
Alina akhirnya memutuskan untuk menuruti keinginan Bu Shinta untuk mengakhiri hubungannya dengan Arfan karena dia pikir ini demi kebaikan Ivan dan Arfan.
"Sungguh aku kecewa, bisa-bisanya seorang dokter bicara seperti ini. Ada pasien yang membutuhkan ku, tapi malah memutuskan meninggalkan pasien itu." Ujar Alina dilema.
Arfan jelas bingung diakhiri hubungannya secara sepihak seperti ini, Alina bahkan tidak mengatakan apa alasannya dan langsung pergi begitu saja dan pindah kembali ke rumah orang tuanya.
Arfan menolak melepaskannya begitu saja. Maka keesokan harinya, dia mendatangi rumah Alina. Alina ingin menutup pintu begitu melihatnya, tapi Arfan sigap mencegahnya dan saat pergulatan itu terjadi, Ivan berhasil menyelonong masuk dengan mudah.
Arfan berusaha membujuknya dengan berbagai cara, dan Alina hampir saja luluh. Tapi tidak, Alina tetap berusaha menguatkan hatinya dan mengusir Arfan, tapi Arfan sama sekali tidak mempan diusir.
Dia dan Ivan membawakan sarapan untuknya dan memaksanya makan sembari mengingatkan bahwa mereka tidak bisa putus secara sepihak karena sudah tertera jelas dalam salah satu pasal di kontrak hubungan mereka bahwa mereka dilarang putus secara sepihak.
Dia akan setuju untuk putus hanya jika Alina menghabiskan sarapannya ini sebelum jam pasirnya selesai. Alina hampir saja berhasil. Tapi ayah dan anak itu tiba-tiba saling lirik-lirikan penuh arti dan tepat saat Alina hampir menghabiskan suapan terakhirnya, Ivan secepat kilat merebutnya dan memakannya sendiri sehingga misinya Alina gagal.
Ivan juga sengaja pergi ke sekolah sendiri supaya ayah dan ibunya bisa berduaan. Alina masa bodo dan langsung pergi meninggalkan Arfan dengan mengendarai mobilnya. Panik ingin segera mengejar Alina, Arfan asal mencegat pengendara motor dan membeli motornya saat itu juga tak peduli berapa pun harganya.
Padahal dia bahkan kurang bisa mengendarai motor dan hampir saja menabrak Alina. Kelakuan nyentriknya sebenarnya berhasil membuat Alina tersenyum, tapi Alina dengan cepat menguasai diri.
Arfan sontak memeluknya dari belakang dan menegaskan bahwa dia tidak setuju mengakhiri hubungan. Tidak masalah Alina tinggal beberapa hari bersama ayah dan ibunya, anggap saja itu liburan, tapi mereka tetap harus melakukan segalanya bersama-sama seperti biasanya. Alina ingin menolak, tapi Arfan dengan cepat membungkamnya dengan cara mencubit kedua pipinya.
...***...
Siang harinya, Alina mengunjungi dokter kepala yang sedang sakit. Dokter kepala tiba-tiba memintanya untuk kembali dan membantu dalam proyeknya di luar negeri mumpung sekarang pasien kecilnya Alina itu sudah sembuh.
Alina jadi galau seharian memikirkan masalah itu. Jika dia mengambil proyek itu, maka itu artinya dia harus pergi meninggalkan Arfan dan Ivan. Tapi di sisi lain, dia memang harus meninggalkan Arfan demi kebaikan Arfan.
__ADS_1
Dan dia jadi semakin mantap dengan keputusannya untuk meninggalkan Arfan setelah dia curhat pada Sintia, di mana Sintia memberitahunya bahwa dia juga pernah berada dalam situasi harus melepaskan seseorang yang dia sukai demi kebaikan dan kebahagiaan orang itu.
Dia bahkan sengaja ikut Sintia dinas di luar kota hanya demi menghindari Arfan. Tapi Arfan dan Ivan tetap gigih mengikutinya ke manapun dia pergi hanya demi bisa makan malam bersamanya. Kesal, Alina sengaja membuat Arfan ilfeel padanya dengan cara makan sembarangan.
Di sisi lain, Arfan juga sedang mengalami kesulitan dalam bisnisnya gara-gara perusahaan keluarganya Melisa yang menggunakan kekuasaan mereka untuk menghalangi setiap jalan proyek Arfan untuk memasarkan gelang pintar ke pasar Eropa dan Amerika.
Arfan dengan besar hati meminta maaf pada para pegawainya atas ketidakmampuannya, dan berjanji akan mempertanggungjawabkan sendiri masalah ini pada dewan direksi, namun dia tidak akan menyerah begitu saja biarpun dewan direksi menurunkan jabatannya dan akan tetap melanjutkan proyek gelang pintar ini.
Saking takutnya dengan desakan ayahnya, Melisa bahkan sengaja mendatangi Alina, berusaha membujuknya untuk membuat Arfan datang ke acara jamuan yang diadakan perusahaannya karena hanya Alina satu-satunya orang yang bisa membujuk Arfan.
Melisa jujur mengakui bahwa dia harus mendapatkan Arfan bukan karena dia cinta pada Arfan, dia sama sekali tidak butuh hatinya Arfan, dia hanya membutuhkan orangnya, atau lebih tepatnya, posisinya Arfan. Sebaiknya Arfan segera menyerah atau dia akan menghadapi kesulitan yang lebih besar.
...***...
Berniat menyatukan kembali hubungan Sintia dengan keluarganya, Hans mengundang Sintia ke sebuah vila mewah yang dia minta dari ayahnya dan mempertemukan Sintia dengan ibunya di sana dengan maksud agar Sintia dan keluarganya tinggal di villa ini sekarang.
