
Reena telah sembuh dan diperbolehkan pulang. Kini, Rehan memberinya dua bodyguard yang menjaganya kemana pun termasuk Kia, sekretarisnya.
Rehan tak ingin kejadian serupa menimpa putrinya. Karena Rehan yakin, musuh bisnisnya masih ada walau Devan mengatakan telah membereskan semuanya.
Reena pun tak bisa melakukan apa-apa. Gadis itu hanya menuruti kemauan papanya.
Beberapa minggu kemudian. Devan mendengar kabar bahwa Toni sudah hilang akal. Pria yang tersangkut atas pengeroyokan adiknya itu membeberkan beberapa penggelapan dana yang dilakukan oleh beberapa oknum pemerintah.
Hal ini menggegerkan publik. Bahkan sempat membuat ekonomi kota jadi kocar-kacir.
Entah ada pikiran apa. Tiba-tiba Rehan mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dalam pemilihan tahun ini.
Hal itu membuat semua kalangan kalang-kabut. Masalahnya mereka yang doyan korupsi akan semakin tidak memiliki tempat.
Rehan adalah pria mapan dan kaya raya. Semua sektor bisnis dikuasai olehnya. Siapa yang bisa menyogok atau mengiming-imingi pria parubaya itu.
Tidak itu saja. Tiba-tiba Sean Irawan Buditama juga ikut-ikutan masuk anggota legislatif. Tak tanggung-tanggung, kali ini ia mencalonkan diri sebagai walikota kota ini.
Masuknya kedua orang terpandang itu makin menggegerkan publik.
Sayang. Linda dan Aira tidak menginginkan kedua pria itu mencalonkan diri.
"Jangan tambah musuh Pa, Mama nggak suka!" tentang Linda mengemukakan pendapatnya.
Sedang Aira tidak mau papanya, masuk dunia politik.
"Politik itu kotor, Pa. Sebaik dan bersihnya kita. Tetap akan jadi sorotan. Rara nggak mau itu jadi beban, dan Rara juga nggak mau disorot 24 jam!" tolak Aira keras ketika Sean menanyakan pendapat putrinya.
Sean maupun Rehan menuruti kemauan wanita yang berarti dalam hidup mereka.
Pengunduran diri mereka berdua, jadi sorotan. Banyak yang menyayangkan hal tersebut. Walau tak sedikit yang bernapas lega atas mundurnya dua kandidat super tersebut.
*****
Sore hari. Saat itu, Tiana tengah berbelanja di sebuah mall terbesar di kota itu.
Mall yang kemarin baru saja dibuka. Pembukaan besar-besaran dengan mengeluarkan banyak voucher diskon.
Sebagai perempuan. Tiana tidak membuang kesempatan tersebut.
Walau uang di rekeningnya melimpah. Jiwa miskinnya tetap bahagia mendapat lembaran kupon voucher tersebut.
Tiana kalap dalam berbelanja. Ia nyaris memenuhi troli belanjanya.
Ketika ia selesai membayar belanjaannya. Ia mendorong kembali trolinya ke halaman parkir diantar oleh salah seorang karyawan pria dari mall tersebut.
Memang layanan eksklusif diterapkan sebagai pemikat konsumen.
Dalam perjalanan, ia melihat Ken, kekasihnya tengah merangkul seorang wanita berhijab.
Tampak dalam pandangan gadis itu. Ketika kekasihnya memeluk erat gadis lain bahkan mencium pucuk kepalanya.
Tiana seketika membeku di tempat. Hatinya sakit teriris sembilu. Netranya kosong memandang ke depan sedang, Ken sudah tidak berada di tempatnya.
"Maaf, Mba!' tegur karyawan mall yang menemaninya.
Tiana langsung tersadar berusaha menyembunyikan air mata yang hendak tumpah.
Buru-buru ia melangkah menuju mobilnya. Setelah sampai, ia buka bagasi. Karyawan itu membantunya meletakkan semua belanjaannya di sana.
__ADS_1
Tiana ingin memberi tips. Tapi, langsung ditolak oleh karyawan mall tersebut.
"Maaf, Mba. Kami dilarang menerima tips. Kami sudah disumpah untuk itu!" tolak karyawan tersebut lalu mendorong troli yang sudah kosong meninggalkan Tiana.
Tiana hanya menghela napas. Ia sudah tidak lagi mood untuk senang.
Pikirannya jauh melayang pada Ken yang merangkul mesra wanita lain.
Tiana tak begitu jelas dengan wajah wanita yang bersama kekasihnya itu.
Tiana masuk dalam mobil yang baru dibelinya beberapa bulan lalu.
Dalam waktu sekejap. Mobil dengan merek Bri* itu melesat membelah jalan menuju rumah.
Sepanjang perjalanan, ia begitu kesal.
"Dasar laki-laki brengsek!" gerutunya.
"Enak-enakan dia meluk-meluk cewe lain. Padahal dia punya pacar yang bisa dipeluk!' runtuknya lagi.
Sepanjang perjalanan tak henti bibir manis itu mengumpati pria yang telah memacarinya setahun belakangan ini.
"Aku harus menemuinya!" ujar Tiana pada diri sendiri.
Tak lama ia mengirim pesan singkat ke Ken. Agar bertemu di sebuah cafe.
Sore menjelang, Tiana sudah menunggu tak sabar kekasihnya. Bolak-balik ia mengangkat pergelangan tangannya, untuk melihat jam yang melingkar di sana.
