
Direktur Wen mengeluh pada Sintia tentang keinginannya yang ingin segera menimang cucu, tapi di tidak yakin jika putranya akan bisa menjadi suami dan ayah yang baik mengingat kelakuannya yang liar.
Tapi menurut pendapat Sintia, dia justru yakin jika Hans bisa menjadi ayah yang baik mengingat Hans bisa berhubungan baik dengan anaknya Arfan. Mendengar itu, Direktur Wen akhirnya berubah pikiran dan mengembalikan semua pekerja wanitanya Hans dengan harapan Hans bisa segera menemukan jodoh, menikah dan memiliki anak.
Sintia lah yang bertugas memanggil para pegawai wanita itu kembali, dan terang saja Hans menjadi tambah suka dengan dia dan makin getol untuk mengejarnya. Tapi sayangnya, Sintia benar-benar setegar karang yang tak mudah ditaklukkan.
Dan sepertinya tantangan untuk mendapatkan Sintia benar-benar membuat Hans mulai bosan kepada para wanita lainnya hingga beberapa hari kemudian, dia memutuskan untuk memecat para wanita itu.
Baru juga hari pertama, Arfan sudah frustasi sekamar dengan Alina gara-gara kebiasaan buruk Alina yang jorok dan membuat kamar mandinya berantakan. Belum lagi rambutnya Alina rontok di mana-mana, ini pasti gara-gara Alina kurang nutrisi dan menyarankannya untuk minum multivitamin.
Yang tidak dia ketahui, Alina menyelundupkan mie bekicot yang bau dan diam-diam memasaknya pagi-pagi sekali, tapi malah ketahuan oleh Ivan. Maka biar Ivan tidak membocorkan rahasianya ini, Alina mengajaknya ikut makan.
Awalnya Ivan ogah, tapi akhirnya dia malah menikmati mie bekicot itu. Tiba-tiba Arfan turun gara-gara baunya, mengira jika toilet lagi mampet. Untungnya Alina sigap menyembunyikan mie nya. Dan saat Arfan bertanya itu bau apa, dia asal saja menuduh Ivan kentut. Untungnya Arfan percaya.
Saat Alina menyerahkan daftar tempat-tempat untuk kegiatan hari ini, Arfan malah tak menyetujui hampir semuanya dengan berbagai alasan dan hanya mengizinkan mereka pergi ke museum.
Tapi Alina masa bodoh sama perintahnya dan nekat mengajak Ivan naik gunung tanpa membawa banyak persiapan. Akibatnya saat hujan tiba-tiba turun, mereka malah kehujanan. Dan Alina cuma punya jaketnya untuk menyelimuti Ivan.
Untungnya saat itu Arfan diberitahu asistennya bahwa museum biasanya tutup hari senin. Arfan pun bergegas mencari mereka hingga menemukan mereka yang sedang kehujanan.
Duo Ivu dan anak itu langsung disidang dan dihukum sama si papa begitu mereka sampai rumah. Parahnya lagi, Arfan juga menemukan bungkus mie bekicotnya Alina. Dan gara-gara itu, semua persediaan snack mereka disita.
Ditengah kebingungannya mencari sekolah SD yang paling sesuai untuk anak berkebutuhan khusus seperti Ivan, Alina bertemu dengan Tristan yang langsung merekomendasikan sebuah SD khusus untuk anak-anak seperti Ivan. Para gurunya juga memiliki sertifikasi psikolog anak.
Alina langsung setuju, tapi saat dia memberitahukan sekolah rekomendasi Tristan itu ke Arfan, Arfan langsung tidak setuju dengan alasan kualitas sekolahnya meragukan... Errr, sebenarnya lebih tepatnya, dia tidak setuju karena cemburu.
Mereka jadi bertengkar hebat gara-gara itu hingga Alina memutuskan untuk minggat kembali ke rumah lamanya. Ivan yang rindu ibunya, langsung minggat diam-diam dan pergi sendirian ke rumah Alina. Bahkan saat ayahnya datang menjemputnya, dia menolak pulang.
