Ijinkan Aku Mencintaimu

Ijinkan Aku Mencintaimu
IJINKAN AKU MENCINTAIMU 45


__ADS_3

Esok hari nya Aira sudah menjenguk Ken. Walau belum jam besuk, tapi jika istri dari pemilik rumah sakit datang, mereka hanya bisa mempersilahkan saja bukan.


Aira bersamaan datang dengan Tiana yang mengendarai motor besarnya.


"Hai Beb!" sapa Tiana.


"Assalamualaikum, selamat pagi Dok!" Aira membalas jawaban Tiana sambil memutar matanya malas.


Tiana hanya nyengir. Ia merangkul sahabatnya, sambil menjawab salam dari Aira.


Ketika sampai lobby rumah sakit, mereka bertemu dengan Sean, papanya Aira.


"Assalamualaikum, selamat pagi Pa!" sapa Aira sambil mencium punggung tangan papanya, diikuti oleh Tiana.


"Wa'alaikum salam, Sayang. Kalian sudah datang?" tanya Sean sambil mengusap kepala keduanya bergantian.


"Iya, Pa. Aira akan menjenguk, Ken sambil membawa makanan dan ganti untuk Mas Devan," jawab Aira panjang lebar.


"Oh, saya harus absen dulu. Maaf, saya tinggal dulu. Assalamualaikum," ujar Tiana tiba-tiba ketika ia melihat jam di pergelangan tangan kirinya.


"Wa'alaikum salam," jawab Aira dan Sean bersamaan.


"Ayo, sayang. Papa juga ingin menjenguk Ken, sambil bertanya tentang kronologi kejadian," ajak Sean merangkul putrinya, sayang.


Dengan manja, Aira bergelayut melingkarkan tangannya pada pinggang sang ayah. Sedang tangan sebelahnya masih menenteng paper bag berisi pakaian dan makanan untuk Devan.


Setelah sampai, mereka langsung masuk dan bertemu lagi dengan Tiana yang tengah memasang kembali infus dan mengganti kantong darah yang telah kosong.


Ternyata Ken kehilangan banyak darah.


"Pasien banyak kehilangan darah diakibatkan pasien yang sudah kelelahan dan faktor pendukung lainnya. Hari sudah menjelang pagi, pasien belum terisi makanan apapun terlebih tubuhnya diforsir tenaga ekstra besar melumpuhkan belasan penjahat," jelas Tiana panjang lebar, ketika ia ditanya perihal Ken yang kekurangan pasokan darah.


Devan, Aira dan Sean mengangguk. Sedangkan Ken hanya menatap dokter cantik itu penuh arti.


"Gadis pemberani," gumamnya lirih masih terdengar oleh semuanya.


Tiana hanya tersenyum. Lalu, ia bergegas meninggalkan ruangan setelah ada panggilan darurat.


"Kok, aku bangga ya jadi sahabatnya?" sorak Aira kagum melihat kegesitan sahabatnya itu.


"Jangankan kau, Nak. Papa saja kagum melihat gadis selincah dan secerdas dia," ujar Sean semringah.


"Dia bertindak cepat, dan langsung bisa memprediksi jika Ken akan kehilangan banyak darah. Ternyata mendengar penjelasannya, aku jadi kagum dengan sahabatmu, Sayang," puji Devan lagi.


Netra Aira berbinar mendengarnya. Ia memang tak salah bergaul dengan Tiana, gadis yang dari dulu bersamanya melewati suka duka masa kuliah.


"Dia akan kujadikan istri!" ujar Ken tiba-tiba.


Semua terperangah mendengar penuturan Ken.


"Kau bisa lakukan itu nanti, sekarang kau harus pulih dulu," ujar Devan dengan pandangan tak percaya.


"Oh ya, Dev. Bisa kau ceritakan apa yang terjadi?" tanya Sean mengalihkan pembicaraan.


"Aku tak tahu pasti, tapi menurut laporan Andreas. Mereka tidak menginginkan pembangunan di sekitar danau, Pa," jawab Devan lurus.


Sean mengangguk, "lalu siapa yang menembak Ken?" tanyanya.

__ADS_1


"Aku bukan ditembak, tapi, Andreas yang akan ditembak. Jadi secara reflek aku menjadi tameng untuk Andreas," kini Ken yang menjawab pertanyaan Sean.


Devan mengangguk membenarkan jawaban Ken.


"Siapa yang menembak mu?" tanya Sean lagi.


"Siapa, sondet apa ..."


"Mang Codet," Devan membenarkan jawaban Ken.


Sean termenung sebentar, nama itu seakan tak asing baginya. Kemudian ia tersenyum miring.


"Jangan khawatir Ken, aku akan membawanya padamu," ujar Sean sinis dengan mata menerawang.


Aira yang tidak mengerti, hanya membiarkan semuanya.


"Jangan melanggar hukum Pa," ujar Aira mengingatkan.


