
Hai masih ingat kisah Adinda yang tertangkap tangan hendak menjebak Devan? Mau tau cerita ketika ia dimaafkan dan diberi banyak surat perjanjian agar kedepannya tidak mengacau lagi? Yuk simak kisahnya.
********************
Adinda dan Biyan keluar dari hotel bertaraf internasional itu dengan wajah tertunduk menahan malu. Semua wartawan menyudutkan Biyan yang memanggil mereka untuk membuat malu seorang CEO.
Kesalahan mereka tidak bertanya siapa CEO itu. Ketika mengetahui jika mereka harus menangkap tangan seorang CEO yang sedang berbuat mesum. Mereka begitu antusias dan tidak bertanya lebih jauh.
Beruntung mereka belum melakukan siaran langsung. Jika iya, bisa jadi besok mereka akan menjadi gelandangan tanpa tujuan. Para wartawan itu tahu siapa orang yang barusan merek hadapi.
Jovan Dinata, sosok pria sukses, juga sangat tampan. Kehidupannya yang tidak pernah terlibat dengan perempuan membuatnya menjadi sorotan. Bahkan ada yang menyangka jika pria itu adalah Gay.
Namun, semua sirna ketika ia melihat sedang seranjang dengan seorang wanita tadi.
Sedang sosok CEO satunya adalah Devano Bramantyo. Pengusaha muda yang sangat sukses. Puncak kejayaannya kini sedang ada di atas. Bahkan pria berusia 27 tahun itu berapakah kali menyabet penghargaan sebagai pria pebisnis terkemuka versi majalah bisnis.
Semua pulang dalam pikiran masing-masing. Biyan dan Adinda kembali ke kota mereka dengan perasaan campur aduk.
Ketika sampai bandara. Tiba-tiba Adinda jatuh pingsan. Biyan segera membawanya ke rumah sakit. Dalam perjalanan, pria itu mendapati darah yang mengalir di kaki wanita itu.
__ADS_1
Biyan mengencang kan laju kendaraannya. Ketika sampai depan lobby rumah sakit. Pria itu langsung berteriak minta tolong.
Adinda segera ditangani oleh para medis. Biyan menunggunya di depan UGD.
Seorang dokter keluar. "Pasien harus dikiret. Kandungannya lemah dan tidak bisa bertahan."
"Lakukan apa yang menurut Dokter baik!" ujar Biyan memutuskan.
Ada satu kelegaan dalam hatinya. Keguguran Adinda tidak akan menyeretnya untuk bertanggung jawab lebih dengan menikahinya.
Dua jam sudah Adinda di ruang UGD. Dokter keluar sambil bernapas lega.
"Alhamdulillah, semuanya lancar. Pasien kini bisa dibawa ke ruang perawatan. Anda sebagi suami, harus terus mendampinginya," jawab dokter panjang lebar.
Biyan tidak menanggapi. Pria itu hanya menatap wajah Adinda yang kini didorong ke ruang perawatan. Biyan meminta ruang kelas VIP. Tentu saja. Sebagai model yang kini tengah naik daun. Biyan tetap menjaga privasi dari model yang ditanganinya ini.
Perlahan Adinda membuka mata. Dahinya mengernyit menahan sakit. Ketika matanya terbuka, ia melihat Biyan ada di sana.
"Apa dia sudah tidak ada?" tanyanya sambil mengusap perutnya.
__ADS_1
Biyan mengangguk. Adinda hanya menghela napas sebentar. Tidak ada guratan kesedihan ataupun rasa kehilangan terpaut di wajahnya.
"Kata Dokter. Kamu harus istirahat selama beberapa hari, aku sudah mengajukan cuti. Setelah ini, kau bisa melanjutkan aktivitas mu kembali," jelas Biyan panjang lebar.
Adinda hanya mengangguk. Wanita itu kembali memejamkan matanya.
"Aku pamit dulu. Mau pulang dan bersih-bersih," ujarnya.
Tanpa menunggu jawaban dari Adinda. Pria itu pergi dari sana, meninggalkannya.
Ketika Biyan pergi. Setitik air bening menetes di pipi Adinda. Bergegas ia menghapusnya dengan kasar.
"Tidak ada yang perlu disesali. Semua sudah terjadi. Mestinya aku senang, karena Devan atau pun Jovan tidak jadi menghukumku," ujarnya bermonolog.
"Setidaknya, aku masih bisa melakukan kegiatanku sebagai model."
Adinda menghirup oksigen dengan rakus. Kemudian ia memejamkan mata untuk menyegarkan tubuh juga pikirannya.
bersambung
__ADS_1