Ijinkan Aku Mencintaimu

Ijinkan Aku Mencintaimu
BONUS PART 2


__ADS_3

~Cinta bukan mengedepankan rasa kepemilikan. Cinta adalah rasa memberi kasih sayang dan perlindungan.~ Author.



Sudah lima belas menit Brigitta sah menjadi istri seorang pria dari bocah perempuan yang menyelamatkannya.



Betapa kegugupan melandanya sekarang. Ia duduk di tepi ranjang yang sudah dirias dengan rangkaian bunga melati dan mawar. Bahkan lilin-lilin beraroma therapy tak mampu menenangkan detak jantungnya yang begitu cepat.



Brigitta ngos-ngosan. Ia seperti habis lomba lari maraton dengan jarak ratusan kilo meter. Bahkan napasnya menderu kencang. Keringat dingin menetes di keningnya.



Brigitta begitu cantik dengan balutan kebaya putih modern sederhana. Sebuah pesta pernikahan yang digelar begitu hangat. Hingga ia menangis haru tak berkesudahan dari matanya.



Brigitta tentu memiliki pesta pernikahan impiannya. Tapi, pesta tadi. Melebihi ekspektasinya. Bahkan ijab kabul digelar begitu sakral. Didi memberinya mahar sebuah surah Al-fatihah, uang sebesar seratus ribu rupiah, juga cicin emas 3gr tanpa berlian, kini melingkar cantik di jari manisnya.



Malam ini adalah malam pertama untuk pengantin. Tiba-tiba. Sekilas ingatan masa lalu menyeruak dalam pikirannya.



Brigitta tiba-tiba merasa dirinya tak pantas menerima semua kehangatan. Terlebih sebuah peristiwa ketika ia dengan mudah menembak kepala Ayuning berulang kali. Peristiwa ketika ia menyerahkan kesuciannya layak seorang pelacur yang digilir oleh empat laki-laki.



Beribu kata 'andai' tersemat. Obsesi memiliki Sean Irawan Buditama, telah membawanya kejurang kesesatan. Kini, ia sadar. Ia tak pernah mencintai Sean. Ia hanya terobsesi pada pria tampan dan kaya raya itu.



Didikan orang tua yang membedakan kasta. Memberikan ia segalanya. Memanjakannya dengan limpahan materi. Brigitta tidak tahu arti cinta sebenarnya.



Kini ketika ia mendapatkan begitu banyak cinta dari orang yang tidak dikenalnya sana sekali. Ia merasa tak pantas. Tubuhnya tiba-tiba bergetar hebat. Keringat dingin mengucur deras. Matanya pun mulai buram, sekilas ia melihat seorang pria membuka pintu. Kemudian penglihatannya gelap seketika.



Didi yang melihat istrinya jatuh tak sadarkan diri. Bergegas mendatanginya.



"Sayang ... Gita!" Ucapnya setengah histeris mendekap tubuh istrinya.



Merasakan tubuh wanita yang baru beberapa jam lalu dinikahinya mulai mendingin. Pria itu langsung menggendong tubu Brigitta.



Arini yang melihat ayahnya menggendong ibunya, langsung menangis.



"Ayah ... Ibu kenapa ... huuui ... uuuu!"



"Tenang sayang,. Ayah akan langsung membawanya ke puskesmas," jawab Didi menenangkan putrinya.



Beberapa orang yang masih berada di pekarangan rumah Didi, juga ikutan panik. Beruntung pak RT masih ada di sana. Karena hanya dia yang memiliki kendaraan roda empat. Pak RT langsung mengantar Didi ke puskesmas.



Beruntung. Puskesmas buka 24 jam. Bahkan dokter jaga juga masih ada di tempat. Melihat rombongan dan seorang laki-laki menggendong seorang wanita. Mereka langsung mendorong brangkar menyambut tubuh wanita tersebut.



Mereka langsung melarikannya ke ruang gawat darurat. Dokter dan para medis langsung memberikan penanganan.



