
Begitu masuk, Arfan langsung menerjang masuk ke kamar mandi... tepat saat Alina sedang memakai baju. Pfft! Syukurlah ternyata dia tidak tenggelam di bathtub walaupun memang dia masih sakit. Padahal pikir Arfan sudah kemana-mana.
"Dasar Mesum! Masuk sembarangan ke rumah orang lain begitu saja. Padahal aku sedang memakai baju, lalu akan membuka pintu. Keluar! Tapi jangan tutup pintunya, karena knob nya rusak." Mendumal Alina dengan suara yang masih lemah.
Malu, Arfan buru-buru keluar dan menutup pintu tanpa mendengar omongan Alina yang berusaha memintanya untuk tidak menutup pintunya karena knob-nya rusak. Tenaga dan suara Alina memang masih lemah, makanya Arfan tidak mendengarnya dan Alina sendiri terlambat menghentikan Arfan.
Dan Arfan semakin tak mendengar Alina yang berusaha keras memutar-mutar knob-nya karena kemudian dia menggunakan earpiece untuk menelepon pegawainya dan cerewet mengomeli si pegawai tentang gelang pintar couple itu, karena gara-gara gelang pintar itu tadi mengirim notifikasi suhu tubuh Alina sangat panas padahal sebenarnya itu suhu air panas. Karena itulah Arfan menyuruh para pegawainya untuk membenahi gelang pintar itu agar bisa membedakan antara suhu tubuh dengan suhu yang lain.
Dia terus mengomel panjang lebar saat tiba-tiba saja knob pintu kamar mandi mendadak copot dan Alina keluar dari kamar mandi dengan muka kesal. Dia ingin protes, tapi kondisinya terlalu lemah hingga tiba-tiba saja dia pingsan di dada Arfan.
Terpaksalah akhirnya Arfan yang harus merawatnya. Dia membaringkan Alina di kasurnya dan langsung sinis melihat keadaan kamar itu yang sangat berantakan.
"Ini sih lebih mirip peternakan kuman dan virus. Pantas saja wanita ini sakit. Bisa-bisanya seorang dokter tinggal di tempat seperti ini. Ckckck! Bagaimana jika dia jadi dokter pribadi di kediaman ku nantinya? Sudah bersyukur tinggal di rumah orang tuanya, tapi dia memutuskan tinggal sendiri sampai tidak merawat kondisi rumahnya."
Dia lalu mengatur beberapa obat-obatan yang perlu Alina minum di dalam sebuah kotak khusus obat. Tapi saat dia ingin membenahi selimutnya Alina, Alina tiba-tiba bergerak menariknya mendekat.
Matanya terbuka menatap Arfan, tapi pikirannya tidak sadar sepenuhnya, mengira jika yang dia lihat itu makanan kesukaannya dan langsung saja melayangkan kecupan sayang ke wajah Arfan yang dia kira ayam goreng sebelum kemudian memejamkan matanya kembali.
"Orang di rumah ini tidak ada yang normal." Heran Arfan.
...***...
Saat Alina terbangun keesokan harinya dan dalam keadaan masih setengah sadar, dia berpaling ke samping dan mendapati ada kepala. Dia santai saja mengelusnya dan memeluknya, mengira dirinya sudah memiliki suami, tapi kenapa kepalanya kecil?
"Kau sudah bangun?" Sapa Arfan yang baru masuk kamarnya.
Alina terkejut melihatnya, dan baru sadar jika yang dia peluk barusan ternyata Ivan yang tidur lelap di sampingnya. Bagaimana bisa mereka ada di sini?
"Ssst! Ivan menjagamu semalaman. Biarkan dia tidur sejenak. Kau bangun lebih dulu."
Yang lebih mencengangkan, saat Alina keluar kamar, dia mendapati rumahnya sekarang sudah jadi sangat rapi dan bersih. Wah! Ini berkat kerja keras Arfan yang membersihkan seluruh rumah itu semalaman.
