
Mereka kembali bertatap. Anehnya Arfan tidak bisa memalingkan pandangannya itu untuk terhenti memandangi Alina.
"Berani sekali kau memeluk putriku!!" Geram Pak Hendro marah, ia maju dan bahkan ingin menerjang pukulan pada Arfan
Alina sempat menahan ayahnya dilanda kemarahan.
"Ayah jangan, Aku tidak apa-apa. Sebaiknya kita dengarkan penjelasan dari mereka." Ucap Alina menenangkan ayahnya
"Tapi dia..." Ucap Pak Hendro tidak selesai
"Tidak apa. Mungkin telah terjadi kesalahpahaman di sini." Potong Alina
"Ibu mirip, dia adalah Ayahku. Aku membawanya kemari karena ayah ingin bertemu denganmu." Jelas Ivan pertama kali
Alina pun sekilas melirik ke arah pria yang tidak henti memandanginya.
"Ayah, inilah ibu mirip yang ku ceritakan padamu. Dia benar mirip seperti ibu, bukan?" Ucap Ivan memperkenalkan
"Iya. Dia mirip seperti ibu. Lebih dari kata mirip, bahkan dia seperti Alina yang ku kenali sejak lama." Gumam Arfan berpendapat
"Maaf, Aku terlalu terbawa perasaan. Ivan menceritakan satu hal mengenai dirimu sampai aku penasaran, Ivan benar kau sangat mirip seperti Alina kami. Hanya karena melihatmu, Aku sampai terbawa perasaan dan menganggap kau seperti istriku yang sedang ada dihadapan ku saat ini. Maaf sekali lagi, aku tidak sengaja memeluk mu." Jelas Arfan berbicara
"Agh,,, Tidak apa-apa Tuan. Ini bukan pertama kalinya aku mengalami hal seperti ini. Saat Ivan pertama kali bertemu denganku, ia juga menganggap hal yang sama aku adalah ibunya."
"Suaranya pun sangat mirip. Aku semakin menganggap bahwa dia benar Alina ku. Tapi tidak, mungkin dunia hanya menganggap kebetulan saja. Dia tetap seperti orang lain bagiku..." Gumam Arfan
Pertemuan Arfan dengan Alina pertama kalinya, membuat lupa bahwa Alina yang ada dihadapannya bukan Alina istrinya. Memang benar, melihat orang yang dicintainya setelah sekian lama akan semakin membuat rasa rindunya memuncak dan memeluk siapa saja yang ia anggap bisa menghilangkan rasa rindu itu.
Melihat ada wanita yang mirip seperti istrinya di dunia ini serasa surga dunia yang tak tergantikan. Bagaimana wajah, suara, dan nama itu tidak seperti kebetulan. Mungkin orang akan berpikir bagaimana bisa dua orang sama bisa terlahir ke dunia ini. Jika terlahir kembar, pasti ada perbedaan.
Orang yang terlihat sama, tetap menjadi orang asing baginya...
...***...
1 Minggu Kemudian~
__ADS_1
"Ibu Mirip..." Teriak Ivan memanggil dan berlari menghampirinya
Di sana terdapat Arfan juga yang mengantarkan Ivan untuk bertemu Alina di rumah sakit selepas pulang sekolah.
"Hey, Kau ada di sini?" Kejut Alina melihat Ivan datang mengunjunginya di rumah sakit
"Aku sengaja datang untuk menemui ibu." Balas Ivan
Arah pandang Alina pun teralihkan pada sosok pria tinggi dan tampan yang tengah berdiri tak jauh dari mereka.
Arfan melihatnya sama. Perasaan canggung muncul di keduanya.
Alina pun segera memalingkan pandangannya pada Ivan yang terasa gugup saat matanya bertemu dengan Arfan tadi.
"Ibu senang kau mengunjungi ibu lagi setelah kita bisa bertemu hanya melalui video call. Kau pasti sangat senang menghabiskan waktu bersama ayahmu, Ya." Ucap Alina beralih pada Ivan
Ibu? Hanya sebutan yang bisa dipanggil saat kita sudah menjadi ibu bagi anaknya. Berbeda dengan Alina, dia sudah terbiasa mendengar panggilan itu menyematkan dalam dirinya dipanggil ibu oleh anak yang dilahirkan ibu lain.
"Tidak. Aku lebih senang saat Ayah dan Ibu bisa berkumpul dengan ku. Kapan-kapan ayah mengatakan akan mengajak ibu untuk berjalan-jalan denganku."
Mengajak berjalan-jalan? Bukankah itu seperti pergi ke taman bermain atau hiburan bersama-sama. Seperti sepasang suami istri yang mengajak anaknya untuk menghabiskan waktu.
