
Waktu berlalu, tiga bulan terlewati. Masa juga sudah berganti. Para model dengan wajah baru dan masih muda berdatangan. Tampang lugu dan polos juga cerdas menjadi poin plus bertahan di kancah permodelan.
Para model lama dengan cepat tersingkir. Bahkan jika hanya mengandalkan kecantikan tanpa bakat apa pun, akan langsung tergeser dan lengser. Seperti Adinda.
Para agensi model mencari wajah-wajah baru agar bertahan dalam kancah permodelan. Mereka akan menyodorkan wajah baru dan juga masih muda.
Adinda mulai bergeser. Bahkan bisa jadi terlengser, secara wanita itu bukan model utama.
Adinda bertahan hanya tiga minggu. Begitu kontraknya selesai. Wanita itu langsung terjun bebas menjadi orang biasa. Biyan tidak bisa mempertahankan dirinya. Karena persaingan bisnis model yang sangat pesat dan ketat. Mau tak mau Biyan menggantikan Adinda dengan model lain, setelah kontrak usai.
Sebagai manager yang menangani Adinda. Pria itu sempat memberikan kontrak kerja sebagai artis.
"Belajarlah tentang seni di dunia hiburan jika masih ingin bertahan," saran Biyan waktu itu.
Adinda mencoba belajar. Sayang. Dirinya yang memang hanya berbakat melenggak-lenggok kan tubuh saja..Hanya dua episode sinetron saja ia bertahan. Bahkan perannya juga hanya pemeran pendukung.
Hanya modal cantik tanpa otak cerdas. Lambat laun, wanita itu mulai kelimpungan dalam materi. Terbiasa hidup mewah dan berfoya-foya, membuat Adinda mengambil jalan pintas.
Seorang teman bar mengajaknya berkenalan dengan para hidung belang yang berkantung tebal. Di sana ia bertemu dengan pria yang bekerja di pusat pemerintahan. Pria bernama lengkap Toni Kusuma adalah salah satu anggota lembaga legislatif.
Pria itu tidak begitu tampan juga tubuhnya sedikit gemuk. Ciri om-om senang. Hanya saja pria itu sangat royal pada pasangannya.
__ADS_1
"Hai ... kemari-kemari!" panggil salah satu pria yang menangani wanita penghibur.
Adinda dan kawan-kawan mendatangi pria itu.
"Tuan-tuan, perkenalkan mereka adalah wanita-wanita cantik yang akan menemani kalian. Ingat hanya menemani. Tapi, jika ingin lebih, tentu bayarannya sangat tinggi," tawar pria berjuluk papi Fun.
Adinda dan kawan-kawan langsung duduk dipangkuan para pria hidung belang itu. Siapa sangka pilihan Adinda pada pria yang memangku nya adalah pilihan untuk kematiannya.
Waktu awal, Toni belum berani mengajaknya ke kamar. Sebagai anggota legislatif. Tentu ia harus berhati-hati. Terlebih pria itu sudah beristri. Pria itu harus menjaga wibawa dan imagenya sebagai anggota dewan yang bersih dari skandal.
"Hai ... Tuan, kenapa wajahmu bersedih?' tanya Adinda pada suatu malam.
Toni yang saat itu tengah mengincar satu tender proyek pembangunan mall terbesar di kotanya. Ternyata menderita kalah total. Perusahaannya kalah saing dengan pengusaha pendatang baru, yang ternyata adalah anak seorang pebisnis terkenal, Bramantyo.
"Ah, sayang sekali. Apa malam ini, Tuan tidak bisa memanjakan ku?" tanya Adinda sambil bergelayut manja di dada pria itu.
Sesekali, wanita itu mendaratkan ciuman pada bibir pria yang sudah menghabiskan satu botol bir.
Toni yang diberi angin segar oleh wanita penggoda tentu saja langsung menyambarnya.
"Aku akan tetap memanjakan mu. Keluarlah dari tempat ini. Layani aku," ajak Toni dengan napas memburu.
__ADS_1
Adinda yang memang menyukai Toni yang royal. Tentu saja tanpa berpikir dua kali, langsung menerima tawaran pria itu.
Selama nyaris satu bulan, mereka hidup bersama tanpa ikatan pernikahan. Awalnya Toni begitu memanjakannya.
Namun lambat laun, sikap tempramental pria itu keluar. Nyaris setiap sehabis bercinta. Tak ayal tubuh Adinda menjadi bulan-bulanan.
Bahkan makin menggila. Toni menemukan benda pipih kecil dengan garis merah dua.
"Gugurkan!" teriaknya.
"I-iya ... tapi, aku butuh uang untuk melakukannya," cicit Adinda.
"Uang katamu!" Toni berdiri dengan mata melotot.
Sebuah tangan melayang cepat.
Plak!
Tubuh Adinda langsung terpelanting ke lantai dengan bibir sobek. Toni gelap mata. Pria itu berkali-kali menendang tubuh wanita yang selama tiga minggu sudah memberinya kenikmatan surgawi itu.
Sayang. Aksi pria itu terekam pada kamera ponsel yang menyala milik Adinda. Karena rekaman itulah. Nasib tragis mengiringi pria itu, di tangan Sean Irawan Buditama.
__ADS_1
bersambung.