Ijinkan Aku Mencintaimu

Ijinkan Aku Mencintaimu
IJINKAN AKU MENCINTAIMU 48 Bab ini untuk 21+


__ADS_3

BAB INI MENGANDUNG UNSUR DEWASA. DAMPINGI PUTRA PUTRI ANDA DALAM MEMILIH BACAANNYA.


********


Resepsi pernikahan digelar secara mewah. Di pelaminan duduk sepasang pengantin dengan wajah bahagia.


Semua tamu undangan tumpah ruah. Bagaimana tidak, Suryo Hutomo adalah pemilik usaha properti terbesar di kota Y, sedang Rehan Bramantyo adalah pemilik dari Bramantyo grup co. yang merajai semua bisnis hingga manca negara.


Semua tamu undangan adalah para petinggi dan pesohor dalam dunia bisnis. Pernikahan itu dijaga ketat oleh pihak kepolisian digabung dengan bodyguard dengan kemampuan terlatih.


Safeera tersenyum miring menatap teman-teman perempuan perkuliahannya. Mereka begitu iri.


"Ck ... orang kaya memang jodohnya ya orang kaya. Sedihnya jadi orang miskin," begitu kata salah satu teman Saf.


"Yee ... nggak gitu juga keles, namanya juga jodoh. Siapa yang tahu!" sangkal sahabat Saf.


Dan berbagai komentar antara pro dan kontra. Saf tidak peduli dengan komentar itu. Semenjak dosen yang kini jadi suaminya ini datang untuk mengajar di kelasnya.


Saf sudah menaruh hati. Ia begitu cemburu melihat antusias para perempuan, baik dari dosen dan anak kuliah di kampus. Berebut cari perhatian sang dosen.


Dalam setiap doanya, ia selalu menyelipkan nama Rendra, agar menjadi jodohnya. Siapa sangka, Allah mengabulkan doanya begitu cepat.


"Sayang. Terima kasih ya, sudah menerimaku," ujar Rendra dengan tatapan penuh cinta.


Saf membalas tatapan sang suami dengan mesranya.


"Aku yang beruntung, engkau memilih ku, Suamiku," balasnya.


Devan yang mendengar obrolan pengantin baru itu berdecih.


"Cis ... sok romantis!"


Aira yang menatap Devan tengah cemburu, hanya bisa tersenyum geli. Wanita itu sudah menunjukkan perutnya yang sedikit membuncit.


"Apa kau cemburu?" tanyanya.


"Tidak!" sangkal Devan, tapi matanya berkaca-kaca.


Sungguh, antara sedih dan bahagia bercampur menjadi satu. Adik bungsunya kini sudah menjadi milik orang lain.


Sesaat hatinya begitu sesak, jika saat ini dan seterusnya, bukan ia lagi yang bisa melindungi sang adik. Tapi, ia bersumpah.


"Aku akan menghabisimu jika kau menyakiti adikku, sedikit saja!" tekan Dev ketika membisikkan kalimat itu pada Rendra setelah ijab kabul tadi.


Rendra menatapnya penuh dengan keyakinan. Devan melihatnya.


Makanya saat ini hatinya merasa tidak karuan.


"Ikhlaskan, Sayang. Kau harus melepasnya," ujar Aira sambil mengelus punggung suaminya.


"Baik, sayang. Jika tidak sekarang, pastinya nanti juga aku harus melepaskan adik-adik perempuanku," ujar Devan sambil menyeka sudut matanya yang tiba-tiba berair.


"Oh ... so sweet nya suamiku," ucap Aira sambil mengecup pipi suaminya.


Devan menatap sang istri. Aira tergagap. Masalahnya tatapan sang suami berkabut gairah.


Gluk! Aira menelan saliva kasar. Wajahnya langsung merona merah karena malu.


"Sayang ... nanti malam boleh kan, aku ...."


"Tidak!" Aira menolak.


"Ayo lah sayang ... ya, ya?!" pintanya merajuk.

__ADS_1


"Berdosa loh, istri menolak keinginan suami!" ujar Devan memperingati.


Aira hanya bisa mendengkus.


"Aku akan pelan-pelan sayang ... boleh ya?" rengek Devan lagi.


Pria itu menarik wajah istrinya dengan jemarinya, hingga paras Aira menghadapnya.


"Sayang ...," panggil Devan.


Aira tersenyum lalu mengangguk, tentu tak ketinggalan dengan rona merah di wajahnya yang cantik.


"Yes!" sorak Devan tertahan.


Pria itu mengecup cepat bibir sang istri. Aira terbelalak, kaget.


"Ish ... nggak tahu tempat. Dasar mesum!" umpat Aira malu.


"Ck ... Aku mesum dengan istriku sendiri," ujar Devan membela diri.


"Yuk, kita bergabung dengan yang lain," ajak Aira.


Devan mengangguk, tiba-tiba matanya beralih pada dua sosok yang saling memperhatikan satu sama lain.


"Jak?" gumamnya pelan, ia sangat yakin jika ajudannya itu bersama dengan seorang wanita yang sangat dikenalnya.


Walau Devan yakin sikap Jak yang kaku. Tapi, melihat wanita itu tertunduk malu. Membuat Devan yakin, ada sesuatu di balik itu.


"Hmmm ... akan kulihat sejauh mana hubungan mereka," gumam Devan lagi pelan sangat pelan.


Aira yang melihat tatapan suaminya ke tempat lain, ikut memandang ke arah yang dilihat Devan.


