Ibu Mirip Untuk Anakku

Ibu Mirip Untuk Anakku
58. Ikatan Cinta


__ADS_3

Kesal karena gagal membujuk Arfan untuk mencabut tuntutannya pada ibunya Liam, Alina pun berupaya melakukan berbagai cara untuk mengancam Arfan. Termasuk membuntutinya ke kolam renang dan memotretnya dalam keadaan setengah telanjang, mengancam akan mengunggah foto itu ke internet. Tapi sayang, gagal dengan cepat saat Arfan memergokinya dan langsung merebut HP-nya untuk menghapus semua foto itu.


Namun yang tidak dia ketahui, sebenarnya Arfan belum secara resmi mendaftarkan gugatannya ke pengadilan. Saat ibunya Liam datang menemui Arfan dengan niatan mengancam balik untuk menuntut Alina, Arfan justru memberitahunya bahwa Alina lah yang membujuknya dan memohon-mohon padanya untuk tidak menggugatnya.


Bahkan dia memberitahu bahwa Arfan yang akan membiayai seluruh pengobatan dan pendidikannya Liam selama 10 tahun ke depan. Dan masalah diagnosisnya Alina, Arfan yakin jika ibunya Liam sendiri sadar betul apakah diagnosisnya Alina itu benar atau tidak.


Dia adalah teladan bagi putranya, karena itulah, Arfan menyarankannya untuk menangani masalah psikologisnya sendiri lebih dulu dan Arfan akan membantu dengan menyediakan psikiater untuknya.


Senang mengetahui Arfan ternyata tidak jadi menggugat ibunya Liam, Alina pun menghadiahinya segelas yogurt. Sungguh tak disangka jika Arfan ternyata baik dan manis juga.


Tapi baru juga dipuji satu detik, Arfan tiba-tiba menunjukkan laporan penilaian kinerja Alina yang rata-rata buruk gara-gara berbagai kebiasaan buruknya Alina. Alina mendadak jadi kesal lagi hingga dia tak sengaja menjatuhkan bukunya Arfan.


Tapi di buku itu, dia malah tak sengaja menemukan fotonya Arfan bersama mendiang istrinya. Dia seperti sedang mengaca pada dirinya sendiri.


Arfan tiba-tiba sakit kepala dan demam hingga dia jadi lemah. Bahkan saking lemahnya, dia jadi tidak sadar jika dia tidak menutup kimononya saat Alina masuk kamar mandi yang kontan saja membuat Alina jadi panik melarikan diri tanpa menggunakan kursi rodanya.


"Hah? Jadi, Dia sudah bisa jalan? Dasar pembohong!"


Biarpun dalam keadaan lemahnya, Arfan sadar akan hal itu dan jadi kesal menarik Alina hingga Alina terjatuh ke pangkuannya. Saat itulah Alina tahu jika Arfan sakit.


Jadilah Alina yang sekarang bergantian merawat Arfan. Dia hanya demam biasa, tapi dia manja sekali ingin pergi ke rumah sakit untuk diinfus. Alina sontak mendorongnya kembali ke kasur sambil menegaskan jika dia hanya demam biasa, kalau muncul gejala-gejala sakit lainnya, baru dia pergi ke dokter.


Yang perlu mereka lakukan sekarang hanya menurunkan demamnya Arfan. Jadilah Alina berusaha melakukan berbagai upaya untuk menurunkan demamnya Arfan.


Tapi anehnya, Alina ini dokter tapi sepertinya dia tidak pandai merawat orang sakit. Waktu dia mengompres Arfan, dia malah tidak memeras kainnya dan jadilah airnya menetes ke sprei nya Arfan.


Malah dengan bodohnya dia mengira jika tetesan itu keringatnya Arfan (aku mengerti kalau scene ini mungkin tujuannya hanya untuk komedi, tapi kan ceritanya dia itu dokter, jadi kesannya kayak bodoh aja gitu, dokter kok kayak gitu). Waktu menyuapi sup jahe juga kasar sekali. Arfan sampai kesal pada dia.


Tapi dia benar-benar serius merawat Arfan, dia bahkan bangun subuh-subuh hanya demi mengecek demamnya Arfan. Tapi tiba-tiba dia mendengar Arfan mengigau dalam tidurnya 'Kembalilah, jangan pergi, jangan tinggalkan aku'.


Alina jadi penasaran sekali siapa yang diimpikan oleh Arfan itu, gadis yang cuma kelihatan punggungnya atau gadis yang ada di fotonya bersama mendiang kakaknya dan kakak iparnya? Dan dia masih terus gelisah memikirkan masalah ini bahkan saat dia mulai bekerja di kliniknya Tristan keesokan harinya.

