
Hans ternyata putranya Direktur Wen, tapi tampak jelas dia kurang serius dalam pekerjaannya sehingga membuat Direktur Wen kesal pada dia karena lebih memilih menjadi Asisten Arfan. Bahkan hari ini saat waktunya rapat, Hans malah terlambat satu jam dan membuat rapat tertunda.
Tak lama setelah dia datang, Sintia muncul yang jelas saja mengejutkan Hans. Terlebih lagi saat ayahnya memperkenalkan Sintia sebagai sekretaris barunya. Hans malah mendadak merayu Sintia di hadapan semua orang dan mencoba mengingatkan Sintia akan malam itu.
Direktur Wen jadi kesal menegur Hans untuk fokus saja pada rapat. Tapi Hans malah membuat masalah baru saat dia hendak mempresentasikan laporannya, tapi yang muncul di layar malah riwayat chatnya dengan wanita yang sontak saja menjadi bahan tertawaan semua orang.
Untungnya Sintia sigap menyelamatkannya dengan menutup layar. Tapi tetap saja Direktur Wen kesal setengah mati pada putranya itu dan langsung mengakhiri rapat sampai di sini.
Tapi Hans seolah tak ada kapok-kapoknya, malah langsung merayu Sintia lagi, mencoba membahas tentang malam itu, bahkan mencoba menggunakan itu untuk mengancam Sintia. Tapi Sintia seperti biasanya, tak mempan sedikitpun dengan rayuannya ataupun ancamannya.
Hans tiba-tiba memiliki ide dan tawaran lain untuknya. Sekarang ini ayahnya membatasi segala hal dalam hidupnya, termasuk menyingkirkan semua karyawan wanitanya. Jika Sintia bisa membantunya mengembalikan semua kebebasannya, maka Hans janji akan menghapus kejadian malam itu dari pikirannya.
Tapi Sintia sama sekali tak tertarik sedikitpun. Itu masalah Hans, maka Hans sendiri yang harus menyelesaikannya. Dia bahkan menuntut Hans untuk mengembalikan uang yang dia pakai untuk membayar hotel malam itu.
Alina menyerahkan rekam medis beberapa pasiennya pada dokter psikiater sebelum dia pergi. Yang tak disangkanya, ternyata dokter psikiater sangat memahaminya. Dia tahu betul jika Alina pergi sementara waktu bukan untuk menikah seperti yang digosipkan, melainkan demi pasien kecil yang membutuhkan bantuan.
Dokter psikiater dengan manisnya berkata bahwa dia akan selalu mendukung Alina tak peduli apa pun yang dikatakan orang lain.
"Dokter, Saat Dokter Zayn kembali, Aku menitipkan pesan permintaan maaf padanya. Tolong sampaikan terima kasih sebesar-besarnya dariku karena sudah selalu ada untuk ku selama ini. Tapi, maafkan aku juga karena menyakiti perasaannya." Titip pesan Alina.
"Kau ini seperti ingin pergi selamanya saja. Tapi, Baiklah, Akan ku sampaikan jika Dokter Zayn kembali." Ucap Dokter Psikiater itu.
Di Perusahaan Arfan.
Hans melihat video yang di-upload Sintia di medsos lalu memperlihatkannya ke Arfan. Itu adalah video saat Alina pamitan pada Sintia dan memeluk sahabatnya itu dengan sedih.
__ADS_1
Hans mengingatkan Arfan bahwa biarpun hubungan Arfan dan Alina hanya hubungan kontrak, tapi demi pekerjaan ini, Alina harus meninggalkan banyak hal. Status lajangnya, pekerjaannya dan juga lingkungan familier nya. Semua itu dia lakukan demi memenuhi keinginan Arfan.
"Aku hanya menandatangani sebuah kontrak kerja dengannya. Mempekerjakan waktu dan keahliannya... Aku tidak pernah berpikir untuk membuatnya tak senang."
Wah! Baru kali ini Hans mendengar Arfan mempedulikan perasaan seseorang. Arfan menyangkal, dia hanya tidak ingin Alina membawa emosi negatif ke dalam pekerjaannya karena itu bisa mempengaruhi Ivan.
Tristan mendatangi rumahnya Alina tapi malah mendapati rumah itu sangat berantakan karena Alina ingin pindah rumah. Tapi yang paling mencengangkannya adalah pengakuan Alina bahwa dia akan pindah ke rumah Arfan dan menandatangani kontrak dengan Arfan untuk menjaga Ivan dengan identitas sebagai ibunya Ivan.
Tristan sontak marah mengomeli Alina karena tidak mendiskusikan masalah dengannya lebih dulu. Bisa-bisanya Alina menandatangani kontrak semacam ini hanya demi cincin 3 juta. Seharusnya Alina mengatakan padanya, dia bisa membantu Alina. Susah payah Alina belajar kedokteran selama bertahun-tahun, tidak seharusnya dia menyerahkan dirinya pada orang yang tidak relevan.
"Apanya yang 3 juta. Masalahnya ini Dolar." Kata Alina.
"Kenapa kau tidak memberitahuku? Aku pasti bisa membantu mu."
Tapi Alina tak yakin jika Tristan bisa membantunya. Darimana Tristan bisa mendapatkan uang sebanyak itu. Lagipula Ivan itu sama seperti pasiennya yang lain. Jika dia bisa mengobati Ivan dalam kurun waktu setahun, maka dia bisa memiliki kehidupan baru. Hanya itu saja alasannya menerima pekerjaan ini. Dia dan Arfan sama sekali tidak ada hubungan apa pun.
