
Bu Shinta akhirnya menceritakan segalanya pada Arfan, termasuk keterlibatan Alina pasca kecelakaan itu yang mengakibatkan kerusakan di wajahnya. Arfan dan Alina mengerti mengapa wajahnya dapat semirip itu. Alina sendiri menyadari peristiwa itu yang memang mengakibatkan ia harus kehilangan wajah aslinya.
Bu Shinta hanya ingin menyingkirkan Alina dan Ivan yang posisinya sebagai pewaris selanjutnya. Rencana Bu Shinta menikah dengan Pak Pratama adalah untuk menguasai dan mengambil alih semua harta yang sewaktu Pak Pratama meninggal, otomatis akan jatuh pada Arfan. Sedangkan Bu Shinta, dengan serakah ingin merebut segalanya agar dikuasai anaknya.
Dengan cara membuat Istri sekaligus anaknya meninggal, Arfan akan depresi karena ia sangat menyayangi keduanya. Kesedihan Arfan bisa saja parah hingga membuatnya kehilangan akal. Itulah harapan Bu Shinta. Tapi nyatanya, Pak Aris gagal dan Ivan hanya mengalami luka ringan saja. Sedangkan jejak dihilangkan dengan Alina yang diberi ancaman sampai merelakan nyawanya hanya untuk keselamatan putra dan suaminya.
Arfan langsung mengerti segalanya dan jadi sedih karenanya, Bu Shinta mengusir Alina karena Bu Shinta tidak ingin dia mengingat Alina yang pada akhirnya akan mengingatkannya pada kejahatannya itu.
Alina juga memberitahu kedua orang tuanya bahwa dia dan Arfan sudah berpisah. Dia tidak mengatakan alasan spesifiknya dan hanya berkata bahwa dialah menyakiti Arfan dan dia sendiri yang memutuskan hubungan mereka karena dia ingin mengejar impiannya berkarier ke luar negeri.
Alina akan berangkat ke Jerman besok. Maka malam itu, Alina mengundang semua orang untuk makan hot pot bersama. Tapi suasananya benar-benar sangat canggung, dan saat itulah Arfan akhirnya memutuskan setuju untuk putus. Dia berusaha tetap tegar saat dia mendoakan yang terbaik untuk Alina dan impiannya.
Dia langsung pergi setelah itu. Alina tetap berusaha menampilkan senyum cerianya di hadapan teman-temannya, tapi begitu sendirian, dia termenung sedih teringat berbagai kenangan indahnya bersama Arfan.
.
.
.
Sudut Pandang Zayn~
Teringat nasihat orang tua untuk mencoba menenangkan dirinya dengan cara mencari sesuatu yang bisa mengalihkan pikirannya pasca mengikhlaskan Alina.
Tapi orang tuanya terus menerus meneleponnya. Zayn pun berusaha mengingatkannya untuk menghadapi keluarganya saja alih-alih melarikan diri terus. Tapi Zayn terlalu keras kepala menolak sarannya.
Tapi kemudian Zayn juga membaca buku diary-nya di mana Zayn menulis tentang rencananya untuk menyatakan cinta pada Alina. Zayn jadi merasa bersalah, tapi dia penasaran apakah Alina sudah berbahagia bersama Arfan? Jika belum, ia pikir dapat mengambil kesempatan beralih untuk mendapatkan kembali Alina.
Zayn menyangkal, dia sudah melupakan Alina, dan bahkan setelah Alina putus dengannya, dia juga tetap gagal mendapatkan Alina karena keduluan Arfan. Tapi sekarang mereka juga sudah putus dan Alina ingin pergi ke Jerman.
Zayn terkejut dan heran mendengarnya, padahal sebelumnya Arfan sangat terobsesi pada Alina. Tapi jika begitu, bukankah sekarang Zayn jadi memiliki kesempatan besar untuk mengejar Alina?
...***...
Keesokan harinya, teman-teman Alina datang untuk mengantarkan kepergiannya. Namun tiba-tiba Hans menelepon Sintia karena dia pikir Arfan sedang bersama mereka untuk mengantarkan kepergian Alina. Jelas saja mereka bingung karena Arfan tidak ada di sini, Hans juga tidak bisa menemukan Arfan di mana-mana, ditelepon juga tidak dijawab.
Sintia santai saja mengingat dia pria dewasa yang mungkin saja sibuk dengan banyak urusan dan pekerjaan, tapi Alina khawatir. Arfan tidak mungkin meninggalkan Ivan sendirian di rumah.
__ADS_1
Dia jadi semakin cemas setelah menelepon Bu Shinta dan diberitahu Bu Shinta bahwa Arfan sudah mengetahui kebenaran itu.
Alina langsung pergi mencarinya ke perusahaan dan mendapati Arfan di sana, sedang memperhatikan proyek gelang pintarnya seperti terobsesi dan terus nyerocos tentang proyek gelang pintarnya, menggunakan alasan itu untuk melampiaskan emosi dan frustasinya.
