
"Lihat Arfan, Apa yang kau lakukan pada putramu sendiri! kau sudah menghancurkan kebahagiaan dan harapannya. Di saat seperti ini bukan saatnya kau memikirkan tentang dirimu yang tidak membutuhkan siapapun, pikirkanlah Ivan yang masih membutuhkan sosok seorang ibu." Ucap Pak Pratama
Arfan semakin terbelenggu dalam pikirannya.
"Beri aku waktu untuk mempertimbangkan semuanya!" Pinta Arfan
"Berapa banyak waktu yang kau butuhkan? apa kau tidak melihat bagaimana tadi Ivan begitu bahagia ketika Nadine akan menjadi ibu barunya." Ucap pak Pratama yang penuh tekanan dan paksaan pada Arfan
"BAIKLAH!! aku akan menerima pernikahan ini. Hanya semata untuk menjadikannya sebagai ibu untuk Ivan bukan seseorang yang harus aku cintai selain Alina dan menggantikan posisi istriku." Gertak Arfan dengan Nada tinggi yang tidak bisa menahan emosinya lagi
Di saat itu Nadine langsung tersenyum ceria.
"Bagus, kau memang putraku. Ayah bangga padamu nak, tidak apa-apa jika Nadine tidak kau anggap sebagai istri. Hal terpenting adalah ayah senang kau masih memikirkan Ivan dan menghilangkan ego-mu." Ucap Pak Pratama dengan puas
"Lalu, kapan kita akan melangsungkan pernikahan." Lanjut tanya Pak Pratama
"Lebih cepat lebih baik pak, besok saja bagaimana? ibu yakin Ivan akan senang dengan keputusan yang sudah diambil ayahnya." Sela Bu Shinta
"Baiklah ibu benar, ayah akan mempersiapkan semuanya."
Arfan Langsung pergi menuju kamarnya dengan langkah guntai.ia masih bingung apakah keputusan yang sudah diambil adalah keputusan yang tepat.
Esok Harinya~
Pernikahan Arfan dan Nadine akan segera dimulai, Acaranya dilakukan secara sederhana. Hanya melakukan Ijab Qabul dan selebihnya tidak ada.
Acara Ijab Qabul pun sudah dilakukan dan sekarang Arfan dan Nadine Sah menjadi sepatu suami istri.
"Yeay,,, Sekarang aku sudah memiliki ibu baru." Senang Ivan sambil melompat-lompat kegirangan
"Ivan, kau merasa senang, nak?" Tanya Pak Pratama
"Iya kakek, aku sangat senang sekali hari ini."
"Baguslah, Nak. Itu tandanya ibumu juga di atas sana sangat senang melihat mu begitu bahagia."
"Benarkah...??"
"Iya, Mana mungkin kakek berbohong."
"Jika begitu aku sangat senang melihat ibu di atas sana sedang melihat ku bahagia. Ibuu... Aku berjanji akan menjaga dan patuh kepada ibu Nadine yang sudah kau kirimkan untuk menjagaku dan ayah. Terima Kasih ibu sudah mengirimkan ibu baru untukku." Ucap Ivan
"Ivan... Sebaiknya kau istirahat. Pasti kau lelah, kan?" Perintah Arfan yang begitu mengintimidasi
"Tidak, aku ingin bermain bersama ibu Nadine. Maaf ayah aku tidak akan membiarkan ayah sedetik pun bersama ibu. Ibu Nadine ayo kita pergi!" Ivan menarik tangan Nadine
Nadine pun mengikuti lvan yang menariknya.
"Hah,,, akhirnya aku bisa melihat senyuman kembali di wajah cucuku." Ucap Pak Pratama
"Iya suamiku, aku sangat senang melihat Ivan bisa bahagia seperti itu. Ini semua berkatmu suamiku yang sudah membawa Nadine masuk ke dalam rumah Arfan, dengan begitu tugasku selesai dan aku bisa kembali bersamamu." Ucap Bu Shinta
__ADS_1
Arfan bisa mendengar celotehan mereka sehingga membuat ia jijik dibuatnya.ia pun pergi dan masuk ke kamarnya.
Suara telpon berdering~
Arfan pun mengangkatnya.
"Halo, Presdir!" Suara dalam telpon yakni Asisten Hans
"Ada apa?" Jawab dingin Arfan dalam telpon
"Begini Presdir, kami mendengar kabar jika anda melangsungkan pernikahan. Kami semua ucapkan selamat atas pernikahan anda."
"Kau dan juga yang lain tidak perlu mengucapkan selamat padaku, karena pernikahan ini bukan apa-apa bagiku. Jika tidak ada hal lain aku akan menutup telpon ini." Jawab Arfan yang tidak begitu menanggapi pernikahannya
"Eh tidak,,, tunggu, Presdir. Sebenarnya saya ingin bertanya. Apa ada kemungkinan anda akan masuk kembali ke perusahaan?"
"Sepertinya iya, karena Ivan sudah ada yang merawat. Jadi, kemungkinan besar aku akan kembali ke perusahaan besok."
"Ini kabar baik, Presdir. Saya dan semua pasti senang anda akan kembali ke perusahaan. Jika anda tahu selama anda tidak memimpin kami bekerja, kami seperti air dan minyak tidak bisa bersatu. banyak karyawan yang terus berdebat dan kami sangat kesusahan."
"Baiklah, siapkan dokumen atau agenda apa yang harus aku lakukan mulai besok, ataupun berkas yang harus aku tanda tangani." Ucap Arfan dingin
"Baik presdir, saya akan menyiapkan segalanya."
