Ijinkan Aku Mencintaimu

Ijinkan Aku Mencintaimu
IJINKAN AKU MENCINTAIMU 42


__ADS_3

Setelah selesai makan, Sean mengajak semuanya menikmati fasilitas hotel.


Dalam hotel tersebut ada bioskop, super market, arena bermain, Gym, dan lain sebagainya.


Ken langsung menikmati fasilitas olahraga. Ia segera berganti baju dan langsung menuju sarana itu.


Tiana mengajak Aira untuk ikut bersama Ken.


"Ngapain ih!" Aira menolak ajakan sahabatnya itu.


"Ayolah ... udah lama juga kan kita nggak sparing bedua?!" ajak Tiana lagi.


Aira melihat Devan meminta persetujuan. Devan mengangguk.


"Aku juga ikut," kata Devan.


Aira nyaris terpekik girang, jika saja ia tak sadar tengah berada di tengah-tengah keluarga.


"Ya sudah kita semua ke sasana olahraga!" ajak Sean.


Setelah Aira, Devan, Tiana mengganti bajunya. Mereka langsung menuju ruangan olahraga. Tentu dengan bantuan petugas hotel yang selalu mengantarkan mereka.


Setelah sampai di area olah raga. Lagi-lagi Devan ternganga. Betapa ruangan itu besar sekali dengan peralatan olahraga komplit. Bahkan di tengah ruangan ada sasana tinju.


Tiana melirik Aira ketika melihat satu area Dojo. Area yang hanya dilapisi matras kulit berwarna hijau.


Mereka berdua langsung menuju area tersebut. Aira dan Tiana melakukan pemanasan terlebih dahulu.


Setelah itu mereka berdua langsung melakukan tanding.


"Heeaaaa!" teriak Aria melakukan serangan tendangan putar.


Tiana nyaris terkena tendangan itu jika saja ia tidak mengelak secara refleks. Aira yang sedikit terkejut, menghentikan serangan. Hal itu dijadikan kesempatan untuk Tiana menyerang balik Aira.


Sebuah teknik tendangan bawah, nyaris menyapu kuda-kuda Aira. Aira tersadar cepat, segera berputar menggunting tendangan Tiana dan langsung mengunci kaki sahabatnya itu.


Sebuah tinju pelan mengenai wajah Tiana.


"Satu!' ujar Aira menyeringai senang.


"Ah ... sial!" umpat Tiana.


Melihat pertandingan cantik dari kedua wanita di atas matras mengalihkan pandangan semuanya. Mereka langsung menjadi penonton.


Ken tiba-tiba maju, ia meminta menjadi wasit. Aira menyetujui itu. Pertandingan pun kembali dimulai.


Gerakan lincah dan serangan yang dilancarkan keduanya membuat semua mata terpukau bahkan tak ayal menahan napas.


Tiana mengeluarkan semua tenaganya untuk melawan sahabatnya itu. Tapi, sepertinya Aira bukan tandingan Tiana.


Tiana banjir keringat di seluruh tubuhnya. Sedang Aira hanya sesekali menyeka keringat di dahinya.


Bruk!


"Aww!" teriak Tiana ambruk dengan tangan terkunci.

__ADS_1


Tiana merasa kakinya sedikit terkilir. Gadis itu menyerah, ia menepuk matras tiga kali. Pertandingan dimenangkan oleh Aira.


Semua memberi tepuk tangan meriah. Sean yang memang mengetahui kehebatan putrinya tersenyum lebar, begitu juga Devan.


Sedangkan kedua orang tua Devan dan Ken hanya mampu terperangah. Terlebih Rehan dan Linda.


Mereka berdua tidak menyangka jika menantunya ahli bela diri.


Aira yang melihat Tiana kesakitan, langsung duduk memegang kaki sahabatnya itu.


"Apakah kau terkilir?" tanya Aira khawatir dan dijawab anggukan Tiana.


Ada genangan air di sudut mata Tiana. Aira melihat itu. Ia yakin kaki sahabatnya itu terluka parah.


"Ayo kita ke rumah sakit, kakimu sepertinya tidak hanya terkilir!" ujar Aira langsung membopong Tiana.


"Tidak perlu. Aku memang hanya terkilir," rengek Tiana menolak ajakan Aira.


"Tapi kamu nangis!" seru Aira makin khawatir. "Berartikan sakit banget!"


"Aku nangis bukan karena sakit!' teriak Tiana sambil jebik-jebik.


"Terus apa dong!' seru Aira setengah putus asa.


"Aku nangis karena aku kalah terus sama kamu!" ujar Tiana kesal.


"Jiaaah ... kukira kenapa. Lah, kan dari dulu juga kamu kalah sama aku!' ledek Aira.


"ish ... sesekali kek lu ngalah Ama gue!" ujar Tiana kesal.


