
Saking khawatirnya pada anaknya, Arfan seenaknya saja menyebut Alina sebagai 'Bibi' dan langsung mendorongnya menjauh dari Ivan. Dia bahkan menuduh segala hal yang Alina lakukan kemarin yang menolak tawaran menjadi dokter pribadi Ivan sebagai konspirasi yang sudah Alina rencanakan untuk menjatuhkan perusahaannya.
Wah! Alina tidak terima. Dia juga rugi karena terlibat tanpa alasan. Dan saat Arfan menyuruhnya untuk menyebut harga, Alina langsung saja minta 50 juta untuk memperbaiki rambutnya. Arfan jadi tambah sinis mengira Alina memang mata duitan.
Dia memberikan uang yang Alina minta lalu menghasut Ivan untuk berhati-hati dengan keselamatannya sendiri karena di sini banyak 'Bibi' aneh. Dia lalu mengajak Ivan pulang, tapi Ivan tiba-tiba mengeluarkan surat pada Alina.
Tapi Arfan langsung merebut surat itu dan langsung membawa Ivan pergi sambil protes pada Ivan karena dia sendiri bahkan tidak pernah menerima kartu itu, tapi Ivan malah memberikan kartu itu pada seorang Bibi aneh. Bahkan saking tak senangnya, dia memutuskan untuk memindahkan Ivan ke rumah sakit lain.
Tapi Ivan langsung protes dengan mengeluarkan kartu 'Aku menyukainya', lalu mengeluarkan saputangan sutra hijaunya sambil menunjuk fotonya Alina yang ada di poster rumah sakit, memberi tahu bahwa saputangan itu adalah pemberian Alina.
Di rumah, Ivan selalu menuntut ayahnya untuk membawa Alina ke rumah ini sebagai dokter pribadinya. Arfan ngotot tidak setuju, Ivan langsung marah dengan menembakkan pistol mainannya pada ayahnya.
Frustasi, Arfan akhirnya menyuruh sekretarisnya untuk menyelidiki segala informasi tentang Alina. Si sekretaris yang pernah menyaksikan Ivan berinteraksi dengan Alina di lobi hotel, memberitahu bosnya bahwa itu adalah pertama kalinya dia melihat Ivan begitu dekat dengan orang asing.
Dari informasi itu, sebenarnya tak ada yang terlalu istimewa dari Alina. Lahir di sebuah kota kecil, ayah dan ibunya juga cuma pekerja biasa, tak pernah sekolah di luar negeri dan baru bekerja 3 tahun. Pengalaman medisnya jelas tidak sebanding dengan mereka yang pernah studi di luar negeri.
Ditambah lagi dengan sifat dan karakternya yang tidak stabil, Arfan jadi semakin meragukan kemampuan Alina. Menurut perhitungan dan analisisnya, bekerja sama dengan Alina sama sekali tidak menguntungkan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Hans tidak setuju dengan penilaian Arfan ini. Lagipula, bukankah yang paling penting adalah Ivan. Ivan sudah menganggap Alina sebagai ibunya dan dia pasti tidak salah menilai orang.
Arfan jadi galau melihat anaknya yang sedang tertidur lelap sambil menggenggam lolipop. Tapi akhirnya, dia bersedia juga menuruti kemauan Ivan.
__ADS_1
"Ivan selalu menjadi pihak yang ku utamakan. Dia berhak memilih mitra kerja sama. Aku akan mempercayainya untuk sementara waktu."
Tapi keesokan harinya, Arfan malah diberitahu sekretarisnya bahwa Alina menolak menjadi dokter pribadinya Ivan. Hmm, sepertinya Arfan harus turun tangan sendiri. Maka kemudian dia memutuskan untuk mengirim surel pada Alina.
Tapi Hans tidak setuju dengan kalimatnya yang terlalu formal dan kaku. Alina pasti tidak akan setuju jika Arfan mengirim surel semacam ini. Maka Hans langsung saja mengambil alih komputernya Arfan, tapi yang dia lakukan malah mengupload foto-foto selfie nya Arfan karena dia yakin banget kalau cewek-cewek jaman sekarang tuh melihat penampilan, bukan hanya uang saja. Arfan tidak setuju dan ingin merebut kembali komputernya, tapi terlambat, surelnya sudah terkirim.
Alina malah jadi mengira jika Arfan narsis dan memiliki gangguan jiwa. Beberapa lama tak mendapat surel balasan, Arfan akhirnya memutuskan untuk langsung menelepon Alina. Tapi Alina malah mengira itu telepon penipuan dan langsung menutup teleponnya.
Maka kemudian dia memutuskan untuk mendatangi Alina langsung di rumah sakit dengan menawarkan sekoper uang padanya. Tapi Alina tetap menolak, rumah sakit ini memiliki aturan, jadi dia tidak bisa menjadi dokter pribadinya Ivan.
