
"A-ayah??" Dengan gemetar Ivan memberanikan diri
Arfan tambah marah ia menghempas tubuh mungil Ivan sampai kepalanya terbentur ke tembok.
"Sudah berbuat dosa, tapi kau masih berani menanyakan keadaan ibu mu!?" Tatap Arfan pada anaknya dengan mata merah
"Ayah katakan sesuatu apa yang terjadi?" Tanya Ivan dengan getir
"Ini semua gara-gara dirimu Ivan. Kau ingin tahu bukan apa yang terjadi? biarkan ayah memberi tahu dirimu." Nada tinggi Arfan dengan memelintir tangan mungil Ivan sampai menahan kesakitan
"Ahhkkh... Ayah lepaskan ini sakit!" Pinta Ivan tapi Arfan sama sekali tidak mendengarkan anaknya
"Ini tidak sesakit apa yang dirasakan adikmu didalam sana. Karena perbuatan dirimu bayi yang sedang dikandung ibu Nadine dia sudah meninggal!!" Marah Arfan langsung menghempaskan Ivan sekali lagi
Pak Aris dan Bu Lastri yang mendengarnya sama terkejutnya seperti Ivan.
Ivan pun bangkit.
"Ayah, aku bisa menjelaskan sesuatu.aku tidak membunuh adik kecil dengan mencoba menjatuhkan ibu Nadine seperti dulu. Aku tidak tahu kenapa bisa terjatuh." Jelas Ivan
"Penjahat mana mungkin mengaku.aku sudah tahu pasti kau yang sudah menyebabkan ibu Nadine jatuh lagi sampai sekarang janinnya tidak bisa diselamatkan. Kau pasti iri kan, sebentar lagi adikmu akan lahir dan setelah dia lahir kau terlupakan, karena itu kau mencoba membunuh adikmu."
__ADS_1
"Tidak ayah itu semua tidak benar!"
"Aku tidak butuh penjelasan darimu, untuk membayar semua apa yang kau lakukan.kau harus membayarnya, aku akan mempenjarakan dirimu."
Ivan berhenti menangis dan memohon ketika mendengar ayahnya akan mempenjarakan dirinya.
Ayah mana yang tega mempenjarakan anaknya seperti itu.
Dan polisi pun datang, ternyata Arfan sudah memanggil polisi dari tadi.
"Selamat siang, Tuan Arfan." Ucap salah satu polisi
Menyadari anak itu adalah Ivan, Pak polisi sempat bingung. Mereka menganggap orang yang dilaporkan atas pembunuhan adalah orang dewasa, tapi tak segan menunjuk anaknya untuk dimasukan ke sel penjara.
Tapi karena tak berani macam-macam pak polisi langsung memborgol kedua tangan Ivan, dan membawanya pergi untuk di penjara.
Ivan hanya diam saja dan tidak memberontak, mungkin karena dia terlalu lelah menanggapi semua ini.
Sedangkan Pak Aris dan Bu Lastri yang melihat Ivan diseret pergi mencoba menolong Ivan dengan mengatakan berbagai alasan untuk tidak membawa Ivan pergi.
Sedangkan Arfan, Dia pergi ke arah berlawanan tanpa menatap anaknya sama sekali dan pergi ke ruangan Nadine.
__ADS_1
Di Ruangan Alina~~
Zayn datang menemui Alina.
"Zayn bagaimana keadaan wanita itu. Aku dengar dia adalah ibu hamil yang sama saat itu dan sempat terselamatkan." Tanya Alina
"Dia selamat tapi anak yang sedang dikandungnya kali ini tidak bisa diselamatkan." Jawab Zayn sedikit merasakan kesedihan
"Kasihan sekali, aku bisa merasakan bagaimana itu terjadi padaku.mungkin aku sama seperti dia tidak dapat menahan kesedihan kehilangan seorang anak yang dinantikan."
"Kau tidak akan mengalami hal itu Alina, Aku akan menjagamu."
"Maksudmu??" Tanya Alina bingung dengan perkataan Zayn
"Maksudku takdir seseorang berbeda. Jika pun kita menikah dan kau mengandung anakku nanti, kau tidak akan kehilangan bayimu karena aku akan menjaga kalian. Bukan hanya kau yang akan terpukul, semua orang tua akan terpukul kehilangan anaknya." Jelas Zayn
"Kita baru saja menjadi pasangan kekasih, tapi kau sudah memikirkan seorang anak bersamaku." Tawa Alina
Zayn pun ikut tertawa.
Dibalik kesedihan selalu ada kebahagiaan yang terukir. Mereka sebagai tenaga kesehatan sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelematkan nyawa seseorang, akan tetapi kematian berada di tangan Tuhan, mereka tidak bisa berbuat apa-apa dan selalu memasrahkan diri pada yang kuasa.
__ADS_1