Ibu Mirip Untuk Anakku

Ibu Mirip Untuk Anakku
52. Kebohongan yang Membuat Segalanya Semakin Rumit


__ADS_3

Saat Alina masuk dan Arfan pergi, Tristan masih menunggu di depan pintu. Dan Alina kembali keluar setelah memastikan Arfan pergi.


"Alina, Menurutku, lebih baik membiarkan kedua orang tuanya bertemu dengan Tuan Arfan. Jika tidak, takutnya kedua orang tua mu nekat untuk pergi sendiri menemui dia. Atau malah Tuan Arfan yang nekat menerobos masuk ke rumah mu lagi." Sarannya.


"Aku sangat yakin jika kedua orang tua mu sangat bertekad untuk bertemu. Percuma saja mengusir mereka, mereka tidak akan ingin pulang jika tidak bertemu Tuan Arfan terlebih dahulu."


"Aduh... Jadi, Aku harus bagaimana?" Bingung Alina.


Malam Hari di rumah Arfan.


Ivan ingin tidur dengan ayahnya dan membawa bantal besar bergambar kartun ibunya.


"Ayah, Kapan ibu Alina akan pindah ke rumah ini?" Tanya Ivan.


Arfan berusaha menjelaskan bahwa rencana mereka harus ditunda selama setidaknya dua minggu.


"Ivan harus sabar, ya. Nanti jika Dokter Alina datang, Ivan harus menyingkirkan bantal ini."


"Bukan Dokter Alina, tapi Ibu!" Protes Ivan.


"Baiklah, Ayah mengerti. Matikan lampu dan tidur."


Ivan pun tidur sambil memeluk bantal bergambar ibunya itu.


Keesokan harinya, Ivan mengirim pesan pada Alina, Bahwa dia Rindu. Alina jadi bingung dan canggung bagaimana harus menjawabnya saat membaca pesan itu.


Tiba-tiba Bu Maya muncul. Mengira Alina sedang bertukar pesan dengan Arfan. Bu Maya langsung mendesaknya untuk segera menyuruh Arfan datang. Alina langsung berakting seolah dia bingung bagaimana harus mengatakannya pada Arfan, lalu pura-pura sakit perut dan masuk kamar mandi dengan meninggalkan HP-nya di meja.


Kesempatan! Bu Maya sendiri yang langsung mengutak-atik Ponselnya Alina, tidak sadar jika Alina dan Tristan sudah merencanakan untuk membodohi Ayah dan Ibunya dengan Tristan pura-pura menjadi Arfan dan mengirim chat ke Alina.


Bu Maya langsung percaya jika dia Arfan dan langsung meminta bertemu dengannya. Arfan langsung setuju, berkata bahwa dia akan datang menemui mereka di rumah mereka. Wah! Ayah dan Ibu langsung semangat ingin pulang sekarang juga, bersiap ingin menyambut kedatangan Arfan.


Alina pura-pura sedih, padahal diam-diam dia bersorak kegirangan dan langsung mengirim pesan pada Tristan lagi, memberitahu bahwa rencana mereka berhasil.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Alina akhirnya mengantarkan kedua orang tuanya pulang. Mereka benar-benar antusias berbicara sepanjang jalan tentang segala macam persiapan untuk menyambut Arfan. Alina benar-benar senang lalu mengirim pesan pada Tristan lagi, memberitahu bahwa 'Bom sudah dijinakkan'.


[Alina, Kau mengirim pesan padaku? Tapi ponselku rusak dan baru selesai diperbaiki. Bagaimana Ayah dan Ibumu? Apa rencananya berjalan lancar dengan sendirinya?] Pesan dari Tristan.


Itu mengejutkan Alina, Tristan malah berkata bahwa ponselnya tadi rusak dan baru selesai diperbaiki, makanya dia bingung dengan maksud Alina. Hah? Loh? Jadi yang chating dengan orang tuanya tadi... Ya Ampun! Alina langsung mengecek riwayat chat-nya dan shock mendapati ibunya tadi benar-benar chating dengan Arfan.