Alina baru ingat apa yang terjadi semalam, saat Arfan menerobos masuk ke kamar mandinya dan juga saat dia melayangkan kecupan ke wajah Arfan. Dan jelas saja semua ingatan itu membuatnya jadi malu dan langsung mengomeli dirinya sendiri. Tapi bagaimana caranya Arfan masuk ke rumahnya, apa dia yang membukakan pintu?
"Aku buka sendiri. 0607, ulang tahunmu." Ucap Arfan seolah bisa membaca pikiran Alina.
__ADS_1
"Bagaimana kau bisa tahu?"
"Bukankah kau sendiri yang mengatakan pada Ivan bahwa ulang tahunmu pada bulan Juni yang selalu berdekatan dengan waktu ujian atau pertemuan orang tua murid. Yang paling parah adalah waktu ujian matematika pada ujian akhir SMA. Ujian akhir SMA biasanya pada tanggal 7 - 8 bulan Juni dan ujian matematika adalah pada hari pertama ujian. Jadi, sandi rumah mu adalah 0607. Bagaimana, aku hebat, kan?" Tanya Arfan dengan sombongnya.
"Dan... Tanggal Ulang tahunnya jelas berbeda dengan istriku Alina. Ini semakin menyadarkan ku bahwa wajahnya yang memang mirip saja." Gumam Arfan setelahnya.
Dia ingat semua yang Alina katakan. Errr... Maksudnya, dia mengingat semua perkataan Alina karena Alina adalah partner kerja yang sedang dia incar. Begitu!
"Oh... Lalu, apakah baju ini, kau yang memakaikannya?" Tanya Alina.
Arfan canggung mengakuinya, berhubung hanya ada dia di rumah ini, jadi yah dia yang melakukannya. Hah? Jadi maksudnya... Arfan sudah... sudah... melihat semuanya? Jawab yang jujur! Baiklah, Arfan jujur mengungkapkan pendapatnya tentang tubuh Alina.
"Tinggi badanmu sekitar 162-164. Perbandingan atas dan bawah 50:50. Lemak kebanyakan berpusat di bagian perut dan paha. Menurut analisa ku, berat badanmu seharusnya 2 - 3 lebih banyak dari pada yang kau tulis di CV-mu."
Alina sontak kesal mengancamnya dengan sendok.
"Siapa suruh kau mengatakan semua itu!"
"Lalu, kau ingin aku mengatakan apa? Bagus, tidak?"
Ivan mendadak muncul. Alina jadi canggung mendengarnya. Baru menyadari kehadiran Ivan, Alina jadi merasa bersalah padanya karena semalam gagal merayakan ulang tahunnya Ivan. Maka sebagai gantinya, Alina berjanji akan melakukan satu permintaannya Ivan.
"Ivan, Maafkan aku, ya. Gara-gara aku, kita jadi tidak merayakan ulang tahunmu. Tapi sebagai gantinya, kau boleh meminta apa saja, Ivan katakan saja ingin apa." Ucap Alina.
"Mom!" Ucap Ivan.
"Oh, baiklah, itu mudah!" Alina pun mulai menyuruh Ivan untuk mengikuti ucapannya 'Mom', dipikirnya Ivan ingin dia mengajarinya bahasa Inggris, padahal bukan itu yang Ivan inginkan. Alina menjadi bingung, jadi inginnya Ivan apa?
"Aku ingin kau menjadi Ibuku! Menikahlah dengan Ayahku." Ivan pun menegaskan maksudnya dengan lebih detil, dia ingin Alina jadi ibunya.
"Apa? Dia bercanda, ya. Mana mungkin diusianya yang masih kecil mengerti sebuah pernikahan." Gumam Alina mengelak. Tapi cengiran lebar Ivan dan senyum tipis ayahnya jelas menunjukkan jika Ivan tidak bercanda.
Alina jelas jadi canggung karenanya. Tapi... baiklah, Alina bersedia. Hah? Benarkah? Alina serius mengiyakan, dia akan menuruti apa pun yang Ivan inginkan. Tapi bukan ingin menikahi ayahnya. Dia hanya selalu menyetujui bahwa Ivan memanggilnya dengan sebutan Ibu.
