Ibu Mirip Untuk Anakku

Ibu Mirip Untuk Anakku
43. Sebuah Bujukan


__ADS_3

Setelah memutuskan uji banding dengan Zayn yang mendatangi Arfan untuk mengantikan Alina sebagai dokter pribadi Ivan, Rupanya Alina menolak dan atas amukan Ivan yang tidak menginginkan Zayn yang menggantikannya pun ditolak mentah.


Sehingga sekarang tidak ada cara lain, Selain Alina menerima tawaran termasuk keinginan Ivan yang sudah menganggapnya sebagai Ibu.


Sementara itu, Arfan sendiri langsung turun tangan untuk membujuk Alina dengan mendatangi rumah sakitnya. Ia pun datang bersama Ivan. Arfan yang ingin bicara dengan Alina, Tanpa berlama-lama saat waktu istirahat, Arfan mengambil beberapa kartu dari dalam tasnya.


"Dokter Alina, Ini adalah cek yang bisa kau isi mandiri sebagai imbalan agar kau bisa menerima tawaran ku untuk menjadi dokter pribadi Ivan." Pinta Arfan.


"Tuan Arfan, Sebenarnya saya tidak masalah jika harus menjadi dokter pribadi Ivan. Tapi masalah terbesarnya, Saya tidak mungkin bisaa tinggal di rumah kau seperti yang Ivan inginkan." Balas Alina menggeser cek itu kehadapan Arfan, bermaksud untuk menolaknya.


"Saya meminta maaf, Karena Ivan sudah membuat kekacauan dan membuat keinginan tidak masuk akal ini. Mungkin kau sudah mengetahui bagaimana Ivan menganggap kau sebagai apa. Putraku itu benar-benar menganggap mu sebagai ibu yang mirip dengan ibu kandungnya."


"Sa-..." Baru saja Alina membuka suaranya. Sudah terdengar suara benda jatuh.


Prang!


Ivan yang sedang ada di sana dan membiarkan orang dewasa itu berbincang sedangkan ia bermain di ruangan Alina, Tidak sengaja menjatuhkan alat medis stainless terjatuh ke lantai.


"Ivan, Apa yang kau lakukan? Tidak perlu disentuh, biarkan Ayah yang membereskannya." Ucap Arfan bangkit.


"Tidak perlu. Biarkan saya saja, Tuan Arfan." Ucap Alina lebih dulu mengambil alih.


"Saya benar-benar meminta maaf." Arfan meminta maaf dan tidak sengaja membuat kacau dan sebenarnya Ivan pun sedang marah pada Ayahnya.


"Ibu, Maafkan aku. Aku tidak sengaja." Bicara polos Ivan menunduk


"Tidak masalah, Ivan. Semua sudah kembali seperti semula." Jawab Alina tersenyum dan mencubit pelan pipinya.


"Seharusnya kau lebih berhati-hati." Bicara Arfan yang berjalan ke arah Ivan dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak.


Mengira Arfan akan memarahi Ivan, Alina langsung saja menerjang membabi buta menyerangnya dengan ganas. Alina tidak terima jika Arfan akan memarahi Ivan yang masih kecil. Dia tidak sadar jika dia sudah salah paham. Malah sebenarnya dia adalah Arfan yang jelas kebingungan diserang seperti itu, Alina kuat sekali menarik pria itu.

__ADS_1


Dalam kekesalannya, Alina memukuli Arfan sambil menggerutu protes tidak terima jika Ivan akan dimarahi.


"Apa Ivan ini seperti kain lap bagimu? Ketika butuh, dicari. Ketika tidak butuh, dilempar ke sudut ruangan? Aku beritahu kau, Memarahi seorang anak yang masih kecil itu tidak baik. Ivan hanya tidak sengaja menjatuhkannya."


"Aku bukan ingin memarahi Ivan. Masih ada barang yang tertinggal dan aku ingin mengambilnya." Tunjuk Arfan pada sebuah gunting yang terjatuh dan belum diambil.