Sintia mengadakan pesta perpisahan kecil-kecilan untuk Alina. Namun, tiba-tiba asistennya Arfan datang dengan membawa sertifikat rumah dan memberitahu bahwa ini adalah berkas pergantian hak milik rumah ini atas nama Alina. Hah?
Asisten menjelaskan bahwa ini adalah hadiah dari Arfan, Alina hanya perlu menandatangani sertifikatnya, maka rumah ini akan resmi menjadi milik Alina. Jadi, jika nanti Alina ingin kembali ke rumah, dia bisa kembali kapan saja.
Sontak saja kedua teman Alina menatapnya dengan penuh tanda tanya. Alina bersumpah meyakinkan mereka jika dia tidak pernah merayu Arfan untuk membelikan rumah ini untuknya, dia masih memiliki harga diri.
Tapi Alina menolak tanda tangan, dia malah curiga jika ini hanya jebakan besarnya Arfan. Bahkan saat Arfan meneleponnya dan memerintahkannya untuk turun menemuinya di luar, Alina tegas menolak, membuat Arfan jadi frustasi menunggunya.
Tapi akhirnya dia turun juga untuk mengonfrontasi Arfan. Tapi gara-gara dia ceroboh, akhirnya dia malah tersandung dan oleng tepat ke arah Arfan. Tapi bukannya menangkap Alina, Arfan malah mundur dan akhirnya membuat Alina terjatuh tepat ke kakinya. Terang saja Alina langsung menendangnya dengan kesal, pria macam apa dia malah menghindar.
__ADS_1
"Kenapa kau memberiku rumah? Aku sudah memiliki rumah besar yang dimiliki orang tuaku. Kau meragukan kekayaan ayahku, ya."
Alina sungguh tidak mengerti apa sebenarnya alasan Arfan membelikannya rumah ini? Arfan mengaku bahwa karena dia yakin Alina menjatuhkan cincin mahal itu di salah satu sudut rumah, makanya dia membeli rumah ini supaya cincin itu tidak jatuh ke tangan orang lain.
Selain itu, Alina tidak perlu memindahkan semua barangnya ke rumahnya. Biarkan saja barang-barangnya yang tidak terlalu berguna untuk tetap di rumahnya, anggap saja rumah ini sebagai gudang. Alina suka atau tidak, intinya dia harus menerimanya.
Alina ngotot menolak. Rumah ini sudah Arfan beli, maka biarkan saja atas nama Arfan. Biar dia dan Sintia tetap jadi penyewa saja. Arfan akhirnya menyetujuinya, terserah Alina sajalah.
...***...
Alina akhirnya datang ke rumah keluarga Arfan keesokan harinya dengan hanya membawa dua koper. Dia pikir akan disambut dengan heboh oleh banyak pelayan kayak di drama-drama, tapi yang menyambutnya ternyata hanya Arfan seorang. Parahnya lagi, dia sama sekali tidak disambut dengan hangat, Arfan malah angkuh sekali menolak membawakan koper-koper milik Alina.
Tapi yang lebih tak disangkanya, Arfan membawanya ke kamarnya. Tapi mereka tidak akan tidur seranjang, Arfan justru menyiapkan sebuah ruangan kecil yang berada di dalam kamarnya untuk menjadi kamarnya Alina.
Biarpun Ivan itu masih kecil, tapi dia sangat pintar. Dia bisa saja mencurigai kebohongan mereka. Makanya mereka harus terlihat seolah mereka tidur sekamar.
Ivan memang tampak agak curiga saat melihat mereka dan Alina menyadari itu. Maka kemudian dia dengan gaya so romantisnya memanggil Arfan dan manja meminta Arfan untuk membantunya mengambil semangkuk nasi.
Lalu, tiba-tiba saja dia memeluk Arfan, membuat pertunjukkan seolah mereka orang tua yang mesra dan harmonis. Errr... tapi pelukannya lebih seperti menangkap Arfan, membuat Arfan menjadi tidak bisa bergerak.
Alina pun buru-buru mengganti posisinya dan mereka pun mulai bisa menyesuaikan gerakan mereka yang sebenarnya terlalu dipaksakan dan kaku, sama sekali tidak berhasil meyakinkan Ivan.
Saat Ivan baru keluar kamar keesokan harinya, Alina langsung memaksa Arfan untuk pura-pura mengelus rambutnya. Tapi Arfan malah merasa jijik dikarenakan rambutnya Alina berminyak sekali. Dan tetap saja aksi itu tak mampu meyakinkan Ivan.
Lalu, saat mereka nonton TV, kali ini Arfan mengangkat Alina, maksudnya ingin menampilkan pose romantis. Tapi seperti Arfan agak kurang paham dengan maksudnya Alina sehingga dia malah mengangkat Alina terlalu tinggi dan pada akhirnya menyakiti pinggangnya Alina. Ivan hanya diam saja, menatap keanehan Ayah dan Ibunya itu dengan kebingungan.
__ADS_1
Alina buru-buru minta turun dan menunjukkan bagaimana seharusnya pose itu dilakukan. Mereka pun mengulanginya, kali ini Arfan mengangkat Alina dengan benar bak mengangkat anak kecil. Tapi tak pelak pose ini membuat keduanya tiba-tiba terpana menatap satu sama lain.