Ibu Mirip Untuk Anakku

Ibu Mirip Untuk Anakku
42. Dokter Pribadi


__ADS_3

Di rumah, Ivan menuntut ayahnya untuk membawa Dokter Alina ke rumah mereka.


"Ayah, Aku ingin Bibi Alina datang ke rumah ini." Pinta Ivan saat ayahnya datang.


"Kenapa seperti itu? Dokter Alina memiliki keluarga dan rumah sendiri. Dia pasti sangat sibuk." Jawab Arfan.


"Tidak. Bukankah lebih bagus bibi Alina ada di sini bersama ku? Apalagi dia seorang Dokter. Aku juga memiliki penyakit yang perlu disembuhkan, bukan? Bibi Alina bisa bekerja bersama ayah untuk merawat ku."


Tinggal di rumah? Atau membawa Alina datang ke rumah? Arfan sulit mencerna permintaan Ivan.


"Ivan, ini tidak mudah. Dokter Alina memiliki keluarga sendiri sama seperti kita yang tidak mungkin keluarga lain tinggal di rumah kita."


Arfan Ayahnya tak setuju akan hal itu karena mereka adalah orang lain meskipun nama dan wajahnya mirip. Ivan sendiri langsung marah dengan menembakkan pistol mainannya pada Ayahnya.


Frustasi, Arfan akhirnya menyuruh Asistennya Hans untuk menyelidiki segala informasi tentang Alina. Asisten yang pernah menyaksikan Ivan berinteraksi dengan Alina di sebuah restaurant ayam goreng memang menyadari wajahnya terlihat mirip dengan istri atasannya yang sudah meninggal. Dia memberitahu Tuannya bahwa itu adalah pertama kalinya dia melihat Ivan begitu dekat dengan orang asing setelah mendapatkan perlakuan buruk dari ibu tirinya terdahulu yakni Nadine.


Dari informasi itu, sebenarnya tak ada yang terlalu istimewa dari Alina mirip ini. Lahir sebagai orang yang beruntung memiliki wajah yang serupa dengan Alina istrinya itu adalah anugerah dan bukan kebetulan. Pengalaman medisnya sebagai seorang Dokter jelas sebanding dengan ia yang pernah studi di luar negeri. Tapi tetap saja, meski raganya mirip, jiwanya tetap berbeda.


Menurut perhitungan dan analisisnya, bekerja sama dengan Alina sama sekali tidak menguntungkan baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang karena akan berdampak buruk pada perasaan Arfan yang kini masih mengingat istrinya dan kini hadir sosok orang yang sama. Tapi ingin bagaimana lagi, Ivan sangat dekat dengannya dan kesehatannya membaik bersama Alina.


Asisten Hans sendiri tidak setuju dengan penilaian Arfan ini. Lagipula, bukankah yang paling penting adalah Ivan. Ivan menyukainya dan dia pasti tidak salah menilai orang. Biarpun dia mengerti itu bukanlah ibunya, tapi ia bisa nyaman dan cerdas menilai orang... Seperti ayahnya.


Arfan jadi galau sambil melihat anaknya yang sedang tertidur lelap sambil menggenggam pistol mainannya. Tapi akhirnya, dia bersedia juga menuruti keinginan Ivan.


"Ivan selalu menjadi pihak yang ku utamakan. Dia berhak memilih permintaan. Aku akan mempercayainya untuk sementara waktu." Ujar Arfan.


Keesokan harinya, Arfan malah diberitahu Asisten Hans bahwa Alina menolak menjadi dokter pribadinya Ivan.


Sepertinya di sini Arfan harus turun tangan sendiri. Maka kemudian dia memutuskan untuk mengirim surel pada Alina.

__ADS_1


"Pesan macam apa ini? Anda sedang menarik teman untuk bekerja sama. Bukan sedang mengikuti lomba tulis essai." Ketus Asisten Hans


Tapi Asisten Hans tidak setuju dengan kalimatnya yang terlalu formal dan kaku. Alina sendiri pasti tidak akan setuju jika Arfan mengirim surel semacam ini. Maka Asisten Hans langsung saja mengambil alih handphonenya, tapi yang dia lakukan malah mengupload foto-foto selfienya Arfan karena dia yakin sekali jika wanita zaman sekarang melihat penampilan yang berbeda dari dunia nyata, bukan hanya uang saja.


"Dasar bedebah! Apa yang kau lakukan??" Arfan tidak setuju dan ingin merebut kembali handphonenya, tapi terlambat, surelnya sudah terkirim.


Di sisi lain...


Alina malah jadi mengira jika Arfan itu narsis dan memiliki gangguan jiwa. Beberapa lama tak mendapat surel balasan, dengan malu akhirnya Arfan memutuskan untuk langsung menelepon Alina. Tapi Alina malah mengira itu telepon penipuan dan langsung menutup teleponnya.