"Jangan khawatir, Sayang. Ketika Ken sembuh, Papa akan membawanya ke tempat di mana hukum tidak ada," ujar Sean menenangkan putrinya.


"Memang ada tempat itu?" tanya Aira bingung.


Sean hanya tersenyum lalu mengusap kepala Aira penuh kasih sayang.


Devan mengambil baju salinnya. Membersihkan diri sebentar, setelah selesai, ia keluar dari kamar mandi.


"Papa mau bawa Ken kemana?" tanya Devan.


Ternyata ia masih bisa mendengar perkataan Sean, sang papa mertua.


"Aku akan mengajakmu turut serta, Dev," ujar Sean sambil tersenyum.


"Ayo sarapan, beruntung sekali, Aira tadi bawa banyak makanan," ujar Aira langsung menyiapkan makanan di meja.


"Aku mau makanan mu, Ra!" ujar Ken manja.


"Hentikan tingkahmu Ken. Kau membuatku jijik!" Devan menggerutu.


Ken terkekeh mendengar gerutu Devan. Aira mengabaikan apa yang Devan katakan. Ia juga memberikan makanannya pada Ken.


"Kau tidak makan, Sayang?" tanya Devan ketika melihat Aira memberikan makanannya pada Ken.


"Aira sudah sarapan tadi, Sayang," jawab Aira sambil tersenyum.


Mereka pun makan dalam diam. Selesai makan, Aira membereskan peralatan makan.


"Oh ya Dev, apa boleh Aira bekerja di perusahaan Papa, secara dia adalah pewaris satu-satunya," ujar Sean meminta pada Devan selaku suami putrinya.


Devan diam sejenak. Ia sebenarnya tidak menginginkan Aira bekerja. Tapi, ia tidak ingin egois. Maka, dengan pemikiran matang, ia mengangguk.


Sean tersenyum lega. Akhirnya, ia bisa pensiun dini. Putrinya akan menggantikan kedudukannya.


"Besok akan ada wawancara pengesahan jabatan untuk Aira. Jadi, Papa mohon kau ikut dan membimbingnya," ujar Sean.


Devan mengangguk, sungguh kebanggaan terbesar menjadi salah satu pionir perusahaan yang jauh lebih besar kekuasaannya.


"Max akan sedikit membantu kalian, dia sudah mengabdi lama pada Opa mu," jelas Sean lagi.

__ADS_1


"Apakah ada jabatan penting untukku?" tanya Ken tiba-tiba.


"Hei, apa semua perusahaan mu tidak penting?" tanya Devan kesal.


Ken hanya mengangkat dua jari membentuk V. Pria tampan itu terkekeh geli.


Devan hanya mendengkus kesal. Sean tersenyum melihat keakraban keduanya.


Suara ponsel berbunyi.


"Ah ... ponselku berbunyi," ujar Sean.


"Halo!" lanjutnya dengan suara datar dan dingin.


"...."


"Baiklah, kerja bagus. Letakkan dia di ruang penyiksaan!" titah Sean dengan tatapan dingin.


Devan terperangah. Ia baru saja melihat sosok yang menyeramkan dari sisi Sean.


'Ruang penyiksaan? Siapa yang disiksa?' tanya Devan dalam hati.


"Ken cepatlah sembuh. Orang yang membuat masalah sudah ditangkap," ujar Sean sambil tersenyum miring.


Kilatan mata sadis tertangkap oleh Devan.


' Waw, gerakannya lebih cepat dari dugaanku. Bahkan Jak, tidak bisa secepat itu!: puji Devan dalam hati.


Tiba-tiba bunyi ponsel kembali berdering. Kali ini milik Devan yang berbunyi.


"Maaf, permisi sebentar," ujar Devan sambil menggeser bulatan hijau pada layar.


"Halo, kenapa Jak?"


"....."


"Ah, tidak apa-apa. Dia sudah berada ditangan yang tepat. Bagaimana kau bisa tahu jika Papa Sean yang menangkap kroco itu?" tanya Devan.


"......."


"Ah kau ternyata hebat juga. Baiklah lanjutkan kerjaan lainnya Jak!" titah Devan sambil memuji kinerja Jak.


Sean bingung, Devan yang mengerti kebingungan Sean langsung menjelaskan kinerja Jak.


"Wah, ajudanmu boleh juga. Aku sepertinya harus lebih berhati-hati," ujar Sean sambil tersenyum kagum.


Devan hanya terkekeh. Tiba-tiba Tiana datang. Tak terasa hari sudah siang.


Tiana mengecek semua kondisi Ken. Setelah tidak menemukan hal-hal yang tidak baik. Ia segera meninggalkan ruangan sambil tersenyum.


"Ah ... Aku merasa bahagia dan tenang. Ternyata putriku di kelilingi oleh orang-orang hebat," puji Sean sambil menghela napas lega.


bersambung.


wokeeee deh....


boleh dong jempolnya... apa lagi ngasih vote.

__ADS_1


makasih.


__ADS_2