
Sebagai donatur, pastinya Arfan juga akan menghadiri acara itu bersama putranya. Tapi, sepertinya mereka sudah merencanakan sesuatu entah apa. Sebelum pergi, Arfan memberikan sebuah kotak kecil pada putranya.
Para tamu langsung heboh menggosipkan saat Alina muncul di pesta itu.
"Dasar wanita murahan! Jika memang tidak mampu membeli gaun yang mahal, tidak perlu mempamerkan label harga gaun murah mu ini. Kami semua tahu kau hanya mampu membeli gaun murah." Wanita pengagum Arfan yang iri langsung menghampirinya dan sinis menyindir bajunya karena label harganya masih belum dicopot lalu berbaik hati melepaskan label harga itu.
"Terima kasih, Nona. Sekalian saja tolong buang label itu mewakili diriku." Tak gentar, Alina dengan sinis menyuruh wanita angkuh untuk membuangnya sekalian, bukankah memang wanita iri seperti itu suka mengambil sampah?
Wanita akhirnya pergi dengan kesal. Tapi kemudian dia diberitahu temannya tentang gosip hubungan Alina dengan Arfan, menuduh Alina itu wanita mata duitan yang sedang menggaet pria tajir.
Parahnya lagi, tepat setelah pengumuman pengangkatan jabatan, Wanita yang menyukai Arfan bernama Vivian. Ia adalah anak dari seorang CEO terkemuka. Vivian melihat Arfan datang, maka seketika itu pula ia sengaja memanfaatkan situasi untuk semakin mempermalukan Alina dengan terang-terangan mengumumkan gosip hubungannya dengan Arfan pada semua tamu yang hadir.
Semua orang sontak menggosipkan heboh, menuduh Alina wanita licik yang hanya ingin mendapatkan pria kaya.
Asisten Hans datang dengan sengaja menyerahkan mic pada Arfan, yakin sekali jika Arfan pasti akan membantah hubungannya dengan Alina demi menjaga reputasinya.
"Semua dugaan itu bohong. Itu hanya gosip belaka. Hubungan kami hanya sebatas pekerjaan dan tidak ada niatan untuk mengencani orang yang sudah membantu putraku. Jadi, saya harap kalian tidak termakan dengan perkataannya."
Sesuai dugaan, Arfan memang mengumumkan bahwa itu hanya gosip. Dan dia tidak ada niatan untuk berkencan dengan Alina. Asisten Hans langsung tersenyum jumawa, merasa dirinya sudah menang. Tapi... Arfan belum selesai bicara.
Dia menggenggam tangan Alina, lalu berkata. "Saat ini aku hanya berharap Dokter Alina tidak menolak lamaranku."
Apa?! Para tamu jadi semakin heboh mendengarnya. Bahkan Alina pun terkejut dan mematung. Apalagi kemudian Arfan membuka kotak kecil yang tadi diserahkannya pada Ivan yang ternyata isinya cincin berlian, lalu menyelipkannya ke jari Alina dan menarik wajah Alina mendekat untuk menciumnya. Ivan sontak semringah lebar.
...***...
Ivan bahagia sekali menonton ulang video rekaman lamaran tadi. Dia bahkan memberikan hadiah kecupan di pipi untuk Ayahnya.
Tapi sebenarnya, lamaran itu sendiri sebenarnya hanya akting. Nyatanya, waktu Arfan mencium Alina, dia tidak benar-benar menciumnya. Dia malah menaruh jempol di antara bibir mereka, membuat ilusi seolah mereka benar ciuman, padahal tidak.
Itu dia lakukan demi membantu Alina balas dendam pada Vivian yang sudah menghinanya. Arfan tahu mengenai anak CEO terkemuka itu, dan ia juga sangat tidak menyukai sikapnya. Dia bahkan mengumumkan pada semua orang bahwa gedung baru itu, akan dia namai Gedung Araline Tower gabungan dari nama Arfan dan Alina sebagai hadiah untuk Alina sekaligus tanda bukti cintanya pada Alina. Waktu itu Alina diam saja mengikuti akting Arfan, tapi sekarang dia bertekad akan mengembalikan cincin itu besok. Kejadian hari ini membuatnya tidak bisa tidur. Hal ini pun pasti sudah membuat Zayn marah.
