
Sean dan Devan saling tatap. Dalam hati keduanya bergemuruh. Tak ada yang mau mengalah.
"Sudah hentikan, Sean!" Ujar Irawan mendesah malas, "Kau sendirian yang menikahkan putrimu, walau dengan menyamar!"
Sean menghela napasnya. Devan justru berekspresi terkejut. Pria muda itu langsung mempertajam ingatannya.
Devan langsung mengingat pria di depannya ini. Jika, Sean mengenakan kumis tebal dan juga kacamata. Maka dipastikan, jika pria ini lah yang menjadi wali Aira-sang istri.
Sean tidak berkata apa-apa. Tapi, ia melihat cinta di mata Devan untuk putrinya. Sean akhirnya memeluk menantu dari putri kesayangannya. Devan membalas hangat pelukan ayah mertuanya.
Irawan tersenyum. Ia bahagia sekali. Hari yang dinantikan tiba. Sudah waktunya dunia mengetahui siapa Aira.
"Aku ingin pesta yang terbaik untuk cucuku. Selama ini dia hidup kekurangan dan tertutup," ujar Irawan dengan raut kesedihan yang dalam.
Netra pria tua itu berkaca-kaca. Menahan genangan air di pelupuk matanya. Tapi, mengingat serentetan peristiwa yang dialami oleh cucunya. Air mata itu akhirnya menetes juga.
"Semua ini salahku ...."
"Tidak Pa. Ini, bukan salah Papa. Ini memang takdir yang harus dilalui Aira," ujar Sean langsung memeluk Irawan.
"Andai aku tak menjodohkan mu ...," Air mata Irawan makin luruh.
Sebuah isakan tertahan dari bibir pria tua itu. Tubuhnya sedikit gemetar. Selama dua puluh dua tahun ia tidak bisa memeluk cucu kesayangannya.
"Andai tidak ada perjodohan itu ...."
"Sudah cukup Pa! Jangan menyalahkan diri sendiri!" Ujar Sean mengingatkan papanya.
"Benar kata Tuan Sean. Semua ini takdir Tuan Buditama," timpal Devan ikut menenangkan Irawan masih dengan bahasa formal, "Jika tidak demikian. Saya mungkin tidak menikah dengan gadis hebat seperti Aira."
Irawan dan Sean saling tatap mendengar perkataan Devan. Mereka akhirnya saling berpelukan seperti teletabis. Suasana haru menyeruak. Bahkan Max ikut-ikutan terharu melihatnya.
Selang beberapa menit, mereka mulai terlibat percakapan ringan. Irawan yang memang ramah dan easy going. Membuat suasana jadi santai.
Setelah mengemukakan idenya pada Devan. Devan menyanggupi keinginan sang ayah mertua. Walau ada kekhawatiran dirinya jika Aira akan menolak semuanya.
"Aku rasa, istriku adalah gadis yang sangat bijak dan penuh cinta. Mungkin sedikit terkejut, kita maklumi saja jika ada sedikit penolakan dari Aira" ujar Devan memberi asumsi.
Sean mengangguk. Sedari tadi ia berusah mati-matian menenangkan degub jantungnya. Selama nyaris dua puluh tahun lebih ia menahan diri untuk memeluk putrinya.
Berkat bantuan Andreas yang menjadi kakak angkat Aira. Ia berhasil menumpas semua bandit yang menjadi komplotan pembunuh istrinya.
Bahkan ia mendapat info jika Brigita telah tewas sepuluh tahun yang lalu, akibat kecerobohannya sendiri mengelabui salah satu klan mafia.
Sean resmi mundur dari dunia hitam. Walau tidak satupun anak buahnya menginginkan kemundurannya tersebut. Mereka mempersilahkan Sean keluar dari dunia hitam tapi, semua bisnis dan kekuasaan klan Harimau Benggala tetap dalam genggaman pria itu.
__ADS_1
(Flashback on).
"Saya akan mengundurkan diri dari jabatan ini," ujar Sean ketika mengakhiri rapat.
Hal itu membuat semua klan yang tergabung ricuh. Ada yang pro dan kontra akan keinginan pria yang kini menjadi pion utama bisnis hitam.
Bagaimana tidak. Dunia hitam mereka bisa jauh lebih maju dan kuat serta bersih dari praktek ilegal, berkat tangan dingin dan kecerdasan Sean.
Dalam kepemimpinan Sean di mana obat-obatan terlarang bisa masuk wilayah tanpa ada persyaratan ketat dari pemeriksaan petugas. Bahkan telah dilegalkan.
Sean membangun sebuah gedung tinggi untuk menampung obat-obatan tersebut demi keselamatan dunia. Ada ratusan pakar bekerja dalam gedung tersebut untuk mengolah dan meracik obat-obatan tersebut untuk kesehatan.
Sean yang memiki pabrik senjata, bisa dengan mudah mendapat senjata-senjata model terbaru buatan luar negeri. Pria itu berani menawar harga paling tinggi untuk mendapat satu pucuk senjata api model terbaru tersebut.
Setelah itu, senjata itu ia kirim ke pabriknya. Dalam waktu tidak lebih dari dua puluh empat jam. Ia bisa memproduksi senjata dengan model yang sama bahkan lebih baik kwalitasnya dari senjata sebelumnya.
Sean yang royal juga membayar tinggi para anak buahnya. Maka tidak sedikit yang mau berkhianat dari nya.
"Tapi, siapa yang akan mengganti posisimu. Jika terjadi kekosongan. Aku sangat mengkhawatirkan dunia di atas sana akan kacau dengan perebutan kekuasaan yang kau tinggalkan!" Seru salah satu ketua klan.
