
Saat tengah menjalankannya tugas dari Hans untuk pergi mengambil barang ke perusahaannya Arfan, Sintia melihat Arfan bekerja berdua saja bersama sekretaris wanita. Sintia langsung memotret mereka diam-diam lalu memperlihatkannya ke Alina. Dia meyakinkan Alina bahwa jika Arfan tidak memberitahukan masalah ini padanya, maka itu artinya ada yang tidak beres.
Alina jadi semakin yakin dengan dugaan Sintia saat Arfan lebih memilih lembur di hari minggu daripada menghabiskan waktu bersamanya dan Ivan, dan pikirannya itu kontan membuatnya jadi cemburu berat.
Ivan mengetahui tentang masalah 'saingan cinta' ibunya itu dari Asisten Hans. Maka kemudian dia mengajak ibunya pergi ke kantor ayah dengan alasan rindu pada ayah. Alina bahkan membawakan makan siang untuk Arfan, tapi sekretaris mendadak muncul dan membawakan makan siang juga untuk Arfan.
Ivan yang tak senang melihat ibunya bersedih, malah mengusili sang sekretaris dengan memasukkan ulat mainan ke cangkir kopinya dan akhirnya menganggu pekerjaan ayahnya dan itu kontan membuat Arfan marah.
Ujung-ujungnya dia jadi menyalahkan Alina dan menuduhnya terlalu memanjakan Ivan. Alina juga tidak terima dengan sikap Arfan yang selalu lebih mementingkan pekerjaan dan jadilah mereka bertengkar hebat saling menyalahkan satu sama lain... hingga Alina marah dan memutuskan untuk membawa Ivan pulang ke rumah orang tuanya.
Ibunya Alina mencoba menerima Ivan untuk memanggilnya 'Nenek'. Dia bahkan menganggap Ivan sebagai cucunya sendiri yang terlahir dari rahim putrinya.
Bu Maya bisa menebak jika Alina datang bukan untuk sekedar berkunjung melainkan kabur dari rumah karena bertengkar dengan Arfan. Tapi jika dia kabur meninggalkan suaminya, seharusnya jangan hanya bawa anak, seharusnya dia bawa kabur juga semua uang suaminya.
Pintu rumah mereka baru diketuk malam harinya. Alina langsung semangat membuka pintu, mengharap Arfan datang menjemput mereka. Tapi yang datang malah Asisten Arfan yang datang hanya untuk mengantarkan koper-koper mereka, karena Arfan mengira jika Alina hanya sedang mengunjungi orang tuanya, sama sekali tidak terpikir jika Alina kabur dari rumah. Apalagi dia memang sedang sibuk luar biasa menangani proyeknya bersama sekretarisnya. Alina kecewa.
Namun, Alina tak sempat memikirkan masalah ini lebih jauh karena tiba-tiba saja ayahnya jatuh pingsan dan harus dilarikan ke rumah sakit. Kondisinya cukup kritis sehingga harus segera dioperasi dan itu kontan membuat Bu Maya shock.
Karena masalah ini, Alina meminta bantuan Sintia untuk memulangkan Ivan pada ayahnya. Dan dari Ivan-lah, Arfan akhirnya mengetahui tentang kondisi ayahnya Alina.
Dia dan Ivan langsung pergi ke rumah sakit lalu menghubungi asistennya, menyuruhnya untuk memanggilkan beberapa dokter spesialis untuk menangani Ayah. Alina pun mantap untuk menandatangani persetujuan operasi.
Setelah mengurus segalanya, Arfan kembali ke rumah sakit malam harinya, membawakan makan malam untuk Alina dan menemaninya di sisinya. Alina setulus hati berterima kasih padanya. Tapi kenapa Arfan membantunya?
"Karena kau adalah istriku."
"Sebenarnya kau tidak perlu melakukan ini. Hubungan kita hanya kontrak kerja. Kau sungguh tidak memiliki kewajiban itu."
"Makan saja selagi panas. Nanti pangsitnya dingin."
Tiba-tiba Arfan mendapat chat dari sekretarisnya yang menanyakan keberangkatan mereka. Tapi Arfan mengabaikannya. Canggung, Alina mencoba menanyakan bagaimana hubungan mereka yang sebenarnya karena dia pernah dengar jika mereka pernah tunangan.
__ADS_1
Arfan akui bahwa kedua keluarga mereka memang dekat, tapi tidak benar jika dia dan sekretaris itu pernah tunangan. Mereka hanya kenalan saat masuk kuliah. Alina diam-diam senang mendengarnya.
