Ijinkan Aku Mencintaimu

Ijinkan Aku Mencintaimu
IJINKAN AKU MENCINTAIMU 36


__ADS_3

Sedangkan di tempat lain.


Aira tengah berkutat dengan bahan makanan di dapur. Rambut yang ia gulung dengan asal, nampak terkesan seksi di mata Devan-suaminya.


Devan memeluknya dari belakang. Mata Aira langsung membesar. Wajahnya juga merona karena malu. Masalahnya di dapur ia tidak sendiri. Tapi, ada banyak asisten rumah tangga yang ikut membantunya.


"Mas ... lepas ah. Malu, tahu!" Cicitnya lirih.


Netra Aira tampak kesana kemari. Para asisten tampak tersenyum malu-malu melihat adegan romantis itu secara langsung.


Sebenarnya, Devan ingin sekali kembali ke rumahnya. Tapi, pria itu langsung ingat jika rumah yang dulu pernah ia tinggali bersama Aira, memiliki banyak kenangan buruk.


Untuk itu, ia berniat menjualnya. Pria itu menyuruh Jak-asisten pribadinya untuk mencarikan rumah baru dengan nuansa minimalis dan asri.


Kemarin Jak menberikan selebaran brosur sebuah hunian. Devan tidak begitu menyukainya. Maka dari itu, Jak menyarankan atasannya untuk membeli sebidang tanah dan membangunnya sendiri.


Devan sangat hobby dengan design-mendesign. Ia juga jago jika menggambar sketsa rumah. Cita-citanya menjadi arsitek gagal karena permintaan papanya, untuk meneruskan bisnis.


"Tuan muda bisa mendesign bersama, Nyonya Aira nantinya," saran Jak waktu itu.


Devan mengangguk antusias. Baru kali ini ia merasa ide dari asisten pribadinya itu sangat cemerlang.


"Pinter juga kamu, Jak!" Pujinya.


Jak hanya memutar bola matanya malas. Tapi, tidak diperlihatkan pada atasannya. Ia tetap membungkuk hormat untuk mengungkap rasa terima kasih atas pujian Tuannya.


Sebidang tanah dengan luas sekitar 350m² ini berada di pinggiran kota Y. Sebelah selatan ada danau buatan yang airnya biru membentang. Tanah yang berada diketinggian 10m di atas bukit itu mampu memberikan pemandangan eksotik.


Ketika pagi. Danau biru akan membias keperakan, ketika senja, maka bias oranye membentang angkasa. Sedang ketika malam. Ribuan bintang akan terbentang indah di angkasa.


Tentu lokasi yang diinginkan itu memiki harga yang sangat fantastis. Tapi, semua itu tidak masalah bagi Devano Bramantyo.


Tanah senilai 1500 dolar Amerika itu langsung dibeli tanpa penawaran yang alot. Devan melihat jalan menuju rumah baru mereka.


Pikirannya langsung menuju bisnis yang menjanjikan. Ia mendatangi walikota Y. Membeli danau buatan yang telah menjadi ikon kota tersebut.


Danau yang hanya dijadikan destinasi wisata lokal ini akan diubah oleh Devan, menjadi destinasi wisata internasional dan pribadi.


Ide bisnisnya langsung bermunculan. Terlebih kota memang membutuhkan investor untuk membangun danau tersebut.


Devan menghubungi Ken, adik sepupunya. Ken yang datang langsung ke lokasi, hanya bisa menggeleng mendengar ide gila Devan.


Uang memang di atas segalanya. Jika uang kita berlimpah bahkan kita adalah penyuplai pajak terbesar di kota. Maka semua bisa di atas namakan dengan mudah. Termasuk danau buatan tersebut.


Danau dengan luas 1700m² itu memiliki kedalaman 7 meter. Danau yang terbentuk dari penambangan liar jaman dahulu itu telah mati. Untuk menutup lokasi penambangan, pemilik tambang dahulu langsung memenuhi penggalian dengan air demi menutupi kerusakan.


Siapa sangka, danau tak bertuan dan telah diklaim oleh pemerintah setempat, kini telah resmi menjadi milik Devano Bramantyo.


