
Rekan kerja Alina yang membencinya karena mengkhianati perasaan Dokter Zayn, kebetulan lewat bersama teman-temannya dan mereka langsung sinis menuduh Alina ngebet ingin menjadi Nyonya Arfan sehingga dia mencuci otak tuan muda Ivan untuk memanggilnya sebagai Ibu.
"Senior, Aku ingin mengucap selamat padamu. Setelah berpisah dengan Dokter Zayn, Masih semuda ini, kau sudah langsung memiliki anak sebesar ini. Hari-hari ke depanmu, pasti akan melelahkan." Sindirnya.
Alina tak gentar sedikit pun. "Aku juga ingin mengucap selamat padamu. Masih semuda ini, sudah menjadi tempat penampung sampah pria. Hari-hari ke depanmu pasti lebih melelahkan dariku."
Alina langsung pergi membawa Ivan kembali ke kamarnya dan berjanji akan menemani Ivan sepanjang hari ini. Tapi saat Ivan tanya apakah Ibu akan selalu menemaninya, Alina jadi agak canggung saat menjelaskan bahwa dia akan selalu menemani Ivan, tapi ada saat-saat dia hanya bisa menemani Ivan lewat cara lain, seperti bagaimana Ibu kandungnya Ivan.
"Lihatlah langit di sana. Sangat indah, bukan? Sebenarnya, ibunya Ivan tidak pernah meninggalkan Ivan. Dia hanya menggunakan cara yang berbeda untuk menemani Ivan. Mungkin sekarang ibunya Ivan berada di segumpal awan dan mengawasi Ivan secara diam-diam. Lihatlah awan itu, awan itu sangat indah seperti ibu, kan?" Alina lalu mengajak Ivan untuk selfie bersama awan-awan yang melayang di atas langit itu.
Sintia yang melihat perundungan di rumah sakit tidak sengaja mendengar nakes lain menggosipkan Alina dan menuduhnya menjilat anaknya Arfan untuk mendapatkan Arfan. Sintia jadi Kesal dan langsung balas menghina nakes itu. Nakes itu tidak terima dan langsung menarik Sintia tapi malah membuat kopinya Sintia tumpah ke bajunya.
Saat Arfan kembali ke rumah sakit, dia mendapati Ivan dan Alina tidur bersama. Arfan tersentuh melihat pemandangan itu. Dengan canggung dia mendekat untuk melindungi Alina dengan jasnya... Tepat saat Alina mendadak membuka mata dan langsung kontak mata dengannya.
Arfan sontak menjauh dengan canggung. Alina juga jadi canggung dan gugup. Dengan agak terbata-bata dia melaporkan perkembangan kondisi Ivan dan mengingatkan Arfan tentang obat-obatannya Ivan lalu pamit. Arfan saking gugupnya, menghindari kontak mata dengannya, bahkan saat dia menyerahkan oleh-oleh yang dibawanya.
"Ternyata kau baik juga." Komentar Alina lalu bergegas keluar sambil mengucap terima kasih.
__ADS_1
Tapi kemudian Alina malah diberitahu bahwa Sintia dipecat. Cemas, Alina bergegas pergi mencari Dokter Sintia. Tapi Sintia santai-santai saja dan berbesar hati menerima semua ini, dia akui jika dia memang salah dan melanggar aturan.
"Sintia, Kau tidak bersalah. Kau hanya berusaha memihak orang baik, tapi kenapa jadi kau yang dipecat?!"
Alina merasa bersalah dan ingin membantunya untuk bicara pada manajer rumah sakit, tapi Sintia melarang. Dengan tetap menampilkan senyum cerianya, dia meyakinkan jika dia sama sekali tidak menyalahkan Alina karena memang dia sendiri yang salah, dia tidak tahan melihat kelakuan nakes yang tidak tahu sopan santun itu.
Lagipula manajer rumah sakit masih berbaik hati padanya dengan mengakui kinerjanya sebagai sekretaris selama bertahun-tahun ini. Jadi, dia tidak dianggap dipecat, melainkan mengundurkan diri. Lagipula Alina tahu sendiri jika dia memang selalu ingin ganti pekerjaan.
Sintia bahkan mengajak Alina dan Tristan yang sama-sama berteman pergi ke bar untuk merayakan kebebasannya ini. Dia lalu mengajak Alina main suit, siapa yang kalah harus minum, dan Alina kalah terus, jadi dia harus terus menerus minum. Tristan tampak jelas mengkhawatirkan Alina sehingga dia mengganti minumannya Alina dengan jus tomat.
"Kakak senior sangat bijaksana. Kuharap aku bisa menjadi seperti dirimu, agar aku tidak mengacaukan hidupku sendiri." Kata Sintia.