__ADS_1
Keesokan harinya, Alina diminta kembali ke rumah sakit untuk menggantikan dokter lain yang hari ini tidak bisa masuk. Pasien kali ini agak rumit ditangani. Seorang anak broken home bernama Liam, sepertinya takut pada ibu nya.
Saat Alina menyemangatinya untuk menunjukkan gambar-gambar buatannya pada Ayahnya, Liam langsung melirik ibunya yang tampak jelas tak senang dengan saran Alina itu. Entah mengapa Alina yang berstatus Dokter Umum menjadi Dokter Psikiater anak sekarang. Itu membuatnya sangat frustasi dan melelahkan.
Memahami ekspresi Ibunya, Liam dengan tertunduk sedih menolak saran Alina karena dia yakin Ayahnya takkan menyukai gambarnya. Sepertinya ibunya memang menghasutnya untuk membenci Ayahnya, mungkin karena takut kehilangan hak asuh anaknya.
"Yang sakit itu Liam, bukan aku." Marah ibunya Liam.
Alina jadi curiga jika ibunya Liam menderita anxiety, hanya saja dia tidak menyadarinya. Karena itulah dalam rapat dokter, dia menyarankan dokter kepala Psikiater untuk menyarankan Ibunya Liam mendapatkan pengobatan psikolog.
Nakes yang melakukan perundungan kemarin dengan sengaja pura-pura berbaik hati mengambil alih tugas itu, jelas hanya untuk menghasut ibunya Liam untuk membenci Alina. Dan rencananya berhasil, ibunya Liam jadi histeris teriak-teriak melabrak Alina padahal saat itu mereka sedang berdiri di tepi tangga.
Parahnya lagi, saat kehisterisannya semakin menjadi-jadi, ibunya Liam langsung mendorong Alina sehingga dia oleng dari tangga. Arfan muncul saat itu mencari Alina, tapi dia terlambat menyelamatkan Alina sehingga Alina terjatuh bergulingan di tangga.
Kaki Alina cidera gara-gara itu. Dokter yang menanganinya ternyata Zayn, Dia sudah kembali dengan hidup dan harapan baru, bahkan perasaan yang baru. Arfan awalnya sempat tak setuju jika dia yang menangani Alina. Tapi setelah Alina membujuknya, akhirnya dia terpaksa mengalah dengan setengah hati.
Tapi masalah ini malah makin rumit gara-gara Ibunya Liam posting di internet, menuduh Alina salah mendiagnosis dirinya. Bahkan sekarang ibunya Liam sedang diwawancara oleh sekumpulan reporter di depan rumah sakit. Diperparah lagi, Nakes yang memiliki masalah pribadi dengan Alina malah memanfaatkan saat itu untuk menerima wawancara dan menjelek-jelekkan Alina.
Tanpa tahu kehebohan yang terjadi di rumah sakit, Alina malah masih saja nekat pergi ke rumah sakit dalam keadaan kaki terpincang-pincang. Untung saja Tristan cepat datang menyelamatkannya sebelum dia jadi bulan-bulanan media dan membawanya pulang ke rumah lamanya.
Tristan memperingatkannya untuk tidak keluar rumah untuk sementara waktu. Bahkan kalaupun dia sangat perlu keluar rumah, Tristan harus menemaninya. Alina seperti biasanya, sama sekali tidak memahami perhatian Tristan itu.
Di tempat lain, Arfan sengaja menunda semua pekerjaan pentingnya demi membantu Alina mengatasi masalah ini dan memerintahkan para asistennya untuk menuntut Nakes itu dan ibunya Liam atas tuduhan fitnah dan pencemaran nama baik.
Dia lalu menjemput Alina pulang, tapi Alina masih saja bersikeras menolak. Arfan berusaha menyebutkan berbagai alasan tentang kenapa rumah ini tidak aman untuk putranya dan Alina. Tapi Alina sama sekali tidak memahami kecemasan Arfan dan bersikeras menolak pulang.
