
Ketika mereka sudah sampai di ruang makan. Linda melihat rona merah yang ada pada Aira. Wanita itu tersenyum penuh arti.
Ketika keduanya duduk bersebelahan. Sebelum memulai. Mereka berdoa terlebih dahulu. Linda terlebih dahulu menyediakan makanan pada piring suaminya. Setelah wanita setengah baya yang masih memiliki kecantikan itu selesai mengisi piringnya sendiri. Baru Aira melayani Devan.
Mereka makan dalam hening. Hanya sendok dan garpu yang berdengung dengan piring. Selesai makan. Linda menyiapkan desert untuk Rehan.
"Oh ya, kalian nanti malam bersiap ya untuk ikut makan malam. Papa diundang oleh sebuah perusahaan ternama dan didaulat untuk menjadi moderator di sana," jelas Rehan pada anak dan menantunya.
"Perusahaan apa Pa?" Tanya Devan sambil meminum air putih.
"Perusahan Buditama Grup," jawaban Rehan membuat Devan menyemburkan air yang tadi diminumnya.
"Astaga ... Devan!" Seru Linda terkejut.
Devan terbatuk mendengar jawaban papanya. Memang setelah kejadian pembukaan rumah sakit. Devan dipanggil pihak kepolisian mengenai status Aira. Demi keselamatan bersama. Devan menyetujui untuk tidak memberi tahu siapa pun tentang Aira, bahkan kepada kedua orang tuanya sekali pun.
"Mas, nggak apa-apa kan?" Tanya Aira khawatir sambil mengelus punggung Devan.
Devan mengangguk. Mengelus dadanya yang sedikit sakit.
Rehan yang melihat raut kecemasan pada putranya, mengernyit heran. Pria itu yakin jika Devan tengah menyembunyikan sesuatu.
"Aku tidak apa-apa, sayang. Oh ya, Pa, bisa kita bicara sebentar berdua saja?!" Pinta Devan.
Rehan mengangguk. Linda menyentuh tangan Rehan, suaminya. Pria setengah baya itu hanya mengelus tangan sang istri, bahwa tidak ada apa-apa.
Setelah meyakinkan istrinya. Rehan mengajak Devan ke ruangannya.
"Aku ke ruangan Papa dulu ya, Sayang," pamit Devan sambil memberi kecupan di kening Aira.
Aira hanya mengangguk. Matanya terpejam ketika suami menciumnya. Setelah kepergian suami dan mertuanya. Aira membantu Linda untuk membereskan meja makan.
Setelah itu, Linda mengajak Aira menuju taman. Beberapa hari lalu, ia mencoba menanam anggrek. Linda bermaksud untuk bersantai dan mengobrol dengan Aira.
Ketika di taman. Linda memotong daun-daun anggrek yang rusak karena hama.
"Ah ... musim sudah mulai pancaroba. Antara hujan dan terik tidak bisa diprediksi dengan tepat. Bunga, Mama jadi banyak yang rusak, karena kurang pencahayaan," ujar Linda sambil mendesah kecewa.
Aira hanya diam dan tersenyum.
"Bagaimana kelakuan Devan selama ini kepadamu, Aira?" Tanya Linda kemudian, "apa dia masih menyakitimu?"
Aira tersenyum mendengar pertanyaan mertuanya itu. Gadis itu menggeleng.
"Tidak, Ma. Mas, Devan tidak menyakiti Aira."
"Bagus. Lalu, apa di sini sudah ada nyawanya?" Tanya Linda sambil tersenyum berharap ketika tangannya menyentuh perut rata Aira.
Aira tertegun. Ia hanya tersenyum kikuk. Linda mengerti. Tentu saja, Linda berharap kehadiran bayi di tengah-tengah Devan dan Aira akan menambah keharmonisan rumah tangga mereka.
Hanya saja Linda tidak pernah tahu. Jika mereka belum melakukan itu.
Mengingat hal itu, Aira langsung menggeleng, mengenyahkan pikiran absurd yang tiba-tiba datang.
'Kenapa aku jadi mesum gini sih!' runtuknya dalam hati.
Terlebih ketika ia mengingat perkataan dari suaminya tadi.