Saat itulah Alina akhirnya sadar jika dia sudah salah paham. Dia ingin pergi, tapi ternyata rambut Alina menyangkut di bros dasi Arfan dan jadilah mereka sama-sama hampir terjatuh dalam posisi yang tampak romantis dihadapan Ivan yang hanya tertawa sejak tadi. Sesaat mereka sama-sama terpana pada satu sama lain, tapi dengan cepat keduanya sama-sama menguasai diri dan langsung beranjak bangkit.


Karena sulit melepaskan rambutnya, Alina jadi membawa Arfan berputar-putar dalam posisi yang tampak sangat dekat seperti sedang pelukan dan tidak ada yang sadar jika kejadian yang tampak romantis itu disaksikan oleh perawat yang menonton mereka.


Alina akhirnya berinisiatif mengambil gunting. Arfan sontak panik mengira Alina ingin menggunting dasinya, padahal Alina hanya ingin menggunting rambutnya. Akhirnya terlepaslah dari dasinya Arfan. Dia juga meminta maaf dan bersedia bertanggung jawab jika Arfan terluka, tapi Arfan sinis menolak.


"Aku benar-benar meminta maaf. Aku pikir kau akan memarahi Ivan."


"Kau pikir aku sejahat itu pada anak kecil? Kau tidak perlu bertanggung jawab karena luka yang sudah memukuli wajah ku ini. Ivan, Ayo kita pulang. Dokter ini tidak ingin membantu mu." Ketus Arfan cukup kesal dan membawa Ivan pergi.


"Baguslah jika begitu." Sinis Alina dan memicingkan bibir setelah melihat Arfan pergi.


Zayn yang melihat mereka dari celah jendela. Hanya termenung melihat perawat yang menjadikan keromantisan mereka tadi sebagai tontonan semata, mereka tidak tahu jika ada seorang pria yang menjadi kekasihnya itu kini sangat cemburu.


Di Mansion, Arfan membersihkan rambut sebagian kecil Alina yang masih nempel di dasinya. Setelah selesai la melihat resume dokter untuk Ivan. Di antaranya ada resume milik Alina tapi Arfan malah membuangnya di tong sampah. Resume itu digunakan untuk menghadiri acara seminar yang akan dijadikan pembicara. Tapi karena Arfan kesal akibat Alina menolak tawarannya, Ia tidak ingin Alina terlibat.


Setelah itu, Ia pun mendatangi Ivan di kamarnya. Dia masih belum tidur. Arfan mengambil tabletnya dan menyuruhnya untuk tidur.


"Ivan, Kenapa belum tidur? Ini sudah malam dan sebaiknya tidur." Ucap Arfan.


IQ Ivan jauh lebih tinggi dari anak seusianya la tidak akan mengulangi dua kali apa yang ayahnya katakan, Ditambah ia sedang sangat marah pada ayahnya sebelum Alina menerima keinginannya itu. Ivan langsung mengubur diri di bawah selimut, Arfan pun mematikan lampu lalu keluar.


Setelah Arfan keluar, Rupanya Ivan hanya berpura-pura tertidur. Setelah Ayahnya tidak ada, Ia bangun dan mengambil baju dulu yang sempat dibelikan Alina saat menyelamatkannya dan menggantikan pakaiannya. Entah mengapa Ivan menjadi teringat akan pakaian itu.


Esok paginya...

__ADS_1


Bu Maya membangunkan Alina yang masih tidur. Ternyata semalam dia cukup frustasi karena memikirkan tawaran Arfan, Ibunya menyarankan agar Alina mengambil cuti dan meminta digantikan sama dokter lain. Alina menolak. la ada pasien penting hari ini.


Arfan ke kamar Ivan, Heran. Harusnya Ivan bangun sejam yang lalu. la mengecek suhu badan, suhu ruangan dan menu makanan Ivan Semuanya normal. Sampai saat ia menata selimut Ivan. Secara tidak sengaja ia melihat Ivan sedang memegang sebuah pakaian yang tak pernah ia belikan. Saat ia ingin mengambilnya Ivan malah memeluknya.


