Ibu Mirip Untuk Anakku

Ibu Mirip Untuk Anakku
62. Mimpi dan Kenyataan


__ADS_3

Alina ternyata pingsan bukan karena digigit ular, melainkan hanya karena terkejut. Alina kan jadi malu. Tapi syukurlah, dia pikir jika dia akan mati tadi.


Acara sudah berakhir, sesuai kesepakatan, kontrak mereka pun resmi berakhir. Dan walaupun dia sendiri yang mengeyel untuk mengakhiri kontrak mereka, sebenarnya Alina sedih juga.


Sintia datang menjemputnya, tapi Ivan dengan imutnya bersikeras membujuk ibunya untuk semobil dengannya dan papanya. Alina jadi galau. Sintia berinisiatif mengusulkan agar Ivan ikut bersama Alina saja dan Arfan setuju.


Jadilah Arfan pulang sendirian ke rumahnya yang sepi dan kontan membuatnya merindukan keberadaan Ivan dan Alina. Hans sudah menunggu di ruang kerjanya. Kali ini dia datang membawa foto punggung seorang wanita yang kali ini cukup mirip dengan punggung wanita yang selalu diingatnya dalam mimpinya itu.


Tapi kali ini Arfan sudah tidak peduli lagi dan sudah tertarik untuk mencari wanita itu lagi. Memang selama ini wanita asing itulah yang memberinya motivasi untuk terus melangkah maju. Namun, sekarang Arfan sudah memiliki orang lain yang memotivasinya.


Alina berusaha membujuk Ivan untuk pulang, tapi Ivan langsung matah. Alina pun berusaha membujuknya dengan mengajaknya main gelembung sabun.


Arfan datang saat Ivan masuk kamar mandi untuk mengisi ulang pistol gelembung sabunnya. Kali ini dia datang untuk menawarkan kontrak baru pada Alina, kontrak yang baru ini adalah kontrak untuk menjalin hubungan serius dengan Alina.


Kali ini masa kontraknya bisa lebih panjang, seumur hidup. Alina berkaca-kaca penuh haru mendengarnya dan Arfan langsung menciumnya. Ivan pun bahagia.


Tapi tiba-tiba Sintia datang mencari Alina, berniat ingin mengajaknya nonton konser bersama. Tapi dia memperhatikan wajah Alina memerah, dia jadi khawatir jika Alina demam dan langsung mengulurkan tangan ingin menyentuh wajah Alina... tepat saat Arfan mendadak muncul menghalanginya dan jadilah tangannya mendarat di pipi Arfan.


Arfan langsung memasukkan Alina dan Ivan ke mobil dan memberitahu Sintia bahwa dia dan Alina sudah resmi jadian sekarang. Jadi sebaiknya Sintia menjaga jarak dengan temannya yang akan mulai sekarang. Mereka pun pergi meninggalkan Sintia yang hanya bisa membeku di tempat dengan linglung.


Arfan sudah menata ulang kamar kecilnya Alina supaya lebih nyaman. Selain TV, dia juga menyediakan kulkas kecil yang diisi lengkap dengan berbagai snack kesukaan Alina. Mereka memutuskan untuk nonton drama bersama, tapi yang mereka tonton tepat di bagian adegan ciuman yang kontan membuat mereka berdua jadi canggung.


Arfan berusaha diam-diam masuk ke dalam selimutnya Alina, lalu mengganti channel, tapi malah melihat adegan hal yang sama lagi. Arfan jadi ingin mencium Alina, tapi Alina terlalu tegang dan langsung menghindarinya dengan mengganti channel.


Tapi kemudian dia sendiri yang berinisiatif untuk melingkarkan tangan Arfan padanya dan merangkulnya. Dan mereka pun lanjut nonton dalam posisi seperti itu sampai Alina tertidur di bahunya. Sepelan mungkin Arfan membenarkan posisi tidurnya, mengecup lembut keningnya lalu pergi.


...***...


Keesokan harinya di kantor, para karyawan keheranan melihat bos mereka tampak sangat riang gembira sambil joget-joget tidak jelas. Dia bahkan menjadikan foto ciuman dirinya dan Alina sebagai wallpaper laptopnya.


