Ijinkan Aku Mencintaimu

Ijinkan Aku Mencintaimu
IJINKAN AKU MENCINTAIMU 61


__ADS_3

Reena sudah berada di ruang rawat inap. Kia sang sekretaris tidak ikut, karena harus membantu Devan.


Para bodyguard berkali-kali ditampar oleh Jak. Bahkan yang wanita pun tak luput dari tamparan pria itu.


Ke empatnya hanya bisa bergeming menerima hukuman. Syukur-syukur jika mereka tidak dipecat atau lebih parah mereka dilaporkan pada serikat kerja mereka.


Karena dalam peraturan, para bodyguard itu tidak boleh meninggalkan majikannya walau sejengkal pun.


"Bodoh! Kalian benar-benar bodoh!" umpat Jak berang.


Devan begitu kagum akan proyek yang berlangsung. Ia mencerna penjelasan-penjelasan yang diuraikan oleh Kia.


"Hebat adikku. Dia tahu berapa komposisi semen dan pasir, dia juga tahu kekentalannya," gumamnya memuji.


"Nona juga tahu harga pasaran Tuan. Jadi, mereka tidak bisa korupsi," puji Kia juga menjelaskan kepiawaian Boss wanitanya itu.


Devan manggut-manggut setuju.


Tiba-tiba Kia teringat akan keberadaan seorang ibu dan anak yang datang tadi.


"Eh ... Ibu tadi kemana ya?" tanyanya dengan pandangan mengedar.


Dilihatnya Pak Deo sang pemimpin lapangan tengah berjalan sambil membawa dua kantung plastik besar.


Kia langsung datang menghampiri dan membantu Deo.


Deo memencet tombol di salah satu tiang bangunan, tanda istirahat berbunyi.


Semua pekerja berhenti tanpa terkecuali. Deo dan Kia membagikan makanan pada para pekerja. Hal itu membuat Devan dan Jak heran.


Jak sudah menyuruh ke empat bodyguard, ke rumah sakit untuk menjaga Tuan dan Nyonya besar serta nona muda mereka.


"Bukankah ini tidak menjadi tanggung jawab kita?" tanya Devan heran.


Deo yang mendengar keheranan Devan langsung memberitahu jika ini adalah inisiatif dari Reena sendiri.


"Bocah itu sudah terlalu baik. Kenapa cobaan terus mendatanginya?" keluh Devan dengan nada sedih.


"Apa mungkin dia harus menikah agar kesialannya berhenti?" tanya Devan bermonolog.


Hal itu membuat Jak berubah gelisah. Kegelisahan Jak tak luput dari pengamatan Devan.


'Ck ... dasar pria bodoh. Bukannya inisiatif, malah diem aja!' sungutnya kesal melihat tingkah Jak yang masih belum berani mengungkapkan perasaannya.


'Sampai kapan kau menyimpan perasaan mu pada adikku Jak?!' tanya Devan lagi-lagi bermonolog.


"Pak Deo!" panggil Kia mengalihkan perhatian mereka.

__ADS_1


"Iya Mbak Kia, ada apa?" sahut Deo.


"Ibu-ibu tadi yang sama dua anaknya mana?" tanya Kia.


"Oh mereka itu istri dan anak si mandor yang dipenjara itu," jawab Deo.


"Ngapain. Pasti si ibu minta suaminya dibebasin kan? Alasannya nggak ada yang nyariin mereka nafkah?' tebak Kia.


"Iya, Mbak. Si Ibu tadi minta gitu," jawab Deo membenarkan tebakan Kia.


"Trus, Pak?" tanya Kia lagi.


"Trus apa, ya saya bilang, itu sudah jadi konsekuensinya telah melakukan pelanggaran hukum. Soal mereka nggak ada yang cari uang kan bukan masalah kita," jelas Deo agak sewot.


"Iya juga, sih. Walau kasian juga," ujar Kia iba.


"Nggak usah kasian, Mba!" ujar Deo lagi, " asal Mba Kia tahu, klo istri si mandor itu ada dua!"


Kia bengong mendengar kebenaran tersebut.


"Mbak liat nggak tadi si Ibu pake perhiasan segede jempol kaki di leher ama tangannya!" kini Jono menimpali.


Kia masih menganga sambil menggeleng.