Parahnya lagi, Arfan mendadak datang saat itu dengan membawa dua mobil. Mobil kedua berisi banyaaaaaaaaak sekali hadiah untuk calon mertuanya. Karena tadi Asisten Hans memang menyarankannya untuk menunjukkan dirinya mapan secara finansial pada kedua calon mertuanya.


Alina panik berusaha mengusirnya. Tapi tepat saat itu juga, Ayah dan Ibu keluar lagi, berniat ingin berbelanja untuk persiapan menyambut Arfan. Menuruti saran Asisten Hans untuk berusaha mengambil hati calon mertuanya, Arfan langsung saja menyapa mereka sebagai 'Ayah dan Ibu', lalu merangkul Alina dan memperkenalkan dirinya sebagai 'Tunangannya Alina'.


Panggilan yang terlalu akrab itu jelas membuat Pak Hendro dan Bu Maya kurang nyaman. Pak Hendro berusaha memintanya untuk memanggilnya sebagai 'Paman' saja, tapi Arfan bersikeras memanggilnya 'Ayah'.


Mereka pun mengundangnya masuk tapi malah melongo melihat para pembantunya Arfan membawa semua hadiah yang Arfan bawa untuk mereka. Asisten Hans juga menyarankan agar Arfan memuji calon mertuanya tampak muda.


Maka Arfan pun mulai memuji perawatan wajah Bu Maya sangat bagus.


"Saya sudah mencari tahu. Biarpun anda sekarang berusia 50 tahun, tapi kelihatan seperti... 39 tahun." Kata Arfan pada Bu Maya.


"Agh... Kau ini bisa saja. Ibu jadi malu. Tentu saja perawatan yang baik bisa membuat kulit keriput jadi lebih kencang. Jika pendapat orang lain seperti itu, mungkin aku akan menikah lagi dengan pria brondong. Hehe..." Bercanda Bu Maya memanasi suaminya.


"Eh... Dia baru saja datang dan kau malah memintanya untuk cepat pergi. Dia kan tunangan mu. Setidaknya jika gagal dengan Zayn, dia berhasil menjadi suami mu. Ayo masuk terlebih dahulu!" Tapi Bu Maya sontak mengomeli putrinya itu, lalu mengajak Arfan duduk. Alina terpaksa ikut duduk juga, tapi dia duduk di samping Ibunya yang refleks saja membuat Bu Maya mendorongnya untuk duduk di samping Arfan.


Bu Maya berbasa-basi, mengklaim bahwa mereka sudah banyak mendengar tentang Arfan dari putri mereka.


"Kami sudah banyak mendengar tentang mu. Alina mengatakan kau sangat berbakat dan sangat bisa diandalkan."


"Kapan aku mengatakan begitu?" Protes Alina sarkas.


Mengabaikan protes Alina, Bu Maya pun mulai bertanya-tanya tentang pertimbangan Arfan terhadap pernikahannya dengan Alina. Arfan menjawabnya dengan menyerahkan sebuah proposal yang di dalamnya berisi perencanaan lengkap dan detail tentang proyek pernikahan ini.


Alina langsung panjang lebar meyakinkan kedua orang tuanya lagi jika pernikahan ini hanya bohongan. Tapi apa yang mereka baca di proposal itu, justru membuat Ayah dan Ibunya mulai berubah pikiran pada Arfan dan mulai serius memandang Arfan sebagai calon suami paling ideal bagi putri mereka.


Tapi mereka penasaran dengan anaknya Arfan dan keberadaan ibu kandung anaknya itu. Mereka tidak ada maksud buruk menanyakan masalah ini, hanya saja mereka perlu memperjelas segalanya agar putri mereka tidak akan menderita di kemudian hari.

__ADS_1


Arfan langsung berubah sedih teringat ibu kandungnya Ivan. Dia agak ragu awalnya, tapi akhirnya dia mengaku bahwa ibu kandungnya Ivan sudah meninggal dunia, menceritakan bahwa istrinya itu mirip dengan Alina dihadapannya.


Pak Hendro dan Bu Maya tercengang mendengar pengakuannya.