"Setelah makan, kita lanjutkan ya!"
Ck ... apa maksudnya itu. Aira berusaha untuk tidak mengerti maksud dari perkataan ambigu suaminya. Walau ia sangat yakin jika sang suami meminta haknya.
Tiba-tiba, Devan muncul dari dalam memanggil Aira. Aira menoleh. Hatinya berdegup dengan kencannya.
"Sayang, tolong siapkan pakaian ku. Aku tiba-tiba harus menghadiri rapat!"
"Eh ... apa?!" Aira sedikit kecewa.
'ish apa-apaan sih pikiranku ini. Kenapa juga harus kecewa!' monolog Aira dalam hati.
Aira berjalan lambat. "Ayo sayang, buruan. Aku akan terlambat!"
__ADS_1
"Ah ... iya Sayang!" Seru Aira langsung berlari menaiki tangga menyusul Devan.
Sedangkan dalam ruangan, Rehan duduk tertegun setelah mendengarkan penuturan putranya. Pria setengah baya itu masih shock akan kenyataan yang baru saja dijabarkan oleh Devan.
(Flashback on).
"Apa yang ingin kau ceritakan, Dev?" Tanya Rehan langsung.
Devan menghela napas panjang. Rehan makin penasaran dengan apa yang akan diceritakan putranya tersebut.
Dengan gamblang. Devan menceritakan apa yang ia ketahui tentang sosok istrinya pada Rehan-papanya, tanpa ada yang terlewatkan.
Rehan menahan napas sebentar. Ia sangat shock mendengar cerita dari Devan.
Pria paruh baya itu terduduk lemas di kursi kebesarannya. Devan langsung menghampiri papanya.
"Papa tidak apa-apa?"
Rehan mengangguk walau masih terlihat shock.
"Apa kau yakin dengan apa yang kau ceritakan, Nak?" Tanya Rehan sekali lagi.
Devan mengangguk. Rehan langsung percaya. Tiba-tiba dering ponsel Rehan berbunyi.
Rehan mengangkatnya.
"Halo, Assalamualaikum!"
"...."
"Iya dengan saya sendiri."
"....."
"Iya benar, putra saya telah menikah dengan Aira Pramesti Irawan."
"......"
"....."
"Baik ... Ayah. Iya, putra saya bersama saya sekarang!" Rehan menatap putranya.
"Baiklah, saya akan langsung memberi tahukan pada putera saya."
"....."
"Baik, wa'alaikum salam," Rehan memutus sambungan telepon.
"Ada apa Pa? Sepertinya serius sekali?" Tanya Devan.
"Sekarang kau diperintahkan oleh Kakeknya Aira untuk langsung bertemu dengan beliau di hotel Leopard," jawab Rehan.
"Hotel Leopard?' tanya Devan heran.
"Tapi, Pa, aku nggak bisa sembarangan masuk jika tidak memiliki kartu akses khusus," lanjutnya.
Devan sangat mengetahui hotel bintang kelas internasional itu. Hotel termegah kedua setelah hotel miliknya yang ada di kota Y. Hotel tersebut sangat menjaga privasi para customernya.
Jika bukan pelanggan yang telah mendaftar dan memiliki kartu akses. Tidak ada yang bisa memasuki hotel tersebut.
"Jangan khawatir. Kata beliau kau sudah ditunggu oleh ajudannya bernama Max di lobby, cukup sebutkan namamu maka para resepsionis akan mengantarkanmu pada Max," jelas Rehan menjawab pertanyaan Devan.
Devan mengangguk. "Ah, iya. Kata kakek mertuamu, Aira jangan kau beri tahu dulu."
"Kenapa?"
"Surprise?" jawab Rehan sambil mengendurkan bahu.
Devan pun akhirnya melakukan apa yang disuruh oleh kakek mertuanya tersebut.
(Flashback end).
__ADS_1
Dengan mengendari mobil Porsche berwarna biru metalik miliknya, Devan sampai di depan lobby hotel Leopard.
Hotel dengan design interior yang sangat mewah dan klasik. Mengusung corak tradisional dan asri. Sungguh ketenangan di setiap mata memandang.