Tapi kemudian Melisa muncul dan sontak protes tidak terima dengan hubungan Arfan dan Alina. Dia mengingatkan Arfan bahwa jika mereka menikah, maka itu akan sangat menguntungkan bagi Arfan dan perusahaannya. Menolaknya, akan sangat merugikan Arfan dan perusahaannya. Tapi Arfan santai saja menanggapinya. Pernikahan dan bisnis baginya adalah dua hal yang berbeda.


Dia benar-benar masa bodo dengan ancaman Melisa dan lebih fokus pada kontrak pacaran mereka yang belum Alina tanda tangani. Tapi Alina bersikeras menolak tanda tangan.


Arfan tidak mengerti mengapa. Tapi Alina malah tak menjawab pertanyaannya, sengaja membuatnya penasaran. Arfan jadi mengira bahwa kontraknya ada masalah dan langsung memanggil semua ahli hukumnya untuk membicarakan masalah kontrak pacaran ini.


Hadeh! Padahal sebenarnya yang diinginkan Alina tuh sederhana. Dia hanya ingin Arfan menyatakan cinta langsung padanya, mengatakan 'Aku mencintaimu!' seperti itu loh.


Tapi sayangnya, Arfan sama sekali tidak memahami petunjuk yang diberikan Alina padanya dan bersikeras meyakini jika Alina hanya tidak puas dengan kontraknya. Dia bahkan keras kepala meyakini Alina menginginkan harta dan dengan senang hati bersedia mengabulkan apa pun yang Alina minta. Ingin uang, mobil, rumah, sebut saja, akan dia atur semuanya untuk Alina. Dia juga mencoba memuji-muji Alina, tapi tidak ada satu pun keluar kata cinta dari mulutnya.

__ADS_1


Malah Hans yang langsung paham keinginan Alina. Dia mencoba memberitahu Arfan secara diam-diam. Tapi sayangnya, harga diri Arfan terlalu tinggi selangit sehingga dia sangat sulit mengucapkan kata-kata sederhana namun penuh makna itu. Alina jadi sebal padanya.


Bingung, Arfan pun mencoba mengonsultasikan masalah ini dengan Hans yang menyarankannya untuk mengajak Alina kencan ke tempat yang romantis, harus sempurna.


Jadilah Arfan mengajak Alina kencan... mancing di sungai. Romantis dari mana, banyak nyamuk malah. Padahal Alina bahkan sudah berdandan cantik, memakai rok segala.


Alina masih menuntut Arfan untuk menyatakan cintanya. Tapi Arfan malah dengan santainya berpikir bahwa acara mancing ini sudah cukup jelas untuk menunjukkan perasaannya.


Acara mancing ini adalah kencan sempurna yang bisa dia pikirkan karena mereka bisa duduk lama bersama dan fokus pada satu sama lain sehingga kesan mereka pada satu sama lain akan semakin mendalam dan akhirnya bisa memperdalam perasaan mereka pada satu sama lain.


Dia berusaha mendesak Alina untuk mulai memancing. Alina awalnya menolak, tapi Arfan membujuknya dengan memanfaatkan Ivan sehingga Alina akhirnya menurut juga. Tapi saat dia baru mengangkat tongkat pancingnya, Alina tiba-tiba terjatuh tepat di pangkuan Arfan.


Arfan pun senang. "Ikannya sudah terpancing." Goda Arfan lalu mengecup Alina.


Tapi tetap saja, Arfan tidak mengucapkan kata-kata yang ingin Alina dengar. Di rumah, Ivan juga berusaha mengajari papanya untuk mengucap kata-kata itu. Tapi tetap saja, si ayah terlalu keras kepala dan menolak melakukannya.


Alina baru pulang kerja saat dia mendengar ibu tirinya Arfan menelepon dan mengomeli Arfan atas sikap Arfan pada Melisa dan terus memaksanya untuk menikahi Melisa. Tapi Arfan tak gentar dan menolak.


