
"Ivan, dulu kau pernah mengatakan pada ayah jika kau pernah bertemu dengan ibumu. Tapi bagaimana itu bisa terjadi nak, bukankah ibu sudah menjadi bintang?" Tanya Arfan, ia ingin mengetahui satu hal dari anaknya yang kini menjadi beban pikiran.
"Ibu memang sudah menjadi bintang seperti yang ayah katakan." Balas Ivan demikian
"Tapi, Ayah ingin bertanya mengenai Ibu mirip seperti Ivan katakan." Jawaban Ivan tidak membuat Arfan puas, bukan itu yang dia maksud
"Owh Ibu mirip, Iya itu adalah Ibu Alina. Selain nama, wajahnya pun sama seperti ibu. Maka dari itu aku memanggilnya Ibu mirip." Ujar Ivan
"Kau benar-benar sudah bertemu dengannya?"
"Memangnya kenapa Ayah bertanya seperti itu padaku?"
"Kemarin seorang wanita yang mirip seperti ibumu datang menghampiri Ayah. Dia menyatakan kekecewaannya karena sudah menyiksamu. Dia datang seperti ibu yang memarahi Ayah. Ayah pikir itu hanya ilustrasi mimpi, tapi ayah teringat kau pernah mencoba mengatakan mengenai ibu mirip itu. Ternyata semua itu nyata dan kau pernah bertemu dengannya."
"Ayah ingin bertemu dengan ibu mirip? Aku tahu di mana rumah ibu mirip tinggal. Bahkan di sana aku bisa bertemu dengan kakek dan nenek." Ujar Ivan
"Benarkah kau tahu rumahnya di mana?" Antusias Arfan jadinya
"Iya. Untuk apa aku berbohong. Aku benar-benar menghabiskan waktu bersama ibu mirip saat ayah memarahi ku."
"Maafkan ayah, Tapi iya, Ayah ingin bertemu dengan ibu mirip mu." Tak sabar Arfan
Ivan pun mengajak ayahnya menemui Alina. Mereka menaiki mobil dan sepanjang jalan Ivan menunjukkan arah jalan menuju rumah Alina berada.
__ADS_1
Di Rumah Alina~
Hari ini adalah jadwal libur Alina, ia tidak datang ke rumah sakit dan memutuskan untuk beristirahat di rumah saja hingga pekerjaan selama enam hari yang ia jalani itu akhirnya menyibukkan dia. Satu hari sangat cukup baginya untuk mengisi daya energi saat kembali bekerja nanti.
Alina bersama ayah dan ibunya tengah menyantap makan siang. Di sela selesai makannya, mereka berbincang lebih dulu.
"Bagaimana dengan anak itu? Ayah mendengar kabar jika dia di penjara." Tanya Pak Hendro
"Pppffttt... Diam-diam ternyata ayah memperhatikan Ivan juga. Ayah ternyata peduli sampai menanyakan kabarnya." Goda Alina
"Apa salahnya ayah bertanya." Gengsi Pak Hendro
"Aku dengar Ivan sudah di bebaskan oleh Ayahnya sendiri. Terkadang sedikit aneh ayahnya marah sebab Ivan katanya tak sengaja mendorong ibu tirinya yang sedang hamil sampai keguguran, Ayahnya sampai menghukum anak sekecil itu, Tapi ia sendiri yang datang untuk menebus anaknya di penjara." Pungkas Alina
"Ayah seperti itu memang sudah gila. Anaknya yang masih kecil malah dia penjarakan. Tapi kenapa sekarang dia menyesal sampai mengeluarkan anaknya. Apakah dia kesurupan saat mempenjarakan anak itu." Ketus Pak Hendro
Ding... dong...
Di sela perbincangan mereka, suara bel pintu yang menandakan kedatangan tamu itu berbunyi.
Alina pun bangkit dan berjalan menghampiri pintu untuk membukanya.
Sosok pria yang tidak ia kenali nya bersama anak kecil yang dibawa tengah berdiri di depan pintu menyambut sang pemilik rumah untuk membukanya.
__ADS_1
Mata pria itu tak henti memandangi wanita yang tengah berdiri di depannya. Sosok wanita dengan wajah yang sama, wanita yang ia cintai dan menjadi istrinya, wanita yang telah meninggal seolah bereinkarnasi turun ke bumi.
Rasa rindu, ingin memeluk, memporak-porandakan pikiran dan juga perasaannya. Tak sadar pria itu meneteskan air mata akibat haru dan mungkin disebabkan oleh mata yang tak berkedip terkejut melihat wanita itu.
Deg!
Jantung Arfan tiba-tiba saja berdetak begitu kencang saat melihat dengan jelas siapakah pemilik wajah yang sedang berdiri dihadapan nya itu.
ALINA!!
Mata bulat itu menatapnya balik. Ekspresi yang di tampilkan wajah itu berbeda jauh. Raut wajah biasa saja, dan terlihat bingung. Keduanya saling bertatapan dengan waktu yang lama.
"Alina!!" Lirih Arfan memanggil namanya
Alina hanya diam membeku. Kenapa bisa pria itu mengenali namanya padahal dia tidak mengenal pria itu?
"Siapa? Apa kita saling mengenal?" Bertanya demikian Alina
Arfan berjalan semakin dalam masuk ke rumah itu. Di depan pintu, ia memeluk Alina tanpa aba-aba. Hal itu disaksikan Pak Hendro dan Bu Maya yang menghampiri dan sama terkejutnya.
"Tidak perlu berpura-pura. Aku tahu kau adalah Alina istriku..." Peluk Arfan menerjang Alina begitu saja tanpa izin, dan bicaranya dekat telinga
Alina hanya diam saja tak membalas pria asing yang kini sedang memeluknya. Ia hanya merasakan bagaimana hangat tubuh pria itu memeluknya.
__ADS_1
"Maaf Tuan, kau menyakitiku. Aku tidak tahu siapa dirimu sehingga tolong lepaskan pelukan anda ini. Tidak enak dilihat orang." Lirih Alina berbicara tepat di telinga Arfan
Arfan pun tersadar. Tapi pikirannya masih fokus dan yakin jika itu adalah Alina istrinya.