Cemas, Alina langsung memeluknya, berusaha meyakinkannya bahwa kematian itu bukan salahnya, membiarkan Arfan menangis dalam pelukannya dan membujuknya untuk pulang.
Insiden ini membuat Alina memutuskan untuk membatalkan kepergiannya ke Jerman. Tapi malah sekarang Arfan sendiri yang ingin menjauh dan bersikeras untuk tetap mengakhiri hubungannya.
Sintia penasaran apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka, maka Alina pun menceritakan segalanya. Sintia merasa kasusnya Arfan terlalu sulit ditangani.
Jadi dia menyarankan agar Alina tetap melanjutkan rencananya dan pergi ke Jerman saja. Tapi Alina tidak ingin, dia sudah memutuskan untuk membantu Arfan, bahkan sekalipun itu akan makan waktu seumur hidup.
Alina pun kembali ke rumah Arfan tak peduli biarpun Arfan tetap menolak kehadirannya. Dia tetap menghadapi Arfan dengan sabar dan berusaha membujuknya untuk mengingat kembali kecelakaan itu karena dia sebenarnya tak yakin jika Arfan yang bersalah. Tapi Arfan menolak dan bersikeras mengusirnya.
Padahal sebenarnya Alina ingin dia mengingat kecelakaan itu karena Alina merasa ada yang aneh dengan kecelakaan itu. Sehari setelah kecelakaan itu terjadi, Pak Aris tiba-tiba mengirim uang sepuluh juta Dollar ke saudaranya untuk melunasi utang. Seorang supir biasa, dari mana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu?
Alina tahu betul jika Pak Aris adalah pengemudi mobil yang sangat handal. Jadi ada kemungkinan, kecelakaan itu terjadi karena adanya sabotase untuk membuat remnya blong.
Melihat Alina putus asa, Zayn akhirnya berinisiatif mendatangi Arfan, sengaja memprovokasi Arfan dengan menyatakan bahwa dia akan menyatakan cinta pada Alina hari ini di tempat yang sudah dia tentukan.
Dan usahanya berhasil memancing Arfan keluar. Sebelum dia sempat menyatakan cintanya pada Alina, Arfan mendadak muncul untuk merebut Alina kembali lalu membawanya pergi.
Di tengah kesedihannya, Melisa juga kebetulan datang dan muncul menemaninya. Melisa merasakan apa yang dirasakan Zayn saat ini, Ia juga sudah sadar dan tidak akan mengganggu hubungan Arfan dengan Alina. Zayn berusaha menghibur dirinya sendiri dengan bermain gitar dan bernyanyi dan terpesona pada Melisa.
Melisa akhirnya mulai bisa terbuka padanya dan mengaku bahwa gangguan kecemasannya ini muncul sejak dia mengetahui bahwa penghargaan desain yang pernah dia dapatkan, ternyata adalah hasil sogokan yang dilakukan ayahnya.
Ayahnya sebenarnya tak pernah menyetujui pilihan karirnya, namun dia juga jenis orang yang tidak terima kalah, makanya dia melakukan suap untuk membuatnya menang. Sejak saat itu, Melisa selalu mendapat serangan panik setiap kali dia harus menggambar. Bahkan sejak tahun lalu, dia sudah tidak bisa lagi menggambar.
Melisa sangat senang berada di dekat Zayn, hanya karena ia seorang dokter, Zayn menasihati Melisa dengan ilmu kedokterannya.
...***...
Arfan membawa Alina pergi ke sekolahnya Ivan yang hari ini marah tidak ingin masuk kelas dan hanya ingin bermain basket bersama ayahnya... Ayah dan anak itu akhirnya bisa bermain basket dengan riang gembira.
Arfan pun akhirnya mantap memutuskan untuk berusaha mengingat kembali kecelakaan itu, dan Hans menawarkan bantuan dengan memperkenalkannya pada seorang seniornya yang bisa melakukan hipnotis.
Arfan lalu menemui Pak Aris untuk menginterogasinya tentang kecelakaan itu. Seharusnya yang menyetir waktu itu memang Pak Aris, namun tiba-tiba saja dia membuat-buat alasan biar dia tidak perlu menyetir.
__ADS_1
Jelas Pak Aris tahu ada masalah dengan mobilnya. Pasti ada orang yang membayar Pak Aris untuk menyabotase mobil itu, iya kan? Berapa banyak yang dia terima? Pak Aris menyangkal dirinya terlibat, namun dia mengakui bahwa memang ada orang yang menyabotase mobilnya.
Arfan sengaja berbohong ke Pak Aris bahwa dia hampir mendapatkan kembali ingatannya dengan tujuan untuk memancing dalang kecelakaan itu. Padahal sebenarnya metode hipnotis rekomendasi Hans itu sama sekali efektif, Arfan tetap saja belum bisa mengingat kecelakaan itu.
