
Mentari pagi telah bersinar. Hari ini, semuanya berkumpul di meja makan.
Aira yang tengah mengandung lima bulan, makin menunjukkan bobot badannya.
Reena keluar dari lift, berjalan dengan langkah tegap, menghampiri keluarganya.
"Selamat pagi Pa, Ma, Kak Devan, Kak Aira!" sapanya sambil tersenyum manis.
Semua menoleh ke arahnya. Aira yang lebih dulu menyuarakan kekaguman. Sedang yang lainnya tampak terpaku dan terpana.
Reena mencium pipi semuanya. Sambil tetap mengembangkan senyumnya.
"Assalamualaikum!"
Jak datang dengan untuk menjemput atasannya. Netranya langsung terpaku pada sosok cantik yang tengah berdiri dengan senyum manis.
Sempat ia tak mengenali gadis itu, sebelum Reena membalas salamnya.
"Wa'alaikum salam, Bang Jak!"
Reena kini berpenampilan baru. Mengenakan tunik berwarna krem dipadu dengan celana bahan berwarna coklat tua. Tak lupa, pasmina berwarna senada dengan celana menutupi mahkotanya dengan sempurna.
"Sayang ... Kau merubah penampilanmu?" tanya Linda, sang mama takjub.
"Inshaallah, Ma. Minta doanya agar, Ree Istiqomah," jawab Reena lagi-lagi tersenyum.
"Bik Dina! Tolong beri tahu Pak Dan, untuk menurunkan koper dan beberapa kardus di atas dong!" pinta Reena dengan suara lembut.
"Dik ...," cetus Jak sangat pelan memanggil Reena.
Sayang, cetusan spontan Jak tak didengar gadis yang kini, lebih banyak menundukkan pandangan ketika bertatapan dengannya.
Devan mengamati semuanya. Bahkan ia mendapat laporan dari orang kepercayaannya, jika Jak dan adiknya kini memiliki rasa.
Namun perubahan Reena membuatnya, sedikit sanksi.
"Mas ... boleh nggak, aku berpakaian seperti Ree?" tanya Aira seakan meminta ijin pada sang suami.
Devan langsung mengalihkan pandangannya. Netranya yang pekat menatap mata Aira. Dilihatnya sebuah kesungguhan di sana.
"Jika kamu bisa Istiqomah dan bertanggung jawab dengan apa yang kau pakai, aku setuju-setuju saja," jawab Devan tegas.
Aira tersenyum, ia harus memantapkan hatinya. Sungguh perubahan Reena membuka hatinya untuk lebih baik lagi menjadi seorang muslimah.
"Mama, senang melihat kamu seperti ini sayang. Mama jadi malu sendiri. Mama yang sudah setua ini belum mendapat hidayah," ujar Linda sedikit merasakan penyesalan.
"Nggak apa-apa, Ma. Mungkin lewat Ree, Mama bisa mengambil hidayah dari Allah," jelas Reena bijak.
Linda memeluk putrinya penuh rasa sayang. Sedang Rehan hanya bisa tersenyum dengan mata berkaca-kaca penuh keharuan.
Ia juga sedikit menyesal, tidak begitu menyelami agama. Ia tak banyak mengajar soal kesalihan.
"Hei ... kenapa semuanya jadi berhenti. Ayo, sarapan. Jak, duduk sini, kita sarapan!" titah Rehan kemudian.
Jak menatap Devan. Biar bagaimanapun, Devan adalah atasannya. Ia hanya menurut jika atas ijin Devan.
"Jangan kau lihatin, Bossmu itu, Jak. Aku yang menyuruhmu, dan dia tak berhak melarang ku untuk itu!" titah Rehan lagi kini dengan suara agak keras.
Devan menganggukkan kepala.
"Baik, terima kasih Tuan besar!' ujar Jak, lalu mengambil tempat duduk.
Entah bagaimana, sepertinya Dewi cupid mengatur semuanya. Jak duduk bersebelahan dengan Reena.
"Bang Jak, ingin sarapan apa? biar Ree ambilin!"
"Ti ...."
__ADS_1
"Biarkan Reena melayanimu, Jak!" lagi-lagi Rehan memberi titah yang tidak bisa dibantah.
Jak mengangguk hormat. Sungguh ia berusaha mati-matian untuk menetralisir degup jantungnya saat ini.
"Ree ambilkan nasi goreng, ya!' ujar Reena yang dijawab anggukan oleh Jak.
Setelah Reena memberikan piring berisi nasi goreng pada Jak. Secara tak sengaja tangan mereka bersentuhan, ketika Jak mengambil piring itu dari tangan Reena.
Netra mereka bertemu. Untuk sesaat pandangan mereka saling mengunci. Jantung keduanya seperti melompat-lompat keluar dari sarangnya.
"Maaf," cicit Jak.
Reena hanya mengulas senyum dengan bias rona merah di wajahnya. Kejadian itu tidak luput dari pandangan semuanya.
Mereka langsung memasang wajah tidak mengetahui apa-apa, ketika Jak menyadari dirinya tengah diamati.
Selesai sarapan, para pria langsung berangkat ke kantor. Rehan berangkat bersama supirnya. Sedang Devan bersama dengan Jak yang diantar supir ke area pembangunan proyek danau.
Sampai sekarang, Devan belum memberi tahu akan proyek besar untuk istrinya itu.
Devan dan Jak datang bersamaan dengan Ken.
"Assalamualaikum, Kak, Jak!" salamnya.
