
Aira sudah berada di rumah barunya. Devan mewujudkan rumah impian sang istri.
Bangunan bertingkat dua dengan design modern dan klasik. Tadinya Devan ingin membangun mansion mewah. Tapi, Aira menolak.
Wanita itu ingin rumahnya tidak terlalu besar. Ada area bermain untuk anak-anaknya kelak.
Hunian dengan suasana asri, begitu nyaman dengan banyak bunga di halaman depan dan aneka. tanaman buah di area taman belakang.
Rumah di atas bukit itu sudah jadi. Dengan pemandangan danau dengan sejuta pesonanya.
Aira begitu bahagia.
"Terima kasih, Sayang," ucap Aira sambil mencium pipi suaminya.
Devan membalas ciuman Aira di bibir. Sedikit ******* kecil. Devan juga sama bahagianya.
Mereka melakukan aqiqah bersamaan dengan pembukaan hotel dan resort di danau yang sudah rampung.
Tentu hal ini membuat kalangan tumpah ruah. Aira juga mengundang 1000 anak yatim.
Acara dibuka dengan menggunting rambut anak-anak mereka.
Hari berlalu acara sudah usai. Aira tampak berbincang serius dengan Tiana.
Ken menatap gadis yang tengah berbincang dengan kakak ipar sepupunya itu dengan sendu.
Semenjak Tiana menolak lamaran Ken. Gadis itu makin menjauh dari pria itu.
Ken ingat kata-kata Tiana ketika mengakhiri hubungan mereka.
"Jangan jadikan aku sebagai alasan mu untuk menjadi anak durhaka, Kak!"
Itu alasan Tiana ketika akhirnya memutuskan cinta kasihnya dengan pria tampan itu.
Ken memilih pergi dari tempat itu entah kemana. Panggilan Sinta, sang mama yang masih getol menjodohkan putranya itu pun tidak ditanggapi dengan baik.
Rio yang melihat putranya terpuruk. Hanya bisa menghela napas berat. Pria itu tahu, Ken sangat menyayangi mamanya.
Sayang, istrinya terlalu keras kepala. Berkali-kali ia membujuk agar Sinta mau merestui hubungan Ken dan Tiana.
Namun perempuan yang melahirkan Ken itu, bergeming dengan tabiatnya.
Sinta sebenarnya bukan tidak menyukai Tiana. Tapi, entah ia enggan jika gadis itu bersanding dengan putranya itu.
Sinta kini melihat Tiana duduk sendiri di sebuah kursi panjang. Pandangan gadis itu kosong menatap danau yang kini berubah warna menjadi keemasan akibat senja mulai merambat.
Sinta berjalan perlahan menghampiri. Langkahnya terhenti ketika Jak menyambangi gadis itu lebih dulu. Sinta bergegas bersembunyi di balik pohon akasia tua yang besar tak jauh dari tempat Tiana duduk.
"Tiana ...," gadis itu menoleh ke asal suara.
Sosok tampan berdiri tegap. Jak duduk di ujung kursi berjarak dengan Tiana.
"Apa kabarmu?" tanya Jak.
"Alhamdulillah, aku baik," jawab Tiana.
"Maaf. Bukan maksudku mengganggumu. Tapi, apa benar hubunganmu dengan Tuan Ken sudah berakhir?"
__ADS_1
Sinta menatap sinis mendengar pertanyaan Jak pada Tiana.
'Apa-apaan dia nanya kaya gitu!? Kepo banget nih cowok!' gumamnya dalam hati kesal.
"Dari mana kau tahu?" tanya Tiana sambil tersenyum tanpa menatap Jak.
"Tuan Ken bersikap liar dan ... Beliau nyaris berkelahi tiap harinya," jelas Jak. "Hingga membuat bahunya cedera lagi."
Tiana dan Sinta terkisap mendengar itu. Sinta yang berdiri di balik pohon hanya menahan keterkejutannya di balik pohon. Ia kembali menguping pembicaraan keduanya.
"Tiana!" panggil Jak.
"Hmmm," saut Tiana.
"Kita berdua sama-sama tidak memiliki orang tua atau kerabat. Bagaimana jika kita ...."
"TIDAK BISA!"
Sebuah teriakan tiba-tiba menginterupsi keduanya. Jak dan Tiana terkejut mendengarnya.
"Nyonya ...." kedua manusia beda jenis itu menyahut dan berdiri.
