Ijinkan Aku Mencintaimu

Ijinkan Aku Mencintaimu
IJINKAN AKU MENCINTAIMU 65


__ADS_3

Betapa terkejutnya semua orang, ketika Sean mengadakan konferensi pers untuk mengumumkan bahwa Jaka Prass diadopsi, dan kini menjadi Jaka Prass Putra Buditama.


Hal ini juga mengejutkan keluarga Bramantyo. Tapi, tidak untuk Aira. Wanita yang kini tengah mengandung lagi sangat bahagia.


"Aku punya Abang!" serunya saat Sean menyatakan keinginan untuk mengadopsi Jaka.


"Jadi, Jak adalah kakak iparku sekarang?" tanya Devan.


"Tidak, Kak. Kan, aku akan menikahi adikmu, jadi aku tetap adikmu," jawab Jaka sambil tersenyum.


Aira tertegun melihat senyuman Jak. Pria yang terkenal dengan ekspresi datar itu sekarang suka sekali tersenyum.


"Bang Jaka bisa tersenyum?" lontar Aira dengan nada terkejut.


Devan tertawa melihat keterkejutan istrinya.


"Kau baru tahu itu sayang?" tanya Devan sambil terkekeh. "Bagaimana menurutmu?"


"Senyum Bang Jak manis, sayang," jawab Aira sambil memuji.


"Kau memuji pria lain di depanku!" sergah Devan tidak suka.


"Sayang, kau tetap pujaan Aira," ungkap Aira lalu membelai dagu Devan.


Devan menggeram. Aira menelan saliva. Jika sudah begini. Maka tak ayal, wanita itu harus mengumpulkan tenaga ekstra untuk mengimbangi permainan ranjang suaminya.


*****


Hari berlalu, waktu pun berganti.


Sesuai janji Jak. Pria itu memantaskan diri menjadi suami dari Reena Bramantyo.


Sean datang melamar gadis itu untuk putranya, Jaka.


Tentu saja Rehan langsung menerima pinangan Sean.


"Saya sih, setuju. Tapi, kita dengar dulu jawaban Reena. Karena dia yang akan menjalani pernikahan ini," jelas Rehan sambil menatap putrinya yang menunduk.


Reena mengenakan hijab warna pastel dan gamis warna senada. Wajahnya hanya dipoles make up minimalis. Reena yang sudah cantik, tetap cantik walau tanpa make up sekalipun.


Reena hanya mengangguk.


"Apa arti anggukanmu, Ree?!" tanya Devan setengah meledeknya.


Reena memberengut manja. Semuanya tertawa melihat tingkah malu-malu gadis itu.


"Iya, Ree setuju," jawab Reena dengan rona merah di wajahnya.


Semua mengucap hamdalah. Jak menyematkan sebuah cincin sederhana pada jari manis gadis pujaannya. Begitu juga sebaliknya.


Mereka menetapkan pernikahan akan dilaksanakan bulan depan, atau sekitar tiga minggu lagi.


Berita pernikahan Jak dan Reena menjadi trading topik. Pro dan kontra mewarnai berita tersebut.


Hari bahagia telah tiba. Reena yang tengah duduk menunggu di kamar, sedang menunduk menahan tangisnya.


Aira dan Saf yang sedang mengandung tengah menenangkan hati gadis itu.


"Kak Ree, jangan nangis. Nanti make up nya luntur," ujar Saf yang juga menitikkan air matanya.


"Ih ... kok pada sedih sih!" ujar Aira yang ikut-ikutan sedih.


Di bawah tengah, Jak tengah menenangkan degup jantungnya.


Sean yang mengantarkan pemuda itu justru terkekeh.


"Tenangkan hatimu, Nak," bisiknya menenangkan Jak.


Jak mengembuskan napas perlahan. Ia mengucap basmalah dalam hatinya.


Jak semakin gugup ketika berhadapan dengan Rehan, ayah dari Reena.


"Mas Jaka tenang ya," ujar penghulu sambil. tersenyum.


"Sekarang silahkan jabat tangan Pak Rehan!" titah penghulu.


Jak langsung menjabat tangan calon papa mertuanya.


"Baik, silahkan Pak!'

__ADS_1


"Bismillahirrahmanirrahim. Ananda Jaka Prass Putra Buditama, Saya nikahkan kamu dengan putri kandung saya Reena Putri Bramantyo binti Rehan Bramantyo dengan mas kawin emas lima gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai!"


"Saya terima nikah dan kawin Reena Putri Bramantyo binti Rehan Bramantyo dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!' satu helaan napas Jak mengucap lafad ijab kabul dengan tegas.


"Bagaimana saksi. Sah?" tanya penghulu.


"SAH!" teriak Ken dan Devan, juga Irawan sebagai saksi kedua belah pihak.


"Alhamdulillah ...."


"Sekarang boleh jemput pengantin wanitanya!' titah penghulu sambil tersenyum.


Reena turun diapit oleh Aira dan Safeera. Kecantikan ketiganya terpancar begitu sempurna.


Ketiganya mengenakan hijab dengan warna nyaris senada. Yang membedakan adalah perut Aira dan Saf yang membuncit.


Jak menatap istrinya penuh kekaguman dan cinta.