Saat tengah berendam di bak mandi, Alina berpikir jika Arfan sebenarnya cukup kesatria juga di saat-saat genting seperti tadi walaupun dia terlihat seperti orang yang egois. Tetapi bertekad untuk mengembalikan cincin itu besok, Alina pun memutuskan melepaskan cincin itu, tapi malah tidak sengaja terlempar entah kemana.
Alina sontak panik, takut cincin itu terjatuh ke toilet. Sepertinya jatuh ke rak, tapi tak ada satu pun di antaranya. Gadis itu yang kepikiran untuk mencari ke setiap sudut kamar mandi, malah terus menggalau ria di depan toilet.
__ADS_1
Alina jadi semakin gelisah saat mencari harga cincin itu di marketplace bahwa cincin itu mahalnya selangit. Bahkan sampai keesokan harinya pun ia tetap tidak menemukan cincin itu. Ia sudah tidak fokus dengan cincin itu gara-gara mendapati nama dirinya sekarang mendadak jadi terkenal dan viral di internet.
Tak lama kemudian, Alina mendadak ditelepon teman-temannya dan para kerabatnya yang mengucap selamat untuknya. Tapi jelas mereka semua mendadak sok akrab demi memanfaatkan Alina saja, bahkan ada yang terang-terangan mempromosikan bisnis dan dagangan mereka. Alina pusing.
Saking tidak tenangnya memikirkan cincin itu, Alina sampai bermimpi buruk didatangi Arfan dan kedua anak buahnya yang sangar lalu menculiknya. Alina tersentak bangun dari mimpi buruk itu dengan napas terengah-engah.
Tiba-tiba teleponnya berbunyi lagi. Hadeh! Alina mengangkatnya dengan kesal, melabrak siapapun yang menelepon itu, mengira dia mendapat telepon dari orang-orang itu lagi. Namun, yang tidak disangkanya, ternyata yang menelepon kali ini adalah Arfan.
Dia mengabarkan bahwa sebentar lagi akan membawa Ivan ke rumah sakit untuk diperiksa dan memuji penampilan bagus Alina semalam. Karena itulah, dia memiliki hadiah besar untuk Alina nanti.
Hans datang tidak lama kemudian dan langsung menuntut penjelasan Arfan tentang lamarannya semalam. Wah! Dia sungguh tidak menyangka jika Arfan akan mempertaruhkan pernikahannya sendiri.
Arfan menegaskan bahwa dia sama sekali tidak peduli siapa pun yang akan dia nikahi, karena dia melakukannya hanya demi Ivan. Resepsi dan lain sebagainya akan ditangani oleh tim profesional. Jika segalanya lancar, maka segalanya akan selesai dalam waktu satu bulan. Hah? Jadi, lamaran itu serius?
"Sebelum itu, aku berniat memberikan sebuah hadiah besar padanya." Ujar Arfan.
Dan hadiah besar yang dimaksudnya adalah gedung baru itu. Dia benar-benar serius menamai gedung itu dengan nama Alina memakai balon-balon dan lain sebagainya.
...***...
Dia datang bersama Ivan dan Hans. Alina langsung menariknya menjauh, menuntut penjelasan akan sikap Arfan ini padahal berita tentang pernikahan mereka yang palsu.
"Aku meminta penjelasan darimu. Semua ini palsu, kan? Kemarin kau hanya berakting. Kau tahu sendiri aku sudah memiliki Zayn dan pasti kekasih ku itu sedang marah padaku."
"Semua berita yang tersebar itu tidak palsu. Ciuman kemarin memang palsu, tapi lamarannya tidak palsu." Arfan meralat.
"Kau sinting, yah? Baru kenal tidak sampai 1 tahun, dan kau ingin melamar ku?" Mengumpat Alina mengatakan sumpah serapahnya.
"Aku sungguh-sungguh. Atau jangan-jangan... Kau takut, yah? Takut jika kau terus berhubungan denganku, kau akan jatuh cinta padaku."
"Aku jatuh cinta padamu? Aku, Alina, sampai mati pun tidak akan mencintaimu! Aku hanya memiliki Zayn di hatiku sepenuhnya."
Pfft! Arfan tersinggung dan langsung dengan lantang memberitahu bahwa semua orang di kota ini sudah tahu bahwa Alina adalah tunangannya.