"Dan satu lagi kau dan yang lainnya tidak perlu menyiapkan perayaan atau semacam sambutan untuk menyambut ku kembali."
"Anda tahu saja, Presdir. Jika saya dan yang lainnya akan melakukan apa yang sudah dikatakan anda tadi. Tapi jika anda meminta untuk tidak melakukan nya, saya dan lainnya tidak akan melakukan perayaan apapun demi kenyamanan anda."
Ketika waktu malam Arfan tidur di kamar lain, sedangkan Nadine tidur di kamar Arfan. Karena ketika melihat Nadine sudah tidur di ranjang miliknya yang dulu adalah miliknya bersama Alina, sehingga Arfan tidak ingin tidur seranjang dengan Nadine.ia memutuskan untuk tidur di kamar yang lainnya.
Esok paginya~
"Em... Arfan, Pak Pratama mengatakan kau akan kembali ke perusahaan setelah sekian lama." Tanya Nadine pada Arfan yang memulai pembicaraan di sela sarapannya
Mereka makan di ruang makan yang berbeda dengan anggota lainnya.
"Iya." Jawab singkat dan dingin Arfan
"Syukurlah, itu lebih baik untukmu setelah sekian lama kau bisa bekerja kembali memimpin perusahaan mu. Kau tidak perlu khawatir aku akan menjaga Ivan."
"Terima Kasih." Jawab singkat dingin Arfan kembali.
"Em... Aku sudah menyiapkan bekal sarapan untuk mu dan Ivan. Bawalah untuk makan siang nanti!"
"Lain kali kau tidak perlu repot-repot menyiapkan keperluan ku. siapkan saja keperluan yang dibutuhkan Ivan, dan fokuslah pada Ivan saja."
"Tidak, mana mungkin aku melakukan hal itu. Kau adalah suamiku yang sudah seharusnya aku memperhatikan mu juga. Oh iya, tadi malam kau tidur di mana?"
"Itu bukan urusanmu, kau tidak berhak menanyakan diriku seperti itu. Dan satu lagi kau tidak perlu bersikap seperti istriku, aku menikahi mu hanya karena Ivan senang atas kehadiran mu. Jadilah ibu untuknya, bukan menjadi istri untukku." Jelas Arfan dengan tegas
"Ya, Aku mengerti." Ucap Nadine sedikit menundukkan pandangannya
__ADS_1
Arfan pun meninggalkan Nadine dan pergi ke ruang makan utama.
Di sana Arfan mendapati Ivan yang sedang sarapan bersama Bu Shinta dan Pak Pratama.
"Ayah, kau akan kembali bekerja, Ya? Aku senang sekali melihat ayah memakai jas lagi. dengan pakaian seperti ini ayah terlihat sangat tampan." Hibur Ivan
Semua orang pun tertawa.
"Ayah pun senang melihat mu tertawa kembali." Kata Arfan
"Arya, ayo sarapan terlebih dahulu. ini Nadine yang memasaknya. masakannya sangat enak, cobalah nak!" Ucap Bu Shinta
"Aku sudah sarapan di ruang makan sebelah!"
"Baiklah, pantas saja ibu tidak melihat Nadine dari tadi. Ternyata dia bersama denganmu." Goda Bu shinta
Arfan tidak menanggapi perkataan Bu Shinta.
"Ivan, Ayah kembali pergi bekerja.jaga dirimu baik-baik."
"Baik, Ayah." Jawab Ivan
Sebelum pergi, Arfan mengecup pucuk rambut Ivan dengan lembut. Lalu, ia pergi ke perusahaan.
Saat sampai diujung pintu, langkah Arfan terhenti dan ia kembali terkenang mengingat Alina yang berlari memberikan kotak makan siang karena Arfan sering lupa akan hal itu.
Setelah itu, Alina menyalami dengan mencium tangan Arfan. Sedangkan, Arfan sering mencium kening Alina sebelum ia berangkat bekerja. Dan saat pulang ia disambut oleh senyuman Alina yang begitu manis dan paras yang cantik.
Dan saat ini Arfan merindukan hal itu bersama Alina, yang tidak akan pernah ia dapatkan lagi untuk selamanya.
Arfan pun melanjutkan langkahnya dan melajukan mobilnya pergi ke perusahaan.
Sedangkan, Ivan berangkat sekolah diantar Nadine dengan menaiki mobil yang dikendarai oleh supir.
Setelah sampai...
"Dah ibu..." Tinggal masuk Ivan ke dalam sekolab
"Dah... belajar yang pintar, ya. Ingat bekal makanan yang ibu siapkan kau harus memakannya, dan satu lagi jangan nakal."
"Iya ibu... dah aku masuk dulu."
Ivan pun masuk ke sekolahnya. Setelah itu Nadine kembali ke rumah.
Sampai rumah...
"Huft... (menghela napas panjang) baru pertama aku masuk ke rumah ini rasanya aku seperti pembantu. Harus menyiapkan ini, menyiapkan itu. Ternyata ini semua tidak sesuai yang aku ingin kan, seharusnya aku mendapatkan Arfan dan menguasai rumah ini. Tapi malah harus mengurus anak piatu itu." Gerutu Nadine yang sudah menunjukkan jati dirinya
"Kau benar...!!" Ucap seseorang yang menggema di kamar Nadine
Nadine pun terkejut ia takut Arfan atau salah satu keluarga di rumah ini mendengar kekesalannya.
__ADS_1