Ken memulai kerjanya dengan membasmi lapak-lapak liar yang berdiri sembarangan dan membuat suasana danau jelek. Sampah-sampah dibersihkan.


Sedangkan para preman. Ken sengaja menunggu mereka berulah. Seperti malam ini. Hari baru saja menunjukkan pukul 22.45. masih terlalu dini untuk membuat keributan.


Tapi, mendengar lapak uang mereka telah digusur. Para preman geram bukan kepalang. Mereka berencana untuk memberi pelajaran pada orang yang membersihkan asal pundi-pundi uang mereka.


Ken yang memang sengaja menunggu, tampak berjalan santai. Tiba-tiba sepuluh orang bertubuh besar menghadangnya.


"HEI ... BERHENTI KAU!' teriak salah satu dari mereka.


Ken berhenti. Ia berakting memasang wajah ketakutan. Terlihat seringai meremehkan dari wajah-wajah bengis para preman.


"Cepat tinggalkan tempat ini. Biarkan lapak-lapak itu berdiri! Jika tidak!" Preman itu menghentikan ancamannya.


Ken ketakutan (tentu saja pura-pura). "K-kalau tidak kenapa, Bang?"

__ADS_1


"Kalau tidak, ini ...!" Preman mengisyaratkan jari telunjuknya dengan gerakan seperti memotong leher.


"J-jangan Bang, ampun!" Jerit Ken lagi-lagi ketakutan.


Sungguh Ken berusaha mati-matian untuk tidak tertawa melihat aktingnya sendiri. Salah satu preman mendekati Ken lalu mengangkat tangan hendak menghajar pria yang tengah ketakutan.


"Brengs**!" Teriak preman itu.


Tap! Tangan preman tertangkap.


Mata sang preman melotot tajam ke arah pria yang menangkap tangannya. Ken yang tadi meringkuk menahan tawa, bangkit perlahan.


Kilatan sadis tersirat dari mata Ken. Preman menelan saliva hingga sampai kedengaran 'gluk!'.


Ken menyeringai. Tak lama terdengar jeritan dari preman yang ditangkap tangannya oleh Ken.


Ken memiting tangan pria yang tadi hendak menghajarnya. Sedang yang lain tampak saling pandang.


"Kurang ajar!" Teriak salah satunya. "Serang!"


Mereka semua ingin mengeroyok Ken. Tiba-tiba.


Dor!


Dor!


Dor!


Terdengar suara tembakan.


"BERHENTI DI TEMPAT! KAMI POLISI. KALIAN TERKEPUNG!' teriak salah satu perwira polisi.


Ke sepuluh preman langsung tiarap takut terkena peluru nyasar. Tanpa perlawanan mereka digiring ke penjara.


Sepasang mata yang tengah mengamati dari semak belukar, langsung ambil langkah mengendap mundur. Ken merasa mencurigai sesuatu. Matanya menyipit untuk memastikan dugaannya.


Sebuah senyum miring tercetak dari wajah tampan, yang kini menguar kebengisan.


'Ternyata ada yang masih ingin bermain-main denganku,' gumamnya dalam hati. 'Baik, aku tunggu aksi selanjutnya dari mu.'


Devan yang datang ke lokasi langsung menanyakan keadaan adik sepupunya itu.


"Lu nggak kenapa-napa kan?'


"Ya elah ... kek nggak kenal gue aja lu," jawab Ken sambil memutar matanya malas.


"Ck ... Lu tuh dikhawatirin malah nyolot," ungkap Devan kesal.


"Iye ... iye, gue nggak kenapa-napa, makasih atas perhatiannya," ujar Ken lagi, malas.


"Ck ... Elu nih. Kalo aja Tante Sinta nggak nyuruh gue. Males juga kali merhatiin Elu!' sungut Devan.


Ken hanya bisa nyengir sambil mengangkat dua jarinya berbentuk V. Jika sudah berurusan dengan Ibunya. Maka pria bermata coklat terang itu, tak bisa membantah.


Devan hanya menggeleng. Tapi, ia sangat bersyukur Ken tidak kenapa-napa. Jika saja adik sepupunya terluka sedikit saja. Maka pria itu pastikan para preman itu akan disiksa teramat sangat olehnya.