Berusaha sekuat mungkin mengembalikan Brigitta dalam keadaan stabil. Denyut jantung berbunyi, walau pun lemah.



Melihat dokter keluar ruangan. Didi langsung menghampiri.



"Bagaimana keadaan istri saya, Dok?" Tanya Didi panik. Terlihat kecemasan di wajahnya.



Dokter nampak menghela napasnya. "Saya kurang yakin dengan analisa, Saya."



"Tapi, saya rasa, pasien mengalami guncangan hebat pada dirinya. Jika melihat dari kecepatan detak jantungnya. Terlihat jika pasien tengah dilanda kecemasan tinggi dan rasa bersalah yang mendalam," jelas dokter panjang lebar.



Didi terkisap mendengar keterangan dokter yang memeriksa keadaan istrinya.



"Lalu, apa yang harus saya lakukan, Dok?" Tanya Didi kemudian dengan tatapan menerawang.



"Bapak, harus memberinya kekuatan. Beri dia perlindungan dan rasa percaya juga keamanan. Intinya. Beri dia cinta yang tulus, Pak," jawab sang dokter lugas.



Brigitta dibawa dengan berbagai selang di tubuhnya. Wajah dengan riasan sederhana masih menghias di parasnya yang ayu. Didi mengikuti arah brangkar.


Mereka menempati kamar kelas 1. Tidak ada pasien' lain di sana. Jadi, Didi bisa dengan leluasa berinteraksi dengan istrinya.



Setelah para medis telah melakukan tugas mereka. Didi memperbolehkan bapak-bapak yang tadi mengantarnya untuk pulang, setelah mengucapkan terima kasih terlebih dahulu.



Didi menarik kursi, didekatkannya di samping brangkar di mana istrinya berada. Dengan penuh kelembutan, pria itu menggenggam tangan istrinya, lalu dikecupnya perlahan.


__ADS_1


"Sayang ... sadarlah, Sayang. Putri kita menunggumu," ujarnya lirih, sambil membelai rambut sang istri.



Didi bangkit dari kursinya. Dengan penuh rasa kasih, ia mengecup mesra kening Brigitta. Dipandangnya wajah ayu yang memucat itu. Wajahnya begitu dekat dengan paras sang istri yang belum sadarkan diri.



Netra Didi menelisik rupa ayu Brigitta. Ibu jarinya sibuk mengelusi mata, hidung dan terakhir bibir pucat sang istri.



Dengan hati-hati, Didi mengecup bibir dingin itu. Satu titik air mata menetes dari netra Brigitta yang terpejam.



"Kenapa sayang, apa aku menyakitimu?" Tanya Didi lirih penuh kelembutan.



"Dengarkan aku. Jangan kau takut akan apapun. Ada aku sekarang yang akan melindungimu," lanjut Didi. "Sekarang tenanglah, aku akan selalu berada di sisimu."



Brigitta tengah berjalan di sebuah taman yang penuh dengan bunga-bunga cantik. Tampak matahari senja menyeruak memancarkan pesonanya.


Brigitta begitu terkagum akan pemandangan yang dilihatnya. Ia melebarkan senyumnya hingga terlihat deretan giginya yang putih dan rapi. Sebuah lesung pipit tercetak memperjelas kecantikannya.


Brigitta menari dan berputar, ia bersenandung. Tiba-tiba ia terjatuh. Seluruh taman berubah menjadi gersang dan tandus.


Brigitta menangis. Ia berteriak histeris. Tak terima. Baru saja ia merasa sedikit kesenangan, ia harus dihadapkan dengan kenyataan pahit.


"Apa aku tidak boleh berbahagia!" Teriaknya.


"Kau berhak Brigitta!" Sebuah suara lembut mengagetkannya.


Tanah gersang dan tandus tadi, sudah hilang dari penglihatannya. Kini, seluas mata memandang, taman indah tadi kembali ada dalam seluas mata memandang.


Brigitta menatap wanita yang mengulur tangan padanya. Brigitta menyambut uluran tangan itu. Ia masih belum jelas, karena sosok wanita itu hanya terlihat siluetnya saja.