Kecewa, Arfan tidak ingin mendesaknya lebih jauh dan mengajaknya pulang saja. Tapi Alina mendadak minta nebeng ke rumah sakit, bersikeras ingin tetap bekerja karena tidak ingin mengecewakan para pasiennya.
__ADS_1
...***...
Malam harinya, Ivan tidur di kasur ayahnya. Ia meminta Arfan untuk menemui Alina.
"Ayah, Antarkan aku menemui Ibu Alina." Pinta Ivan.
"Ivan, tidur saja. Ini sudah malam dan Dokter Alina pun pasti sudah tidur."
Tapi Ivan malah jadi marah dan mengancam akan membanting hardisk Arfan yang sontak saja membuat Arfan panik membujuk Ivan untuk meletakkan kembali benda itu. Ivan menurutinya, tapi kali ini dia ganti mengotak-atik laptop ayahnya.
"Tidak masalah kau menekan-nekan laptop ayah. Lagipula kau tidak akan bisa membukanya karena Ayah sudah mengganti password nya." Arfan dengan percaya diri berkata bahwa dia sudah mengganti password-nya, jadi Ivan tidak akan bisa membuka laptopnya.
Tapi beberapa detik kemudian, Ivan dengan santainya menunjukkan kehebatannya yang sudah berhasil membuka password laptop ayahnya. Wah! Pintar sekali Ivan. Ayahnya saja sampai kagum sekaligus kesal juga pada anaknya. Buah memang jatuh tidak jauh dari pohonnya, anaknya sudah berbakat IT sejak lahir.
...***...
Keesokan harinya saat baru keluar rumah, Alina mendapati ayah dan anak itu sudah menunggunya, memakai baju kembaran serba hitam dan kacamata hitam ala-ala boyband. Tampan sekali jadinya.
Mereka datang untuk menjemput Alina pergi bersama mereka karena hari ini pasiennya Alina hanya Ivan seorang. Dia sudah bicara dengan dokter kepala dan sepakat untuk memindahkan para pasiennya Alina yang lain ke dokter lain. Selain itu, Alina juga masih ada hutang makan bersama Ivan.
"Tapi..." Bicara Alina terpotong.
"Ivan mengatakan jika dia sudah mengatur semuanya, aku saja tidak tahu apa-apa." Kata Arfan.
"Aku tidak percaya jika Zayn menyetujui semuanya. Apa dia menolak dan sempat mendapatkan ancaman dari pria ini. Akhir-akhir ini aku tidak pernah menemuinya. Dia pasti sedang marah padaku." Gumam Alina.
Dalam flashback, Ivan dan Hans bekerja sama untuk mengatur rencana untuk mendekatkan ayahnya dengan Alina. Cara pertama adalah membangun perasaan di antara mereka berdua.
Mereka harus membuat sebuah situasi yang berbahaya di mana kedua orang itu saling bekerja sama berjuang menghadapi masalah. Berduaan dalam kondisi berbahaya pasti bisa menimbulkan percikan cinta.
Tempatkan mereka di sebuah ruang permainan rahasia. Terkurung bersama di tempat yang gelap, hanya bisa mendengar suara detak jantung satu sama lain, saling bersandar pada satu sama lain, Arfan menggunakan keahliannya untuk memecahkan berbagai permainan di sana, melindungi Alina dengan lembut, Alina pasti akan terkagum-kagum dan jatuh cinta pada Arfan.
Harapannya seperti itu. Tapi nyatanya, Arfan memang berhasil memecahkan berbagai permainan di ruang rahasia itu, tapi dia tidak ada lembut-lembutnya pada Alina, malah terus menerus mengejeknya setiap kali Alina tidak bisa melakukan apapun.
Berkat kepintaran Arfan, mereka berhasil keluar dari ruang permainan rahasia itu hanya dalam waktu beberapa menit. Tapi Alina sama sekali tidak ada kagum-kagumnya pada Arfan, sebal iya, dikarenakan dia jadi tidak bisa menikmati permainan tadi. Arfan sinis membalas menyindir kemampuan otaknya Alina. Ivan jadi pusing dengan kegagalan rencana pertamanya ini.
__ADS_1