Ibu Mirip Untuk Anakku

Ibu Mirip Untuk Anakku
65. Keluarga Kecilku (Tamat~)


__ADS_3

Arfan, Alina dan Ivan bermain basket dengan riang gembira. Tapi tiba-tiba Alina asal melempar bolanya tepat menimpuk kepala Arfan sampai dia pingsan.


Dalam ketidaksadarannya, Arfan melihat almarhum istrinya mendatanginya, meminta maaf sekaligus berterima kasih padanya karena telah menjaga Ivan dengan menjadi sosok ayah yang baik. Dia meyakinkan Arfan bahwa Alina yang ia kenal sekarang adalah Ibu selamanya untuk Ivan, lalu pamit selama-lamanya.


Oh, ternyata Arfan tidak pingsan. Dia hanya berhalusinasi gara-gara timpukan bola tadi. Untungnya hanya halusinasi dan tidak kenapa-kenapa tapi mimpi mendiang istrinya itu sangat menguatkan dirinya. Ivan langsung berbaring di tengah ayah dan ibunya, dan dengan imutnya berkata bahwa dia ingin bersama ayah dan ibu selama-lamanya.


Di sisi lain karena Melisa diusir dari rumah, Zayn yang dekat dalam beberapa waktu lalu lagi-lagi menampung Melisa di rumahnya. Melisa bahkan memberinya inspirasi untuk membuat sebuah desain baru. Sementara dia sibuk menggambar, Melisa memasakkan mie telur tomat untuknya, menunggunya dengan sabar sampai dia selesai menggambar, tampak begitu senang dan bangga melihat perkembangan Zayn.


Zayn benar-benar berterima kasih padanya. Melisa telah banyak membantunya dan menyembuhkannya. Sebagai gantinya, dia juga akan membantu menyembuhkan Melisa. Yang dia maksud adalah menyemangati Melisa untuk melupakan masa lalunya (Arfan) dan move on. Menyadari Zayn benar, Melisa pun menutup fotonya bersama Arfan sebagai pertanda bahwa dia akan melupakan Arfan dan move on.


Berkat desain terbarunya, Zayn diundang untuk menjadi rekan desainer di salah satu rumah mode di Perancis. Yang itu artinya dia akan segera berangkat ke Perancis, dan fakta itu tiba-tiba membuat Melisa jadi sedih. Zayn awalnya senang sekali... Sampai saat dia menyadari bahwa itu artinya dia akan berpisah dengan Melisa dan fakta itu tiba-tiba membuatnya jadi sedih juga.


Alina dan Arfan akhirnya resmi mendaftarkan pernikahan mereka. Alina bahagia sekali memandangi akta nikahnya. Arfan menuntutnya untuk memanggilnya 'Suamiku' mulai sekarang.


Tapi Alina terlalu malu, malah memanggil Arfan "Tuan."


Arfan tidak terima dan langsung menggelitik istrinya sampai si istri menyerah dan akhirnya memanggilnya 'Suamiku'. Arfan pun senang.


"Impian terbesarku akhirnya terkabul. Apa kau masih ada impian yang belum terkabul... sebelum pergi ke Jerman?" Tanya Arfan.


Hah? Pergi ke Jerman? Iya, Arfan ingin Alina pergi ke Jerman dan mengejar impiannya menjadi dokter yang lebih sukses dengan menempuh pendidikan S2. Pastinya dia sebenarnya tidak rela, tapi sekarang dia tidak perlu khawatir karena dia sudah mengikat Alina dengan akta nikah ini. Dia janji akan mengunjungi Alina setiap bulan bersama Ivan.

__ADS_1


Alina setuju, tapi dia ingin mereka mengadakan resepsi pernikahan setelah dia pulang nanti dan request gaun pengantin yang berekor sangat panjang. Arfan setuju.


Alina pun akhirnya pergi ke Jerman, dan Arfan kembali ke perusahaan lamanya, kembali ke posisinya sebagai CEO.


Hans dan Sintia sedang kencan nonton film horor, tapi yang ketakutan malah Hans. Hmm, sepertinya sengaja supaya dia bisa peluk-peluk Sintia. Tepat saat mereka lagi pelukan, Ayahnya Hans mendadak muncul.


Sintia panik melepaskan diri dan berniat kabur, tapi Hans sontak mencegahnya pergi dan mental memperkenalkan Sintia sebagai kekasihnya. Ayahnya tiba-tiba tidak setuju, padahal dulu ia mendorong Hans untuk segera menikah dan mendekatkannya dengan Sintia, padahal ayahnya mengira jika putranya tidak serius terhadap wanita seperti biasanya, dan langsung memaksa Hans masuk kamar agar ia bisa bicara berdua dengan Sintia.


