
Arfan masih terus memikirkan masalah Alina sampai keesokan harinya saat sedang rapat di kantor. Saking bingungnya, dia sampai meminta pendapat para pegawainya. Tapi tentu saja dia tidak mengatakan siapa orangnya dan hanya berkata bahwa dalam proses perekrutan pegawai, dia mendapati masalah yang sulit. Dia sudah memberikan yang terbaik, tapi orang tersebut tidak tertarik.
"Anda bisa berusaha membuat orang tersebut merasakan bahwa anda bukan hanya mengakui kemampuannya, tapi juga membantunya dan mendukungnya. Hidup dan bertumbuh bersama. Sama seperti sebuah hubungan asmara." Nasihat salah satu manajer.
Hmm... Nasihat yang bagus. Arfan jadi makin tidak fokus kerja, malah scrolling medsos-nya Alina. Ia memerhatikan wajahnya yang memang sangat mirip bukan sekilas lagi seperti mendiang istrinya. Mungkin inilah yang membuat Ivan ngotot ingin Alina menjadi dokter pribadinya atau ada alasan lain? Tapi Arfan tidak menyukai Alina ini, karena sifatnya berbeda dengan mendiang istrinya. Dan ujung-ujungnya tidak sengaja memencet like foto selfie-nya Alina. Pfft! Lucunya lagi, Ivan mendadak mengirim chat ancaman pada ayahnya yang berbunyi 'Kesempatan terakhir, jangan membuat kecewa'.
Melihat Alina mengupload foto kue di medsosnya, Arfan memutuskan untuk membuat kue sendiri khusus untuk Alina, dia bahkan menghias kuenya dengan gambar kartun. Padahal itu percobaan pertama membuat kue, tapi sukses besar.
Kuenya sudah jadi. Mereka pun ingin membawa kue itu ke Alina, tapi malah terjebak macet di tengah jalan. Karena satu-satunya kendaraan yang tidak terjebak macet adalah angkutan umum, mereka berdua terpaksa berdesak-desakan di bis.
Mereka akhirnya tiba di rumah sakit tidak lama kemudian, Ivan langsung semangat menarik Alina untuk melihat kue yang mereka bawa. Alina pun tersentuh membaca pesan yang tertulis di atasnya.
Selain membawakan kue, Ivan mengajak Alina untuk ikut ke tempat bermain. Setelah penolakan dan bujukan yang lama akhirnya Alina menyetujui. Dokter Zayn yang melihat kejauhan pun sangat cemburu karena akhir-akhir ini ayah dan anak itu selalu menemui dan membawa Alina pergi.
...***...
Saat Alina ingin membantu Ivan main game menembak, Arfan sinis meragukan kemampuannya. Dan benar saja, tembakan Alina meleset dua kali. Maka pada ronde terakhirnya, Arfan memutuskan membantu Alina dan kali ini sukses tepat sasaran, sekaligus membuat mereka berdua jadi canggung lagi karena wajah mereka yang sangat dekat. Ivan senang.
Malam harinya saat tengah berendam di bak mandi, Alina tak bisa berhenti memikirkan Arfan. Mengingat beberapa kali Arfan membantunya, Alina mulai berubah pikiran tentang Arfan.
Keesokan harinya, Alina demam tapi masih ngotot bekerja. Dan saat dia membaca kembali rekam medisnya Ivan, dia baru menyadari bahwa lusa adalah hari ulang tahunnya Ivan. Dia mengingat saat ia baru mengenalnya, Ivan sedang ulang tahun, namun posisi saat itu Ayahnya dalam pengaruh buruk yang membuat anak kecil itu sangat terobsesi menganggapnya sebagai ibunya.
Saat menemani Ivan bermain, Alina mencoba menanyakan apa harapan Ivan untuk ulang tahunnya. Tapi pertanyaan itu malah membuat Ivan marah hingga dia menghancurkan lego yang baru saja dibangunnya.
__ADS_1
Bingung, Alina pun memutuskan untuk bercerita tentang dirinya sendiri. Dia mengaku suka merayakan ulang tahun. Tapi ulang tahunnya di bulan Juni yang biasanya bertabrakan dengan ujian akhir atau pertemuan orang tua murid di sekolah, yang paling menyedihkan adalah saat ultahnya tidak dihadiri lagi bersama seorang ibu. Makanya biasanya dia selalu iri dengan orang-orang yang bisa membuat pesta ulang tahun bersama sosok ibu.
"Ivan, bisakah kau beri tahu aku, apakah kau pernah mendapat hadiah ulang tahun spesial? Bisakah kau menggambarkannya untuk membuatku iri?"
Tapi pertanyaan itu malah membuat Ivan jadi semakin sedih. Dia lalu mengambil dua buah mainan mobil-mobilan lalu menabrakkan kedua. Melihat itu, Ayah langsung memeluk Ivan yang tampak sangat sedih.
Saat mereka bicara berdua, Arfan memberitahu Alina bahwa satu tahun yang lalu di hari ulang tahunnya Ivan, mereka kehilangan orang terdekat. Ivan pasti sangat sedih atas kepergian ibunya. Gara-gara itu, Ivan mengalami PTSD yang membuatnya tidak ingin bicara mengenai masa lalu dan selalu menghindari orang asing.
"Aku berharap bisa membuat Ivan bisa sekali lagi memiliki kebahagiaan yang seharusnya dimiliki anak seusianya." Ujar Arfan.