__ADS_1


Malam harinya dia juga membicarakan tentang masalah ini pada Sintia. Dia semangat sekali menduga-duga siapa wanita itu, tapi menolak mengakui kalau dia penasaran karena cemburu. Ujung-ujungnya dia membuat Sintia pusing gara-gara kebanyakan menduga-duga yang lama kelamaan jadi semakin tidak masuk akal.


Sintia bahkan sudah tidak ingin tahu lagi, tapi Alina belum puas dengan acara menggosip. Bahkan di rumah, dia berniat mengirim voice mail tentang dugaan terbarunya pada Sintia, tapi ternyata dia salah kirim ke nomornya Arfan.


Parahnya lagi, Arfan sengaja mempermalukannya dengan memutar voice mail itu di depan pintu kamarnya. Alina langsung pura-pura tidur, tapi tentu saja Arfan tak terperdaya dan menuntut penjelasan tentang foto itu.


Alina cepat-cepat menjelaskan kalau dia ingin tahu tentang masa lalu Arfan bukan karena dia ingin menggosipkan, melainkan ingin membantunya menemukan kembali kehangatan dirinya. Dia lihat di foto itu, Arfan tampak sangat bahagia dan hangat bersama keluarganya.


Alina bahkan langsung berusaha memaksa Arfan tersenyum dengan menarik kedua ujung mulutnya yang kontan saja membuat Arfan kaget dan gugup hingga dia cepat-cepat menarik diri dan dengan ketus mengingatkannya untuk fokus saja pada tugasnya merawat Ivan.


Maka Alina pun benar-benar fokus kembali ke Ivan dan berusaha membujuk Arfan untuk mempertimbangkan kembali masalah sekolah khusus itu, berusaha meyakinkannya bahwa yang paling penting bagi Ivan sekarang ini adalah berinteraksi dan berteman dengan orang lain.


Dia bahkan bertekad akan membawa Ivan ke acara yang akan diadakan Tristan di SD itu tak peduli Arfan setuju atau tidak. Dan mungkin percakapan mereka kemarin lah yang membuat Arfan akhirnya setuju juga.


Malah saat Alina dan Ivan pulang tak lama kemudian, mereka mendapati rumah yang biasanya terlalu rapi dan dingin itu, sekarang jadi lebih hangat dengan boneka-boneka di sofa dan gambar-gambar buatan Ivan di pigura dan dipajang di atas rak.


Bahkan meja panjang dan besarnya sekarang sudah diganti dengan meja bundar yang lebih kecil, jadi mereka bisa lebih dekat untuk berinteraksi selama makan bersama. Ivan pun senang.


Bahkan saking tak senangnya, dia dengan angkuhnya menantang mereka bertiga untuk bertanding basket melawannya. Mereka bertiga satu tim, melawan Arfan sendirian. Jika mereka menang, maka Arfan akan menyetujui Ivan sekolah di sini.


Awalnya mereka seri, tapi kemudian, Arfan sepertinya sengaja mengalah sehingga mereka pun menang dan Ivan pun bisa sekolah di sana.


Tapi karena masih cemas harus melepaskan Ivan ke dunia luar, Arfan sengaja menyiapkan sebuah tas khusus yang dilengkapi dengan berbagai teknologi modern untuk menghadapi berbagai bahaya. Tapi Alina seperti biasanya, sinis dan meremehkan segala kelebayan Arfan ini.


Saat mereka mengantarkan Ivan ke sekolah keesokan harinya, salah satu guru tiba-tiba menyarankan agar mereka melakukan perpisahan dengan saling cium. Ivan cium Ayah, Ayah cium ibu, lalu ibu cium Ivan, dengan alasan interaksi baik antar anggota keluarga bisa memberi rasa aman bagi anak. Pfft! Harus sekali dengan cara seperti itu?


Ivan dengan senang hati mengecup pipi ibunya, sehingga sekarang giliran ibu yang harus mengecup pipi Ayah. Tapi si Ayah malah sengaja menjauhkan mukanya. Kesal, ibu langsung mencengkeram wajahnya lalu mengecup pipinya. Errr... Nggak ding, yang dia kecup sebenarnya tangannya sendiri yang sedang mencengkeram wajah Arfan.


Tapi tak pelak itu membuat Arfan jadi tersipu hingga dia buru-buru menghindar dengan alasan sibuk ingin rapat dan lupa akan gilirannya untuk mengecup pipi Ivan.


Tapi saking cemasnya memikirkan anaknya, Arfan mendadak berinisiatif memindahkan tempat rapat ke restoran yang berada di seberang sekolah. Dan saat para pegawainya sibuk mempresentasikan laporan mereka, Arfan malah lebih fokus meneropong anaknya di kelas, dan langsung heboh lebay saat dia melihat Alina sedang ngobrol berdua dengan Ning Fang.

