Ijinkan Aku Mencintaimu

Ijinkan Aku Mencintaimu
IJINKAN AKU MENCINTAIMU 54


__ADS_3

Di tempat lain. Devan, Ken, Jak dan Sean menatap orang-orang yang ditangkap.


Sean begitu senang melihat hasil kerja Jak dan Ken yang langsung bergerak cepat.


Devan kini mengerti apa kata papa mertuanya, tentang tangkapan besar. Bahkan beberapa oknum pejabat dan petinggi ikut tertangkap.


Kesemua tersangka dalam keadaan bersimpuh. Kepala mereka ditutupi kain berbentuk kantong warna hitam.


"HEI ... LEPASKAN. KALIAN TIDAK TAHU BERURUSAN DENGAN SIAPA!" bentak salah satu sambil terus berusaha berdiri.


Namun, lagi-lagi anak buah Sean menginjak kaki orang tersebut hingga terus terjatuh.


Jak yang sudah menahan dirinya sedari tadi, melangkah mendekati orang yang berteriak tersebut.


Jak memukuli berkali-kali hingga teriakan-teriakan terdengar dari mulut orang itu.


Seperti kesetanan. Jak terus memukuli hingga buku tangannya terasa nyeri, sedang orang yang habis dihajar pria berwajah datar itu sudah tak sadarkan diri.


"Cukup Jak!" Jak menghentikan tingkahnya ketika mendengar perintah Ken.


Jak mengibas-ngibaskan tangannya yang nyeri. Tampak buku tangannya sedikit lecet.


"Buka topengnya!" titah Sean.


Anak buah Sean membuka topeng pria malang itu. Wajahnya hancur dengan darah dan lebam.


Hidung patah, pelipis, bibir dan beberapa bagian lainnya sobek. Sean sedikit bergidik ketika melihat rahang pria yang dihajar Jak itu ada yang hancur.


"HEI KATAKAN DI MANA INI!" lagi-lagi salah satu dari mereka berteriak.


Devan sedikit mengenali suara pria yang tengah berteriak.


"Tuan Toni?" gumamnya.


Sean mendengarnya. Wajahnya makin bahagia.


"Jauhkan diri kalian. Biar aku yang menanganinya. Aku tidak mau kalian tercoreng akibat penangkapan ini," titah Sean.


"Tapi, Pa!' Devan sedikit mengelak.


"Papa tidak mau, identitas kalian dikenali olehnya, kalian masih aktif di dunia luar sana, sedangkan Papa sudah lama sekali tidak pernah muncul," jelas Sean lagi.


"Tuan Buditama jangan khawatir. Saya sudah menyiapkan itu semua," ujar Jak.


Sean menatap Jak, tidak suka.


"Turuti kata Papa, Jak!" ujar Devan akhirnya menuruti titah Sean.


"Aku juga punya cara yang akan menghancurkannya," ujar Sean lagi.


"Mana!" Sean menengadahkan satu tangannya.


Seorang anak buah Sean menyerahkan sebuah ponsel dan beberapa berkas.


"Kau lihatlah ini!" titah Sean.


Devan mengambilnya. Netranya melebar melihat apa yang terdapat pada amplop itu.


Foto-foto perselingkuhan Toni dan seorang wanita yang sangat dikenalnya.


"Adinda?" gumamnya lagi.


Sean menatap wajah menantunya, heran.


"Kau mengenalnya?" tanya Sean.

__ADS_1


"Siapa?" Devan berbalik bertanya.


"Wanita yang berciuman dengan pria itu?!" jawab Sean.


"Dia bekas model brand ambassador di perusahaan ku dulu," jelas Devan enteng.


"Kau tahu, pria itu membunuh wanita itu dengan memaksa menggugurkan kandungan hasil hubungan mereka," ujar Sean panjang lebar.


Devan sedikit terkejut, bahkan juga Jak. Ken yang tidak tahu menahu hanya mengendikkan bahunya.


"Wah ... benar kah?" tanya Devan lega.


Sean abai dengan perubahan wajah Devan.


"Kau lihat rekaman pada video ini!" titah Sean lagi.


Devan mengambil ponsel dari tangan mertuanya. Beberapa menit kemudian ia disuguhkan oleh beberapa adegan mesum Adinda dan Toni dengan berbagai pose.


"Lihat video yang berdurasi hanya sepuluh detik!" ujar Sean lagi.


Lagi-lagi Devan mengikuti perintah Sean. Di video itu. Terlihat bagaimana Toni menendang berkali-kali perut Adinda, hingga darah berceceran di sela-sela kaki wanita itu.


Video terhenti. Jak hanya bungkam melihat video itu. Sedang Devan hanya berekspresi datar. Ken malah abai.


"Aku mengirim kopian ini pada seorang hacker. Dalam hitungan satu ... dua ... tiga!" tiba-tiba Sean berhenti berbicara.


"Video terakhir sudah tersebar di dunia maya," lanjut Sean.


Ken yang penasaran mengambil ponsel dari sakunya. Dan, benar saja. Video tentang pembunuhan wanita hamil tersebar.


Wajah Toni tersebar luas, sedangkan wajah wanita itu disamarkan.


"Buat pria itu pingsan, hapus ingatannya tentang penculikan ini!" titah Sean lagi.


Salah seorang langsung membawa pria bernama Toni. Toni langsung dibekap dengan sapu tangan yang telah diberi obat bius dosis tinggi.


Devan, Jak dan Ken sedikit bergidik ngeri menatap Sean.