Ivan akhirnya bangun. la keluar dan teriak melihat pelayan yang membawa keranjang cucian. Arfan datang, la mengambil baju yang ditunjuk oleh Ivan dan memberikannya. Ivan mencium baju itu. Aromanya sudah beda. Ia membuangnya dan menghentakkan kakinya marah lalu pergi. Arfan dan pelayan menjadi bingung darimana Ivan mendapatkannya karena baju itu tidak pernah dibelikan model seperti itu.


Arfan pergi ke rumah sakit untuk mengantarkan Ivan menemui Dokter Zayn yang menangani masalah penyakitnya. Sekaligus orang rumah sakit memintanya untuk melihat gedung yang Arfan sumbangkan untuk rumah sakit karena ia tidak bisa datang untuk peresmiannya kelak.


Sementara itu, Ivan teriak teriak diperiksa oleh Dokter Zayn. Alina mendengar teriakan Ivan di ruangan Zayn dan masuk. Melihat Alina membuat Ivan merasa tenang. Alina langsung paham jika Ivan tidak ingin bersama Zayn dan mengajaknya main yang lain, la mengulurkan tangannya dan pelan-pelan Ivan ingin pergi dengannya.


Ivan sedang duduk sendirian di tempat bermain. Seorang anak perempuan menghampirinya.


"Jangan dekati aku. Aku sedang tidak ingin menemui siapapun selain Ibu Alina." Ucap Ivan.


"Aku ingin mengajak mu bermain. Bukankah kita sudah pernah bertemu. Saat itu kau yang mengatakan jika cabut gigi itu tidak sakit. Aku sudah paham rasa sakitnya tidak terlalu lama dan giginya jadi tidak sakit lagi. Apa yang kau katakan benar. Nama ku Sienna, Ayo berkenalan." Dengan centil ia mengenalkan namanya Sienna, Anak kecil yang pernah diperiksa gigi saat itu.


Ivan hanya memalingkan wajahnya.


"Kau anak kecil sombong sekali. Jangan malu. Aku tahu kau marah karena saat itu aku memarahi mu. Jika kau ingin berteman denganku maka semua mainan itu untukmu. Aku bosan menunggu sendirian karena ibuku sedang diperiksa Dokter paman tampan itu." Ucap anak perempuan agresif. Dia meletakkan tangannya di dinding dan tangan lainnya berkacak pinggang.


Alina mendadak datang dan melakukan hal yang sama seperti Sienna.


"Kalian sudah berteman, Ya. Ivan, Kenapa diam saja? Kau masih ingat dengan Sienna?" Ucap Alina bertanya.


Sienna memeluk Alina sayang, Alina lalu menyuruhnya duduk dan ia duduk di antara keduanya dan memberikan minuman untuk Ivan. Sedangkan Sienna ini bawaannya jadi ingin dekat dengan Ivan yang sekarang menjadi dingin.


Akhirnya Alina memeluk Sienna, karena mereka sudah berteman, dan Sienna jadi menyukai Alina sebagai dokter yang memeriksa giginya itu sampai tidak takut lagi untuk cabut gigi.


Melihat Ivan cuek, Alina menyuruh Sienna untuk sembunyi. Nanti ia akan mencarinya. Untuk memancing antusiasme Ivan. Sienna menurut dan langsung pergi. Alina kembali ke Ivan, la menyatakan jika sekarang Ivan adalah miliknya.


"Ivan, Ayo bermain. Sienna sedang bersembunyi dan kau yang akan menemukannya. Ibu berjanji akan menyetujui keinginan mu, Tapi Ibu harus memikirkan panjang bagaimana keputusan sebenarnya. Kau harus ceria, Ivan jadi tidak seru karena sekarang menjadi cuek." Bicara Alina memberi pengertian.

__ADS_1


Sebagai janjinya ia mengeluarkan dua permen. Satu untuk Ivan dan satu untuknya, Sambil menautkan kelingking Alina menjanjikan jika mereka akan selalu bersama.


Dari sana, Ivan menjadi senang. Dan menyusul Sienna untuk menemukan anak perempuan itu dan bermain bersama sampai ibunya selesai memeriksakan diri pada Dokter Zayn.


__ADS_2