Ijinkan Aku Mencintaimu

Ijinkan Aku Mencintaimu
IJINKAN AKU MENCINTAIMU 62


__ADS_3

Reena telah sembuh dari luka dan keterkejutannya. Ia makin hari makin bisa menenangkan dirinya.


Rehan membelikan sebuah rumah dengan gaya minimalis dekat lokasi pembangunan proyek.


Devan dan Jak telah kembali ke kota B untuk menyelesaikan pekerjaan mereka yang telah tertunda.


Tadinya Jak disuruh Rehan untuk menemani Reena. Pria itu tidak begitu yakin jika ke empat bodyguard bisa menjalankan kerjanya dengan baik.


Namun, Devan keberatan karena bantuan Jak sangat dibutuhkan saat ini. Devan berjanji akan segera menyelesaikan semuanya dengan sangat cepat.


Benar. Pekerjaan cepat selesai. Tapi, Jak yang disuruh Devan untuk menemani Reena selama proses pembangunan hingga 20%. Sedang saat ini pembangunan baru 8%.


Reena sangat dibutuhkan dalam pembangunan awal. Walau dirinya bukan lulusan arsitek. Tapi, Reena yang perfeksionis sangat menginginkan pekerjaannya sempurna dari awal.


Jak sampai rumah yang dibelikan oleh Tuan besarnya pukul 14.22..


"Assalamualaikum!" salamnya sambil membuka pintu.


Hari ini hari minggu, tentunya Reena di rumah untuk istirahat.


"Wa'alaikum salam," jawaban salam terdengar dari arah dapur.


Ternyata Kia yang menjawab salam.


"Oh Tuan Jak! Silahkan masuk Tuan!' ujar Kia kemudian.


Jak masuk ke dalam. Kesan asri dan hangat langsung menyambut kedatangannya. Hunian yang memang didesign untuk keluarga ini, benar-benar hangat bagi pasangan baru.


"Di mana Nona?" tanya Jak kemudian menghilangkan sepintas khayalan.


"Oh, Nona tadi masih baca al-qur'an, mungkin sebentar lagi turun," jelas Kia sambil memberikan secangkir kopi untuk Jak.


Jak duduk di ruang makan. Netranya mengedar memindai semuanya.


"Sungguh hunian yang nyaman," gumam Jak.


"Kenapa Tuan?"


"Ah ... tidak apa Kia. Lanjutkan pekerjaan mu!" Kia meninggalkan Jak.


Tak lama Reena turun dari kamarnya. Sungguh Jak terpesona, kecantikan Reena begitu memukau.


Reena yang mengenakan gamis berwarna biru, dengan pashmina dengan corak kupu-kupu kecil warna-warni.


Gadis itu benar-benar cantik, terlebih ketika air wudhu masih membekas di wajahnya yang teduh. Sungguh Jak tidak ingin berpaling pada apapun.


"Assalamualaikum, Bang! Baru sampai?" sapa Reena sambil bertanya.


"Wa'alaikum salam. Iya, Nona ... saya baru sampai,'' jawab Jak dengan bahasa formal.


"Hmm ... ini bukan kantor. Bisakah Abang tidak usah formal begitu," ungkap Reena enggan.


"Baik lah, Dek," ujar Jak sambil mengulas senyum.


Reena tertegun melihat senyuman Jak. Untuk pertama kalinya, ia mendapati pria kaku yang telah mengabdi pada kakaknya selama lebih dari lima tahun ini tersenyum.


"Abang bisa tersenyum?" pertanyaan bodoh terucap dari mulut gadis itu.


Melihat wajah polos adik atasannya itu, membuat Jak terkekeh geli.


"Abang juga masih manusia, Dek!" jawabnya sambil tersenyum lebar hingga menampakan giginya yang putih dan rapi.

__ADS_1


Reena mengamati wajah Jak, yang lelah. Ia tersenyum lalu segera memutuskan pandangannya.


"Abang sudah makan?" tanya Reena kemudian.


"Sudah tadi," jawab Jak sedikit kikuk.


Keduanya terdiam sesaat. Dalam keadaan seperti ini, keberadaan Kia entah di mana.


Jak begitu puas memandangi wajah ayu, Reena. Sedang gadis itu hanya bisa curi-curi pandang pada Jak.


"Kalau begitu, Abang istirahat dulu. Biar Ree antar ke kamar," ajak Reena sambil beringsut dari duduknya.


Jak mengikuti langkah Reena. Sungguh jantung keduanya kini berdegup kencang.


Setelah sampai kamar, Reena membuka tirai dan jendela.


"Ini lemarinya dan itu pintu kamar mandi. Kamar ini adalah kamar utama di lantai bawah. Abang bukan tamu, jadi ini tempat Abang!" jelas Reena tegas.


"Lalu jika Tuan besar dan Nyonya ingin menginap?" tanya Jak tak enak hati.


"Lantai dua semuanya lengkap, Bang!' jelas Reena lagi.


Jak hanya menghela napas. Memang keluarga Bramantyo tidak pernah membedakan siapapun. Bahkan Rehan sudah menganggap Jak seperti putranya sendiri.


Hanya pria itu saja yang membatasi dirinya, perihal perhatian keluarga itu padanya.


Karena melamun keduanya berjalan tanpa melihat satu sama lain. Hingga tubrukan pun terjadi.


"Ups ... maaf!" ujar keduanya sambil memegang lengan satu sama lain.