"To-tolong, lepaskan saya!" tiba-tiba suara wanita terdengar.


Semuanya menoleh asal suara. Sean makin tersenyum sinis.


"Dia bernama Armeta Hidayat. Wanita itu sangat licik. Dialah yang mengupah para preman untuk menggangu Reena," jelas Sean.


Rahang Jak mengeras. Masalahnya, ia bolak-balik bertemu dengan wanita itu. Ia sama sekali tertipu dengan wajah manis dan murah senyum yang dimiliki Armeta.


Terlebih, wanita yang menduduki sebuah jabatan penting di kota ini. Sangat dermawan dan sering mengadakan acara sosial.


"Semua itu hanya kedok, Jak!" ujar Sean yang seakan mengetahui apa yang pria itu pikirkan.


Jak terkejut, kini ia justru mengagumi sosok pria yang menjadi ayah dari istri atasannya itu.


"Apa kalian ingin menghabisinya?" tanya Sean lagi.


"Aku sedikit bosan, Pa!" ujar Devan tiba-tiba.


"Tentu saja. Tapi, aku senang kau tidak langsung turun tangan untuk menghajar mereka," ucap Sean bangga.


"Istriku sedang mengandung. Aku tidak ingin bayiku kenapa-napa, jika Daddy-nya berbuat yang iya-iya!" jelas Devan sambil tersenyum miring.


Sean terkekeh. Ia merangkul pundak Devan.


"Papa senang, Aira berada di tangan yang tepat," ucap Sean tulus.


"Jak, apa kau ingin bersenang-senang?!" tanya Devan tanpa melihat wajah ajudannya itu.

__ADS_1


"Saya sangat terhormat dengan itu Tuan," jawab Jak, lalu menutup wajahnya dengan topeng.


Jak membuka penutup wajah Armeta. Wanita itu begitu ketakutan melihat sosok pria bertubuh tegap mengenakan topeng.


(jarak antara para tersangka dengan Devan, Sean dan Ken sejauh 4 Meter. Posisi tersangka berada di bawah sedang ketiga orang dan beberapa anak buah berada di atas dan dihalangi oleh kaca yang melengkung. Hingga di pastikan para tersangka tidak melihat ketiganya.).


Jak menghajar wanita itu persis yang dilakukan para preman pada nona mudanya.


Armeta tentu menjerit kesakitan Wanita itu berlari menghindar. Sayang, kakinya yang terikat rantai tak bisa berbuat banyak untuk berlari.


Armeta berkali-kali jatuh ketika berusaha menghindari pukulan Jak. Hingga tak ayal, bajunya yang mahal dengan branded terkenal kotor.


"Jangan pukul saya! Akan saya berikan apapun yang kau minta!" ujar Armeta berusaha bernegosiasi.


Jak yang mendengarnya makin geram. Betapa ia ingat wajah wanita yang sudah terpatri di hatinya babak belur. Jang berdengkus. Jika saja topengnya ia buka. Maka terlihat wajah Jak yang murka.


Di atas sana Devan geram. Ia ingin sekali turun dan menghajar wanita itu. Tapi, lagi-lagi ia teringat istrinya yang tengah mengandung.


Selang beberapa menit. Devan tak bisa menahan amarah. Ia mengenakan topeng yang tersedia. Kemudian turun ke bawah.


Jak yang melihat Tuan muda nya. menghentikan pukulan. Wanita itu sudah terkapar tak berdaya. Jak menahan kekuatan untuk memukuli Armeta.


Secara kasar, Devan menarik kerah baju Armeta, hingga kancingnya terlepas dan memperlihatkan dua gundukan di sana.


Bukannya tergoda. Devan malah makin berang. Dengan ganas pria itu menampar berkali-kali wajah Armeta yang sudah babak belur.


Armeta sudah tak sadarkan diri. Devan melempar tubuh wanita itu seperti sampah.


Tanpa suara Jak mengajak tuannya meninggalkan Armeta.


Sampai di atas, Sean hanya tersenyum simpul. Sedang Ken hanya menatap malas.


"Ck ... kenapa harus wanita sih yang jadi otak utamanya. Tidak mengasikkan sama sekali!' gerutu Ken.


Sean tertawa nyaring mendengar gerutuan Ken.


"Aku dengar kau menghajar belasan anak buah para mafia di sini beberapa hari lalu?" ujar Sean sedikit bertanya.


Ken hanya tersenyum kecut.


"Salah seorang anak buahku jadi korban," jelas Sean datar.


Ken mengangkat dua jari membentuk V.


"Maaf, Pa" cicitnya.


Sean tersenyum. Memang, ia menyuruh Ken juga memanggilnya papa.


"Tidak apa-apa, kau malah meringankan beban ku," ujar Sean sambil tersenyum.


"Lalu, apa yang Papa lakukan pada Armeta?" tanya Devan, "apa sama dengan Toni tadi?"


Sean mengangguk membenarkan perkataan Devan.


"Tapi, aku tidak membuatnya hilang ingatan biasa," jawab Sean.


"Lalu?" tanya Devan.


"Aku akan membuatnya gila," jawab Sean tersenyum sinis.


Devan, Jak dan Ken terperangah mendengar jawaban Sean. Kini mereka semakin menghormati Sean karena kekejamannya melebihi mereka bertiga terlebih Ken, yang dijuluki manusia iblis.


bersambung.


woke minta votenya dong... pen rasain kisah ini jadi trending topik gitu.

__ADS_1


makasih


__ADS_2