Netra Brigitta tak lepas dari wajah samar di depannya. Begitu surya menggulir lembih dalam. Wajah ayu itu langsung dikenali Brigitta.


"Ayuning!" Panggilnya.


Ayuning tersenyum. Membelai lembut pipi Brigitta. Buliran air menganak sungai di pipi Brigitta.


"Aku ... Aku ... huuu mmm ... huuu ...," Suara Brigitta tecekat karena tangisan.


"Ssst ... tidak apa-apa, Sayang. Aku sudah memaafkan mu," ujar Ayuning tulus. Ia memberikan pelukan hangat pada tubuh musuh yang dulu membunuhnya.


"Tapi, aku berdosa padamu!" Ujar Brigit penuh sesal.


Ayuning menggeleng. "Kau hanya berdosa pada Tuhanmu saja. Mintalah ampunan-Nya. Tuhan akan mengampuni mu."


Brigitta makin menangis tersedu. Ia makin menenggelamkan tubuhnya ke dalam rengkuhan Ayuning.


"Kembalilah, Suamimu membutuhkan mu, juga putri mu," ujar Ayuning mengurai pelukannya.


"Tapi, apakah aku pantas? Mereka begitu baik dan tulus?" Tanya Brigitta dengan suara parau.


"Kau pantas Ta. Pulanglah. Putrimu sangat membutuhkan mu," jawab Ayuning masih dengan senyum di bibirnya.


"Tapi aku takut, Yu. Aku takut dengan masa laluku," ujar Brigit dengan wajah tertunduk.


"Tidak usah kau ceritakan. Hiduplah dengan lembaran baru. Mereka tak akan mendapatkan mu. Kau sudah dianggap mati oleh mereka," ujar Ayuning menyadarkannya.


"Pulanglah Ta. Arini menunggumu," ujar Ayuning memberi perintah.


Brigitta mengangguk. "Terima kasih, Yu."


Ayuning mengangguk.


'Kau sangat baik hati, Yu. Semoga Sean dan putrimu memaafkanku' gumam Brigitta.




Perlahan Brigitta tersadar. Netranya menatap, pria yang tertidur dengan wajah tertelungkup di pinggir brangkar. Sedangkan jemarinya menggenggam jemari Brigitta.



Sebuah senyum terpatri. Perlahan dilepaskan genggaman tangan pria yang telah menjadi suaminya. Didi terbangun.



Didi mengerjap. "Kau sudah sadar, Sayang?"



"Aku panggil dokter dulu ya!" Lanjutnya penuh kelembutan.



Dokter datang memeriksa Brigitta. Selesai memeriksa. Dokter menjelaskan keadaan istri Didi ini.



"Pasien sudah membaik. Jika nanti infusnya sudah habis. Pasien diperbolehkan pulang." Didi mendengarkan penuh kelegaan.



Didi kembali duduk di sisi brankar istrinya, setelah kepergian dokter. Wajahnya dipenuhi rasa syukur yang tak terhingga. Ia mengelus lembut wajah pucat istrinya.



"Terima kasih ... Mas," ucap lirih Brigitta.



Didi tersenyum. Penuh kelembutan, pria itu mengecup lagi kening istrinya penuh kemesraan. Brigitta memejamkan matanya.



Tetes air langsung bergulir. Brigitta merasakan kebahagiaan membuncah. Tiba-tiba ia merindukan putri yang selalu memeluknya setiap malam.



"Arini mana, Mas?" Tanya Brigitta.



Didi menatap netra coklat terang sang istri. Mereka saling mengunci. Entah dorongan dari mana, bibir mereka saling menaut.


__ADS_1


Tautan mereka berhenti ketika mendengar suara ketukan. Tampak rona merah menjalar pada pipi Brigit.



Didi tersenyum kikuk ketika para perawat tersenyum penuh arti padanya juga Brigitta. Mereka melepas semua alat yang menempel pada dada wanita itu.



