina menyangkal, "Memangnya apa yang perlu aku takutkan? Ngomong-ngomong, ada urusan apa kau datang mencari ku?"


"Apa yang kau katakan benar?" Ujar Arfan.


"Hah? Memangnya apa yang ku katakan?"


"Sebelumnya kau mengatakan kita ini orang asing. Kita memang belum cukup saling memahami. Karena itulah, aku memutuskan untuk memberimu waktu untuk memahami ku."


"Hanya ini saja? Baiklah, Aku mengerti. Tuan Arfan, silakan pergi." Alina terus mengusir Arfan. Ia takut ayah ibunya keluar. Tapi Arfan malah mengulur waktu.


"Kau perlu berapa lama?"


"Aduuhh... Emm... Jadi begini, sepanjang perjalanan hidupku, kau pasti pernah mengalami banyak cerita, pengalaman, pengetahuan, dan lain sebagainya. Untuk saling memahami satu sama lain itu bagaikan menjalankan sebuah game epik. Jadi, setidaknya aku perlu 2... tidak, 5 tahun."


"Kuberi waktu dua minggu. Itu terlalu lama. Kau pasti sedang bermain-main dengan ku."


Arfan lalu memberinya sebuah USB yang di dalamnya berisi semua informasi tentang dirinya, Alina harus mempelajarinya begitu pulang nanti. jika ada informasi yang kurang atau terlupa, dia boleh bertanya kapan saja, Arfan akan menjawabnya dengan jujur.


Alina mengiyakan saja. Dia langsung merebut USB itu lalu bergegas masuk ke rumahnya. Arfan benar-benar curiga dengan sikapnya ini, apa Alina menyembunyikan pria di rumahnya? Tapi Tristan ada bersamanya dan mereka saling menatap tajam.

__ADS_1


__ADS_2