Alina panik menutup mulutnya dan Arfan langsung so romantis menarik Alina mendekat. Kesal, Alina langsung menginjak kaki Arfan dan sekali lagi menegaskan bahwa Arfan bukan tipenya.
__ADS_1
Arfan kesal. "Kau juga bukan tipeku. Aku seorang pebisnis dan Ivan adalah satu-satunya klienku yang paling penting. Apa pun yang dia inginkan, akan kuberikan tak peduli berapa pun harganya. Dokter Alina, Aku akan membuatmu menganggukkan kepala."
Zayn baru datang. Dia langsung melihat sinis ke arah Asisten Hans dan melayangkan caciannya.
"Manusia tidak tahu diri seperti kalian seharusnya tidak pantas berada di rumah sakit ku. Tapi sayangnya ada seorang anak yang sedang menunggu ibunya di sini. Tidak masalah, Lain kali kau harus berhati-hati karena Ibu tiri itu sangat jahat." Kata Zayn yang tidak bisa seramah dan selembut dulu lagi pada anak kecil. Sebelum benar-benar ia pergi, ia menatap sekilas ke arah Alina yang menatapnya juga. Maniknya berkaca tapi ia sudah tidak peduli dan sepertinya hubungan mereka telah usai.
"Zayn!!" Alina ingin mendekatinya, tapi Zayn menghempaskan tubuh Alina sampai terhempas beberapa langkah. Hatinya sangat sakit melihat Zayn sedingin itu.
Ivan langsung tak suka pada Zayn. Hans juga sinis menyindir Zayn yang berwajah baik tapi hatinya busuk. Bahkan saking kesalnya, Ivan jadi ingin mengerjai orang itu dan langsung memberi isyarat tentang rencananya pada Hans.
Saat Zayn masuk ke ruangannya yang sempat mengunjungi ruang rawat pasien terlebih dahulu, tak lama kemudian, Ivan yang bersembunyi di kolong meja, langsung melepaskan jebakannya dan jadilah Zayn kejatuhan kue tart ke kepalanya.
Ivan langsung melarikan diri. Zayn ingin mengejarnya tapi malah bertubrukan dengan pintu sehingga untuk kedua kalinya juga Zayn terkena krim kue itu. Ivan sangat puas.
Alina hendak minum saat Arfan mendadak muncul dan langsung berusaha merebut gelasnya. Alina mencoba menghentikannya dan saat itulah Arfan menyadari dia tidak memakai cincin.
"Kemana cincinnya?" Tanya Arfan mantap.
Mata Alina terbelalak.
"A-ada di rumah." Alina dengan canggung berkata bahwa cincinnya ada di rumah. "Cincinnya kan mahal, Aku takut hilang, makanya aku melepaskannya."
"Semoga saja begitu. Cincin 15 karat. Satu-satunya harta peninggalan keluarga. Dibuat sendiri oleh desainer dan pengrajin keluarga kerajaan di Swedia. Harganya sangat mahal, memang tidak cocok dipakai sehari-hari." Kata Arfan.
Alina langsung menelan ludah saking terkejutnya mendengar semua itu. Dia cepat-cepat mengalihkan topik dengan membahas kesehatan Ivan.
Tapi Arfan dengan cepat mencegahnya dan menyuruhnya untuk menghubungi mereka lewat telepon saja. Terpaksalah Alina menurutinya dan menelepon Hans.
Hans yang ikut terlibat dalam rencananya Ivan, sempat bingung bagaimana harus mengatakannya. Tapi pada akhirnya, tak ada yang bisa dilakukannya selain mengaku bahwa mereka sekarang berada di kamar pasien di lantai enam. Cemas, Alina dan Arfan pun bergegas ke sana.
Tepat saat itu juga, Alina dan Arfan muncul mencari Ivan tapi malah terkejut mendapati pemandangan itu. Mereka mendapati Zayn yang penuh dengan krim kue tart di wajahnya.
Zayn yang kesal asal saja menuduh Alina sebagai pelakunya. Arfan sontak membela Alina dan memperingatkan si selingkuhan untuk berhenti menyerang Alina lalu membawa Alina pergi dari sana. Hubungan Zayn dengan Alina benar-benar hancur sekarang.
Hans baru muncul saat itu, dan Arfan langsung kesal mengomelinya, mengira Hans lah yang mengajari Ivan yang tidak-tidak. Hans menyangkal, justru Ivan lah yang mengajarinya.
__ADS_1