
Alina sedang menggalau ria memikirkan bagaimana cara memberitahu ayah dan ibunya tentang masalah yang sedang dihadapinya saat ini.
Tiba-tiba saja dia melihat seekor anak kucing terjebak di atas dahan pohon. Alina ingin menolongnya. Tapi karena takut gelang pintarnya rusak, akhirnya dia melepaskannya lalu berniat menaruhnya di saku, tapi dia tidak sadar jika gelang itu tidak masuk ke saku dan akhirnya terjatuh ke tanah.
Benturan itu membuat si gelang pintar mengirim notifikasi SOS ke gelangnya Arfan, membuat Arfan jadi salah paham mengira Alina berada dalam bahaya. Dia jadi semakin cemas saat mencoba menelepon Alina tapi tidak diangkat.
Dia langsung beranjak bangkit untuk mencari Alina. Ivan ingin ikut, tapi Arfan melarang.
"Ayah, Aku ingin ikut." Rengek Ivan.
"Ivan tidak perlu ikut. Ayah berjanji akan menolong ibunya Ivan. Jadi, Ivan di sini saja dan jangan ke mana-mana."
Alina akhirnya berhasil mengambil kucing itu, tapi malah terpeleset batu yang dipijaknya. Untung saja ada seorang pria yang menangkapnya, Alina langsung senang melihat pria itu, dia Tristan kakak seniornya Alina yang baru saja kembali dari luar negeri. Sebuah pertemuan yang tidak terduga!
Mereka langsung berbincang akrab. Tristan lalu mengambilkan gelang milik Alina yang terjatuh itu. Tapi Alina tidak langsung memakainya kembali dan santai saja memasukkannya ke saku.
Tristan lalu mengajak Alina ke kantornya yang berada di sekitar sana. Sama seperti Alina, dia juga seorang Dokter, tapi membuka kliniknya sendiri dan memelihara beberapa ekor kucing di sana.
Dari percakapan mereka, Tristan memang menyukai kucing sejak dulu dan sering memberi makan kucing liar.
"Tidak ada luka di tubuhnya. Kucing ini hanya kurang gizi." Tristan mengecek kucing yang Alina selamatkan itu, mendapatinya tidak terluka, hanya kurang gizi saja.
"Saran ku mungkin kau bisa membantu mengurus kucing ini di sini bersama yang lainnya agar aku juga bisa mengunjungi kucing ini setiap pulang kerja." Alina usul agar Tristan membantu dia mengurus kucing itu supaya dia bisa mengunjungi kucingnya setiap pulang kerja.
Tristan setuju dengan senang hati. Mengalihkan perhatiannya kembali ke mereka berdua, Tristan mengaku sudah mendengar tentang retaknya hubungan Alina dengan mantannya.
"Itu benar. Sudah terjadi kesalahpahaman diantara kami. Aku sedang mengumpulkan energi untuk berbicara dengannya. Aku pikir akan membujuk dia dan membangun kembali hubungan kami." Jelas Alina.
"Mantan mu itu pantas mendapatkan penjelasan darimu."
"Eh... Kami belum menjadi mantan. Baik Zayn atau aku belum menyatakan bahwa kami akan putus. Dia pasti hanya sedang marah padaku." Mengelak Alina dan Tristan hanya tersenyum misteri.
...***...
Arfan mendatangi rumah Alina tapi tidak ada orang. Dia ingin membuka pintunya, tapi mendapati sandinya sudah diganti. Arfan menjadi kesal menggerutui Alina... tepat saat dia melihat Alina berjalan pulang bersama Tristan sambil menggosipkan Alina yang belakangan ini jadi terkenal di internet.
Arfan langsung cemburu melihat pemandangan itu. Apalagi kemudian dia mendengar Alina mengeluhkan nasibnya yang selalu sial dengan pria. Selesai bertengkar dengan Zayn, sekarang dia malah harus berurusan sama Arfan dan membuat dirinya sendiri menjadi bahan gosip di internet. Alina kesal sekali.
__ADS_1
"Menurutmu kenapa hanya orang-orang aneh yang mendekatiku?" Gerutu Alina bertanya pada Tristan.
"Menurutku, kau perlu mengutarakan kondisi mu pada CEO Arfan."
"Aku sudah pernah mengatakan. Dia itu pria aneh yang suka semena-mena, egois dan tidak sopan. Tidak akan nyambung."
