Ijinkan Aku Mencintaimu

Ijinkan Aku Mencintaimu
IJINKAN AKU MENCINTAIMU 52


__ADS_3

FLASHBACK ON


BEBERAPA BULAN LALU.


Setelah Ken keluar dari rumah sakit. Ia kembali bekerja.


Entah kenapa ia iseng pergi ke dunia hitam. Ia mendengar adanya penjualan senjata ilegal.


Ken penasaran. Seingatnya, papanya Aira, yakni Sean telah meminimalisir peredaran senjata ilegal, dengan langsung pergi ke hulu di mana senjata-senjata ilegal itu akan dipasarkan.


Ken yakin jika ada seseorang yang sengaja ingin membuat ricuh saja. Karena senjata yang diperdagangkan tidak ada sama sekali.


Benar dugaan Ken. Sebuah keributan terjadi antar dua kelompok kecil.


Geng Macan Tutul dengan geng Kobra saling bertikai.


Di kelompok mafia ada dua kelompok yang terbagi. kelompok yang memiliki kekuasaan dan kekayaan yang banyak maka disebut dengan Klan sedangkan kelompok yang disebut Geng hanya kumpulan para mafia kecil yang tidak memiliki harta atau kekuasaan apapun.


Geng yang ada di mafia terdiri dari dua belas. Mereka sebenarnya adalah anggota dari berbagai Klan yang bergabung dan membentuk kelompok tersendiri.


Tidak ada kerjaan yang signifikan pada geng tersebut. Karena jika ketua Klan memerintahkan mereka. Maka para geng tersebut akan bubar secara sendirinya.


Ken yang tadinya hanya menonton perkelahian tidak berarti itu. Tiba-tiba terkena satu lemparan batu.


Mata Ken langsung mengelam. Tatapan dingin dan aura membunuh langsung muncul seketika.


Pria bermata coklat terang itu langsung merangsek, menghajar orang-orang yang tengah berkelahi.


Ken menghajar siapapun tanpa ampun. Hingga para kroco itu kocar-kacir dibuatnya.


"Aarrghh!" teriak Ken ketika merasakan bahunya sakit.


"Ah ... ****!" makinya.


Melihat lawannya banyak berjatuhan dan tak berdaya. Pria tampan itu bergegas meninggalkan tempat itu.


Ken sesekali mengernyit menahan sakit, ketika menyetir. Bahkan kini keringat dingin membanjiri tubuhnya. Wajahnya pun seketika memucat.


Sampai di rumah sakit ia nyari terjatuh, jika saja Tiana tidak langsung menahan tubuh besar pria itu.


"Ken!" teriak Tiana.


"Perawat, cepat ambilkan brangkar!" lanjutnya memberi perintah.


Dengan sigap perawat langsung mengambil brangkar. Dengan hati-hati Tiana menaruh tubuh Ken di atas brangkar.


Tiana dan berapa perawat mendorong tubuh Ken yang ada di atas brangkar, ke UGD.


Tiana langsung membuka kancing baju Ken. Terlihat bongkahan dada yang berbentuk. Gadis itu bisa merasakan kotak-kotak yang tercetak di perut pria itu.


Sebagai wanita normal, ia tentu sangat senang bisa meraba perut kotak-kotak tersebut.


Sayang, ia adalah dokter profesional. Perasaan girang dan mesum tentu sudah dijauhkan dari pikirannya.


Tiana melihat mata Ken dengan senter kecil. Pupil pria itu bergerak-gerak.


"Hmm ... Anda dehidrasi dan sedikit hipotermia. Tapi, kenapa ada luka di wajah dan buku jari anda?" tanya Tiana sambil mencatat rekam medis pada sebuah kertas.


"Emmm ... anu Dok," Ken sedikit lemah untuk menjawab pertanyaan Tiana.

__ADS_1


"Apa anda baru berkelahi?" tanya Tiana langsung menduga.


Ken mengangguk lemah. Tiana hanya menghela napas berat.


"Lalu, apa lagi yang anda rasakan?' tanya Tiana lagi.


"Ini, kenapa bahu saya sebelah kanan terasa nyeri, Dok?" tanya Ken sedikit mengernyit sakit.


"Nyeri bagaimana?" tanya Tiana tiba-tiba khawatir.


Tiana langsung menyentuh bekas luka tembak yang masih ketara. Merabanya hingga bahu. Ken sedikit mengigit bibir menahan sakit.


Tiana mengerutkan dahi.


"Siapkan rotgen!" titah Tiana.


Perawat keluar untuk mengerjakan apa yang diperintahkan. Tiana mencoba mendudukkan Ken.


"Coba gerakan!" titah Tiana lembut, ia masih memegang bahu Ken.


Merasa baju Ken mengganggu. Tiana menyingkirkan baju itu hingga pria itu hanya bertelanjang dada sebelah. Tampaklah otot ABS yang indah di depan mata gadis itu.



(Ginilah kira-kira ya).


Tiana sedikit menahan napas. Jujur ia sempat terpesona dengan tubuh indah Ken.


Cepat-cepat ia singkirkan pikiran yang sempat kacau itu.


"Aarggh!" teriak Ken tertahan.