Setelah memberi kunci mobil pada petugas Velvet. Devan memasuki hotel. Ia langsung didatangi oleh petugas resepsionis.
"Selamat siang, Tuan. Apa ada yang bisa kami bantu?" Tanya resepsionis yang berwajah cantik.
Baju seragam mereka juga sopan-sopan. Baju model China klasik berwarna biru pastel dengan list Mega mendung. Dipadu dengan rok sepanjang mata kaki. Rambut yang digelung rapi. Dengan make up flawless.
Tidak ada yang berlebihan, sangat sederhana. Tapi, keramahan dan senyuman manis tak lepas dari bibir para petugas.
"Saya Devano Bramantyo," jawab Devan dengan gagahnya.
Petugas yang telah diberi tahu. Langsung mengerti jawaban Devan. Mereka langsung menggiring Devan menuju ruangan di mana ia telah ditunggu.
Devan yang mengenakan jas formal berwana navi, dipadu dengan kemeja berwarna biru pucat dan dasi bergaris miring yang senada dengan warna bajunya. Celana bahan berwarna senada dengan jas. Diakhiri dengan sepatu pantofel berwarna hitam. Sungguh Devan begitu sangat gagah dan tampan. Siapa pun akan terpesona melihat ketampanannya.
Sebenarnya dua resepsionis cantik tadi juga sering mencuri pandang pada pria tampan itu. Tapi, mereka berdua tentu tidak berani berbuat lebih dari sekedar mencuri pandang.
Max langsung menyambut Devan dengan cara membungkuk hormat. Devan membalas hanya dengan anggukan kepala.
Max langsung menggiring Devan menuju lift khusus. Mereka langsung naik ke lantai 27.
Ting
Mereka telah sampai pada lantai yang dituju. Max terus menggiring Devan menuju sebuah ruangan.
Ketika sampai betapa terkejutnya ketika Devan memasuki ruangan tersebut.
Dekorasi mewah tengah dipersiapkan. Warna dengan dominan emas menyebar di semua dekorasi.
Devan melihat di langit-langit ruangan ada kain putih membentang bertuliskan.
"Happy Birthday 25th. Aira"
Devan membelalakkan matanya.
"Hari ini ulang tahun istriku?" Cicitnya tak sadar.
"Iya benar, Cucu mantu ku. Hari ini adalah hari lahir istrimu!" Sebuah suara serak terdengar.
Devan menoleh asal suara. Seorang pria lanjut usia yang masih nampak gagah dan tampan. Devan langsung mengenali siapa pria itu.
"Tuan Irawan Buditama!" Devan langsung menyalim pria tua itu.
Irawan terkekeh mendengarnya. Ia mengelus rambut Devan lembut ketika pria muda dan tampan itu mencium punggung tangannya.
"Bocah gagah. Benarkan Max, apa kataku. Cucuku memang pintar memilih suami!" Ujar Irawan pada ajudannya.
Sang ajudan hanya mengangguk hormat sambil tersenyum, membenarkan perkataan majikannya.
Devan terharu. "Saya yang beruntung mendapatkan cucu dari orang hebat seperti anda, Tuan!" Ujar Devan merendah.
Irawan tertawa mendengar perkataan Devan.
"Panggil aku Opa, Nak. Kamu sudah menjadi cucuku sekarang!" Titah Irawan dengan nada senang.
"Dia belum menjadi cucu menantumu, Pa!" Tiba-tiba suara bariton menginterupsi perkataan Irawan.
Devan terkejut bukan main. Mukanya langsung memerah menahan amarah. Matanya berubah kelam mendengar perkataan tadi. Devan menoleh dengan tatapan dingin ke sumber suara.
Seorang pria sebaya dengan Rehan-papanya, mungkin lebih muda dua tahun, berjalan menghampiri. Kedua mata kelam saling menatap.
Devan melihat raut wajah yang dewasa, mirip, sangat mirip Aira. Kedua pria tampan beda usia ini saling tatap dan tidak mau kalah.
Bersambung.
Siapa yaaa pria itu? Pasti udah ketebak deh.
Next?
__ADS_1
plis vote dong hehehehe