Sintia tak sengaja bertemu Melisa, mengenali dan langsung menyapanya akrab, tapi Melisa tampak tegang bertemu dengannya. Dalam flashback mereka pernah bertemu di luar negeri saat Sintia mengantarkan obat untuk Melisa. Obat itu dari psikiater, apakah Melisa menderita depresi?
Kebetulan pula mereka ternyata berasal dari kampung halaman yang sama. Tapi entah kenapa fakta itu malah membuat Melisa tampak sangat gelisah. Hmm, mencurigakan. Sepertinya ada sesuatu yang dia sembunyikan.
Bahkan kali ini saat Sintia dengan ramah mengajaknya makan bersama kapan-kapan sebagai teman sekampung, Melisa terang-terangan menolak dan meminta Sintia untuk merahasiakan apa yang terjadi padanya di luar negeri dulu.
.
.
.
Hans dengan sengaja menyuruh beberapa pegawainya untuk menyusahkan Sintia dengan memberinya segudang pekerjaan yang sebenarnya bahkan bukan tanggung jawabnya dan mendesaknya untuk menyelesaikan semuanya dengan cepat.
Lalu Hans datang bak pahlawan yang menyelamatkan si cantik dari pembullyan dan pura-pura mengomeli para pegawai yang membuli Sintia, lalu menyatakan bahwa Sintia adalah orangnya.
Ayah akhirnya sadar keesokan harinya. Biarpun sangat takut jika dirinya mungkin akan mati selama operasi nanti, tapi sempat-sempatnya dia masih memikirkan uang hasil taruhannya dengan teman-temannya dan mengeluh jika dia ingin makan buatan Alina.
Yang tak disangka, Ayah ternyata tak pernah memakai uang saku pemberian Alina. Semua uang pemberian Alina ditabungnya di bank dan sekarang Ayah memberikan kartu ATM tabungannya itu ke Alina sebagai hadiah pernikahan. Alina terharu mendengarnya.
Ibu dan Alina gugup menantikan hasil operasinya Ayah. Arfan dan Ivan datang tak lama kemudian untuk menemani dan menyemangati mereka. Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya operasinya Ayah selesai dengan lancar.
Alina menjaganya semalaman sampai terkantuk-kantuk di kursinya. Melihat itu, Arfan jadi bingung harus bagaimana untuk membenarkan posisi tidurnya Alina. Akhirnya dia hanya menyelimuti Alina dengan jasnya lalu berusaha merapikan rambutnya Alina yang nempel ke bibirnya, tapi Alina malah tiba-tiba saja menggigit jarinya dan mengunyahnya tanpa sadar sambil melantur tentang ceker ayam.
Dan Alina baru bangun semenit kemudian saat Arfan berusaha menarik tangannya dari mulutnya. Dan baru saat itulah mereka sadar jika Ayah ternyata sudah bangun sedari tadi dan geli melihat interaksi lucu mereka. Canggung, Alina cepat-cepat berakting seolah mereka pasutri mesra.
Ibu tirinya Arfan datang keesokan harinya menjenguk besan. Di hadapan mereka, sikapnya tampak sangat sopan. Padahal begitu berduaan saja dengan Arfan, dia langsung tak senang memprotes Arfan yang mengabaikan pekerjaannya hanya untuk mengurusi 'orang asing'. Tapi Arfan tegas mengingatkan bahwa Ayahnya Alina bukan orang asing, melainkan ayah mertuanya, keluarganya.
Bu Shintia makin tak senang melihat Ivan begitu akrab dengan keluarganya Alina, Bu Shintia jadi menduga jika Alina sengaja mendekati Ivan untuk mendapatkan Arfan. Tapi Arfan tegas menyangkal.
__ADS_1
Tapi Bu Shintia tak percaya, sangat yakin jika hubungan Alina dan Ivan tidak biasa. Maka kemudian dia menyuruh asistennya untuk diam-diam menyelidiki Alina lebih dalam lagi.
Hans juga datang menjenguk Ayah. Alina sekalian memanfaatkan saat itu untuk menanyai Hans tentang foto-foto punggung wanita itu. Hans awalnya ragu untuk menjawabnya, tapi Alina dengan cerdiknya memancing Hans dengan menawarinya segala informasi tentang Sintia.
Hans jelas langsung terpancing dan dengan senang hati memberitahu Alina tentang misinya Arfan yang ingin menemukan seorang gadis. Hanya saja dia hanya pernah melihat punggung gadis itu. Tapi Hans pesimis jika gadis itu benar-benar ada, soalnya dia meyakini jika Arfan hanya pernah melihat gadis itu dalam mimpinya.
