
Jak terhenyak mendengar ajakan Reena tadi. Ia menghentikan secara tiba-tiba mobil yang dikendarainya.
Mereka saling tatap. Netra bening Reena nampak berkaca-kaca. Jak sangat yakin pendengarannya masih baik.
"Ka-kau ... bilang apa tadi?!" tanya Jak belum yakin.
"Menikahlah dengan ku, Bang!' ungkap Reena.
Buliran bening tiba-tiba menetes, mengalir ke pipinya yang lembut. Jak segera menghapus air mata itu.
"Apa kau yakin? Kau tahu, aku hidup sebatang kara. Tidak punya apa-apa dan siapa-siapa di dunia ini," jelas Jak pada Reena.
Gadis itu menunduk. Jak menggenggam lembut jemari Reena.
"Lihat Abang, Dek. Sekali lagi, Abang tanya. Apa kau yakin dengan permintaan mu?" tanya Jak sekali lagi.
Reena mengangguk. Jak tersenyum mendengarnya.
"Jika kau tidak keberatan. Maukah kau menunggu sebentar lagi, Dek?" tanya Jak lagi dengan hati berbunga.
Sungguh pria itu ingin memeluk tubuh gadis itu, mungkin memberinya sedikit ciuman di bibir dan .....
'Sh ... astaghfirullah!' Jak nyaris mengumpat kasar.
"Baiklah. Aku harap kau menungguku, Dek!' ujar Jak meyakinkan diri setelah melihat Reena mengangguk.
Jak kembali melajukan mobilnya ke rumah. Sesekali mereka saling pandang dengan mengirim sinyal-sinyal cinta.
Pipi keduanya pun tak luput dari rona merah. Jak, pria kaku, datar dan dingin merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama.
Reena adalah gadis pilihannya waktu itu. Walau ia sendiri tak yakin bisa menggapai Reena. Tapi, mendengar gadis cantik yang kini berhijab itu meminta untuk menjadi suaminya. Jak tidak akan berpikir dua kali.
Pria tampan dengan tinggi 176cm itu. Sudah menyusun rencana untuk mempersunting gadis idamannya itu.
*****
Pagi ini, Reena kembali bekerja ditemani Jak. Kia sibuk menyusun berkas pekerjaan lain. Gadis itu juga sigap dalam bekerja.
Deo sesekali menatap Kia yang serius. Jujur pria berusia menjelang tiga puluh itu memiliki rasa pada gadis yang menjadi sekretaris atasannya itu.
__ADS_1
Hanya saja pria itu sedikit tahu diri akan statusnya sebagai duda anak satu.
Ya, Deo adalah duda. Wajahnya juga tampan dengan postur tubuh tegap berisi. Kulitnya sawo matang, eksotik. Hidungnya mancung, bibirnya tebal dan memerah, tanda pria itu tak menyentuh nikotin sama sekali.
Pria itu bercerai satu tahun lalu. Memiliki seorang putri yang cantik berusia 7 bulan. Mantan istrinya sudah menikah dan tengah mengandung.
Kini ia mengasuh putrinya, karena sang ibu kerepotan dengan kehamilan keduanya ini.
Hari ini Deo terpaksa membawa putrinya ke kantor. Ibunya sakit sedang mertuanya tengah pergi ke kota lain.
Maka di sinilah ia membawa semua peralatan bayi ke kantor. Reena dan Jak sedikit terkejut dengan keadaan kantor yang tiba-tiba ada box bayi dan matras tempat bermain.
"Maaf, Mba Reena. Saya, bawa putri saya, karena tidak ada yang menjaganya," jelasnya setengah memohon pada Reena.
"Ah ... tidak apa-apa, Pak Deo. Yang penting tidak mengganggu pekerjaan," ujar Reena dengan mata berbinar menatap bayi cantik yang kini tengah menyusu di dot.
"Iya, Mba sebisa mungkin, ini tidak mengganggu pekerjaan saya," ujar Deo dengan suara pelan.
Pria itu menepuk-nepuk pelan bokong putrinya. Yakin jika sang putri telah terlelap, pria itu menaruhnya ke dalam box secara hati-hati. Beruntung kantor itu kedap suara. Maka seberisik apapun di luar tidak terdengar ke dalam.
Setelah menaruh anaknya ke dalam box. Deo memberi kecupan pada pipi bayinya kemudian bergegas keluar untuk bekerja.
"Ih ... Kamu cantik banget sayang," puji Reena dengan suara pelan.
"Kamu juga cantik, Sayang," puji Jak pada Reena.
Sayang pujian itu hanya terbesit dalam hati Jak. Kemudian pria itu meninggalkan Reena yang asyik memandangi bayi mungil yang tertidur dalam box.
Kia datang membawa iPad nya. Gadis itu masuk dan melihat atasannya tengah tersenyum sambil memandangi sesuatu dalam box.
Kia mendekat dan langsung takjub ketika melihat ada bayi lucu tertidur dengan gemasnya.
"Aduh ... aduh ... lutunya ... ih, boleh cium nggak sih?" ujar Kia gemas.
"Ini putrinya Pak Deo," jelas Reena.
Kia hanya membulatkan bibirnya. Ia sedikit tahu status pria itu.
"Nona ... ini ada beberapa laporan tentang kerjaan kita di kota asal," ujar Kia sambil menyodorkan iPad nya.
__ADS_1
Reena mengambil iPad sambil berjalan ke kursinya.
Setelah duduk baru dia membaca laporan keseluruhan.
Saking seriusnya ia tak sadar jika bayi Pak Deo menangis, dan Kia yang langsung menenangkan sambil menggendong juga memberinya susu.
Setelah membaca, Reena mengalihkan pandangannya. Gadis itu takjub melihat sisi lain Kia.
Dalam pandangan Reena. Kia begitu sangat lembut dan keibuan.
Senyum terpatri dalam benak Reena. Ia tahu, Kia adalah tulang punggung keluarga.
Tapi, akhir-akhir ini, Reena rasa Kia hanya dimanfaatkan oleh keluarganya saja.
Gadis yatim piatu ini, tinggal bersama kakak kandung pria bernama Bondan.
Kakaknya Kia memang bekerja, tapi, semua kebutuhan rumah Kia lah yang memenuhi semuanya.
Reena ingat ketika Kia mengeluhkan sikap kakak iparnya yang sangat boros. Bahkan tak segan menyuruhnya bekerja membersihkan rumah padahal ia dalam keadaan lelah.
Kia ingin ada yang membawanya pergi dari rumah yang sudah dikatakan setengah neraka.
"Kia!" panggil Reena.
"Ya, Nona?!' sahut Kia setelah menaruh bayi cantik itu dalam box.
"Menurutmu, Pak Deo itu gimana?" tanya Reena tiba-tiba.
Semburat rona merah menyeruak pada pipi gadis itu. Reena tersenyum senang melihat reaksi Kia.
"Ehmm ... a .. kenapa Nona tanya itu?' tanya Kia sedikit malu-malu.
"Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin tahu kesanmu saja. Pak Deo ganteng ya," puji Reena.
Kia kikuk mendengar atasannya memuji pria lain. Sebenarnya ia tidak tahu apa yang ia rasakan saat ini. Hanya saja. Ia memang sedikit memperhatikan pimpinan proyek itu.
Suara bell istirahat berbunyi. Kia buru-buru keluar untuk membantu Deo memberikan makanan pada para pekerja.
Jak datang mengantar makan siang. Mereka pun makan bersama.
__ADS_1
bersambung.