
Zayn masih menjaga Alina yang belum sadarkan diri. Disela-disela tidurnya, Alina mengigau menyebutkan nama Ivan. Zayn yang mendengarnya keheranan.
"Ivan??" Zayn mencoba mencerna apa yang dikatakan Dini
"Apa Alina sedang merindukan Ivan?" Lanjut Zayn dengan bingung
25 menit kemudian.
"Zayn, Apa Alina sudah sadarkan diri?"
"Belum bibi, Alina masih tertidur." Balas Zayn
"Owh baiklah. Bibi sudah membuat buburnya. Terima Kasih ya kau sudah menjaga Alina."
"Iya sama-sama, Bibi. Jika begitu saya permisi, orang tuaku sudah pasti sangat mengkhawatirkan diriku. Karena biasanya pukul sembilan malam aku sudah berada di rumah."
"Dan ini sudah pukul satu dini hari, maafkan bibi ya, Zayn. Bibi sudah merepotkan mu."
"Sama sekali tidak bibi, Jika begitu saya pamit."
"Iya-iya silakan. Hati-hati ya, Zayn."
"Iya terima kasih, Bibi." Zayn pun keluar pamit dan pulang
Tak selang lama Zayn pergi, Alina sadarkan diri.
"Alina kau sudah bangun, nak?" Kata Bu Maya
"Apa yang terjadi padaku, Bu?" Tanya Alina yang masih lemas
"Tadi kau pingsan. Zayn yang menggendong mu sampai sini."
"Lalu, di mana Zayn sekarang?"
"Dia sudah pergi, dia mengatakan orang tuanya pasti sama halnya mengkhawatirkan dirinya di rumah."
"Zayn sangat baik. Aku banyak merepotkan dirinya."
"Sudah, kau harus banyak istirahat sekarang. Zayn mengatakan kau kelelahan dan banyak pikiran. Memangnya apa yang sedang kau pikirkan Alina?"
"Tidak ada Bu, aku hanya memikirkan di rumah sakit banyak sekali pasien yang harus aku tangani. Itu saja." Jawab bohong Alina menyembunyikan kebenaran jika dia memikirkan Ivan
"Baiklah, Yasudah jika begitu kau harus makan. Zayn mengatakan bahwa kau sama sekali belum makan di rumah sakit, ibu sudah membuatkan bubur."
"Baik Bu." Alina duduk di tempat tidur nya lalu disuapi bubur oleh ibunya
Rumah sakit~~
Nadine sudah sadarkan diri.
"Arfan, Apa yang terjadi padaku.kenapa perut tidak membesar lagi. Apa anak kita sudah lahir, Jika sudah dimana dia?" Tanya Nadine
Arfan membeku dia tidak dapat menjawab pertanyaan Nadine.
"Arfan ayo katakan sesuatu, di mana anakku?"
"Nadine anak kita sudah tiada." Jelas Arfan membuat Nadine mendengarnya sangat terkejut
"Apa maksudmu? Tiada bagaimana? dia anakmu Arfan, tapi kau malah menyebutnya sudah tiada."
__ADS_1
"Aku juga tidak mengerti mengapa bayi kita pergi begitu cepat. Bahkan sampai belum menemui ayah ibunya. Tapi itu benar bayi kita sudah tidak ada, dia sudah meninggal." Ujar Arfan sambil menangis
"Omong kosong! Kau pasti berbohong."
"Aku berkata jujur Nadine!" Ujar Arfan meyakinkan
"Tidak, tidak mungkin anakku meninggal. Sebentar lagi dia lahir Arfan." Ucap Nadine dengan mata memerah menahan tangis dan ia berteriak sekencang-kencangnya meratapi kepergian bayinya
Arfan mencoba menenangkan Nadine yang masih syok.
Dokter pun datang dan membius Nadine supaya tenang. Nadine tenang dan tidak sadarkan diri kembali.
Sedangkan Arfan dia keluar untuk menenangkan diri.
*
*
*
Di dalam kamar Alina berbicara sendiri, dan banyak memikirkan sesuatu.
"Aku hampir lupa menanyai kabar Ivan bagaimana? Kebetulan aku sedang tidak sibuk. Akan ku coba telpon pak Aris. Aku harap dia belum tidur."
Saat ingin mengambil teleponnya kebetulan pak Aris juga menelpon.
Dengan tidak menunggu lama, Alina menjawab telepon pak Aris.
"Hallo pak Aris, kebetulan kau menelpon ku awalnya aku juga ingin menelpon dirimu." Uap Alina memulai percakapan
"Hallo nyonya Alina." Suara pak Aris dengan rintihan dan tergesa-gesa
"Pak Aris, Apa yang terjadi kenapa sepertinya kau khawatir dan sedih sekali." Tanya Alina khawatir
"Apa yang terjadi pada Ivan?" Tanya Alina perasaan menjadi tak tenang
"Tuan muda Ivan..." Ucap pak Aris terhenti-henti karena menangis membuat Alina semakin tidak tenang
"Pak Aris cepat katakan! Apa yang terjadi pada Ivan?" Tanya Alina dengan sedikit membentak
"Itu nyonya, tuan muda Ivan dia dipenjara." Tangis pak Aris pecah dalam telepon
Alina yang mendengarnya sontak terkejut dan menjatuhkan handphone nya.