Rencananya untuk memancing dalang kasus kecelakaan itu sukses. Namun akibatnya, Alina diculik tepat di hadapan mata Ivan menghubungi ayahnya sambil menangis dan memohon pada ayahnya untuk menyelamatkan ibunya. Untungnya Ivan mengingat nomor polis mobil itu.
Arfan pun bergegas mengejar mobil tersebut, memotong jalannya sehingga kedua mobil bertabrakan. Namun insiden kali ini berhasil memicu ingatan Arfan.
Saat Arfan terbangun, dia mendapati dirinya dirawat di rumah sakit bersama Alina. Untungnya ia hanya mengalami luka ringan. Alina memberitahu bahwa pelaku sudah ditangkap dan sudah mengakui semua perbuatannya.
Pak Aris memang tahu jika rem mobil itu blong, makanya dia menolak menyetir malam itu dan menjual informasi itu pada si perusahaan rival. Truk yang waktu itu mendadak muncul di depan mobil mereka, memang berniat mencelakai mereka. Ditambah dengan hujan deras, membuat mobil yang dikendarai jadi kehilangan kendali.
Tapi sekarang segalanya sudah berlalu, Alina berusaha meyakinkannya bahwa dia tidak bersalah. Arfan sontak memeluknya erat dan berterima kasih padanya.
"Kau telah menolongku dan Ivan. Banyak sekali musuh yang mengintai kematian keluarga ku, dan istriku yang merelakan nyawanya hanya untuk keselamatan keluarganya. Ia juga yang sudah mengirimkan dirimu sampai mengorbankan wajah aslimu untukku dan Ivan meskipun raga yang berbeda. Lagu anak yang kau nyanyikan waktu itu adalah suara nyanyian terindah dalam hidupku."
"Takdir telah membuat lelucon yang besar dengan kita. Aku menolong mu, kau juga menolongku. Ke depannya, kita tidak akan terpisahkan lagi."
Arfan pun menciumnya mesra. Mereka menghabiskan malam itu dengan menikmati suasana malam, tapi tiba-tiba Alina lapar dan langsung mengajak Arfan untuk nakal dengan melarikan dari rumah sakit untuk membeli jajanan street food.
...***...
Ibunya Sintia mengajak Sintia makan bersama, mencoba memberinya makan makanan kesukaan Sintia dan membujuknya untuk pulang. Sintia menolak, mengklaim bahwa kampung halamannya sekarang sudah tidak berarti baginya.
Padahal sebenarnya dia sedih setelah menolak ibunya. Hans datang setelah Ibu pergi dan meminta maaf setulus hati atas semua kesalahannya ada Sintia.
Sintia masih dingin dan sinis padanya, maka Hans langsung membopongnya paksa ke rooftop yang sudah dia dekor jadi tempat romantis. Sintia akhirnya mulai bisa santai dan nyaman hingga dia mulai bisa terbuka pada Hans, bercerita bahwa cita-cita dan tekadnya sejak lulus kuliah adalah memiliki tempat tinggalnya sendiri di kota ini karena dia tidak ingin lagi kembali ke rumah masa kecilnya.
Selama ini, dia selalu berusaha tampil sempurna di hadapan orang lain karena dia takut orang lain akan tahu kalau dia sebenarnya tidak punya apa-apa. Kecantikannya ini hanya sebuah cangkang karena dia tidak memiliki rumah sendiri, dan keberaniannya adalah karena dia tidak memiliki seorang kesatria pelindung.
Mendengar itu, Hans akhirnya mantap memutuskan untuk menyatakan cintanya pada Sintia. Dia menggambar denah rumah di bawah kaki Sintia dan berkata bahwa dia ingin memberikan sebuah rumah untuk Sintia, sebuah rumah untuk menyimpan semua impian Sintia, rumah untuk menampung kelelahan Sintia.
"Aku mencintaimu. Kau ingin rumah, kuberikan padamu. Kau ingin cinta, juga kuberikan padamu. Maafkan aku. Salahkan aku sudah jatuh cinta padamu sejak awal." Ujar Hans, dan Sintia langsung menjawabnya dengan menciumnya mesra.
Mereka menghabiskan malam bersama, dan keesokan harinya, Sintia pergi duluan ke perusahaan. Semua orang sudah menunggu di ruang rapat, tapi hanya Hans seorang yang belum datang.
Sintia ingin menghubunginya, tapi baru sadar kalau tadi dia salah ambil HP. parahnya lagi, dia tidak tahu password HP-nya Hans dan Direktur Jameson hampir saja ingin menghubungi nomor putranya itu. Jelas saja Sintia langsung panik melarangnya.
__ADS_1
Untungnya Hans datang juga saat itu. Tapi saat dia memberitahu semua orang bahwa dia terlambat karena HP-nya, dia malah terang-terangan menunjukkan HP casing pink bling-bling milik Sintia, secara tak langsung mengungkapkan hubungannya dengan Sintia. Jelas saja Sintia langsung menyembunyikan wajahnya di balik dokumen saking malunya.