"Dia tidak mengangkatnya." Ucap Arfan pada Asisten Hans


Maka kemudian dia memutuskan untuk mendatangi Alina langsung di rumah sakit dengan menawarkan sekoper uang padanya. Tapi Alina tetap menolak, rumah sakit ini memiliki aturan, jadi dia tidak bisa menjadi dokter pribadinya Ivan. Mereka bisa saja saling bertemu dan mengobati Ivan tanpa harus tinggal di rumahnya seperti yang ditawarkan.


Tapi Arfan malah berkata bahwa dia sudah bicara dengan kepala rumah sakit. Dan uang yang dia tawarkan ini baru uang muka, gajinya nanti akan berlipat ganda, sangat menguntungkan.


Arfan mengiyakannya, menurut teori, segala barang memiliki kesetaraan nilai. Psikologi anak memang tidak sepenuhnya bisa diselesaikan dengan uang. Akan tetapi, dia bisa memenuhi segala permintaan anaknya dengan uang... Termasuk Ivan.


Alina tersinggung dan jelas menolak, dia justru merasa seperti sedang diancam, jadi sebaiknya Arfan pergi saja. Kesal, Arfan akhirnya pergi dengan membawa semua uangnya.


Asisten Hans kagum juga mendengar keberanian Alina menolak Arfan. Dia mendadak memiliki ide bagus dan langsung mengusulkan agar Arfan mencari cara untuk menjadikan Alina sebagai kekasihnya.


"Bodoh! Kau tidak tahu dia sudah memiliki kekasih yang seprofesi dengannya, Namanya Dokter Zayn." Ucap Arfan


Asisten Hans cukup terkejut dan jadi tidak setuju dengan caranya karena akan merusak hubungan orang. Tapi ujung-ujungnya dia malah mengusulkan ide agar Arfan menghabiskan banyak uang untuk membelikan hadiah untuk Alina.


Semua hadiah itu dikirim ke rumah sakit yang sontak saja menghebohkan para rekan dokter. Alih-alih merasa senang, Alina justru risih dengan semua hadiah ini.


"Hey, Kau begitu banyak mendapatkan hadiah dari mana? Apakah mendadak kau viral di sosial media dan mendapatkan banyak hadiah dari penggemar?" Ujar Zayn menghampiri Diana yang terlihat keributan di luar ruangannya.

__ADS_1


"Aku juga tidak tahu. Tapi ini pasti dari orang itu." Jawab Diana.


"Orang siapa?" Tanya heran Zayn.


"Tadi siang ayahnya Ivan juga datang ke rumah sakit. Dia memintaku untuk menjadi dokter pribadi Ivan, karena kau tahu sendiri penyakit yang diderita Ivan, bukan. Dia memintaku untuk menjadi dokter pribadinya. Aku sudah menolak dan sepertinya dia tetap bersikeras."


"Kenapa kau menolak? Bukankah itu bagus kau bisa dekat dengan Ivan. itukan yang membuat mu senang akhir-akhir ini." Kata Zayn.


"Aku tidak masalah menjadi dokter pribadi tanpa dibayar sekalipun. Tapi dia memintaku untuk tinggal di rumahnya juga, bukankah itu terdengar aneh dan aku seperti bekerja sebagai pembantu di rumahnya." Kesal Alina.


Pffftt... Zayn hanya menahan tawanya.


"Bagaimana jika kau terima saja tawaran itu!" Ujar Zayn mengusulkan.


"Apa kau sudah gila? Tidak ada kah rasa cemburu dalam dirimu melihat ku tinggal di rumah bersama pria yang sudah beranak tanpa ada istrinya. Zayn, bisa-bisa aku frustasi ada di rumah itu."


Zayn hanya tertawa-tawa kecil melihat Alina yang terus mengomel karena menurutnya itu terlalu lucu.


"Bagaimana jika kau bisa menerima tawaran itu mengatasnamakan diriku. Tenang saja, bukan kau yang menjadi dokter pribadi Ivan, tapi aku yang akan membantunya." Usul Zayn tetap tenang.


"Itu artinya kau juga akan tinggal di rumahnya? Zayn, jangan bertindak bodoh! Itu sangat mengerikan membayangkannya saja." Polos Alina.


Zayn kembali tertawa dan menggelengkan kepalanya tidak habis pikir dengan pemikiran Alina kekasihnya.


"Tentu saja tidak. Aku akan membuat perjanjian baru untuk Tuan Arfan. Dengan begitu dia tidak akan menggangu mu lagi."


"Baiklah. Itu artinya aku tidak perlu memikirkan hal lain lagi. Aku bisa menyerahkan segalanya pada kekasih ku yang bisa diandalkan ini. Terima kasih atas kesediaan mu membantu ku, Zayn."


Misi telah selesai dan Zayn mengatakan ia akan menggantikan Diana untuk menjadi Dokter pribadi Ivan. Hanya tinggal menemui Arfan, ia sudah mulai bisa mengeluarkan Alina dari masalah pengganggu.

__ADS_1


__ADS_2