"Apa maksudmu Jak! Kau ingin merebut calon menantuku!" ujar Sinta berang.
"...." Jak tak bisa berkomentar.
"Jangan harap ya! Tiana adalah akan menjadi menantuku. Tak akan kubiarkan kau mengambilnya dari putraku!' ungkap Sinta kesal.
Wanita itu langsung menghampiri Tiana, menggandeng dan menariknya.
Tiana hanya bisa menganga. Ia pun ditarik untuk mengikuti langkah perempuan parubaya yang masih cantik itu.
Jak hanya memandang datar. Tadinya ia ingin mengajak gadis itu untuk menikah dengannya. Karena latar belakang mereka sama.
Siapa sangka jika itu malah membuat Sinta bereaksi demikian.
Kini, pria itu duduk dengan lemas. Sungguh ia tidak tahu harus bagaimana. Perasaannya pada seorang gadis, tidak memungkinkan untuk ia gapai.
"Siapakah jodohku?" tanya Jak bermonolog.
Wajah ayu yang kini berhijab, terbersit dalam pikirannya. Buru-buru Jak menyingkirkan bayangan itu.
"Aku tidak pantas untukmu, Nona. Kau adalah bulan sedang aku hanyalah seekor punguk yang merindukanmu," lagi-lagi Jak bermonolog.
*****
Ken sampai mansion orang tuanya dengan wajah gembira. Berita yang baru saja ia dapatkan sungguh tidak ia percayai sama sekali.
Ketika ia sampai. Pria itu mendapati, Tiana menyender manja pada mamanya.
"Sayang, kenapa tidak mengucap salam?" tanya Sinta ketika melihat kedatangan putranya.
"Ah ... assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh," balas keduanya sambil mengulas senyum.
Rio datang dengan pakaian rumah yang santai. Ia hanya mencibir kemesraan istri dengan Tiana.
__ADS_1
"Lihatlah, Mamamu sudah memiliki putri yang disayanginya. Sekarang, Mama melupakan kita, Nak," ujar Rio sambil manyun.
"Ish ... Papa!" Sinta hanya merengut kesal, "kan Mama udah lama pengen anak cewek, sekarang sudah kesampaian."
Tiana hanya tersenyum. Lagi-lagi sebuah pelukan hangat ia rasakan. Sungguh, gadis itu merindukan sentuhan seperti itu.
"Maafkan Mama, ya. Mama tadinya tidak menginginkan kamu. Tapi, ketika ada pria lain ingin mengambilmu. Tiba-tiba Mama tidak rela jika gadis yang dicintai oleh putra Mama ini diambil pria lain," jelas Sinta panjang lebar.
Ya, Sinta ingat. Tadi ketika Jak hendak mengutarakan maksudnya. Tiba-tiba Sinta tidak rela. Makanya ia langsung keluar dari tempat persembunyiannya dan langsung membawa Tiana pergi.
"Baiklah. Mama ingin kalian menikah secepatnya. Tidak usah mewah, yang penting sah!"
"Hmmm ... bagaimana jika dua minggu lagi?' ide Rio.
"Apa itu tidak terlalu cepat Tu ... eh Pa?" Tiana sedikit keberatan.
"Tidak. Mama rasa itu cukup untuk mengurusi semuanya," Sinta tiba-tiba menyetujui ide suaminya.
Ken hanya tersenyum. Hatinya begitu gembira, mendapatkan kebahagiaan ini secara tiba-tiba.
'Thanks Jak. Kalo nggak gara-gara Loe, nyokap bakalan lama ngerestuin gue sama Tiana,' gumam Ken bermonolog.
*****
Mendengar berita Ken akan menikah dengan Tiana. Membuat keluarga Bramantyo sibuk.
Ken yang hanya putra semata wayang, akan melangsungkan pernikahan dengan seorang dokter cantik dan cerdas.
Perhelatan yang katanya sederhana, ternyata begitu mewah.
Sinta yang menginginkan pesta dengan tema outdoor. Dengan tema putih dan banyak bunga dengan disentuh warna gold.
Tiana dan Ken dengan gaun pengantin serba putih.
Tempat para tamu. a
Aira datang dengan baju gamis warna hijau.
Devan datang menyusul.
Jak yang menatap pelaminan dengan wajah sendu.
Baby Ar, Baby Ira dan Baby Al.
bersambung.
__ADS_1