Harga diri Arfan sendiri terlalu tinggi untuk mengaku jika dia mencemaskan Alina, akhirnya dia membujuk Alina dengan mengiming-iminginya kenaikan gaji dan pemotongan masa kontrak kerja. Dan itu langsung sukses membuat Alina langsung setuju untuk pulang.
__ADS_1
"Kerahkan semua di satu kaki."
Tak lama kemudian, Arfan membukakan pintu mobil untuknya, menyuruh Alina untuk masuk sendiri ke mobil. Lagipula kaki yang terluka hanya satu, jadi Alina masih bisa berpijak dengan satu kakinya yang lain.
Tapi Alina malah melompat ke punggungnya Arfan yang sontak saja membuat Arfan jadi terjepit ke mobilnya. Tapi Alina tak peduli dan terus memaksa Arfan untuk menggendongnya masuk mobil.
Dan bahkan sesampainya di rumah, dia terus memanfaatkan keadaannya untuk bermanja ria dan memaksa Arfan untuk menuruti keinginannya. Tapi apapun yang dilakukan Arfan untuknya, tetap saja tidak bisa mengubah keputusannya untuk berhenti dari pekerjaan ini.
Dia hanya akan tinggal di sini untuk sementara waktu, apakah nantinya dia akan terus bekerja di sini atau tidak, itu tergantung dari sikap Arfan. Lagipula dia sudah memiliki passion lain sekarang, yaitu bekerja di kliniknya Tristan.
Hans menyarankan Arfan untuk menuruti apapun keinginan Alina. Maka keesokan harinya saat Alina menuntutnya untuk belanja bersama sekeluarga sepulang kerja, Arfan langsung menurutinya, bahkan membatalkan makan malamnya dengan orang lain.
Dia bahkan mengalah saat Alina bersikeras membelikan Ivan banyak snack, tapi dia menegaskan hanya hari ini saja, tidak boleh setiap hari. Dan sebagai ungkapan terima kasih, Alina mengajak Ivan untuk memberikan tanda cinta pada ayah.
Dia benar-benar perhatian pada Alina dengan melayaninya sepenuh hati, mengambilkannya lauk dan memastikannya makan makanan yang bergizi biar dia cepat sembuh. Dan Alina jadi tersentuh dengan semua perhatiannya itu.
Saat masuk ke ruang kerjanya Arfan untuk mengambil sesuatu, tak sengaja Alina menemukan koleksi foto-foto punggung wanita yang berbeda-beda. Fotonya banyak sekali, membuat Alina jadi salah paham mengira Arfan itu pria cabul. Padahal Arfan hanya sedang berusaha mencari wanita yang menyelamat Ivan waktu mereka kecelakaan dulu.
Saat Arfan pulang kerja tak lama kemudian, dia mendapati ruang tamunya berantakan dipenuhi gambar-gambar hasil karyanya Ivan. Awalnya dia tak senang, tapi pada akhirnya Alina berhasil membujuknya untuk ikut menggambar di gips kakinya Alina.
Malam harinya, Arfan melihat Alina kesulitan mengurus rambutnya yang belum dikeramasi tiga hari gara-gara susah bergerak. Arfan pun membantunya keramas.
Saat dia hendak pergi kerja keesokan harinya, Ivan tiba-tiba menyuruhnya untuk mencium ibunya dulu sebelum pergi. Karena Ivan menemukan foto mesra Arfan yang sedang dicium pipinya oleh mendiang istrinya.
Alina diam-diam menyuruhnya untuk tidak benar-benar menciumnya, maka Arfan pun mencium lehernya. Pfft! Ivan langsung semringah.
Tapi kemudian pengacaranya Arfan datang menemui Alina untuk membahas gugatan terhadap ibunya Liam. Alina tak senang dan tak setuju dengan itu. Terlepas dari apa yang dilakukan ibunya Liam padanya, tapi ibu nya Liam tetaplah seorang pasien dan gugatan ini bisa sangat memengaruhinya. Tapi Arfan tetap bersikeras untuk menggugatnya, ini adalah harga yang harus dia bayar atas perbuatan dan kesalahannya.
__ADS_1