Ijinkan Aku Mencintaimu

Ijinkan Aku Mencintaimu
IJINKAN AKU MENCINTAIMU 49 21++


__ADS_3

HARAP BERSIKAP DEWASA. BAB INI MENGAMDUNG UNSUR DEWASA YANG BELUM DI USIA 21+ DILARANG BACA. JIKA TAK SUKA SILAHKAN SKIP. Tapi jika suka. Boleh dong minta vote nya...


Jak yang kini ada di tengah pesta, berbalut taxedo berwarna hitam formal. Dengan bow tie warna senada. Ia begitu tampan. Devan membebaskannya dari semua tugas.


Nyaris semua karyawan diliburkan. Hari ini adalah hari bahagia dari pimpinan tertinggi mereka.


Nuansa pesta yang didesign dengan dominan putih dan biru. Diberi touching gold. Terlihat sederhana, namun kesan mewah dan elegan juga terasa.


"Bang Jak!" Jak menoleh asal suara.


Sosok cantik berbalut gaun sepanjang lutut tanpa lengan berwarna biru terang. Rambutnya yang diikat modern ke samping dan diberi aksen bando bintang. Ditambah sentuhan make up flawless. Membuat si empunya wajah bertambah cantik.


"Nona," Jak mengangguk hormat.


Gadis cantik itu hanya bisa menghela napas berat.


"Bisakah kau tidak seformal ini jika di luar, Bang?!" ujarnya sedikit kesal.


"Maaf, Nona," lagi-lagi Jak mengangguk hormat.


"Hai, Jak!" panggil seseorang lagi.


Jak langsung menoleh asal suara. Kembali, sosok cantik dengan balutan sederhana. Tiana hanya mengenakan baju bahan satin berwarna putih tanpa lengan, yang ditutup dengan blazer warna biru muda senada dengan celana berbahan yang sama dengan bajunya. Terakhir sepatu kets membalut kakinya.


Wajah Tiana hanya dibubuhi bedak tipis dan juga lipstik. Rambut sebahunya dibiarkan terurai. Gadis itu benar-benar beda dengan yang lainnya.


Jak menatap tanpa kedip gadis yang memanggilnya barusan. Pria itu melupakan sosok cantik lainnya.


Tiana sudah menyapa gadis di sebelah Jak. Tiba-tiba Ken datang menghampiri.


Jak masih tetap memandang Tiana dengan tatapan penuh arti. Gadis yang dari tadi memperhatikannya hanya terdiam.


Sungguh pemandangan itu menyakitkannya. Dengan langkah perlahan ia mundur, meninggalkan mereka bertiga yang bercengkrama.


"Kau sendirian, Dok?" tanya Ken sambil menatap takjub dandanan gadis di depannya.


"Menurutmu?!" jawab Tiana membalik pertanyaan dengan nada malas.


Ken terkekeh. Pria itu menatap Jak, yang secara bersamaan menatapnya. Jak langsung mengangguk hormat.


"Boleh aku temani?" tanya Ken sedikit meminta ketika pandangannya kembali pada Tiana.


"Hmmm ... boleh," jawab Tiana mengijinkan Ken menemaninya.


"Mari, Jak. Aku bersama Tiana dulu ya," ucap Ken sambil menepuk pundak Jak.


Dari bicara dan tatapan Ken mengatakan, agar Jak menyingkir dan tidak berbuat macam-macam dengan tatapan penuh ancaman dan tajam.


Jak menelan saliva. Pria itu hanya mendengkus. Tapi, ia tidak bisa berbuat apa-apa. Sesaat pandangannya teralih ke samping, di mana sosok cantik itu berdiri.


"Kemana Nona?" gumamnya bertanya dengan suara pelan.


Netranya menjelajah ke segala arah. Tak ditemukannya sosok cantik itu.


Jak mengendikkan bahu. Seakan tak peduli. Ia berjalan menjauh dari keriuhan pesta.


Sedangkan di tempat lain, nampak gadis cantik berjalan perlahan menuju balkon.

__ADS_1


Wajahnya sendu menandakan perasaannya saat ini. Ia berdiri dengan menopang tangannya pada pilar besi di pinggir balkon setinggi dadanya. Kakinya sebelah ia sampirkan ke belakang.


Wajah ayunya ia tengadahkan ke atas. Netranya terpejam.


Begitu sakitnya ia rasakan. Betapa hatinya hancur menatap pria yang ia cintai ternyata tidak memiliki rasa yang sama dengannya.


Perlahan gadis itu menegakkan tubuhnya. Ia mengelus dan menekan dadanya yang terasa sesak.


"Mengapa begitu sakit?" gumamnya dengan suara serak.


Tiba-tiba sebulir air bening mengalir ke pipinya yang halus.


"Aku tahu, jika ini akan terasa sakit. Tapi, aku tidak menyangka akan sesakit ini," ujarnya bermonolog.


Gadis itu menutup mulutnya menahan tangisan. Dadanya naik turun menahan sesak.


Terdengar suara tangisan yang pelan, sangat pelan. Begitu sangat menyedihkan bagi yang mendengarnya.


Gadis itu terus membekap mulutnya dengan tangan sambil menangis tersedu.


Hatinya yang hancur melihat tatapan pemujaan pria yang dicintainya. Sayangnya, tatapan itu bukan untuknya, tapi untuk wanita cantik lainnya.