Suatu malam saat berteduh di halte, Sintia tak sengaja mendengar percakapan dua orang preman yang sedang memburu kakaknya yang kabur, dan parahnya lagi, mereka juga sedang mencari dirinya.
Jelas saja Sintia jadi ketakutan. Dia langsung menelepon Hans, tapi Hans malah menyuruhnya datang ke sebuah club untuk membantunya membujuk calon klien mereka. Sintia jadi kesal mendengarnya dan langsung sinis mengatainya bajingan.
Dan sindiran Sintia kali ini benar-benar menusuk hatinya hingga tiba-tiba saja dia termotivasi untuk membuktikan dirinya bukan bajingan seperti tuduhan Sintia.
Keesokan harinya, dia menolak semua undangan pesta dan terang-terangan berkata pada teman-temannya bahwa dia sekarang memiliki seorang gadis yang dia sukai dan tidak ingin jadi playboy lagi. Bahkan setibanya di kantor, tiba-tiba saja dia jadi sangat serius dan rajin bekerja sampai membuat para pegawai melongo keheranan.
Tapi hari ini Sintia cuti kerja karena sakit gara-gara kehujanan semalam. Biarpun dia menggerutui Hans dan mengklaim jika dia merasa tersakiti oleh ulah Hans, tapi Alina yakin Sintia tidak sepenuhnya marah pada Hans dan cinta padanya.
__ADS_1
Sintia sontak jaim menolak mengakuinya. Padahal saat Alina dengan sengaja menelepon Hans dan menyuruh Hans untuk datang mengunjungi Sintia, dia langsung menempelkan kupingnya ke ponselnya dengan penasaran ingin mendengar jawaban Hans.
Dia langsung kecewa saat Alina berbohong jika Hans tidak ingin datang, dan langsung berubah semringah pada saat Alina berkata jika Hans akan datang. Sintia bahkan dandan cantik tapi tidak terlalu menor untuk menyambut kedatangan Hans.
Kebetulan waktu Alina menelepon Hans tadi, Arfan sedang bersamanya. Jadi sekalian Hans memanfaatkan itu untuk mendesak Hans pergi mengunjungi Sintia supaya dia juga ada alasan pergi ke sana untuk menemui Alina.
Hans juga sengaja mengusir mereka berdua dengan alasan supaya bisa berduaan dengan Sintia. Yang tak disangka Sintia, Hans ternyata pintar memasak sup jahe. Tapi kemudian Hans mengaku bahwa ibunya pernah mengajarinya berbagai trik untuk merayu gadis-gadis.
Sintia sontak kesal mengusir Hans, tapi Hans menolak diusir dan meminta Sintia untuk membatalkan taruhan mereka. Dia hampir ingin mengakui perasaannya, tapi Sintia malah mendadak gugup sehingga dia menolak mendengarnya, dan cepat-cepat menyetujui permintaannya lalu mengusirnya.
Tak sengaja mendengar percakapan teleponnya Arfan dengan sekretarisnya tentang Arfan yang berencana meninggalkan perusahaan, Alina memutuskan untuk menuruti keinginan Melisa dengan cara menipu Arfan untuk datang ke acara perjamuan itu karena dia pikir inilah cara terbaik untuk membantu Arfan.
Saat Arfan meneleponnya, Alina memberitahu jika dia akan belajar ke luar negeri selama satu tahun dan mungkin akan menetap di sana, mengklaim jika dia sudah lelah berhubungan dengan Arfan dan berbohong bahwa alasannya putus dengan Arfan hanya karena sebenarnya dia tidak terlalu cinta pada Arfan.
Melisa memberitahu bahwa yang perlu Arfan lakukan malam ini hanya muncul di hadapan orang tuanya dan tidak akan makan waktu lama. Tapi Arfan tegas menolak dan akan tetap melanjutkan rencana pengunduran dirinya. Yah, semua ini demi Alina.
Melisa tak percaya mendengarnya. Bisa-bisanya Arfan rela meninggalkan segalanya demi Alina. Dia tidak percaya jika Arfan hanya mencintai satu wanita dan langsung mencoba menciumnya, tapi Arfan sigap menahannya lalu pergi meninggalkannya.
Masalah ini kontan membuat gangguan kecemasan Melisa kambuh, tapi dia tidak sedang membawa obatnya saat itu. Dia langsung panik menelepon asistennya yang bergegas datang menjemputnya.
Sang asisten membawa Melisa ke rumahnya sampai dia tenang, memasakkan bubur untuknya, bahkan membiarkannya menginap tanpa memaksa Melisa untuk mengatakan apa masalahnya.
...***...
Hasil penyelidikan di lapangan golf, Arfan diberitahu Hans bahwa Bu Shinta dan Alina bertemu dengan Pak Aris malam itu. Mengingat betapa liciknya Pak Aris dalam bersembunyi selama ini, Hans menduga bahwa mungkin ada orang kuat yang melindungi Pak Aris.
__ADS_1
Arfan jadi curiga jika orang itu adalah Bu Shinta. Dia langsung mengonfrontasi Bu Shinta malam itu juga. Dan tepat saat itu juga, Pak Aris tiba-tiba menelepon Bu Shinta. Arfan sontak keluar dan menangkap Pak Aris, tapi malah diberitahu Pak Aris kebenaran tentang kematian istrinya itu, bahwa dia lah yang sebenarnya merekayasa kematian nyonya rumah mereka dengan menyetir dan sengaja menyebabkan kecelakaan itu. Arfan shock.