
"Siapa dia, Mas?" Kia dan wanita itu bertanya secara bersamaan.
"Rima perkenalkan ini calon istriku, Kia dan Sayang, wanita ini ibunya Sabrina," jawab Deo memperkenalkan mereka.
Kia yang memang gadis baik. Langsung menjulurkan tangan sambil tersenyum.
"Oh ... ini Mamanya Sabrina, pantas bocah itu cantik, ternyata ibunya juga sama cantiknya," puji Kia.
Mira sebenarnya enggan menyalami Kia. Tapi, mendapat tatapan datar dari Deo juga situasi yang tidak memungkinkan untuknya berlaku culas. Maka, wanita itu menyambut tangan Kia tak kalah ramah, walau pura-pura.
"Ah ... kalau begitu, bisa kan aku duduk bersama kalian?" ujar Rima meminta ijin.
"Tidak!"
"Bisa!"
Kia dan Deo menjawab perkataan Rima dengan berbeda. Kia menoleh Deo. Merasa acara ini adalah milik Deo, gadis itu kemudian diam.
"Bukankah katamu tadi Sabrina kurang enak badan?" ujar Deo memberi pertanyaan, "lalu kenapa kau malah meninggalkannya? Jangan bilang kau tinggalkan Sabrina dengan ibumu!"
"Mas ...!' Kia memperingati Deo dengan mengelus tangan pria itu.
Deo mendengkus kesal. Rahangnya mengeras. Pria itu tahu sekali kebiasaan mantan istrinya itu.
"Sabrina kan cucunya, jadi ...."
"Ibumu sudah tua, bahkan sudah pikun. Kau serahkan anakku untuk diurusi ibumu yang pikun itu. Rima, Sabrina itu baru empat tahun!" umpat Deo dengan suara tertahan.
"Mana Imran, suamimu?" pertanyaan dan perkataan runtun dari mantan suaminya itu, membuat Rima hanya mampu bungkam.
Merasa kehadirannya mengganggu, wanita itu pun pergi meninggalkan acara makan malam Deo dan Kia, tanpa permisi.
__ADS_1
"Maafkan kejadian tadi ya, Sayang!" ujar Deo merasa bersalah.
Kia hanya tersenyum, "Tidak apa-apa, Mas."
Mereka melanjutkan makan malam yang terganggu. Setelah itu, Deo mengantarkan Kia menuju rumah milik atasannya dulu.
Kia masih harus tinggal selama dua hari untuk menjalankan tugas dari Reena untuk mensurvei sebuah kawasan wisata yang terbengkalai.
Pemerintah setempat ingin menjalin kerja sama dengan perusahaan milik Reena, guna mendayakan kembali tempat wisata tersebut.
Sampai depan rumah, Deo memeluk Kia dengan hangat. Kia membalas pelukan itu.
Setelah beberapa menit Deo melonggarkan pelukannya. Netra mereka saling bertatapan.
Deo memagut bibir gadis yang ia cintai dengan lembut. Kia merespon ciuman tersebut.
Lama mereka berciuman di depan pintu, hingga ketika merasa pasokan oksigen mulai menipis. Deo memutus ciuman tersebut.
"Aku sangat menanti dirimu menjadi milikku seutuhnya, sayang," ungkap Deo dengan suara serak.
Sungguh sebagai pria normal, Deo sangat menginginkan Kia lebih dari sekedar ciuman. Namun, pria itu sangat mencintai gadis pujaannya itu. Maka ia menghormati Kia untuk tidak berbuat lebih, selain berciuman.
"Iya Mas. Kia juga ingin semua yang kita lakukan menjadi ibadah. Maka dari itu, Kia harap ini adalah ciuman terakhir kita sebagai sepasang kekasih," pinta Kia.
"Karena jujur, Kia takut tidak bisa menahan diri sendiri jika ini terlalu jauh," lanjut Kia jujur.
Deo yang dewasa sangat mengerti keinginan gadis itu. Pria itu pun sama mengakui keinginan dan hasratnya.
"Iya sayang. Mas, juga tidak mau berkecimpung dosa lebih jauh. Untuk sementara, kita berhubungan lewat telepon atau pesan singkat saja ya, Jujur, jika lama-lama berdekatan denganmu. Aku tak tahan untuk menyeretmu ke atas ranjang dan ...."
Perkataan Deo berhenti ketika jari telunjuk Kia menyentuh bibirnya. Deo mendesah panjang sambil menutup mata.
__ADS_1
"Sayang ...!" panggilnya dengan suara serak.
"Pulanglah Mas!" titah Kia melepas pelukannya.
Deo juga melepas pelukannya dengan berat hati. Kia langsung masuk ke dalam rumah dan menguncinya.
Pria itu hanya menghela napas berat, setelah beberapa detik terpaku di tempat. Deo berjalan keluar teras rumah tanpa pagar.
Kawasan elit dengan keamanan tinggi ini memang tidak memiliki pagar, karena mengusung konsep hunian seperti luar negeri.
Kia yang berada dalam rumah hanya mengintip dari balik tirai, memastikan mobil Deo pergi dari sana.
Setelah mobil pria itu menghilang dari pandangannya. Baru lah Kia menekan dadanya .
Netra gadis itu memejam. Ia merasakan degup jantung yang berdetak begitu cepat.
Sungguh gadis itu merasakan gelenyar aneh yang timbul dari tubuh ketika ia berciuman tadi.
Kia merasakan bulu kuduk yang meremang, bahkan di bawah sana ikut berkedut dan sedikit basah.
Kia bersyukur Deo bisa menahan hasratnya. Jujur, gadis itu tidak akan tahu caranya menolak, jika Deo memaksa birahi padanya.
"Kenapa kau jadi mesum begini Kia!" runtuknya kesal pada diri sendiri.
"Benar kata guru agama dulu. Jika manusia lain jenis berduaan, maka ada yang makhluk ketiga yakni setan!' lanjutnya bermonolog.
Merasa gerah. Gadis itu pun beranjak ke kamar mandi, setelah memastikan semua pintu dan jendela terkunci.
Bersambung
Et dah ...
__ADS_1
š setan lagi yang disalahin!