Tiana memutar bola matanya kesal. Semuanya hanya melihat mereka dengan senyum kagum.


Tadinya Reena ingin menguji kehebatan kakak iparnya itu. Tapi, setelah ia sadar dengan kekuatan dan keahlian Aira. Gadis itu mengurungkan diri.


'Buat ngelawan Kak Dokter aja aku bakal kalah, apa lagi lawan Kak Aira. Baru ronde pertama langsung kebanting deh!' monolog Reena dalam hati.


Sedang Safeera langsung menghampiri kakak iparnya dan meminta untuk menjadi pelatih bela dirinya.


"Duh, Dek. Bukannya Kakak nggak mau. Tapi, untuk jadi pelatih Kakak harus tanding naik tingkat untuk menjadi master, biar dapat sertif pelatih," ujar Aira memberi penjelasan, "Dan itu pastinya Kakak harus tampil secara umum."


Kegelisahan Aira tertangkap oleh Sean. Tadinya, ia akan mengijinkan putrinya melakukan hal itu. Tapi, ia segera sadar jika Aira bukan tanggung jawabnya lagi.


"Tidak ada naik tingkat atau apapun itu!" seru Devan mengambil alih percakapan.


Safeera langsung lesu. Jika kakaknya sudah memberi ultimatum. Maka tak ada satu pun yang bisa membujuknya.


"Mari kita ke klinik, kita obati kaki Tiana yang terkilir!' ajak Sean kemudian.


"Biar saya yang mengantarnya ke klinik, Om," ujar Ken menawarkan diri.


"Nggak usah jauh-jauh, di sini juga ada klinik kok, Walau tidak besar. Tapi, jika hanya untuk luka ringan, klinik kami bisa menanganinya," jelas Sean.


Hal itu membuat Devan makin terperangah. Ia semakin jadi tahu kelas hotel Leopard ini. Fasilitas yang lengkap dengan tenaga profesional menjadi acuan layanan hotel tersebut. Belum lagi kualitasnya yang bukan ecek-ecek.


Otak bisnis Devan berpikir. Jika ada waktu, ia ingin berkonsultasi dengan mertuanya itu. Bahkan jika perlu ia ingin melakukan merger. Ken pasti sangat setuju dengan usulannya itu.

__ADS_1


Perhatian Devan teralih lagi pada Jak yang sedari tadi diam.


"Ada apa denganmu, Jak?" tanya Devan heran.


"Ah, saya tidak apa-apa Tuan Muda," jawab Jak cepat.


Devan mengerutkan kening. "Jika ada sesuatu yang kau khawatir kan, katakan padaku langsung, oke?!'


"Baik Tuan Muda!" ujar Jak mengangguk hormat.


Devan menghela napas. Tapi, kemudian perhatiannya teralih pada adiknya Reena yang sesekali mencuri pandang pada ajudan kepercayaannya itu.


'Ada apa ini, apa ada yang terlewat oleh ku?' tanya Devan dalam hati.


Devan mengenyampingkan apa yang terjadi pada Jak dan Reena. Ia kini berfokus untuk memberi hadiah pada istrinya.


Ken mengantar Tiana ke klinik diiringi petugas hotel yang selalu menggiring mereka.


Devan dan Aira membersihkan diri mereka dengan mandi bersama.


Setelah ritual mandi plus-plus. Mereka bersiap untuk pulang.


Sebelum pulang, Sean meminta mereka untuk makan siang terlebih dahulu.


Karena makan siang melewati waktu sholat dhuhur. Aira meminta Papanya untuk beribadah berjamaah.


Sean langsung menyetujui ide Aira. Tapi, ruang ibadah ternyata tidak ada di hotel tersebut. Maka itu, Sean menyuruh para pegawainya menyiapkan ruangan tempat pesta kemarin dijadikan ruang ibadah dadakan.


Hal yang tidak terpikirkan oleh Sean dan Devan. Tempat ibadah di hotel mereka.


Gara-gara ide Aira. Sean dan Devan langsung memiliki konsep ruang ibadah di hotelnya nanti.


Selesai menunaikan kewajiban. Mereka langsung menuju ballroom di mana makan siang akan tersaji.


Seperti tadi pagi, menu mereka akan langsung dimasakkan oleh para chef handal.


Usai makan siang. Mereka berpamitan pulang menggunakan kendaraan masing-masing kecuali Tiana yang langsung diantar oleh petugas hotel ke rumahnya.


Devan dan Aira tidak langsung pergi ke rumah. Sedangkan Jak disuruh Devan langsung menemui klien yang sudah menunggu.


Devan menghentikan mobilnya di sebuah toko berlian.


Bersambung.


Untuk apa ya mereka ke situ?


mereka mau makan othor!


hehehe...


yuk berikan jempol buat kisah ini kalo boleh vote and hadiahnya.


komentar juga gpp


makasih.

__ADS_1


__ADS_2