"Kita sih curiga dia ada main sama pembelian semen dan pasir juga bahan bangunan lainnya. Cuma kita nggak punya bukti buat ngungkapin itu!" jelas Jono lagi.


"Kenapa nggak bilang-bilang dari kemarin!"


"Eh ... sudah-sudah! buruan makan terus sholat bergantian. Nona Reena selalu mengintruksikan untuk kita tidak melupakan sholat!" teriak Kia menengahi perdebatan.


Semuanya menurut perintah Kia. Devan sadar, jika kebaikan adiknya lah yang membuat para pekerja melindunginya bahkan tak segan-segan mengorbankan diri mereka.


Devan melihat tempat di mana Jono melompat untuk menolong Reena. Cukup tinggi dengan resiko yang sama.


Pria itu sangat beruntung adik tercintanya masih dilindungi. Lagi-lagi ia melirik asisten pribadinya.


Jak nampak termenung dalam kegelisahannya. Sungguh, ia ingin tertawa melihat kebucinan Jak.


"Apa kau tidak apa-apa Jak!?" tanya Devan tiba-tiba yang mengagetkan sejenak Jak.


Dengan sigap Jak mengatakan jika dia tidak kenapa-napa. Hal ini, yang membuat Devan salut pada pria itu.


Ia semakin yakin jika Jak sangat pantas untuk adiknya. Devan akan membicarakan hal ini pada kedua orangtuanya nanti.


Sementara itu di tempat lain Nampak seorang pria berperut buncit mendatangi sebuah markas yang ditongkrongi beberapa pemuda.


Aliansi Pemuda Masa Depan disatroni seorang pria setengah baya, dengan kepala plontos di depan. Mengenakan setelan jas mahal dan jam tangan rolex berlapis emas.

__ADS_1


"Hei ... mana ketua kalian, apa-apaan, kenapa pembangunan itu masih berjalan!' sentaknya tiba-tiba.


Empat orang yang tengah bercengkrama tersentak. Melihat siapa yang datang ke empatnya langsung tersenyum sinis.


Merasa diabaikan, pria itu makin emosi. Dia membentak-bentak pemuda yang tengah berkumpul itu.


Melihat keributan Dewa yang tengah membaca sebuah artikel, langsung menghentikan kegiatannya.


Ia mendatangi asal keributan. Melihat siapa yang datang ia hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Papa ...."


"Kamu ini, anak sialan. Apa menghentikan proyek itu kamu tidak bisa!" sentak pria yang ternyata adalah ayah dari Dewa.


"Ya bagaimana bisa. Kami tidak punya bukti apapun untuk menghentikan proyek tersebut!' sela salah satu pemuda.


"Ap-pa?!" pria setengah baya itu cukup terkejut.


"Pa ... pembangunan itu sah menurut hukum dan tidak menyalahi aturan mana pun, bahkan mereka sudah menyiapkan segala sesuatunya untuk lingkungan, belum lagi lapangan pekerjaan yang terbuka nantinya. Kita nggak bisa apa-apa, Pa!' jelas Dewa kemudian.


"Ck ... Kau ini banyak alasan!"


"Bukan gitu, Om! Kita-kita aja yang bodoh mau-mauan kemaren demo untuk alasan yang nggak jelas!' runtuk Siswo tiba-tiba.


Pemuda itu ternyata dari tadi memperhatikan kejadian tadi.


Pak Broto hanya bisa mendengkus kesal. Ia memang tidak tahu jika proyek itu sudah memiliki ijin. Bahkan telah dibuka pelaksanaan pembangunannya oleh pemerintah setempat.


Ia kesal tidak mendapat bagian dalam pembangunan proyek tersebut.


"Kamu tahu perusahaan mana yang menjadi pelaksana pembangunan itu?" tanya Broto kemudian.


"Bramantyo Grup co." jawab Dewa kemudian.


Terkejutlah Broto mendengar nama perusahaan itu. Pria itu sangat mengetahui seberapa besar perusahaan yang tengah menangani proyek tersebut.


"Pantesan aku nggak dapat japok. Orang perusahaan gede yang nangani proyek itu," gumamnya.


Sedang Dewa, masih memikirkan gadis yang menjadi pemimpin proyek yang tengah berlangsung.


"Kapan ya bisa ketemu lagi Ama dia?" gumamnya sangat pelan.


bersambung.


Jak : "Dalam mimpi mu Bro! 😔"


🤭🤭🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2