__ADS_1


Bahkan saking cemburunya, dia langsung menelepon Alina dan berbohong bahwa ada masalah besar yang sedang terjadi di rumah, jadi dia memaksa Alina untuk segera pulang. Padahal begitu mereka pulang, masalah besar yang Arfan maksud cuma masalah dia lagi lapar. Lapar memengaruhi pekerjaannya, membuatnya tidak bisa bekerja dengan normal, jadi tentu saja ini masalah besar.


Makanya dia menuntut Alina untuk membuatkannya mie. Alina menuruti keinginannya dengan kesal tapi sengaja mengerjainya dengan menolak memberikan sumpitnya dan menyembunyikannya di punggungnya.


Tepat saat Arfan berhasil meraih sumpitnya, tiba-tiba dia terpengaruh oleh kedekatan mereka hingga dia tidak peduli lagi pada mie-nya dan langsung mendekat ingin mencium Alina...


Tepat saat itu ibunya Arfan mendadak muncul, kedatangannya yang selalu tidak diinginkan apalagi setelah terjadi konflik keluarga. Arfan langsung menggenggam mesra tangan Alina dan memperkenalkannya sebagai istrinya, tapi ibu tirinya tampak jelas tak suka pada Alina, apalagi saat Arfan memberitahunya tentang latar belakang Alina yang berasal dari keluarga biasa. Ia sungguh tidak mengerti apa bagusnya Alina?


"Dia... sangat istimewa. Tidak ada duanya." Ujar Arfan.


Tapi Ibunya tetap tidak setuju, meskipun wajahnya sangat mirip tapi itu hanya kebetulan, ia pun mengira bahwa Arfan mencintai Alina hanya karena wajah mendiang istrinya. Ibunya tak yakin jika Alina sanggup. Bahkan semakin tak senang saat mendengar Ivan memanggil Alina sebagai 'Ibu'.


Saat mereka makan bersama, Alina mencoba memberikan lauk pada Ibu tiri Arfan yang mungkin akan menjadi mertuanya, tapi sikapnya dingin dan menolaknya. Tapi Arfan dan Ivan dengan manisnya menyodorkan mangkuk-mangkuk mereka padanya dan memintanya untuk memberi mereka lauk.


Ibu tiri Arfan bisa melihat dengan jelas jika kemesraan yang mereka tunjukkan padanya itu palsu. Ia yakin jika mereka pura-pura menikah hanya untuk ditunjukkan pada Ivan demi menyembuhkannya.


Tapi dari interaksi di meja makan tadi, dia bisa melihat jika Arfan tulus pada Alina terlepas bagaimana dahulu ia menikahkannya pada Nadine yang telah menjebaknya. Ia tak suka itu. Karena itulah dia berencana menghancurkan hubungan Arfan dan Alina dan menjodohkan Arfan dengan wanita lain yang berasal dari keluarga konglomerat.


...***...


Gara-gara pernah tak sengaja melihat interaksi putranya dan Sintia, Direktur Wen langsung memutuskan untuk mengalihkan tugas Sintia untuk menjadi asistennya Hans. Dia ingin Sintia membantu Hans untuk menyukseskan proyek kerja sama dengan perusahaan masker wajah. Dia bahkan bersedia menjanjikan bonus apapun yang Sintia inginkan jika misinya ini sukses.


Tapi Hans malah jadi kesal dan tidak terima diawasi seperti ini. Tapi bukan Sintia namanya jika dia menyerah begitu saja. Dia yakin dan bertekad baja untuk menaklukkan si playboy manja itu. Jadilah Sintia terus menerus membuntuti Hans bagai bayangan setiap hari sampai membuat Hans kesal.


Dia bahkan sengaja pura-pura merayu Sintia dengan mengundangnya ke restoran dan makan malam romantis padahal diam-diam ada orang yang memotret mereka. Jelas bertujuan ingin menunjukkan foto kebersamaan mereka itu pada ayahnya biar Sintia dikira wanita mata duitan lalu pada akhirnya dia akan dipecat dan tidak akan bisa mengawasinya lagi.


Tapi sayangnya, Sintia benar-benar sangat pintar dan langsung bisa mengetahui siasat Hans itu. Maka kemudian Hans mengusulkan sebuah taruhan.


Jika Sintia jatuh cinta padanya, maka Sintia harus mengundurkan diri. Jika Sintia menolak tantangan ini, maka Hans mengancam akan memberitahu ayahnya bahwa mereka bersama malam itu.


Sintia akhirnya menerima tantangan itu. Tapi dia juga memiliki syarat. Yaitu jika Hans yang jatuh cinta padanya, maka Hans harus patuh padanya. Deal!

__ADS_1


__ADS_2