'Tapi, emang siapa yang bisa melukai Ken? Iblis saja takut sama dia?' tanya Devan bermonolog dalam hati.


******


Hari ini adalah hari ulang tahun Aira. Tidak ada yang mengetahui satupun jika hari itu adalah hari lahirnya kecuali pemilik panti tempat gadis itu tinggal.


Memang semua data Aira banyak yang dihilangkan. Semua itu adalah ulah dari ayah angkatnya, Burhan. Alasannya hanya satu. Melindungi keamanan gadis itu. Bahkan pihak sekolah dan kampus tempat di mana Aira menimba ilmu juga tidak mengetahui data lengkap gadis itu.

__ADS_1


Beruntung pihak pendidikan sangat membantu. Demi keselamatan bersama. Mereka menghilangkan semua data lahir bahkan golongan darah, Aira.


Aira yang mengetahui hari ini adalah hari lahirnya, hanya bisa duduk terdiam. Dulu ketika ia belum menikah. Ia akan menghabiskan seharian penuh duduk di sebuah taman yang ada di pusat kota.


Sekarang setelah ia menikah. Aira hendak meminta ijin untuk melakukan hal yang sama. Tapi sayang. Devan melarangnya pergi. Pria itu ingin gadis itu bersama menemaninya seharian di rumah.


Mau tak mau, Aira memenuhi keinginan suaminya.


Hari ini adalah hari minggu. Devan tengah bersantai di sofa kamarnya. Ia tampak berkutat dengan iPad di tangannya. Aira menghela napasnya berat. Sungguh sebentar lagi ia mati kebosanan.


Devan yang melihat istrinya berguling kesana kemari di ranjang, tersenyum simpul.


Tiba-tiba hatinya berdegup kencang. Masalahnya, pria itu tahu, jika wanita yang telah dinikahinya itu telah selesai masa siklusnya.


Andai Devan mengedepankan napsunya. Sedari tadi, ia akan menggumuli Aira. Tapi, semua itu ia tahan. Devan sangat mencintai wanita itu. Maka, ia menghormati Aira.


Devan berjalan menuju ranjang setelah meletakkan iPad nya di atas nakas. Perlahan ia naikin ranjang. Aira yang tengah melamun tak menyadari kedatangan suaminya.


"Sayang ...," Panggil Devan dengan suara serak.


Aira terkejut bukan main. Ia bergegas bangkit dari rebahannya. Tapi dengan cepat, Devan menarik tangan gadis itu.


Karena tidak siap akan itu. Aira langsung terjatuh tepat di dada suaminya. Wajah Aira langsung merah bak kepiting rebus.


"Mas ...!"


"Hmmm ... apa sayang?"


Devan hendak mencium bibir merah yang sedari tadi menjadi incarannya. Belum sampai bibir Devan mendarat, tiba-tiba.


Tok!


Tok!


Tok!


Bunyi pintu diketuk.


"Devan ... Aira! Ayo keluar, makan siang sudah siap!' teriak Linda, sang mama.


Devan memberengut kesal. Sedang Aira terkikik geli.


"Iya, Ma! Kami datang menyusul!" jawab Aira sambil teriak.


"Ya sudah. Mama tunggu! Papaku sudah kelaparan itu. Cepetan turun!" Titah Linda lagi.


"Iya Ma!" Kini Devan yang berteriak.


Aira langsung berdiri meninggalkan Devan di ranjang. Sayang, kegesitannya kalah dengan tarikan tangan suaminya. Lagi-lagi Aira terjatuh.


Devan langsung ******* bibir manis yang menjadi candunya itu. Begitu rakus hingga ketika pasokan oksigen mulai menipis. Devan menghentikan aksi nakalnya.


Kening dan hidung mereka menyatu. Terdengar deru napas yang memburu dari keduanya.


"Ayo, kita turun," ajak Devan bangkit dari ranjang.


Menarik sang istri bangkit. Ketika di tangga Devan membisikkan sesuatu pada Aira.


"Setelah makan, kita lanjutkan lagi ya."


Bersambung.


Ish ... Devan ... Kasihan othor sih ... Othor kan masih jomlo 😭😭😭😭

__ADS_1


__ADS_2