Gagal bicara dengan Arfan, Bu Shinta langsung ganti menarget Alina, meyakinkan Alina bahwa mereka tidak cocok untuk menikah karena perbedaan latar belakang mereka yang bagaikan bumi dan langit. Jikapun mereka menikah juga, mereka pasti tidak akan bahagia.


Alina langsung terdiam tak bisa berkutik, tapi tiba-tiba Arfan muncul dan langsung membela Alina. Dia sadar betul apa tugas dan tanggung jawab yang diembannya untuk keluarga dan perusahaan mereka sejak kakak dan kakak iparnya meninggal dunia. Namun di sisi lain, dia juga menginginkan kehidupan yang normal.


"Aku ingin bersama orang yang kusukai untuk membentuk keluarga bersama." Ujar Arfan.


Dan saat itulah, akhirnya Arfan pun mantap mengungkapkan perasaannya. "Aku juga datang hari ini untuk memberitahumu... aku menyukaimu."


Sejak kematian istrinya, Arfan tak pernah sekalipun mengucap kata-kata ini. Selama ini dia hanya mempercayai data dan laporan. Makanya dia merasa agak malu untuk mengucapkannya.


Tapi akhirnya dia bisa mengucapkannya juga setelah sekian lama, rasanya sungguh lega. Sekarang dia menyadari bahwa Alina benar, perasaan memang harus diungkapkan. Masih banyak hal yang harus dia pelajari, jadi inginkah Alina menemaninya untuk belajar dan berubah? Tentu saja Alina ingin.


...***...


Melisa mendatangi psikiater untuk minta obat. Ternyata dia menderita gangguan kecemasan dan jelas itu sudah lama terjadi padanya, tapi dia ngotot menolak treatment dan hanya menginginkan obat penenang.


Sepertinya dia tertekan karena ibunya yang terus memaksanya melakukan hal-hal yang tidak diinginkannya hanya demi menjaga reputasi keluarga.


Biarpun Melisa sudah mentransfer uang, tapi psikiater bersikeras menolak menyerahkan obatnya semudah itu, dan menuntut Melisa untuk menjawab kuisioner dulu.


Melisa menurutinya dengan kesal, tapi dia menolak mendengar ceramahnya psikiater dan langsung pergi begitu mendapatkan obatnya. Padahal psikiater benar-benar mengkhawatirkannya karena hasil kuisioner itu jelas menunjukkan jika kondisi mental Melisa sudah parah.

__ADS_1


Berhubung sekarang mereka sudah resmi berkencan, Alina dan Arfan saling mengecek ponsel satu sama lain, Alina bahkan ingin mengganti foto profil Wechat-nya Arfan dengan foto mesra mereka berdua.


Tapi Arfan malah menemukan chat Alina dengan seorang pria muda lain yang jelas saja membuat Arfan cemburu. Maka Arfan pun memutuskan untuk meng-update statusnya Alina untuk mengumumkan status hubungan mereka sekarang.


Bukan hanya update status, dia juga mengundang beberapa temannya Alina ke restoran hanya untuk mengumumkan hubungan mereka sambil menunjukkan kontrak pacaran mereka yang dia bingkai pigura lalu diakhiri dengan kecupan di pipi Alina.


Berniat menguji mereka, teman-temannya mereka usul agar mereka main Truth or Dare. Di babak pertama, Arfan kalah dan diperintahkan membaca dialog yang cringe abis sampai-sampai Alina jadi jijik sendiri mendengarnya. Di babak kedua, Alina yang kalah. Arfan bertanya sejak kapan Alina mulai menyukainya.


"Setelah kau menyukaiku." Bisik mesra Alina yang kontan saja membuat teman-temannya Alina geli sendiri.


Di babak ketiga, Arfan kalah lagi dan kali ini dia diperintahkan menggigit french fries dari mulut Alina. Jelas Arfan dengan senang hati melakukannya. Tapi tepat saat bibirnya semakin mendekat, malah Alina yang malu dan cepat-cepat memotongnya sebelum bibir mereka bersentuhan.