Arfan baru selesai bekerja saat tiba-tiba dia mendapat telepon dari Ibunya Alina yang mendesaknya untuk segera datang ke rumah sakit. Arfan sudah khawatir saja terjadi sesuatu yang serius pada Ayah, tapi setibanya di sana, ternyata itu karena para saudaranya Alina datang.
Semuanya antusias sekali pada Arfan. Para wanita bahkan mengajak Arfan selfie dan minta nomor teleponnya. Salah satu teman Bu Shintia bahkan dengan antusias menanyakan loker di perusahaannya Arfan untuk putrinya. Ibunya Alina sampai risih melihat sikap mereka itu.
Sintia dan Melisa juga datang menjenguk. Berniat membantu mereka keluar dari situasi canggung ini, Sintia langsung memerintahkan Arfan dan Melisa keluar dengan alasan meminta mereka membawakan beberapa kotak buah yang dia bawa.
Tapi saat keduanya naik lift, mereka malah harus berdesakan di dalam lift yang sempit dan penuh itu. Posisi mereka menempel sangat dekat sehingga Arfan jadi bisa mengamati rival cintanya itu dengan cermat. Mulai dari kulitnya yang mulus, jenis parfum yang dipakainya, style bajunya, otot lengannya, kebersihan kukunya, dsb.
Melisa malah tersenyum geli, karena ini kedua kalinya mereka menempel sedekat ini setelah kejadian pertama di restoran hotpot waktu itu. Arfan langsung sebal mendengarnya dan memerintahkan Melisa untuk diam saja.
Biarpun Alina menyangkal perasaannya pada Arfan, tapi Sintia bisa melihat dengan jelas jika Alina sudah jatuh cinta pada Arfan dan memperingatkannya untuk berhati-hati terhadap Melisa yang jelas berniat merebut Arfan darinya.
Sintia memang benar. Bahkan saat itu juga, Melisa muncul di rumah sakit hanya untuk menjemput Arfan kembali ke kantor dengan alasan ada masalah dengan pekerjaan mereka lalu mengancam Alina untuk berhenti merepotkan Arfan. Alina jadi kesal karenanya, dan reaksinya itu kontan membuat Melisa sedih menyadari jika Alina ternyata sudah jatuh cinta pada Arfan.
Akhirnya setelah sekian purnama hilang, cincin berlian sebesar gaban itu ditemukan juga secara tak sengaja saat Sintia menjatuhkan beberapa barang di rak. Dia langsung mengembalikan cincin itu ke Alina dan memberitahu Alina bahwa ketemunya cincin ini menandakan bahwa Alina harus mulai bertindak sebagai Nyonya Arfan, lindungi suaminya, jangan sampai direbut si pelakor.
Ayah akhirnya sudah boleh pulang dari rumah sakit. Mereka sekeluarga pun merayakannya dengan makan malam bersama. Ivan tampaknya begitu bahagia dan nyaman dengan keluarga barunya yang lengkap.
Tiba-tiba Arfan ditelepon oleh Hans yang menyuruhnya untuk segera datang ke hotel bersamanya untuk menemui seorang partner bisnis. Terpicu oleh semangat dari Sintia, Alina pun memutuskan untuk meminta bantuan Sintia untuk mendadaninya secantik mungkin lalu pergi menyusul suaminya ke hotel tersebut.
Kebetulan saat masuk lift, ada pria setengah baya yang mengedarkan ponselnya kesana-kemari. Sebenarnya dia hanya mencari sinyal, tapi Alina salah paham mengira pria itu memotretnya diam-diam.
Dan dia semakin salah paham saat pria itu tiba-tiba meletakkan ponselnya di lantai, tepat di bawah kakinya. Sontak saja Alina langsung menyerang pria itu dan berniat ingin menyeretnya ke polisi. Tapi begitu lift terbuka, dia malah mendengar Arfan dan Hans memanggil pria itu sebagai Direktur Jameson, partner bisnis mereka.
Sintia diganggu kakaknya yang mendadak datang ke kantornya, bersikap sangat arogan seolah dia bos padahal dia hanya pengangguran beban keluarga yang terus menerus minta uang pada adiknya dengan berbagai alasan.
__ADS_1
Memperhatikan interaksi mereka dari kejauhan membuat Hans jadi salah paham mengira pria itu naksir pada Sintia. Maka dia langsung merangkul Sintia sok romantis dan berusaha mengusir si kakak. Tapi saat si kakak memperkenalkan dirinya sendiri sebagai kakak kandungnya Sintia, Hans mendadak berubah sikap dan langsung menyapa si kakak dengan ramah.