Setelah sampai. Penghulu memerintahkan Jak dan Reena untuk memasangkan cincin kawin mereka.


Setelah memasang cincin. Reena mencium punggung tangan Jak dengan takzim. Sedang Jak mencium kening Reena.


Acara sungkeman dibanjiri air mata. Baik Jak dan Reena sama-sama menangis haru.


Foto-foto setelah pernikahan Reena dan Jak.




kebahagiaan terpancar dari semua keluarga.


Devan berkali-kali memperingati Jak. Pria itu tidak ingin adiknya disakiti oleh siapapun.


"Sekali kau menyakiti adikku. Nyawamu taruhannya!" ancam Devan dengan nada datar dan ekspresi sadis.


Aura kejam dan dingin ditampakkan Devan pada Jak. Jak yang sangat mengenal tuannya. Tentu tahu apa yang harus ia lakukan.


"Kakak bisa, percayakan itu padaku. Aku Jaka Prass Putra Buditama bersumpah padamu, tidak akan sedikit pun menyakiti Reena!" ujar Jak bersumpah.


Devan akhirnya mengakhiri ekspresi dingin dan datarnya. Ia memeluk Jak.


*******


Malam berlalu. Pesta telah berakhir satu jam yang lalu.


Reena tengah membersihkan diri. Sedang Jak tengah menunggu di sajadah. Mereka akan melakukan sholat isya berjamaah untuk pertama kali sebagai sepasang suami istri.


Setelah Reena usai membersihkan diri. Mereka pun melaksanakan sholat berjamaah.


Usai sholat Reena mencium punggung tangan suaminya.


"Dek ...!" panggil Jak.


"Iya, Bang!" jawab Reena.


Jak menyerahkan sebuah surat. Reena mengambil surat tersebut.


"Bacalah!' ujar Jak.


Sebuah amplop berwarna biru. Reena mengambil isinya.


Dibukanya lipatan kertas, lalu dibacanya dalam hati.


Untuk istriku ....


Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Wahai engkau wanita yang aku pilih.


Terima kasih atas rasa percaya yang kau berikan pada seorang fakir ini.


Aku tidak bisa menjanjikan apapun untukmu.


Tapi, aku pastikan engkau bahagia bersamaku. Walau nanti perjalanan sangat sulit.


Aku mohon tetaplah bersabar bersamaku.


Jika nanti ada gunjang-gunjing. Kumohon tetaplah percaya padaku.

__ADS_1


Aku tidak bisa menjanjikan engkau bergelimang harta.


Tapi, kupastikan engkau tak akan kekurangan.


Tetaplah berjalan bersamaku, walau kakimu terasa sakit.


Tetaplah bersabar untukku walau itu harus membuatmu muak.


Dan ...


Tetaplah engkau mencintaiku. Selamanya.


Wahai engkau wanita yang aku pilih.


Ijinkan aku mencintaimu, segenap jiwaku


Semoga kita berkumpul bersama di Jannah kelak.


Aamiin aamiin aamiin yaa rabbal'alamin.


Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


27 November 2019


TTD


Jaka Prass


Reena mengusap air matanya, setelah usai membaca surat dari suaminya.


"Jadi Abang balas surat ini, setelah dua hari Reena memberi surat itu?" tanya Reena.


"Iya, Sayang. Walau Abang tidak yakin, jika kau lah yang menjadi istriku," jawab Jak.


"Emang tadinya siapa yang Abang pikir jadi istrimu?" tanya Reena lagi kini dengan wajah cemberut.


Jak tertawa melihat wajah istrinya cemberut.


"Sudah ... tidak usah mengingat itu. Sekarang kamu lah istriku!' jawab Jak tegas.


Perlahan Jak mengamit jemari Reena. Dikecupnya kedua buku tangan istrinya dengan lembut, sedang netranya masih menatap raut istrinya yang mulai merona.


"Bang ...!" panggil manja sang istri.


Jak menarik dagu Reena dengan dua jarinya. Perlahan pria itu menurunkan wajahnya.


Reena membesarkan matanya. Jantungnya nyaris terlepas ketika napas Jak menerpa wajahnya.


Jak mempersempit jarak. Sedikit lagi bibir Jak menaut bibir Reena.


Netra gadis itu sudah memejam. Jak diberi lampu hijau.


Dan ...


KRIING!


Tiba-tiba bunyi ponsel mengagetkan keduanya.


Jak langsung berlari mengambil ponsel di atas nakas.


"Halo ...."


"Jak jangan keras-keras ya, lakuin itu. Adikku itu masih perawan loh!" si penelpon langsung mematikan sambungan teleponnya.


Sebuah suara yang dikenali Jak. Pria itu hanya menghela napas berat.


"Siapa, Bang?" tanya Reena polos.


"Hmmm ... itu, tadi Kak Devan yang nelpon," jawab Jak rada malas.


"Emang Kak Devan bilang apa?" tanya Reena lagi.


Jak menatap wajah istrinya. Sebuah senyum usil terpatri.


Jak membisikkan sesuatu pada Reena, hingga membuat raut muka gadis itu memerah bak kepiting rebus.


"Ish ... Abang!"


TAMAT

__ADS_1


Ah ... akhirnya tamat juga.


__ADS_2