Ibu Mirip Untuk Anakku

Ibu Mirip Untuk Anakku
15. Bertemu Ibuku


__ADS_3

Setelah makan Ivan sangat mengantuk.


"Ibu aku sangat mengantuk!"


"Kau mengantuk ya? Yasudah sambil menunggu pak Aris menjemputmu kau tidur saja dikamar ku ya!"


"Iya ibu." Ucap Ivan dengan matanya yang sudah tertutup tapi masih bisa mendengar suara


Dengan Sabar Alina menggendong Ivan yang sudah sedikit tertidur di kursi meja makan.


"lihat anak itu, kurang ajar sekali dia." Kesal pak Hendro


"Pak sudahlah, Biarkan Alina merawatnya. Lagipula dia masih anak-anak wajar saja dia bersikap seperti itu." Ucap Bu Maya menenangkan Pak Hendro


"Ayah, aku akan membawanya ke kamarku terlebih dahulu untuk menidurkannya." Ucap Alina sambil menaiki tangga menuju kamarnya


"Iya, terserah padamu saja. Lihat Bu anak kita, dia baru saja datang ke rumah ini seharusnya dia menghabiskan waktunya bersama kita, dan lihat dia malah mengurus anak yang tidak tahu asal usulnya dari mana dan siapa dia." Terus gerutu Pak Hendro


Bu Maya yang mendengarkannya hanya tersenyum dan tergelitik melihat suaminya yang sedang menggerutu.


Pukul 19.00~~


Pak Aris datang dengan mobilnya menuju rumah Alina sesuai alamat yang sudah Alina kirimkan padanya 30 menit yang lalu.


"Sepertinya ini rumah nyonya Alina?" Ucap Pak Aris sambil menyamakan alamat dan menimbang-nimbang lalu masuk karena gerbang tak dikunci dan mengetuk pintu


"Permisi..."


Tok...tok...tok


"Siapa lagi, malam-malam begini ada orang yang mengetuk pintu." Kesal pak Hendro


"Biar ibu saja yang buka ya, Pak."


"Yasudah cepat buka!"


Bu Maya melangkahkan kakinya ke arah pintu lalu membukanya.


"Permisi nyonya, Apa benar ini rumah nyonya Alina?" Tanya pak Aris


"Ia benar, anda siapa ya? Ada perlu apa dengan anak saya?"


"Jadi, nyonya ini mertua Tuan Arfan ya? Perkenalkan nyonya, saya Aris supir Tuan muda Ivan! Nyonya Alina membawa Tuan muda majikan saya kemari." Jelas pak Aris


Pak Hendro pun datang menghampiri pak Aris dan bu Maya.


"Siapa Arfan?" Tanya Pak Hendro yang mengintimidasi


"Maaf Tuan, pasti anda ayahnya nyonya alina yah saya baru lihat. Karena setahu saya orang tua nyonya Alina sudah meninggal."


"Diam kau... Enak saja bicara jika kami sudah meninggal, atau tidak akan ku cekik kau. Anakku Alina pun sama sekali belum menikah." Pak Hendro yang mulai marah

__ADS_1


"Pak sudah, lagipula beliau tidak tahu. Kita bisa menjelaskannya baik-baik." Ucap Bu Maya menenangkan dan menahan Pak Hendro yang akan memukul Pak Aris


"Ayahnya Nyonya Alina galak juga." Pekik Pak Aris dalam hatinya


Alina pun turun.


"Ayah... Ibu? Ada apa ini ribut-ribut?" Tanya Alina


"Tidak ada Alina, kau tidak tahu ayahmu saja seperti apa dia?" Ucap Bu Maya membuat Alina kebingungan, lalu Alina melihat Pak Aris.


"Pak Aris? Kau sudah datang, ayo masuk Pak. Ayah ibu kenapa kalian tidak membiarkan nya masuk?"


"Iya maafkan ibu Alina. Ayo pak Aris masuk dulu." Ucap Bu Maya, sedangkan Pak Hendro masih menatap Pak Aris tajam


"I-iya nyonya." Pak Aris pun masuk dengan malu-malu karena merasa terintimidasi oleh Pak Hendro


"Silakan duduk pak!" Ucap Alina, membuat pak Aris, Pak Hendro, Alina dan Bu Maya duduk di ruang tamu


"Terima Kasih nyonya." Jawab Pak Aris


"Saya ingin menjemput Tuan muda Ivan nyonya, di mana dia?"


"Dia sedang tidur, Baru saja aku menidurkannya."


"Owh seperti itu, jika begitu izinkan saya membawa pulang tuan muda, nyonya."


"Apa kau yakin Pak Aris, lagipula tidak apa-apa jika Ivan menginap semalam di rumah kami." Ucap Bu Maya


"Tidak, untuk apa kita memperdulikan anak itu. Keluarga kita saja bukan, memangnya orang tuanya mampu membayar biaya yang dia habiskan selama di rumahku ini." Lontar Pak Hendro


"Ayah? Apa yang ayah katakan, tidak baik berbicara seperti itu!" Ucap Alina


"Tidak nyonya, sebaiknya saya membawa pulang tuan muda saja. Lagipula saya takut jika ayahnya menanyakan keberadaan tuan muda pada saya."