Tiana langsung memasang kembali baju Ken. Sebelum perawat itu melihat keindahan tubuh pria itu. Sungguh. Tiana tidak mengijinkan siapapun melihatnya. Ken hanya tersenyum melihat tingkah dari sahabat istri sepupunya itu.


"Baik, mana kursi roda?" perawat langsung membawanya.


Dengan telaten, Tiana membantu Ken bangkit dari brangkar lalu duduk di kursi roda.


perawat membawa tiang infus. Tiana mendorong menuju ruang rontgen.


Selesai di rontgen. Ken sudah berada di ruang rawat. Ia sudah memberi tahu pada ayahnya. Jika ia sekarang berada di rumah sakit.


Tiana datang ketika Rio dan Sinta sudah berada di sana dengan raut wajah cemas.


"Dok, ada apa yang terjadi dengan putra saya?" tanya Sinta dengan wajah penuh kecemasan.


Tiana tersenyum, menandakan pada Sinta untuk tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Sinta langsung bernapas lega.


Tiana tengah memegang sebuah amplop coklat berukuran besar.


Gadis itu langsung mengeluarkan foto yang ada di sana.


Tiana mengamati gambar. Sedikit mengernyit, lalu ia memasukkan kembali foto tersebut ke dalam amplop.


"Begini, sepertinya, Saudara Ken mengalami radiculopathy atau cedera saraf. Ini disebabkan gerak otot yang berlebihan atau bisa karena efek tembakan kemarin," jelas Tiana.


"Lalu apa bisa diobati?" tanya Sinta masih dengan rasa khawatir.


"Sebelum itu, Saya sarankan saudara Ken menjalani beberapa pemeriksaan, seperti MRI, Myelography atau CT scan, dan Elektromiografi atau EMG," jelas Tiana.

__ADS_1


"Jika kita sudah mendapatkan penyebabnya apa. Baru kita bisa ambil langkah selanjutnya," jelas Tiana panjang lebar.


"Saya akan merekomendasikan pada dokter ortopedi, atau ...."


"Atau apa, Dok!?" tanya Ken tiba-tiba.


"Ehmm ... sebenarnya saya tengah mendalami teknik tenaga chi," Tiana masih menggantung penjelasannya.


"Tolong beri tahu keseluruhan, Dok!" seru Ken kesal.


"Ken!" Rio memperingati putranya.


Ken memutar bola matanya malas. Sedang Tiana hanya bisa tersenyum kikuk.


"Saya ingin, saudara Ken menjalani therapy energi chi," jelas Tiana lagi.


"Apa itu, kenapa harus begitu!" tanya Ken penasaran.


"Saya ingin menghindari operasi, yang hanya akan mengurangi sebentar rasa nyerinya. Sedang dengan chi kung, inshaallah otot atau saraf yang terjepit, bisa dipindahkan ke posisi semula," jelas Tiana lagi.


"Lakukan yang menurut anda baik saja, Dok!" ujar Rio lagi.


Pria parubaya itu mempercayakan semuanya pada gadis itu. Selain ia masih hutang nyawa, karena berkat darah Tiana lah putranya masih hidup hingga sekarang.


"Sebenarnya, sahabat saya Aira sudah mendapat gelar masternya. Sedang saya belum mendapat sertifikasi nya," ujar Tiana lagi.


"Aku tidak yakin Kak Devan menyetujui jika Aira melakukan hal itu!' ujar Ken cukup terkejut akan kebisaan istri dari kakak sepupunya itu.


Tiana pun membenarkan perkataan Ken dengan anggukan.


"Lakukanlah, Dok. Saya percayakan pengobatan putra saya padamu," ujar Rio lagi.


Tadinya Sinta ingin protes, tapi melihat tatapan sang suami yang menyuruhnya untuk menurut saja. Akhirnya hanya bisa bungkam.


Semenjak itu, Ken menjalani therapy pada Tiana. Sesekali Aira memberi pengarahan pada Tiana melalui video call.


Ken sangat menikmati sentuhan-sentuhan gadis itu pada tubuhnya.


Tiana yang tengah mengarahkan energinya pada bahu Ken, tiba-tiba harus berhenti karena pria itu menggenggam jemari yang menyentuh bahu Ken.


Netra mereka saling mengunci. Ken begitu tergiur dengan bibir Tiana yang hanya diberi pelembab saja.


Entah siapa yang memulai. Tiba-tiba bibir mereka saling menempel.


Tiana terkejut ketika menyadari. Wajahnya langsung menjauh.


"Maaf," cicitnya.


Tapi, genggaman tangan Ken tidak bisa ia lepaskan.


"Dokter Tiana Bheezha Handika. Maukah engkau jadi kekasihku!" tembak Ken langsung.


Tiana terperangah. Sungguh suasananya jauh dari kata romantis. Tapi, jantungnya berdegup dengan kencang ketika mendengar ungkapan pria tersebut.


Dengan wajah merona. Tiana mengangguk menerima ungkapan Ken.


Dengan sekejap, Ken langsung menarik tubuh gadis itu. Memeluknya dan mencium bibir Tiana penuh kelembutan.


Bersambung.

__ADS_1


Wah ... Jak kalah cepat!


__ADS_2