"Wa'alaikum salam, Ken," balas Devan sedang Jak hanya memberi anggukan hormat.
"Aku dengar kau tengah melakukan therapy pada lenganmu itu. Bagaimana hasilnya?" tanya Devan sambil berjalan santai menuju kantor.
Semua pekerja yang ada di sana, langsung memberi salam pada ketiga atasannya.
"Selamat pagi Pak Dev, Pak Ken dan Pak Jak!"
Semua dibalas dengan anggukan kepala oleh ketiganya.
"Maaf Pak, ini ada masalah di pembangunan sektor D. Salah seorang pekerja mengalami kecelakaan kerja tadi malam," lapor salah seorang mandor sedikit takut-takut.
Mata Devan dan Ken langsung berubah kelam.
Wajah mandor langsung pucat. Tubuhnya bergetar ketakutan.
"Ka-kami sudah menangani pekerja langsung ke klinik setempat, Pak," jelasnya dengan suara bergetar.
"Brengse*!" umpat Ken.
"Sekarang bagaimana keadaannya?" tanya Devan meredam semua emosinya.
"Ka-kami belum tau, Pak," cicit sang mandor ketakutan.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi sang mandor. Ken begitu kesal, karena mandor tersebut tidak menunggui pekerjanya hingga mengetahui keadaan sang pekerja yang celaka.
Sang mandor yang ketakutan hanya bisa pasrah. Ia tahu apa kesalahannya.
Sebuah dering ponsel terdengar. Ken melihat jika ponsel si mandor yang bersuara.
"Angkat telepon mu!" titah Ken.
Dengan tangan gemetar dan pipi panas serta kepala yang sedikit pusing akibat tamparan dari atasannya.
Pria tambun itu mengangkat ponselnya.
"Ha ... Lo"
Ken yang sangat kesal langsung merebut ponsel jadul milik mandor itu.
"Lelet! Ya, halo!"
__ADS_1
"Maaf Pak, pasien kini tiba-tiba drop, kami tidak memiliki peralatan lengkap. Pasien harus dibawa ke rumah sakit besar," jelas seseorang di ujung telepon.
"Cepat bawa pasien ke rumah sakit Mitra Persada!" titah Jak.
"Tapi klinik kami tidak memiliki akses ke rumah sakit tersebut!" ujar seseorang di sana mengagetkan Ken.
"BAGAIMANA BISA KLINIK KALIAN TIDAK MEMILIKI AKSES! APA KLINIK KALIAN ILEGAL!" bentak Ken kemudian.
Makin takutlah mandor itu. Sebenarnya ia membawa ke klinik yang sedikit jauh dari pusat kota. Klinik itu sangat murah biaya perawatannya.
Tak ada jawaban di sana. Makin beranglah Ken dan Devan.
"Jak!" panggil Devan.
"Saya, Tuan," Jak langsung datang menghampiri.
"Cari lokasi klinik tersebut. Bawa ambulan dari rumah sakit untuk menjemput pekerja itu!" titah Devan panjang lebar.
Jak langsung mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Devan, setelah ia memaksa mandor untuk mengatakan di mana letak klinik tersebut.
"Ken, selidiki klinik itu!" Ken langsung mengambil Ipad-nya.
"Dan kau!" ujar Devan pada mandor yang kini mulai menangis.
"Kau aku pecat!"
"Jangan pecat saya, Pak. Saya mohon!" teriak Mandor memohon.
"Sekuriti!" dua orang sekuriti langsung datang menghadap.
"Seret orang ini dan jangan sampai ia menginjakkan kakinya di sini!" titah Devan dengan tatapan tajam dan dingin.
Mandor meronta ketika diseret oleh dua sekuriti yang tubuhnya lebih besar darinya.
Devan menghela napas. Ia mengurut pangkalan hidungnya. Mereda pusing yang tiba-tiba melanda.
Kakinya melangkah kembali ke arah kantor. Ken sudah sampai dan tengah mengerjakan beberapa berkas.
"Aku sudah menyelidiki klinik tersebut. Klinik itu baru buka tiga minggu yang lalu, kini tengah mengadakan promo kesehatan," jelas Ken panjang lebar.
Devan duduk di kursi kebesarannya.
"Lalu masalah ijinnya?" tanya Devan.
"Masih dalam proses," jawab Ken.
"Itu tetap saja ilegal!" ujar Devan yang ditanggapi anggukan oleh Ken.
"Ken, beri keluarga mandor tadi uang pesangon yang lumayan untuk kehidupannya," titah Devan lagi.
Ken langsung mengerjakan apa yang diperintahkan oleh kakak sepupunya itu.
"Kau belum menjawab pertanyaan ku sebelumnya, Ken!"
"Hmmm ... Aku sudah lebih baik, Kak. Tiana bilang ototku kemarin sedikit terjepit," jelas Ken lagi.
"Baiklah, lalu apa kau telah mengatakan perusahaan mu pada gadis itu?" tanya Devan lagi.
Ken tersenyum penuh arti.
"Kakak kepo yaa?" ledeknya.
"Cis ... Kau ini. Cepat kau utarakan perasaan mu. Sebelum kau didahului seseorang," ujar Devan memberi saran.
Ken hanya mengedipkan matanya sebelah.
Sebuah peristiwa melintas dalam ingatannya. Ingatan ketika ia menyatakan perasaannya pada Tiana.
__ADS_1
bersambung.
Weh ... gercep juga Ken ya