Jantung Alina kembali berdegup kencang. Ia tidak berani menatap sosok pria yang masih berdiam diri tak jauh dari sana.
"Agh... Iya. Kapan-kapan aku akan bergabung dengan kalian." Ucap Alina gugup
Kapan-kapan, Artinya suatu saat nanti Alina akan pergi berjalan-jalan bersama mereka. Itu artinya Alina menyetujuinya juga.
"Alina kau mengucapkan kalimat yang salah, seharusnya kau tidak menyebut kapan-kapan yang artinya apakah aku sendiri setuju. Bodoh! Kau bodoh Alina! Lihatlah, betapa mengerikannya tatapan pria itu yang sepertinya sangat berharap juga." Batin Alina menggerutu, dan jengkel pada dirinya sendiri
Saat termenung dalam gumamnya. Pria itu kini mulai menggerakkan kakinya melangkah mendekati mereka.
Sontak Alina terkejut dan menatap pria itu gemetar.
"Dia mendekat, dia mendekat. Kenapa dia malah berjalan mendekati ku? Tatapannya juga fokus berjalan sembari melihatku. Tidak jangan dekati aku, atau tidak jantungku akan terus berdegup kencang seperti ini dan bisa-bisa meledak. Aduh Alina... Apa yang terjadi denganmu saat bertemu dengan pria ini..." Heran Alina dalam hatinya
__ADS_1
Alina menjadi membeku. Yang ia rasakan saat ini adalah tidak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya sama sekali. Ia terus bergemetar, gugup, saat Arfan mendekati mereka bahkan Alina berkeringat.
"Ini hari Sabtu dan Ivan pulang lebih awal. Tadi dia mengajakku untuk mengantarkannya menemui mu di sini. Jadi aku membawa dia, aku harap kau tidak sedang sibuk dan kedatangan kami tidak menggangu pekerjaan mu." Ucap Arfan dengan suara baritonya
Alina merasa sesak saat jarak mereka bahkan menjadi lebih dekat. Namun, ia berusaha menstabilkan napasnya dan kembali normal walaupun agaknya masih terasa gugup.
"Agh,,, Sama sekali tidak, Tuan. Kebetulan ini jadwal istirahat dan pasien pun sudah mulai lengah. Hari ini tidak terlalu sibuk juga." Jawab Alina terdengar gugup dan matanya tak intens menatap lawan bicaranya
"Ivan, Ayah harus pergi sekarang juga untuk melanjutkan pekerjaan Ayah. Hari ini ada meeting. Kau ingin ayah antar pulang dulu atau ingin tetap ada di sini?"
"Aku ingin bersama Ibu mirip saja." Jawab Ivan demikian
"Sebaiknya kita pulang saja, Ya. Ayah akan mengantarkan mu pulang lebih dulu sebelum kembali ke perusahaan. Bu Dokter pasti sangat sibuk hari ini dan jika kau ada di sini pasti akan mengganggu kerjanya." Kata Arfan menyarankan
"Agh,,, Tidak apa, Tuan Arfan. Ivan ini anak yang baik dan juga sopan, Saya teringat pada saat Ivan menemani saya bekerja hari itu, dia duduk tenang sama sekali tidak menggangu saya bekerja dan bahkan Ivan membantu anak pasien agar ingin di periksa."
"Iya ayah, Aku sudah menjadi anak yang baik untuk ibu mirip. Biarkan aku di sini dan berjanji tidak akan membuat kekacauan." Mohon Ivan
"Tapi Ivan..." Arfan merasa tidak enak hati, dan bicaranya pun terpotong.
"Ayah, Ayolah... Izinkan aku sekali ini saja. Lagipula apa yang bisa aku lakukan di rumah, Ayah saja harus pergi bekerja, Bu Lastri dan Pak Aris sudah tua untuk bermain dengan ku." Rengek Ivan di paha ayahnya
Arfan terlihat berpikir keras. Dan sekilas menatap putranya, lalu beralih pada Alina.
"Apa anda benar tidak keberatan Ivan ada di sini?" Tanya Arfan pada Alina
Awalnya Alina melamun, dan tersadar saat suara bariton itu membuatnya terhenyak.
"Agh, iya benar, Tuan. Saya sama sekali tidak keberatan." Jawab Alina selalu gugup
"Hmm... Baiklah, Ayah akan mengizinkanmu untuk bersama Bu Dokter di sini." Jawab Arfan akhirnya menyetujui
Ivan senang. Ia berhasil merengek agar ayahnya itu menyetujui keinginannya.
Setelah membiarkan Ivan bersama Alina, Ia berpamitan untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertinggal akibat harus menjemput Ivan lebih dulu di jam pulang.
__ADS_1