Bertekad mendapatkan pengakuan dan restu Bu Shinta, Alina pun memutuskan belajar golf karena Bu Shinta menyukai permainan golf. Dia latihan memukul bola di dalam rumah sehingga bolanya bertebaran di mana-mana dan hampir saja bolanya mengenai Arfan jika saja Arfan tidak sigap menangkapnya.


Daripada membahayakan orang rumah, Arfan akhirnya berinisiatif membawanya latihan di lapangan golf. Mereka jadi seperti back hug waktu Arfan membenarkan postur tubuhnya, dan itu kontan membuat pikiran Alina jadi tidak fokus pada golf-nya, malah terpesona menatap Arfan lalu mengecup pipinya.


"Jadi yang ingin dipelajari Dokter Alina ternyata bukan golf, yah? Aku juga mengajarimu tentang ini." Goda Arfan lalu mencium Alina.


Tapi Arfan tidak bisa menemani Alina lagi karena tepat saat itu juga, dia mendapat panggilan yang mengharuskannya kembali ke perusahaan.


Beberapa pegawai mereka hari ini tiba-tiba mengundurkan diri secara serentak, dan semuanya adalah para pegawai yang terlibat dalam proyek gelang pintar. Mereka semua awalnya memang dipekerjakan setelah Melisa datang, dan sekarang Melisa membawa pergi semua pegawai itu (Err... lebih tepatnya, Ayahnya Melisa yang melakukannya).


...***...


Pak Aris mendatangi Bu Shinta lagi. Kebetulan Alina lewat saat itu dan melihat Bu Shinta sedang diancam oleh pria itu. Mengira dia perampok, Alina sontak menyerang Pak Aris. Kesal, Pak Aris dengan sengaja memberitahu Alina bahwa suaminya Alina adalah pelakunya lalu bergegas pergi.


Alina jelas bingung apa maksudnya. Maka kemudian, Bu Shinta pun menceritakan kebenaran tentang kecelakaan itu pada Alina dan keterlibatan Alina di dalamnya.


Kecelakaan itu adalah kecelakaan yang sama dan membuat wajah Alina terluka saat dia berusaha mengeluarkan anak kecil dari mobil, bayi itu adalah Ivan. Hanya karena Alina ikut campur dengan rencana menyingkirkan ibu dan anak itu, takut jejak diketahui maka ia juga mengincar Alina untuk merencanakan pembunuhan. Karena itulah Bu Shinta memohon pada Alina untuk pergi meninggalkan Arfan.


Keberadaan Alina bisa memicu ingatan dan masa lalu kelam Arfan, dan pada akhirnya akan menghancurkan segalanya. Alina jadi galau dan sedih karenanya.


Apalagi setelah dia menidurkan Ivan tak lama kemudian, dia mendapati Arfan tidak tenang dalam tidurnya karena memimpikan mendiang istrinya. Arfan bercerita bahwa istrinya itu sangat disayanginya.


Alina yang saat itu menjadi kekasih Arfa. tahu jika dia tidak menyukai bisnis, makanya Alina membujuk calon ayah mertua untuk membiarkannya memilih jurusan apapun yang dia inginkan.


Arfan lalu menunjukkan gambar punggung wanita misterius yang selama ini selau muncul dalam mimpinya. Wanita inilah yang selalu memberinya kehangatan dan harapan. Namun sekarang dia memutuskan untuk berhenti mencarinya. Wanita ini nyata atau tidak, apakah wanita ini benar-benar berarti baginya atau tidak, sekarang Arfan sudah tidak peduli lagi karena sekarang dia sudah memiliki Alina.


Alina berkaca-kaca menyadari wanita dalam gambar itu adalah dirinya. "Apa kau yakin kau hanya melihatnya dalam mimpimu?"

__ADS_1


"Aku menggambarnya berdasarkan kemunculan gadis itu dalam mimpiku. Aku yakin sekarang jika aku belum pernah melihatnya dalam hidupku."


Jadi semakin sedih mendengarnya hingga buru-buru menghindar dengan alasan sudah lelah dan ingin tidur.


__ADS_2