Sean terdiam. Ia membenarkan perkataan Robert Lewandowski. Pria berdarah Rusia dan Inggris ini memiliki tubuh besar. Wajahnya juga tampan, dengan berewok yang memenuhi dagunya. Dia adalah ketua dari Klan White Wolfs.
"Tapi, urusan saya sudah selesai. Saya ingin kembali ke keluarga saya!" Ungkap Sean setengah berteriak.
Semuanya terdiam. Mereka sangat takut menyinggung kemarahan pria yang memimpin dunia hitam mereka ini. Jangan salah. Semua klan memiliki pengikut. Tapi, pengikut-pengikut mereka adalah orang bayaran yang mereka rekurt dari pelatihan Sean sendiri.
Para ketua klan tentu berpikir sejuta kali. Walau ada beberapa di antaranya ingin menggeser atau menduduki jabatan Sean. Tapi, untuk berbuat konyol? Mereka harus mengurungkan niat itu.
"Bagaimana jika kau keluar dari sini, tapi tetap memegang pucuk pimpinan," ungkap ketua Klan Naga Putih. "Tapi, kami ingin semua perlindungan dari dunia luar sana. Tentu kau tau maksudku bukan?!"
Sean tercerahkan. Pria itu menyetujui ide dari Govert.
"Baik. Sebelum aku menemukan siapa yang layak untuk menggantikan ku. Aku akan tetap menjabat sebagai ketua klan tertinggi di sini!" Akhirnya keputusan final didapat.
Sean keluar dari dunia hitam, dengan seribu persyaratan yang diembannya.
(### Flashback end).
Devan sudah sampai rumah. Ia mengurutkan keningnya. Kepalanya sedikit pening. Kemudian ia melihat benda bermerk Rolex berlapis emas yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
'Sudah pukul 15.22.' gumamnya.
"Assalamualaikum!" Devan masuk sambil memberi salam.
"Wa'alaikum salam. Mas, sudah pulang?" Sebuah suara lembut yang ia rindukan menyambutnya.
__ADS_1
Devan tersenyum. Wajah lelahnya langsung hilang ketika Aira mendatanginya. Devan merentangkan tangannya. Aira yang mengerti langsung mendatanginya.
Pria itu langsung merengkuh tubuh kecil sang istri dengan penuh rasa. Diciumnya berkali-kali pucuk kepala Aira.
Sungguh, saat ini ia menahan semua hasratnya. Bahkan ketika mereka sudah sampai kamar. Ia mendapati netra Aira yang kembali memujanya. Devan mencium lembut kening sang istri.
"Aira, sayang!" Panggilnya dengan suara serak.
"Iya Sayang!" Jawab Aira sambil menatap netra sang suami dengan penuh cinta.
Devan serasa terbang mendengar jawaban Aira. Ia begitu bahagia gadis itu kembali memujanya. Devan tak peduli jika beberapa jam ke depan mereka akan berangkat ke tempat pesta yang sudah diatur.
Dengan serakah, Devan me****t habis bibir istrinya. Menggiring tubuh kecil itu ke atas ranjang. Tubuh Devan mulai bergolak ingin melepas semua birahi yang tertahan.
Baru saja ia membuka kancing sang istri. Tiba-tiba suara ketukan terdengar. Tadinya, Devan tak mau ambil peduli. Ia sudah cukup lama bertahan, dan hari ini juga ia ingin memuaskan dirinya.
Tapi ketukan itu berubah jadi gedoran. Aira yang tadinya sempat terbuai jadi merasa harus menghentikan aksi suaminya.
"Kak Aira, dipanggil Mama sama Papa!" Terdengar teriakan Reena di depan pintu.
"Bilang Mama! Kalau istriku tengah melayaniku!" Teriak Devan kesal.
Reena yang mendengar jawaban ambigu kakaknya. Mengernyit bingung.
"Loh ... Kakak sudah pulang?!" Lagi-lagi Reena berteriak.
Linda yang mendengar suara teriakan langsung mendatangi lantai atas. Melihat putrinya di luar pintu, Linda mengerutkan kening.
"Kenapa kau berteriak-teriak begitu? Apa kau pikir ini hutan!" Sergah Linda yang tidak menyukai keributan tersebut.
"Ini Ma. Kakak nggak mau bukain pintu. Padahal udah diketuk bahkan digedor!" Jawab Reena sambil mengerucutkan bibirnya. "Katanya Kak Aira sedang melayani Kak Devan. Apa kali maksudnya. Kan Reena nggak ngerti Ma!"
Linda hanya menghela napas. Ia sangat mengerti apa maksud dari perkataan putranya kepada sang adik. Tapi, mengingat akan acara penting nanti malam. Mau tak mau ia harus menginterupsi.
"Devan ... Papa memintamu untuk segera menemuinya bukan?" Ujar Linda menginginkan sambil mengetuk pintu.
Devan yang sudah tidak lagi berada mood bercinta. Hanya mendengkus lemas. Ia berdiri dari atas tubuh istrinya.
Wajah Aira tertunduk. Sungguh Aira juga sedikit kecewa akan gangguan kecil tersebut. Tapi, segera ia mengalihkan pikiran mesumnya.
"Ada waktu nanti malam, Sayang," ujar Devan lembut mengetahui kegelisahan sang istri.
Bersambung.
Iya ... Ntar malem juga ada waktu kok. Kalo othor sempet yaa nuliss ituuuh !!
__ADS_1
Devan : š”š”š”š”š”š”!