Sebenarnya, waktu yang ditentukan Tiana masih lama. Pukul 16.00, sore. Sedangkan gadis itu duduk setengah jam lebih awal.
Dari tadi ia duduk dengan gelisah. Para waiters juga mondar-mandir melayangkan menu. Tapi bukan mendapat senyum manis dari Tiana. Gadis itu malah menjawab dengan tatapan tajam pada para waiters.
Ken datang lima menit sebelum waktu yang ditentukan. Tapi, bagi Tiana, Ken datang serasa sudah setahun lamanya.
Ken memutar pandangannya. Nampak di satu sudut gadis itu sudah menatapnya tajam.
"Ah ... itu dia!" ujar Ken pada gadis yang berada di sebelahnya.
Tiana belum melihat itu. Tapi, pandangannya langsung mengelam ketika Ken berjalan bergandengan dengan seorang gadis cantik berhijab.
"Apa-apaan dia. Beraninya menggandeng seorang gadis ketika masih berhubungan denganku!" gumamnya berdesis.
Lama kelamaan ia melihat wajah gadis yang dirangkul oleh kekasihnya. Matanya yang sudah berair tiba-tiba tumpah ketika melihat gadis itu sudah tiba dihadapannya.
"Loh ... Sayang?" Ken langsung melepas rangkulan pada gadis itu dan memeluk Tiana yang menangis.
"Kak Dokter kenapa?" tanya gadis itu heran ketika melihat Tiana menangis tanpa sebab.
"Kamu jahat!" teriak Tiana tertahan memukuli dada bidang Ken.
"Aku ... jahat? Jahat kenapa sayang?" tanya Ken bingung.
"Kenapa kamu nggak bilang kalo, Reena udah berhijab?" teriaknya kesal.
Ken makin bingung. Pria itu mendudukkan Tiana, sang kekasih di kursi. Diikuti oleh Reena.
Ya, gadis yang bersama Ken dari tadi adalah Reena. Itulah yang membuat Tiana menangis. Cemburu.
"Coba katakan padaku, kenapa aku jahat?" tanya Ken dengan lembut.
__ADS_1
"Aku, mmm ... aku cemburu sama dia," cicit Tiana malu.
Ken terhenyak. Tak lama ia tertawa terbahak-bahak melihat tingkah kekasihnya itu.
"Ih ... Kakak, jangan gitu sih. Kan, Kak Dokternya malu tuh," ujar Reena sambil meledek Tiana.
Tiana makin merengut mendengar Reena meledeknya. Ken memeluk tubuh kekasihnya erat.
"Aku bukan pria yang kau pikirkan sayang," ujar Ken.
Ya. Ken memang berbeda dengan Devan. Pria itu bisa dihitung dengan jari dalam hubungan asmara.
Ken hanya memiliki satu mantan yang sudah menikah dan bahagia. Sedang Devan memiliki banyak wanita yang dijadikan hanya sekedar kesenangan belaka.
"Baiklah, bagaimana jika aku melamarmu?!" ungkap Ken kemudian.
Tiana hanya bungkam. Dirinya yang yatim-piatu dan tidak memiliki sanak saudara. Sedang satu-satunya kerabat yang dimiliki tidak bisa menikahkannya, karena bibinya berasal dari sebelah ibunya.
Lagi-lagi, air mata Tiana menetes, gadis itu menunduk.
"Sayang ...!" panggil Ken lagi.
"Kau tahu. Aku hanya hidup sebatang kara. Aku tidak memiliki siapapun di dunia ini," aku Tiana.
Ken dan Reena terdiam. Mereka sangat salut pada cerita gadis yang baru saja mereka dengar.
"Aku hidup sebatang kara ketika aku kuliah, bertemu dengan gadis yang bernasib sama denganku, Aira. Kami berjuang bersama. Berebut beasiswa tiap tahun agar bisa kuliah."
"Kami mencari sesuap nasi dengan mengamen di setiap car free day, dan melakukan atraksi seperti yang kalian lihat kemarin."
Tiana menceritakan hidupnya selama ini.
"Aku dan Aira sering mengikuti pertandingan tidak resmi alias ilegal. Itu semua karena identitas Aira yang tak lengkap," lanjut Tiana lagi.
"Kami selalu sampai final. Dan Aira adalah rivalku di arena pertandingan."
"Dari uang pertarungan itulah kami bisa wisuda. Aira bisa memberi makan adik-adik pantinya dan aku bisa pergi ke kota asalku untuk menyelesaikan koas," lanjutnya.
Mata Tiana mengerjap buliran bening masih setia menetes dari sudut matanya.
Ken mengelus rambut Tiana mesra. Ken begitu tersentuh dengan kisah gadis itu. Sedang Reena merekam semua cerita Tiana. Ia akan menunjukkan pada kakaknya betapa hebat wanita yang telah dinikahinya itu.
"Aku tak peduli, aku akan tetap menikahimu," tegas Ken.
"Tante Sinta tidak menyukaiku," ujar Tiana. Ken terkejut mendengar itu.
"Dari mana ...."
"Aku Dokter, Aku bisa tahu gelagat seseorang, Kak!" ucap Tiana tegas.
Ken menghela napas. Memang mamanya kurang menyukai gadis yang menjadi kekasihnya itu. Entah apa alasannya. Pria tampan beriris coklat terang itu tak tahu.
bersambung.
duh kasihan Tiana.
mudah2n Tante Sinta suatu saat menyetujui hubungan kalian yaa...
oke gaes ... boleh dong vote nya...
__ADS_1
makasih...