"Emm... Baiklah kalau begitu. Ikutlah denganku, Ivan ada dikamar ku." Ucap Alina beranjak dari duduknya dan menuju kamar diikuti pak Aris


Saat sampai dikamar pak Aris langsung menggendong tubuh mungil Ivan yang sedang tertidur pulas, dan membawanya pulang.


Di luar~~


"Saya ucapkan terima kasih nyonya sudah menginzinkan tuan muda bersama anda sampai banyak merepotkan."


"Iya sama-sama pak, sama sekali tidak merepotkan." Jawab Alina


"Kalau begitu saya pamit Nyonya, Pak, Bu. Permisi!" Pamit Pak Aris masuk mobil


"Iya hati-hati, Pak Aris." Jawab Alina dan bu Maya


"Hey kau, jangan lupa. Katakan pada majikan mu untuk membayar semua biaya tumpangan anak nya itu dirumah ku! Dan jangan lupa sekali lagi kau memanggil anakku dengan sebutan nyonya, akan kau cekik dirimu!" Ujar lain Pak Hendro membuat Bu Maya dan Alina malu dibuatnya


"Ayah, sudahlah. Ayah ini ada-ada saja." Jawab Alina

__ADS_1


Setelah mobil pak Aris jauh dari jangkauan mereka, mereka pun masuk kembali ke dalam rumah.


Di Mansion Arfan~


Pak Aris sampai dan langsung masuk untuk menidurkan Ivan dikamar nya.


Ivan sama sekali tidak terganggu, ia tetap tertidur dengan pulas.


Waktu semakin malam, dan Ivan bermimpi dalam tidurnya.


"ibu jangan pergi, Jangan tinggalkan aku lagi ibu... ibu aku mohon jangan pergi." Mengingau Ivan karena mimpi yang membuat tidurnya tidak tenang


Hari Pun kembali pagi, dan Ivan terkejut ia terbangun dikamar nya. Karena ia sendiri mengingat bahwa sebelumnya ia tidur dikamar Alina dan Alina sendiri yang menidurkannya. Tapi saat bangun, suasananya berbeda dan ia kembali merenung.


Tanpa bersedih lagi Ivan langsung bersiap-siap untuk sekolah, karena tidak ada gunanya untuk bersedih. Ia berpikir ia bisa menemui orang yang ia anggap adalah benar ibunya.


Di Ruang makan~


Terdapat Arfan dan Nadine yang sudah duduk di kursi meja makan dan saling bermesraan.


Ivan pun langsung duduk di tempat kursi meja makannya, dengan perasaan senang dan tidak sedih.


"Kemarin kau kemana? apa kau tidak ingin lagi tinggal bersama ayahmu, lalu kenapa kau pulang. Tinggal saja di jalanan tanpa memikirkan tempat tinggal mu." Ucap Arfan yang marah karena menyadari bahwa Ivan tidak pulang ke rumah


"Ayah, kemarin aku tinggal bersama ibu. tapi ibu mengirim ku kembali malam tadi pada saat aku sedang tidur." Jawab Ivan


"Ibu? Ibu siapa yang kau maksud, kau sama sekali tidak memiliki ibu. Ibumu sudah meninggal, apa kau tinggal di kuburan kemarin bersama ibumu dan arwahnya mengembalikan mu kembali ke rumah begitu yang kau maksud!" Ucap tega Arfan


"Ayah, aku benar-benar bertemu ibu. Ia masih hidup, nanti ayah harus ikut bersamaku ayah pasti akan terkejut dan senang."


"Kau ini masih anak-anak, Tapi pikiranmu sudah gila. Coba lihat anak lain seusia-mu mereka bermain tanpa beban seperti dirimu, bukan seperti yang sudah gila." Tega Arfan


Pak Aris dan Bu Lastri yang berada di sana, tersentuh hatinya dan menganggap Arfan sudah keterlaluan. Tapi apa daya mereka tidak bisa membantu Ivan.


Ivan berusaha untuk terus menjelaskan, sampai sarapan yang seharusnya tenang berubah menjadi neraka.


"Kau pikir aku percaya padamu!" Arfan yang sudah marah dan berdiri dari kursi meja makannya lalu menatap tajam Ivan


Sedangkan Nadine ia tersenyum devil.


"Ayah aku-...!!" Terpotong


"Cukup Ivan, Aku tidak ingin mendengar penjelasan omong kosong mu itu. Sepertinya kau harus diberi pelajaran."


Arfan menghampiri Ivan lalu menyeret tubuh mungilnya kuat, lalu pergi ke dapur membawa air panas yang sudah mendidih dan menyiramkannya pada Ivan tanpa berpikir panjang.


"Aaaaa... Ayah panasss!" Teriak Ivan keras, membuat dinding yang mendengarnya pun merasakan kesedihan dan kemurkaan


"Itu Akibatnya jika kau terus berbuat semaumu!" Ucap Arfan yang sudah tidak waras perbuatannya


Ivan menangis sekuat-kuatnya karena kesakitan, Seluruh kulitnya sudah melepuh akibat air panas yang disiramkan Arfan padanya.

__ADS_1


Karena sudah puas, Nadine baru bertindak dan mencari perhatian. Ia menghentikan Arfan untuk tidak berbuat semena-mena lagi.


__ADS_2