"Kecuali orang-orang yang dekat denganku, tidak ada seorang pun yang tahu siapa Ibu kandungnya Ivan. Aku tidak ingin banyak orang yang tahu."


Bu Maya menjadi kasihan Arfan, masih semuda ini harus menjadi Ayah sekaligus Ibu untuk anaknya.


"Sayang sekali. Itulah mengapa kau mengincar putriku karena dia sangat mirip dengan istrimu. Tapi istrimu di surga, pasti akan membalas kebaikan mu."


"Ibu sudah pernah bertemu anak itu, dia pintar dan patuh, Ibu dengan senang hati ingin menjaganya jika lain kali kau sibuk." Bu Maya keceplosan mengaku.


Arfan jelas penasaran dengan pengakuannya itu, Bu Maya sudah pernah bertemu Ivan?


Baru sadar, Bu Maya dengan canggung berbohong mengatakan maksudnya.


"Ma-maksudnya adalah Ibu pernah melihat fotonya Ivan, Alina yang memperlihatkannya, itu kan sama saja sudah pernah bertemu. Hehe..."


Bu Maya cepat-cepat beralih topik mengajak Arfan makan siang di sini, bahkan memberikan berbagai macam lauk untuk Arfan. Alina tidak enak pada Arfan, takut dia tidak terbiasa makan di tempat dan makanan sederhana ini.


Tapi Arfan tampak jelas senang, bahkan mengaku bahwa dia sudah lama tidak berkumpul dan makan malam bersama sekeluarga seperti ini. Pak Hendro senang sekali bisa memiliki teman untuk minum. Bu Maya sontak mengomeli suaminya itu dan jadilah mereka bertengkar mesra, mereka benar-benar keluarga kecil yang bahagia dan itu adalah pemandangan indah yang membuat Arfan menatap mereka dengan iri.


Bu Maya baru ingat masih ada satu ikan yang belum dia hidangkan. Arfan pun membantunya meletakkannya di meja, tapi itu masih sangat panas dan pada akhirnya membuat tangannya memerah terbakar.


Bu Maya menyarankannya untuk ke kamar mandi saja dan mengoles tangannya dengan pasta gigi. Tapi sesampainya ke kamar mandi, perhatiannya teralih ke sebuah rak kecil di samping wastafel yang menarik perhatiannya.


Rumah itu kecil, raknya pun kecil. Tapi rak kecil itu muat menampung semua barang-barang milik Alina. Rumah kecil yang Alina sewa untuk hidup mandiri penuh dengan barang itu, membuat Arfan bisa merasakan kehangatan keluarga mereka dan perasaan itu membuatnya merasa hangat.


Pak Hendro dan Arfan terus minum-minum padahal miras itu terlalu keras bagi Arfan, wajahnya bahkan mulai memerah sekarang. Tapi yang tidak disangka semua orang, Arfan meminta izin menginap. Dia bahkan minta tidur sekamar sama Alina.


Iya, dia memang sudah merencanakan semua ini, dia bahkan membawa piyama mahalnya. Sekarang mereka sama-sama canggung berduaan di dalam kamar. Alina tidak senang dengan bau alkoholnya dan mengusirnya untuk tidur di sofa.


Arfan tidak terima. jika begitu, Alina saja yang tidur di sofa. Tapi saat dia ingin pergi, Arfan tiba-tiba menariknya, membuat jarak mereka jadi sangat dekat dan terpana pada satu sama lain.

__ADS_1


Canggung, Alina langsung mendorongnya tapi malah membuat dirinya sendiri ikut terdorong juga. Dia ingin cepat-cepat menghindar, tapi Arfan mencengkeram kuat tangannya dan memintanya untuk tetap di sini dan menemaninya bicara.


"Kau mungkin tidak tahu, aku sangat iri padamu. Memiliki sebuah rumah dan keluarga. Handuk digantung bersamaan, sikat gigi ditaruh bersama, makan bersama, tidur bersama. Dan aku tidak memiliki semua itu. Ibuku saja meninggal dan Ayahku menikah dengan nenek lampir itu." Arfan berbicara dalam pengaruh alkohol.


__ADS_2