Tapi Arfan malah berkata bahwa dia sudah bicara dengan kepala rumah sakit. Dan uang yang dia tawarkan ini baru uang muka, gajinya nanti akan berlipat ganda, sangat menguntungkan.
Arfan mengiyakannya, menurut teori, segala barang memiliki kesetaraan nilai. Psikologi anak memang tidak sepenuhnya bisa diselesaikan dengan uang. Akan tetapi, dia bisa memenuhi segala permintaan anaknya dengan uang... Termasuk Alina.
Alina tersinggung dan jelas menolak, dia justru merasa seperti sedang diancam, jadi sebaiknya Arfan pergi saja. Kesal, Arfan akhirnya pergi dengan membawa semua uangnya.
Hans kagum juga mendengar keberanian Alina menolak Arfan. Dia mendadak memiliki ide bagus dan langsung mengusulkan agar Arfan mencari cara untuk menjadikan Alina sebagai kekasihnya. Pfft!
Pertama-tama, yang harus Arfan lakukan adalah memahami dan menelaah Alina melalui medsos-nya. Jadilah kedua pria itu mulai sibuk meneliti segala informasi tentang Alina. Tapi setelah membaca semua informasi itu, Arfan menyimpulkan bahwa semua ini bisa diselesaikan dengan uang.
Hans tak setuju dengan caranya. Tapi ujung-ujungnya dia malah mengusulkan ide agar Arfan menghabiskan banyak uang untuk membelikan hadiah untuk Alina.
__ADS_1
Semua hadiah itu dikirim ke rumah sakit yang sontak saja menghebohkan para rekan dokter. Alih-alih merasa senang, Alina justru risih dengan semua hadiah ini.
Jurus kedua adalah dengan mengajak Alina kencan dan menjemputnya pulang kerja. Tapi ternyata Alina pulang naik sepeda motor dan langsung ngebut begitu melihatnya. Dia ketakutan sama Arfan malah tambah mengejarnya.
Parahnya lagi, dia mengejar Alina sambil menelepon Hans yang mencoba memberinya instruksi tentang apa-apa saja yang perlu dia ucapkan pada Alina. Tapi Arfan salah tanggap dan salah ucap, yang ada malah bikin Alina tambah salah paham sama dia sehingga Alina semakin mempercepat laju sepedanya dan berhasil kabur lewat gang sempit. Frustasi, Arfan akhirnya memutuskan teleponnya dengan Hans, dia akan menangani masalah ini dengan caranya sendiri.
Alina keluar dari gang tak lama kemudian, mengira dirinya sudah aman, tapi malah kaget melihat Arfan sudah menunggunya di depan. Belum juga sempat bicara apa-apa, mereka mendadak mendengar teriakan seorang wanita yang diganggu tiga orang pria di gang.
Alina dengan penuh keberanian maju menyelamatkan wanita itu. Tapi Arfan malah balik ke mobilnya untuk err... Menulis cek? Pfft! Tapi saat Alina hampir kewalahan melawan ketiga pria itu, Arfan akhirnya maju menyelamatkan Alina dan melawan ketiga begundal itu hingga mereka kabur ketakutan, dan dalam prosesnya membuat lengannya tergores.
Alina berterima kasih padanya, tapi kenapa tadi awalnya dia malah lari. Arfan menegaskan bahwa dia memiliki prinsipnya sendiri. Dia tidak akan bertindak gegabah sebelum situasinya jelas. Tak lama kemudian, Alina membantu mengobati lukanya. Tapi Arfan tidak puas dengan hanya diplester, bagaimana kalau lukanya infeksi.
Alina meyakinkannya untuk tidak khawatir.
"Cari aku jika infeksi. Aku ini memiliki tangan ajaib. Ku bantu kau amputasi gratis." Sinis Alina sambil mengayunkan tangannya tapi malah tak sengaja menyenggol botol obat sampai terjatuh.
Refleks keduanya menunduk, ingin sama-sama mengambilnya, tapi malah jadi canggung saat tak sengaja kepala mereka bertubrukan dan membuat jarak mereka jadi sangaaaaat dekat. Arfan akhirnya mundur dan Alina membungkuk untuk mengambil obatnya.
Diam-diam Arfan menggunakan tangannya untuk melindungi kepala Alina agar dia tidak terbentur bangku. Dan secepat kilat menarik tangannya kembali begitu Alina bangkit. Berhubung dia sudah menolong Alina, jadi dia menuntut balas budinya Alina. Tapi Alina malah hanya memberinya lolipop lalu pergi dengan cuek.
Ivan sudah tidur saat Arfan pulang. Melihat lolipop milik Ivan, dia jadi teringat ucapan Alina saat Alina memberikan lolipop itu pada Ivan, bahwa Ivan adalah miliknya. Arfan langsung sinis, Alina juga memberinya lolipop tadi, tapi dia bukan milik Alina. Dia calon bosnya Alina di masa depan.
__ADS_1