Karena itulah selama bertahun-tahun ini, dia berkonsultasi dengan banyak dokter untuk mengembalikan keceriaannya. Tapi hasilnya tidak sesuai harapan. Alina mengerti, dan mendadak usul agar mereka merayakan ulang tahunnya Ivan untuk membangun kembali kepercayaannya.
Malam harinya, Alina menceritakan masalah ini pada Zayn. Tapi Zayn heran dengan masalah anak itu karena selama ini kenapa Alina begitu ingin membantu mereka?
...***...
Sample produk terbaru perusahaannya Arfan sudah jadi, sepasang gelang pintar yang ditujukan untuk para pasangan. Dengan gelang pintar itu, pasangan bisa saling mengetahui suhu tubuh ingin pun lokasi geografis satu sama lain dari jarak jauh. Dan juga bisa mengirimkan sinyal darurat pada satu sama lain dalam keadaan darurat, sehingga para pasangan bisa saling melindungi biarpun dalam jarak jauh.
Arfan memutuskan untuk memakai salah satunya. Sedangkan gelang pasangannya, awalnya dia berniat minta bantuan Hans untuk memakai yang satunya. Tapi Hans malah memiliki niat macam-macam sama gelang itu, Arfan langsung membatalkan niatannya dan merebut kembali gelangnya.
Alina datang ke kantornya Arfan untuk membahas rencana acara ulang tahunnya Ivan. Karena acara ulang tahun ini juga termasuk sebagai salah satu bentuk pengobatannya Ivan, jadi Arfan menganggap ini sebagai kerja sama bisnis dan menawarkan uang yang sangat besar pada Alina. Tapi Alina menolak uangnya. Sebagai gantinya, dia hanya ingin ditraktir makan.
Maka mulailah mereka membuat berbagai persiapan untuk acara ultahnya Ivan. Dan saat Alina mengeluh lapar, Arfan benar-benar memberikan apa yang dia inginkan.
__ADS_1
Malam harinya, Arfan mengantarkan Alina pulang. Tapi Alina malah ketiduran di mobil. Awalnya dia ingin membangunkan Alina, tapi melihat tangan Alina mendadak membuat Arfan memiliki ide bagus.
Dia langsung mengeluarkan pasangan gelang pintarnya dan memakaikannya ke tangan Alina tepat saat Alina baru bangun. Dia memberitahu Alina bahwa itu adalah gelang kesehatan couple, produk terbaru perusahaannya yang sedang dalam tahap uji coba. Tapi dia tidak mengaku jika dia sendiri yang memakai gelang pasangannya.
Alina menjadi penasaran. Menurut buku petunjuk, gelang itu juga bisa digunakan untuk memanggil pasangannya. Alina jadi ingin memanggil gelang pasangannya, tapi Arfan buru-buru mengusir Alina sebelum Alina sempat melakukannya.
Begitu tiba di rumah, Arfan mendapati Ivan sedang marah padanya. Tapi begitu dia membujuknya untuk makan bersama Arfan besok, Ivan langsung semangat dan mendadak berhenti marah.
Tapi keesokan harinya, Alina malah tiba-tiba tidak enak badan. Tapi dia tetap memaksakan diri untuk bekerja dan menolak minum obat. Dia tidak sadar jika gelang pintar yang dipakainya mengirim notifikasi tentang suhu tubuhnya ke gelangnya Arfan.
Arfan jadi cemas dan langsung meneleponnya, mengomelinya untuk minum obat supaya tidak menulari orang lain. Tapi Alina malah jadi kesal dan langsung mematikan teleponnya, bersikeras menolak minum obat biarpun rekan kerjanya juga mencoba membujuknya untuk minum obat.
"Ck... Apa pedulinya dia padaku? Memangnya dia siapa? Ayah ibuku saja tidak terlalu mengkhawatirkan ku." Ucap Alina melemparkan handphone nya ke atas ranjang.
Padahal sakitnya jadi semakin parah malam harinya. Parahnya lagi, Zayn juga tidak bisa menjaganya karena harus pergi dinas. Badannya bahkan semakin lemas waktu dia berendam air panas. Saking lemas nya, dia sampai tidak kuat untuk bangkit dari bathtub.
Arfan sudah ada di depan rumahnya saat itu, berniat menjemputnya untuk merayakan ultahnya Ivan. Tapi teleponnya sama sekali tidak bisa dihubungi. Arfan jadi sangat cemas dan langsung berusaha menggedor pintunya.
"Dokter Alina, Apa kau baik-baik saja di dalam? Ini aku, Bukalah pintunya!"
Tapi tidak ada jawaban sama sekali dari dalam, Arfan hanya mendengar suara HP-nya berbunyi. Dia jadi semakin takut terjadi sesuatu yang buruk pada Alina. Karena pintu rumahnya memakai smart door lock, Arfan memutuskan untuk memecahkan sandi kunci rumahnya.
Beberapa kali dia mencoba memencet kombinasi angka sesuai jejak sidik jari yang dia lihat di monitor, tapi tetap saja gagal. Dia terus berusaha memikirkan kombinasi angka sesuai jejak sidik jari itu... hingga dia tiba-tiba teringat tentang ucapan Alina tentang ulang tahunnya bulan Juni yang selalu bersamaan dengan ujian nasional. Berarti sandinya, 0607... dan walah! Pintu itu akhirnya terbuka. Arfan langsung masuk sambil memanggil-manggil Alina yang saat itu sudah mulai tenggelam ke bak mandinya.
__ADS_1