Tapi tetap saja Alina tidak bisa tidak menyalahkan dirinya sendiri. Ini gara-gara dia masuk semakin dalam ke dalam jebakannya Arfan yang pada akhirnya malah menyeret orang-orang terdekatnya. Dia tahu betul kerasnya perjuangan Sintia untuk bisa diterima sebagai sekretaris direktur di rumah sakit Zayn, karena itulah sekarang dia merasa sangat bersalah.
Dia benar-benar merasa sangat menyedihkan. Sudah menghilangkan cincin pusaka keluarga lain, sekarang orang tuanya sangat bahagia mengira dia akan segera menikah dan dia tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya pada mereka. Dia memberikan harapan pada anak kecil, tapi sekarang dia tidak berani mengakuinya. Dan sekarang dia malah membuat sahabatnya kehilangan pekerjaannya. Dia benar-benar tidak berguna.
Tristan tidak setuju. "Kau hanya terlalu baik. Tapi Alina, terkadang keragu-raguan bukanlah solusi yang baik. Itu bukan hanya menyakiti diri sendiri, tapi juga menyakiti orang lain. Tidak perlu terlalu banyak berpikir, kau hanya perlu mengambil langkah tegas."
__ADS_1
Berniat membantu Dokter Sintia, Alina pun langsung mencari berbagai info loker dan antusias membangun Sintia keesokan paginya untuk menunjukkan hasil pencariannya itu. Dia bahkan membuatkan sarapan khusus untuk menyemangati sahabatnya yang satu itu. Dia meyakinkan jika ini sarapan keberuntungan, Sintia pasti akan beruntung setelah memakan sarapan buatannya ini.
Cukup sulit juga bagi Sintia untuk mendapatkan pekerjaan baru. Alina tetap setia menyemangatinya dan membelikan segelas teh panas setiap kali dia gagal wawancara sampai Sintia lama-lama bosan minum teh panas terus. Alina meyakinkan bahwa Sintia pasti akan mendapat keberuntungan besar dalam 3 hari mendatang, itu yang dikatakan ramalan horoskop.
Tapi tidak perlu juga menunggu 3 hari juga sih, belum juga 3 menit, Sintia mendadak mendapatkan keberuntungannya saat mendapat notifikasi dari Grup Wen yang mengundangnya untuk melakukan wawancara terakhir. Ya Tuhan! Sintia sontak berteriak kegirangan saking senangnya.
Grup Wen itu salah satu perusahaan besar dan persaingan masuk ke situ biasanya sangat ketat. Eh tapi tunggu dulu... Sintia yakin jika dia bahkan tidak pernah melakukan wawancara awal di perusahaan itu, kenapa dia langsung masuk wawancara akhir? Sintia tak yakin jika ini hanya sekedar keberuntungan.
Keanehan ini semakin nyata saat Sintia bertemu dengan Chairuman Grup Wen. Dia langsung diberi pilihan pekerjaan yang dia inginkan. Dan setelah dia memilih untuk jadi sekretaris chairman, dia disuruh masuk kerja mulai Senin. Semudah itu. Sintia jadi semakin penasaran dan langsung terang-terangan tanya kenapa Chairman Wen memilihnya.
"Apa kau tidak percaya diri?" Tanya Chairman Wen.
"Saya sangat percaya diri. Saya memiliki kemampuan dan memenuhi syarat untuk melakukan pekerjaan yang Anda berikan. Tapi saya tahu berdasarkan CV saya, seharusnya saya sudah tereliminasi sejak awal penyeleksian CV. Tapi sekarang saya tiba-tiba bisa langsung mendapatkan wawancara terakhir dari anda. Itu pasti ada alasannya."
Chairman Wen kagum juga dengan analisanya. Ya, dia akui bahwa memang benar ada alasannya. Dia memang memberi Sintia kesempatan wawancara karena rekomendasi 'Orang itu'. Tapi setelah berbicara dengan Sintia, dia yakin bahwa keputusan untuk menuruti keinginan orang itu adalah keputusan yang tepat. Sintia langsung bisa menebak siapa orang yang dimaksudnya, Arfan.
Alina terkejut mendengar cerita Sintia. Wah! Sintia jadi semakin kagum pada CEO Arfan, dia membantu tanpa mengharap balas saja, ini menunjukkan jika perasaan CEO Arfan pada Alina sangat dalam. Alina jadi semakin bingung dengan semua ini.
__ADS_1
Keesokan harinya, dia berniat menemui Arfan di kantornya untuk berterima kasih atas bantuannya terhadap Sintia, tapi bingung mesti mengatakan bagaimana. Tapi bahkan sebelum dia sempat mengucap sepatah kata, Arfan mendadak keluar dengan panik.
"Dokter Alina, Ivan hilang!" Arfan memberitahu bahwa Ivan telah hilang.