Wah! Arfan kesal, berani sekali Alina mengata-ngatai tunangannya sendiri di hadapan pria lain. Dia langsung keluar dari mobilnya, lalu melempar tatapan tajam pada Tristan.
Mengalihkan perhatiannya ke Alina, dia langsung menuntut gelangnya Alina dan memakaikan gelang itu kembali ke tangan Alina sambil mengingatkan bahwa gelang uji coba harap selalu dipakai. Dia harus memperlakukan gelang ini dengan serius, profesional dan bertanggung jawab.
"Kenapa juga aku harus menuruti perkataan mu?" Gertak Alina.
Kembali menatap Tristan tajam.
"Siapa pria ini?" Arfan langsung menuntut.
"Kau tidak perlu tahu siapa dia dan kenapa dia bersama ku. Kau pikir kau siapa bertanya seperti itu padaku?" Alina menolak memberitahu, kenapa juga dia harus memberi tahu Arfan. Tapi malah Tristan sendiri yang memperkenalkan dirinya dan mengajak Arfan salaman.
"Saya Tristan. Kami berkuliah di tempat yang sama dan Saya adalah kakak senior Alina di luar negeri."
Arfan dengan piciknya menjabat tangan Tristan di bagian ujung jarinya saja, berterima kasih karena Tristan sudah mengantarkan tunangannya pulang, Lalu, so romantis merangkul Alina dan mengusap rambutnya sambil mengingatkan Alina bahwa dia adalah Ibunya Ivan, jadi dia tidak boleh bergaul dengan sembarang orang.
Arfan masa bodoh, intinya dia memperingatkan Alina untuk menjaga penampilannya dengan baik, dia tidak akan mengulangi kata-katanya. Dia langsung pergi begitu saja, Alina menjadi tambah kesal padanya.
"Dasar semena-mena, egois dan tidak sopan!" Umpat Alina tidak peduli masih ada Arfan di sana dan mendengarnya.
Kecemburuannya membuat jantung Arfan menjadi sakit. Tapi alih-alih berpikir jika itu karena cemburu, Arfan tetap berpikir ilmiah, meyakini jika ini pasti karena perubahan adrenalin yang mengakibatkan gangguan pada sarafnya, membuat detak jantungnya kekurangan oksigen. Dia hanya perlu istirahat, pasti akan pulih.
Tiba-tiba dia ingat kekesalan Alina tentang dirinya yang jadi bahan gosip di internet. Dia langsung menyuruh sekretarisnya untuk mengecek semua artikel di internet tentang Alina.
Kebanyakan artikel itu memang menyerang Alina dengan tuduhan Alina adalah gadis mata duitan yang merayu pria kaya. Bahkan ada yang menuduh Alina bisa menjadi dokter di rumah sakit itu berkat Arfan dan mengencani Dokter kepalanya.
Arfan tidak terima dan langsung memerintahkan sekretarisnya untuk melaporkan semua artikel ini dan menuntut semua orang yang terlibat. Dilihat-lihat, sebenarnya penampilan Alina ini biasa sekali dan jauh dari istrinya, tapi dia berhasil memikat seorang Arfan. Apa karena wajah miripnya? Entahlah...
Memutuskan tidak ingin membebani Alina, Arfan akhirnya memutuskan untuk menurunkan nama Alina dari gedung baru itu. Alina senang. Apalagi kemudian dia diberitahu Asisten Hans bahwa semua artikel gosip tentangnya sudah terhapus dari internet.
Eh tapi kemudian dia malah mendengar para rekannya menggosip lagi, mengira papan namanya Alina diturunkan karena sekarang Arfan sudah mengetahui wujud aslinya 'Wanita itu'.
__ADS_1
Tapi Arfan mendadak muncul di hadapan mereka dan langsung membela Alina, mengingatkan mereka bahwa 'Istrinya' lulus dari sekolah kedokteran terbaik di luar negeri dengan dua gelar sarjana. Semasa sekolah mendapatkan beasiswa penuh, membuat tiga penelitian yang mendapatkan penghargaan di dalam negeri. Bahkan dua tesisnya diterbitkan di jurnal internasional.
