
Aira terbangun dengan tubuh serasa remuk. Bahkan nyeri di bagian area sensitifnya.
Ketika ia membuka matanya perlahan. Ia menatap wajah tampan yang terlelap dengan begitu bahagianya. Aira tersenyum.
Perlahan ia mengusap wajah tampan yang dipujanya itu. Entah, apa karena ia begitu sangat mencintai pria itu, hingga semua bentuk kekasaran sang suami lenyap seketika.
Terlebih perlakuan Devan padanya juga sangat manis. Aira telah mempersembahkan diri seutuhnya pada pria pujaannya.
Entah keberanian dari mana, Aira mengecup bibir Devan. Pria itu terkisap. Netranya langsung melebar ketika mendapati sang istri mencium bibirnya lembut.
Dengan sigap pria itu langsung membalas dengan *******. Aira terkejut, ia langsung memutuskan ciuman dengan menjauhkan wajahnya.
"Ehmm ... jangan berhenti, Sayang. Ayo, cium lagi," cicit Devan lirih dan serak.
Gairah Devan ikut terpancing.
"Sayang ... Kau harus tanggung jawab!' ujar Devan.
"Ap-apa! ke-kenapa Aira harus tanggung jawab?" Aira gugup.
Tangan Aira ditarik Devan, menyentuh bagian intinya yang mengeras lagi. Aira terlonjak kaget. Ia menarik tangannya menjauh. Tapi, genggeman erat sang suami tak bisa ia hadapi.
Aira hanya memejamkan matanya ketika Devan menuntun tangannya mengelus bagian yang menegang itu.
Devan mengerang. Di balik selimut. Dua tubuh yang masih polos tak berbaju kembali mengulang momen. Di mana cinta mereka menyatu.
Desahan dan hentakan mendominasi suara dalam kamar mewah itu. Bahkan tidak hanya sekali kejadian itu berlaku. Devan dan Aira melakukannya berkali-kali.
Hingga pada titik tertinggi. Mereka berdua mengerang kepuasan, lalu ambruk dengan penuh rasa bahagia.
"Sayang ... Kau hebat sekali, mampu mengimbangiku," ujar Devan menggoda Aira.
Wajah Aira makin memerah. Ia menenggelamkan kepalanya ke dada sang suami. Menyembunyikan wajah bak kepiting rebus. Devan tertawa.
Dengan lembut dan penuh cinta. Ia memeluk tubuh istrinya.
"Terima kasih telah menjaga semuanya untukku. Terima kasih telah memaafkan ku, dan terima kasih telah kembali memuja juga mencintaiku," ungkap Devan penuh perasaan. "Aku mencintaimu Aira Pramesti Irawan Buditama!"
__ADS_1
"Aku juga mencintaimu suamiku Devano Bramantyo!"
Mereka berdua saling tatap. Tidak ada yang bisa lagi memisahkan mereka kecuali maut. Aira dan Devan mempercayai itu.
Devan melihat jam di dinding.
"Sudah pukul 04.10 pagi. Sebaiknya kita bangun dan membersihkan diri, sebentar lagi subuh sayang," ujar Devan sambil menyibak selimut.
Pria itu berdiri dengan tubuh polosnya. Aira ikut bangkit. Tapi, ketika tubuhnya terasa sakit. Ia merintih.
"Sayang ... apa itu sangat menyakitkan?" tanya Devan khawatir.
Aira hanya memejamkan matanya. Tampak kesakitan di raut wajahnya yang cantik.
"Baiklah, aku duluan bebersih. Nanti aku menyiapkan air mandi mu," ujar Devan langsung bergegas ke kamar mandi.
Setelah selesai dengan urusannya. Devan keluar mengenakan baju bathrope berwana pink. Aira sedikit terkejut.
Devan menggendong Aira ala bride style. Ia kemudian menaruh tubuh istrinya dalam bathtub yang telah diisi air hangat dan aroma therapy.
"Cepat bersihkan dirimu. Aku menunggu!" titah Devan lembut tapi penuh ketegasan.
Setelah bersih, tubuh Aira berasa enakan habis berendam air hangat dan aroma therapy.
Ia langsung mengenakan dress selutut berwarna peach, kemudian mengambil mukena yang telah disiapkan.
Setelah itu wanita itu bergabung dengan Devan yang menjadi imamnya.
Aira terhanyut dalam kekhusyukan. Ia tak menyangka jika sang suami memiliki suara merdu ketika melantunkan ayat.
Usai sholat. Aira langsung mencium punggung tangan suaminya dengan takzim.
Devan mengelus kepala istrinya. Lalu mencium dengan lembut.
"Mas ... apa aku boleh setoran ayat padamu?" tanya Aira takut-takut.
Devan sedikit terkejut. Ia memang bukan penghapal Al-Qur'an. Dan permintaan Aira sungguh memberatkannya.
__ADS_1
"Bagaimana jika kita sama-sama belajar?" usul Devan, "sungguh hafalanku buruk sekali!"
Aira tersenyum lalu mengangguk menyetujui usul sang suami.
Devan memeluk istrinya penuh kemesraan.
"Sayang ... kita sama-sama belajar untuk berjalan ke ridho-Nya. Aku bukan pria suci yang begitu fanatik dengan agama. Aku pria dengan sejibun dosa. Apa kau masih sanggup berjalan bersamaku?" tanya Devan penuh pengharapan.
Aira menatap netra pekat di hadapannya. Netra yang dulu menusuk tajam dan dingin, kini berbuah lembut dan penuh cinta.
"Iya, Mas. Aira bersedia," jawabnya penuh keyakinan.
Devan tersenyum mendengar jawaban sang istri. Mencium bibir yang kini selalu menjadi rutinitasnya sehari-hari.
Tiba-tiba ponsel Devan berbunyi.
"Bisa tolong ambilkan ponselku Sayang," pinta Devan dengan lembut.
Aira bergegas mengambil ponsel suaminya di atas nakas dekat ranjang.
Setelah mengucap terima kasih pada istrinya. Devan langsung menggeser bulatan warna hijau setelah melihat siapa yang menelepon sepagi ini.
"Iya Ma, assalamualaikum!"
".....!"
"Baik, Ma. Aku dan istriku akan segera turun," jawab Devan.
"Iya Ma. Wa'alaikum salam!" Devan mengakhiri percakapan.
"Ayo kita turun. Semuanya menunggu kita untuk sarapan. Padahal baru juga jam enam," ujar Devan.
Aira merapikan alat sholat yang telah mereka pakai. Kemudian mereka turun ke bawah.
bersambung.
uh oh ...
__ADS_1
boleh dong kasih like and votenya... komen juga gpp.
makasih.