"Maaf ya. Semuanya sudah selesai. Silahkan dilanjutkan lagi," ujar salah satu perawat meledek.



Didi maupun Brigitta hanya tersenyum kikuk mendengarnya. Setelah para perawat pergi. Didi kembali menghampiri Brigitta.



"Sayang," panggil Didi lembut.



"Arini mana, Mas?" Tanya Brigitta dengan mata berbinar.



"Arini menunggumu di rumah, Sayang," jawab Didi kembali menggenggam tangannya.



Didi kembali hendak menautkan bibirnya. Tapi, tiba-tiba sekelebat peristiwa memalukan melintas dipikiran Brigitta. Ir langsung menghentikan aksi suaminya.



"Kenapa, Sayang?" Tanya Didi dengan suara serak.



Napas Didi menerpa ke seluruh wajah Brigitta. Wanita itu kembali menampakkan raut ketakutan.



"Ada apa, kenapa kau ketakutan. Apa aku menyakitimu?" Tanya Didi panik lalu menjauhkan wajahnya.



Brigitta memandang wajah sang suami yang begitu mengkhawatirkannya. Baru kali ini, dia melihat sebuah ketulusan.



"Aku ... wanita kotor. Aku ... wanita yang paling berdosa, ak ... mmmmphh." Didi langsung membungkam mulut Brigitta dengan mulutnya.



Tautan lembut dan penuh kasih mengulum bibir Brigitta. Brigitta yang shock hanya pasrah. Didi melepas tautannya. Napas mereka saling menderu. Pria itu kembali mengecup bibir yang kini sudah menjadi candunya itu.



"Aku tak perduli masa lalu mu, Sayang, yang aku tahu. Kau sekarang adalah ibu dari putriku. Putri kita!" Ucapan tegas Didi membuat Brigitta haru.



Wanita itu langsung memeluk pria yang dengan suka rela menikahinya tanpa ingin tahu siapa dirinya.



'Aku tak akan melepaskannya demi apapun!' gumamnya bertekad dalam hati.


\*\*\*\*\*\*


Brigitta telah menidurkan Arini. Gadis kecil itu telah terlelap dengan begitu pulas.



Dengan perlahan, Brigit turun dari ranjang. Dilihatnya wajah Arini sang putri yang kini mulai kemerahan dan bulat. Ada perasaan bangga dalam hatinya.



'Aku sanggup membesarkannya!' gumamnya.



Sebuah kecupan hangat ia berikan pada kening Arini. Brigitta menyelimuti gadis kecilnya. Diusapnya rambut Arini. Lalu dengan perlahan, ia berjalan keluar dari kamar.



Ditutupnya secara perlahan pintu kamar Arini. Tiba-tiba sepasang tangan memeluknya dari samping.



Didi tak sabar. Pria itu langsung menggendong ala bride style sang istri menuju pembaringan cinta mereka.



Setelah mengunci pintu. Didi membawa dan membaringkan tubuh Brigitta di atas ranjang.



Malam itu. Brigitta merasakan cinta sepenuhnya. Cinta yang penuh kelembutan. Cinta tulus yang ia dambakan.



Mereka terkulai dengan penuh kepuasan. Brigitta menatap lembut wajah tampan yang kini terpejam.



"Ijinkan aku mencintaimu, Mas. Akan kuabdikan seluruh jiwa ragaku untuk mencintaimu seumur hidupku," ucap Brigitta berjanji.



Didi membuka matanya ketika mendengar janji istrinya.



"Aku ijinkan, Sayang. Dan aku juga akan mencintaimu semampuku, maafkan jika ada banyak salah dariku. Aku mencintaimu!" Ujar Didi tegas.



"Aku juga mencintaimu," jawab Brigitta.



Mereka pun kembali melebur rasa mereka. Menyatukan cinta. Berjanji dalam hati masing-masing untuk hidup bahagia selamanya.



TAMAT

__ADS_1



ternyata Brigitta telah mendapatkan kebahagiaannya sendiri.


__ADS_2