Dia adalah dokter termuda di rumah sakit ini. Jumlah pasiennya selama 1 tahun ini meraih peringat teratas, dia tidak pernah lalai dan tidak pernah absen. Selain itu, istrinya itu bernama Alina, dan bukan 'Wanita itu'.
"Dilihat dari sudut pandang ini, bukan dia yang mengandalkan koneksiku, melainkan aku yang beruntung bisa mendapatkannya." Pungkas Arfan dan sukses membungkam mulut para nakes rese itu.
Arfan bahkan minta maaf pada Alina atas tindakannya yang tidak tepat dan membuat Alina tidak nyaman. Tapi sedetik kemudian, dia mendadak narsis berkata bahwa Alina adalah orang pertama yang mampu membuat seorang Arfan meminta maaf, jadi Alina boleh berbangga.
"Bukankah jika salah memang harus minta maaf? Berarti selama kau bersama istrimu, Kau adalah orang yang paling egois." Ejek Alina.
"Oh! Aku mengerti. Akhirnya kau sadar juga bahwa pernikahan ini adalah sesuatu yang mustahil. Baguslah kau sudah sadar. Jika begitu, aku akan memberi mu salam hormat." Sambung Alina.
"Kau salah paham! Aku tidak berniat untuk menarik kembali niatan ku untuk menikahi mu."
Alina stres. "Kau ini kenapa begitu keras kepala?"
"Apa alasanmu bersikeras menolak menikah denganku?"
"Omong kosong! Ini pernikahan. Memangnya bisa sembarangan menikah. Setidaknya perlu berkencan terlebih dahulu."
"Jadi, Kau ingin berkencan terlebih dahulu denganku?"
"Tentu saja tidak! Maksudku... kita berdua ini kan orang asing. Orang asing itu harus menjaga jarak. Dan aku juga masih memiliki Zayn yang belum berpisah dengannya."
Arfan sinis. Alina berkencan bertahun-tahun dengan Zayn itu, ujung-ujungnya tetap tidak menikah dan malah merenggang sekarang. Kesal, Alina mengingatkan jika itu bukan urusannya Arfan, lalu memalingkan muka mengabaikan Arfan.
...***...
Malam harinya, Alina tersenyum-senyum tidak jelas saat teringat bagaimana Arfan membelanya di hadapan rekan-rekan nakesnya tadi. Tapi sedetik kemudian dia sadar dan langsung mengomeli dirinya sendiri. Lebih baik fokus mencari cincin itu saja. Dia mencoba mencarinya kembali, tapi tetap saja tidak ketemu.
Belum selesai satu masalah, muncul lagi masalah lain. Kedua orang tuanya mendadak datang untuk menuntut penjelasan Alina tentang Arfan dan bagaimana hubungannya dengan Zayn.
"Alina, Ibu benar-benar malu. Ibu mengetahuinya dari membaca artikel di Akun Kesehatan Publik. Bahkan Ibu-ibu yang lain, memberi ucapan selamat pada Ibu atas pernikahan mu dengan orang kaya itu. Apa kau... sudah hamil duluan?" Kata Ibunya memarahi.
Alina sontak menyangkal keras sambil menangis. Ibunya terus saja cerewet, meyakini jika Arfan ini pasti anak orang kaya yang manja dan merayu Alina dengan segala macam hadiah besar. Ibu tidak setuju jika Alina menikah dengan cara seperti ini, dia pasti tidak akan bahagia dan pernikahan mereka tidak akan bertahan lama.
"Ini pasti ulah anak ingusan itu. Padahal Ayah dan Ibu sudah menyetujui hubungan mu dengan Zayn. Kedua orang tuanya pasti marah pada kami." Imbuh Ayahnya.
__ADS_1
Frustasi, Alina dengan jujur memberitahu mereka bahwa pernikahan itu palsu. Dia langsung berbicara panjang lebar menjelaskan segalanya... yang intinya, Arfan membantunya berakting demi menolongnya dari wanita yang tidak menyukainya itu. Arfan juga melakukan itu sebatas menghilangkan perasaan Vivian padanya. Jadi, keduanya sama-sama memiliki keuntungan. Begitu, selesai, tamat!
Tapi Ayah dan Ibu malah mendadak memutuskan untuk tinggal selama beberapa hari di rumahnya. Hah? Alina ingin protes, tapi mereka bahkan tak memberinya kesempatan untuk bicara. Pusing! Alina semakin stres.