Reena dan Jak saling tatap. Netra mereka mengunci.


Jak mengelus lengan Reena. Netranya menjelajahi paras ayu gadis yang kini dalam sentuhannya.


"Nona!' sebuah teriakan menyadarkan keduanya.


Reena langsung menunduk. Sedang Jak langsung kikuk dan salah tingkah.


Reena bergegas keluar kamar Jak, untuk menghampiri Kia yang memanggilnya.


"Ada apa Kia!'


"Ah ini, Nona. Kita sepertinya harus ke lokasi proyek. Ada salah satu pekerja mengalami kecelakaan!' lapor Kia kemudian dengan wajah panik.


Reena terkejut mendengar hal itu.


"Bang ... Abang, istirahat aja dulu ya. Ree tinggal ada masalah sedikit di proyek!' ujar Reena ketika mendapati Jak keluar kamar.


"Saya ikut, Nona!" ujar Jak kemudian.


"Kamu ambil tas ku, cepat!' titah Reena pada Kia.


Kia melesat menuju lantai atas, mengambil tas dan ponsel atasannya.


Mereka semua menuju lokasi pembangunan. Reena yang memegang kemudi. Ia menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Kia yang duduk di belakang Reena hanya bisa menutup matanya, takut. Sedang Jak, duduk tenang dengan ekspresi datar.


Ketika sampai. Reena langsung turun tanpa memperdulikan apapun. Jak lah yang mengurus semuanya.


"Ada apa! Kenapa bisa terjadi!' tanya Kia panik.

__ADS_1


Salah seorang pekerja menjelaskan kejadian. Deo dan Jono kini berada di rumah sakit untuk menangani pekerja yang celaka.


"Bang Dodo emang sudah sakit dari kemarin, tapi, katanya dia mau lembur. Istrinya bentar lagi melahirkan, jadi dia butuh biaya," jelas pekerja itu.


Reena hanya menghela napas. Ia tahu, kehidupan yang sulit sering menimpa para pekerja lepas seperti Mang Dodo.


Mang Dodo adalah salah satu buruh lepas yang tidak terikat kontrak kerja. Di perusahaan pembangun seperti milik Deo ini memang hanya memiliki pekerja tetap yang sedikit.


"Baiklah. Terima kasih atas informasinya. Kalian lanjut kerja. Jika ada yang merasa lelah segera berhenti. Nyawa kalian jauh lebih penting!' ujar Reena memperingati para pekerja.


Semuanya kembali bekerja. Jono sudah kembali dari rumah sakit.


"Mba Reena, Mas Jaka, Mba Kia!" sapanya sambil mengangguk hormat.


"Bagaimana, Pak Jono, keadaannya?" tanya Reena.


"Alhamdulillah. Mang Dodo, hanya perlu istirahat total. Dia kena gejala thypus, semua sudah ditangani sama Pak Deo, sebentar lagi beliau sampai," jelas Jono panjang lebar.


"Nah ... itu Pak Deo!' seru Jono ketika melihat kedatangan Deo.


Usai memberi salam dan hormat pada atasannya. Ia langsung menjelaskan kejadian sebenarnya.


Ternyata informasinya juga sama dengan yang dijelaskan oleh salah satu pekerja tadi.


Reena mengangguk, kemudian ia bertanya di mana rumah Mang Dodo. Deo langsung memberi tahu.


"Kia kau tetap di sini ya, bersama para bodyguard. Aku dan Bang Jak akan pergi menjenguk Mang Dodo dan ke rumahnya," ujar Reena memberi perintah.


Ia mengeluarkan kartu peraknya.


"Kau ambil sejumlah uang di sini, minta salah satu mereka menemanimu!" titahnya lagi.


Kia mengambil dan langsung melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Reena ditemani salah satu bodyguard.


"Ayo, Bang!" ajak Reena tanpa sadar menggenggam tangan dan menariknya.


Tanpa sadar pula Jak membalas genggaman Reena dan mengikuti gadis itu.


Karena daerah ini telah dikuasai Reena. Maka gadis itu yang menyetir. Kini giliran Jak yang membeli buah-buahan. Tadinya Reena bersikeras untuk membayar, tapi langsung ditolak oleh Jak.


Bahkan pria itu juga membeli satu karung beras dan beberapa keperluan sembako untuk keluarga pekerja yang celaka itu.


Setelah menjenguk pekerja, mereka menyambangi rumah kontrakan di mana Mang Dodo tinggal bersama istri dan ke tiga anak mereka.


Kedatangan Reena dan Jak disambut tangis dan ucapan terima kasih. Reena miris melihat kehidupan Mang Dodo dan sekeluarga.


Anak mereka yang masih kecil-kecil. Butuh biaya yang tidak sedikit.


Itu lah kehidupan. Reena tidak bisa berbuat banyak Jika ia mengulurkan tangan hanya membantu kehidupan Mang Dodo.


Hal itu akan membuat lainnya iri. Kini, gadis itu hanya termenung sepanjang perjalanan pulang. Kali ini Jak yang menyetir.


"Apa kau ingin pulang atau ke proyek dulu, Dek?" tanya Jak.


Reena menghela napas berat. Lalu dilihatnya pria yang tengah menyetir itu.


"Bang, maukah kau menikah denganku?!'


"Ap-aa!'


bersambung

__ADS_1


terima Jak!


__ADS_2