Gadis itu tak tahan berdiri. Ia terjongkok dengan tangan sebelah tetap menutup mulutnya sedang yang satunya memegang pilar besi pembatas.


Gadis cantik itu terus menangis tersedu-sedu.


"Aku tak tahan ini, aku tak bisa ... huuu ... uuu ... mmmhh!" ucapnya tetap dalam membungkam mulutnya dengan tangan.


Sosok tampan dengan mata elang menatapnya. Sungguh hatinya terasa ikut kesakitan melihat gadis yang tengah menangis di sana.


"Maafkan aku, Nona. Kita sangat jauh berbeda. Aku tidak bisa menjangkaumu. Kau begitu tinggi untuk kuraih," ujarnya bergetar dengan suara begitu pelan. Hanya ia sendiri yang mendengar perkataannya.


******


Pesta sudah lama berakhir. Sepasang pengantin kini tengah saling mencuri pandang satu dengan lainnya.


Tangan Rendra menggenggam erat jemari Safeera yang telah menjadi istrinya.


Sungguh tubuh keduanya begitu penat setelah melakukan berbagai prosesi acara. Tapi, mereka berdua bahagia karena keinginan keduanya sama-sama terlaksana tanpa ada satu kendala.


"Sayang," Saf menoleh ke arah suaminya yang memanggil.


Netra coklat tua Rendra menatap lekat iris hitam pekat Saf. Mereka saling mengunci dalam pandangan.


"Aku mencintaimu," aku Rendra.


"Aku juga mencintaimu," balas Saf dengan tatapan penuh cinta.


Wajah Rendra mendekat. Jantung Saf, yang sudah berdetak tak karuan kini makin cepat temponya.


Sungguh jika ia memiliki riwayat penyakit jantung, ia akan langsung anfal dan di bawa ke UGD untuk ditangani.


Sama halnya yang dirasakan oleh Rendra. Pria yang sudah berpengalaman dalam urusan percintaan ini, tetap tak bisa mengendalikan detak jantungnya.


Rendra hanya tidak bisa percaya bisa sedekat ini dengan wanita. Memang dulu ia sempat berpacaran ketika kuliah. Bahkan tak jarang para gadis-gadis itu menggodanya dengan pakaian super seksi dan minim.


Namun sebagai pria yang bertanggung jawab. Sama sekali ia menahan diri untuk tak tergoda, bahkan untuk hanya sekedar having fun.

__ADS_1


Rendra bukan tipe pria casanova yang bisa sembarangan memasuki wanita.


Walau tak munafik tubuhnya bereaksi panas, jika disuguhi wanita berpakaian minim dan seksi.


Rendra membelai wajah istrinya. Kini kedua tangannya menakup pipi gadis itu. Pandanganya turun ke bibir ranum berlapis lipstik merah jambu itu.


Wajah pria itu makin dekat. Safeera memejamkan matanya. Ia merasakan embusan napas pria di wajahnya.


Melihat lampu hijau yang diberikan Saf. Rendra langsung ******* bibir gadis itu dalam.


Ia tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada.


Dengan melalui insting kelelakiannya. Ia mendominasi permainan.


Satu persatu pakaian mereka terlepas. Rendra yang sudah tidak bisa menahan napsu. Langsung melakukan aksinya.


Erangan dan desahan keluar dari mulut keduanya. Peluh bercampur menjadi satu.


Cinta mereka menyatu dalam satu ikatan suci. Tubuh Saf telah halal dimiliki oleh Rendra.


Pria itu melakukannya dengan penuh kelembutan. Keduanya berpacu mencari titik kenikmatan.


Rendra yang butuh perjuangan untuk menjebol selaput yang tak pernah disentuh itu. Harus melakukan penetrasi berkali-kali.


Hingga. Suara mengaduh kesakitan keluar dari mulut Saf. Darah menetes teriring dengan air mata gadis itu.


Rendra mencium lembut bibir manis istrinya. Betapa bahagianya ia sebagai pria.


Saf memberikan kesuciannya pada pria yang telah menghalalkannya.


Ketika keduanya telah mencapai puncak. Rendra ambruk di sisi Saf dengan napas terengah-engah.


"Terima kasih, Sayang. Kau telah menjaganya. Aku merasa terhormat memilikinya," ujar Rendra sambil mencium mesra kening istrinya.


Mereka pun berpelukan, lalu terlelap. Hingga ketika azan subuh berkumandang. Mereka terbangun.


Rendra yang kini telah menjadi imam, bertugas untuk membimbing sang istri agar, tetap mendekatkan diri pada Sang Maha Pencipta.


Safeera sebagai istri pun harus tunduk dalam bimbingan sang suami. Mereka membersihkan diri masing-masing. Setelah berwudhu dan mengenakan pakaian terbaik mereka.


Rendra mengimami sholat subuh berjamaah dengan istrinya.


bersambung.


"Ih ... Othor. Nganunya kok lanjut sih!?"


hehehehe ... itu lah halunya othor


"Dasar Othor mesum!"


Ish ... kalo nggak ada ninu-ninunya kalian bisa boring baca ini!


"Ah seterah Othor aja deh!"


tapi kalian hepi kan?🤭


"šŸ˜‚šŸ˜‚šŸ˜‚šŸ¤­šŸ¤­šŸ¤­"

__ADS_1


__ADS_2