Sayang. Aira tidak melihat Jak dan wanita yang menjadi sorotan sang suami.


Devan langsung berpaling pada raut istrinya yang sudah mulai merengut.


Devan terkekeh, geli. Pria itu merasa lucu dengan tingkah sang istri. Tapi, ia senang dengan kecemburuan Aira.


"Bukan siapa-siapa, Sayang," jawab Devan sambil mencolek hidung istrinya.


Aira mengerucutkan bibirnya.


"Sayang ... jangan kau majukan bibirmu. Jika tidak maka aku ....!"


"Iya-iya, maaf, Sayang," Aira yang mendengar ancaman suaminya langsung menipiskan bibirnya.


"Ah ... Aku tidak tahan lagi. Sebaiknya kita langsung pulang, Aku kangen dedek bayi!' ujar Devan langsung menggeret Aira untuk berpamitan pada kedua orang tuanya dan orang tua Rendra juga sepasang pengantin.


Aira hanya bisa pasrah. Ia mengikuti langkah suaminya yang terburu-buru. Aira seperti serasa digendong, karena tak merasa tapak kakinya menyentuh lantai.


Devan seperti membopong istrinya dengan satu tangan. Lalu berpamitan dengan alasan Aira kelelahan.


Mereka yang tahu kehamilan Aira langsung mengijinkan. Maka saat itu juga, Devan dengan sangat tergesa-gesa langsung menggendong sang istri ala bride style.


Semuanya hanya bisa menggeleng melihat tingkah laku Devan.Acara tetap berlangsung meriah walau Devan pergi dari sana.


*****


Devan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Aira sampai menutup mata ketakutan.


Sepanjang kehamilannya. Aira sedikit kalem dan menjaga emosinya. Walau ia memang berperawakan kalem dari dulunya.


Sampai mansion orang tuanya. Lagi-lagi Devan menggendong Aira dengan cara yang sama ketika meninggalkan pesta.

__ADS_1


Para asisten membukakan pintu. Melihat Tuannya menggendong Aira langsung tersenyum malu-malu sambil menutup mulut mereka.


"Sayang ...," Aira merajuk manja, ia langsung menyembunyikan wajahnya di ceruk leher sang suami.


Sampai kamar, Devan langsung mengunci pintu. Dengan hati-hati ia menurunkan tubuh sang istri ke ranjangnya yang besar.


Selanjutnya ... Skidipapap BumBum syalala ...


Devan dan Aira menyatukan cinta mereka dalam balutan gairah. Mereka memacu mencari kepuasan dalam bercinta.


Hingga satu titik keduanya mengerang penuh nikmat. Devan terguling di samping istrinya dengan penuh peluh di tubuhnya yang kekar.


Mereka saling berpelukan. Aira mengeratkan pelukannya.


"Sayang ... ijinkan aku mencintaimu sekarang dan selamanya," ujar Aira serak.


"Jangan minta ijin, Sayang. Kau adalah bidadari untukku. Dicintai olehmu adalah keberuntungan ku," balas Devan dengan kecupan-kecupan mesra pada istrinya.


"Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu!" ungkap Aira tulus.


"Aku juga mencintaimu. Sangat-sangat mencintaimu, Terima kasih telah memilihku," balas Devan kembali penuh ketulusan.


Aira memandang wajah suaminya. Netra mereka saling mengunci.


"Sayang ...," panggil Devan dengan suara serak.


"Iya, Sayang," jawab Aira lembut.


"Juniorku bangun lagi," bisik Devan penuh gairah.


"Lakukanlah, Sayang. Aira milikmu seutuhnya," ujar Aira juga berbisik, pasrah.


Malam itu. Devan merengkuh tubuh istrinya. Melakukan kembali penyatuan. Menumpahkan rasa cintanya pada wanita yang dulu nyaris ia abaikan.


Pria itu bersyukur, Aira memberinya kesempatan sekali lagi. Bahkan pandangan pemujaan juga kembali Devan dapatkan dari sang istri.


Devan menghentikan penyatuannya ketika melihat wajah Aira lelah. Walau hasratnya masih tinggi. Tapi pria itu sangat menghargai wanita yang mendampinginya nyaris satu tahun itu.


"Terima kasih sekali lagi, Sayang. Aku mencintaimu," ungkap Devan lirih sambil mengecup mesra kening Aira.


"Aira juga mencintai, Mas Devan," bisik Aira.


Mereka pun tertidur saling berpelukan dengan tubuh polos.


Hingga adzan subuh, mereka bangun. Membersihkan diri mereka dan melakukan kewajiban sebagai umat muslim.


Sebait doa terdengung dalam hati masing-masing, meminta pengampunan dosa, keselamatan dunia akhirat dan keutuhan rumah tangga, menjadi doa yang utama dipanjatkan pada yang Maha kuasa.


bersambung.


Wah... malam pengantin nya kek gimana yaaa


hehehehe...


Readers: katanya othor jomlo. Kok tahu malam pertama?"


Othor kebanyakan nonton anu .... šŸ˜‚šŸ˜‚šŸ˜‚šŸ˜‚


Readers: ih othor mesum!


et ... sex education itu bukan hal yang tabu loh...


Readers: ah ... ngeles aja kek bajaj!

__ADS_1


šŸ˜‚šŸ˜‚šŸ˜‚šŸ˜‚šŸ˜‚šŸ˜‚


__ADS_2