Entah apa yang mereka bicarakan, tapi keesokan harinya, Sintia mulai menjaga jarak darinya, bahkan terang-terangan meminta mengakhiri hubungannya. Hans tidak setuju, dia benar-benar serius pada Sintia dan tidak rela berpisah darinya.


Dia langsung pergi mengonfrontasi ayahnya, dan jadilah kedua ayah dan anak itu bertengkar. Ayahnya bahkan mengancam akan mengambil kembali segala hal yang Hans miliki jika Hans tetap bersama Sintia, dan menyodorkan wanita lain saja untuk untuk menggantikan Sintia sebagai sekretarisnya Hans. Hans sangat bingung dengan tarik ulur ayahnya sekarang.


Pokoknya jika Hans berpisah dari Sintia, maka dia akan bisa memiliki segalanya, dia bisa main sepuasnya dan hidup enak selama-lamanya biarpun dia hanya ongkang-ongkang kaki seumur hidup.


Tapi bukan berarti dia tidak ingin mengakui ayahnya sendiri. Ayahnya tetap ayahnya selamanya. Lagipula, bahkan sekalipun dia ingin putus hubungan dengan Ayahnya, Sintia pasti tidak akan mengizinkannya.


Dulu memang dia suka bermain dengan sembarang wanita, tapi kali ini dia serius. Dia rela menukar apapun demi Sintia.


Tapi alih-alih kesal, Ayahnya malah ketawa senang dan memuji Sintia. Ternyata mereka berdua bekerja sama untuk menguji keseriusan Hans. Ayahnya malah senang sekali pada Sintia dari sejak awal, apalagi dia menyadari betul jika putranya banyak mengalami perkembangan selama bersama Sintia.


Memiliki Sintia sebagai menantu, jelas sebuah keberuntungan bagi keluarganya. Ayahnya bahkan bersedia mengganti rumahnya Hans dengan rumah yang lebih besar. Hans menolak, dia akan membeli rumah mereka sendiri dari hasil gaji sebagai asisten pribadi Arfan supaya tidak akan bisa mengambilnya atau alasan untuk memberikan kembali rumahnya.

__ADS_1


...***...


1 Tahun 6 Bulan Kemudian~


Hari ini Alina kembali dari Jerman setelah menyelesaikan studi S2 Pendidikan Dokternya. Arfan dan Ivan pergi menjemputnya di bandara dengan membawa sebuket bunga. Ivan sudah semakin cerewet sekarang, bahkan berani bicara lancang pada ayahnya.


Tapi di tengah jalan, mereka tiba-tiba ditelepon Alina yang berkata bahwa ada masalah dengan proyeknya, jadi dia batal pulang. ayah dan anak itu akhirnya pulang dengan wajah lesu penuh kekecewaan... Sampai saat mereka melihat si ibu yang ternyata sudah menunggu mereka di rumah.


Ivan sontak berlari ke pelukan ibunya sambil cerewet memanggilnya 'Ibu' berulang kali seperti kaset rusak. Arfan pun sangat bahagia hingga dia langsung mengusir Ivan supaya dia bisa mencium istrinya yang sangat dirindukannya.


Tak lama kemudian, mereka akhirnya melangsungkan resepsi pernikahan dengan Ivan sebagai penghulunya dan teks pidatonya sangaaaaaaaat panjang. Baru juga dia membuka acara dengan satu kalimat puitis, ibunya cepat-cepat menyela dan memintanya untuk langsung masuk ke intinya saja.


"Baik, ibu." Ivan menurut. Tapi... "Inti itu apa?"


Berhubung dia tidak mengerti, si ayah mengarahkan Ivan untuk langsung menanyakan apakah kedua pengantin bersedia saling menerima satu sama lain sebagai suami dan istri. Kedua pengantin pun langsung mengiyakan tanpa ragu.


Setelah tukar cincin, Ivan mempersilakan ayah dan ibunya ciuman. Tapi Si ibu mendadak gatal-gatal di punggungnya dan meminta Arfan untuk menggaruk punggungnya tak peduli biarpun mereka sedang ditonton banyak orang.


Setelah gatalnya reda, Alina pun mengucap. "Terima kasih, Tuan."


Apa? Tuan? Arfan jelas kesal mendengarnya dan langsung menciumnya. Sekarang saatnya lempar buket. Para pria dan wanita lajang langsung berkumpul dengan antusias, kecuali Melisa yang tampak tidak bersemangat.

__ADS_1


Namun yang tak disangka, buketnya malah jatuh ke tangan Melisa. Berhubung Melisa tidak Melisa pasangan, jadi Hans mencoba membujuk Melisa untuk memberikan buket itu padanya saja. Tapi tepat saat itu juga, Zayn kembali. Melisa akhirnya memiliki pasangan dan semua orang pun akhirnya berbahagia.


...~END~...


__ADS_2