Saat perasaannya mulai stabil Alina mengambil handphone nya kembali.
"Lalu, Di mana kantor polisi tempat Ivan dipenjara sekarang. Dan bagaimana Ivan bisa dipenjara?" Tanya Alina kembali
"Tuan muda Ivan dipenjara karena tuan Arfan, Nyonya! dia yang mempenjarakan tuan muda Ivan. ceritanya sangat panjang."
"Lalu, di kantor polisi mana Ivan berada?"
"Di kantor polisi X, Nyonya."
"Baik, aku akan ke sana sekarang." Tergesa Alina tanpa memikirkan kondisinya
Bu maya yang melihat Alina berlari tergesa-gesa mengikuti Alina dan memberhentikannya.
"Alina? Kenapa kau berlari seperti itu. Ingat tubuhmu masih lemah." Teriak Bu Maya mengkhawatirkan Alina
__ADS_1
Alina yang mendengar ucapan ibunya berhenti melangkahkan kakinya.
"Ibu aku memiliki urusan yang harus aku selesaikan sekarang." Bicara Alina dengan nafas tersengal
"Urusan apa? Zayn sudah memintamu untuk istirahat! Jangan pedulikan dulu pasien mu".
"Bukan itu, Bu. Ini masalah menyangkut kehidupan seorang anak kecil."
"Anak kecil?"
"Iya, Anak kecil itu adalah Ivan. Dan masalah besarnya adalah ayahnya sendiri tega mempenjarakan Ivan. Aku harus menolongnya, Bu."
"Apa?? Di penjara. Yasudah ibu akan meminta Zayn mengantarkan mu, karena kondisimu sedang lemah nak. Tidak mungkin untuk mengendarai mobil."
"Baiklah Bu. Terserah pada ibu saja".
Setelah mendengar permintaan Bu Maya, Zayn langsung pergi ke rumah Alina dan setelah itu pergi menuju kantor polisi X.
Skip sampai.
Alina langsung menerobos masuk diikuti oleh Zayn.
"Pak polisi, di mana anak yang bernama Ivan."
"Dimohon untuk tenang nyonya. Ada keperluan apa anda menemui anak bernama Ivan." Tanya pak polisi
"Aku ingin mengeluarkan dia dalam penjara pak. Dia tidak bersalah, apa kalian tega melihat anak yang masih kecil dipenjarakan ditempat yang tidak seharusnya."
"Apa hubungan anda dengan tersangka?"
"A-aku ibunya." Gugup Alina demikian agar diberi izin masuk
"Baiklah, anda bisa masuk."
Alina berlari ketika melihat Ivan meringkuk di dalam sel penjara.
"Ivan..."
Ivan mendongakkan kepalanya dan melihat Alina menemuinya. Seketika Ivan senang melihat ibunya ada di sana.
"Ibuu... Keluarkan aku dari sini bu. Aku takut di sini sangat gelap." Bicara Ivan dalam sel penjara sambil menangis
"Iya Ivan, ibu akan mengeluarkan mu dari sini nak. Bersabarlah..."
"Apa yang kau lakukan sehingga ayahmu dengan teganya mempenjarakan dirimu seperti ini?"
"Ayah mempenjarakan ku karena ibu Nadine. Ibu Nadine tergeletak di kamar mandi dan bayinya meninggal. Oleh karena itu, Ayah mengira aku mendorong Ibu Nadine dari tangga. Aku seorang pembunuh bu."
"Tidak Ivan kau tidak boleh mengatakan itu. Kau anak baik nak, ibu tahu itu." Ucap Alina sambil mengusap air mata yang mengalir
"Tapi ayah menyebutku seorang pembunuh bu. Pak polisi pun mempenjarakan aku, berarti itu semua benar. Jika bohong pak polisi tidak akan mempenjarakan aku." Ucap Ivan yang terus menangis
"Itu semua tidak benar, ibu akan mengeluarkan mu dari sini." Kata Alina beranjak pergi
"Ibu jangan tinggalkan aku. Aku sangat takut." Menahan tangan Alina
"Ivan, ibu berjanji akan menemui mu lagi.tapi dengan itu ibu harus mempersiapkan segalanya untuk membuktikan bahwa kau tidak bersalah."
"Ibu berjanji?"
__ADS_1
"Iya, ibu berjanji padamu. Dengan cepat ibu akan membawa mu pulang."
Alina pun pergi meninggalkan Ivan sendiri untuk menyiapkan pengacara dan membuktikan Ivan tak bersalah.