Ijinkan Aku Mencintaimu

Ijinkan Aku Mencintaimu
IJINKAN AKU MENCINTAIMU 44


__ADS_3

Jaka tengah menemani Ken untuk menyelesaikan masalah pembebasan lahan sekitar danau. Walau lapak-lapak liar tidak memiliki ijin dan sertifikat dari pemerintah setempat.


Para pemilik lapak meminta dana kompensasi seadanya. Hal itu jelas memusingkan, Ken.


Tadinya mereka sepakat pada kisaran harga yang telah ditentukan. Entah siapa yang memprovokasi. Mereka justru menaikan harga.


Jelas hal ini membuat Ken berang. Pria bermata coklat terang itu, langsung menempuh jalur hukum.


Ken tidak ingin menggulung lengan baju dan menunjukkan kekuatannya. Ia ingin semua masalah selesai.


Hal ini jelas membuat para pemilik lapak terkejut. Jika sudah main hukum, tentu mereka akan kalah.


"Dasar orang kaya. Serakah! Bahkan lapak orang miskin juga main embat aja!"


"Enak ya jadi orang kaya, semaunya sendiri. Nggak ngerti jeritan orang miskin kayak kami!"


Dan sejuta umpatan terarah padanya. Padahal jika dihitung. Mereka mendirikan lapak tanpa ijin dan merugikan negara puluhan tahun.


Ken mendapati info, jika para pemilih lapak sudah generasi ke tiga.


Ken tidak habis pikir. Siapa yang tidak tahu diri di sini. Pria tampan itu tak mau, tahu. Ia menyerahkannya pada hukum.


Para pelapak tidak ambil diam. Mereka menyeret bantuan hukum dan lembaga perlindungan alam.


Entah pikiran dari mana para lembaga itu langsung bergerak melakukan demo.


Ken makin berang. Dihadapan orang banyak ia menantang para pendemo.


Ken menyuruh Jak untuk mengumpulkan bukti dan berkas terdahulu.


Ketika Ken melempar berkas pada lembaga perlindungan alam. Mereka langsung kicep.


Selama lima belas tahun, danau tercemar akibat sampah dan limbah para pelapak.


Bantuan hukum juga tidak bisa berkutik. Ketika Ken melempar bukti pencurian aliran listrik yang merugikan negara miliaran.


Para pelapak akhirnya mundur. Hal ini tentu sangat tidak disukai oleh sekelompok preman.


Sosok gempal dengan codet di muka, geram bukan main. Lahan untuk mengeruk keuntungan lepas dengan mudah dari genggaman.


"Kurang ajar!" makinya geram.


"Akan kuhabisi siapa pun yang menghalangiku!'" ancamnya.


Mang Codet. Pria berusia empat puluh dua tahun adalah pemimpin para preman.


Ia adalah seorang residivis. Berkali-kali keluar masuk tahanan, tidak membuatnya kapok melakukan kejahatan.


Aksinya selama ini nyaris tertutupi, karena banyak oknum yang bisa disuap.


Bagi hasil, untuk para aparat korup. Itu lah sistem yang ia terapkan selama ini.


Ia pikir, bisa dengan mudah menguasai masa. Karena selama ini, para oknum polisi korup itu akan melindungi bahkan melancarkan aksinya, menentang pembangunan Danau Biru.


Malam ini, ia mengumpulkan semua anggotanya. Memberikan mereka senjata tajam.


"Kita harus habisi mereka. Gulingkan traktor-traktor yang merobohkan lapak-lapak itu!' titahnya penuh kelicikan.


"Siapa pemilik dari pembangunan Danau tersebut?" tanyanya pada salah satu anggota.


"Kalo nggak salah sih namanya Ken," jawab anggotanya.


"Ken?" pria yang ditanya mengangguk mengiyakan.


"Siapa pun dia. Dia tak akan lolos dari cengkraman ku!' ujarnya dengan tatapan sadis.


(Ah, doi nggak tahu jika berhadapan dengan manusia berhati iblis).


Malam telah datang. Para preman telah bergerak meringsek. Danau yang telah ditutupi pagar kawat besi dirusak.


Satu traktor berhasil digulingkan. Para preman makin semangat. Mereka merusak semua bahan bangunan.


Ken dan Jak yang masih ditempat langsung keluar mendengar keributan.


Para petugas keamanan kerepotan menangani mereka. Selain jumlah mereka terlalu banyak, hingga terjadi ketidak seimbangan.


Ken langsung menelpon Devan. Ia meminta tambahan personil dan kepolisian.


Devan yang mendapat telepon dari adik sepupunya, langsung bertolak dari luar kota.


Ia menelpon Andreas, Kakak angkat Aira.


Mendapat laporan akan penyerangan dan gangguan keamanan. Andreas langsung mengerahkan satu kompi petugas kepolisian.


Perkelahian yang tidak imbang terjadi. Sejago-jagonya manusia, Ken sedikit kelelahan menghadapi serangan bertubi-tubi, begitu juga Jak.


Devan ternyata lebih dulu sampai lima menit dari Andreas dan anak buahnya.


Devan yang melihat adik sepupunya kerepotan. Ia langsung mengambil bilah besi panjang sebagai senjata.


Laki-laki itu langsung menyerang para preman, membantu Ken dan Jak.


Polisi menembakan senjata peringatan. Tapi, sepertinya para preman kebal peluru. Mereka tetap asik menyerang.


Satu letusan mengenai kaki salah satu preman.


"Aarrghh!" terdengar teriakan keras menghentikan perkelahian.


"BERHENTI ATAU KAMI TEMBAK!'' teriak Andreas mengacungkan senjata.


Para preman berhenti.


"SEMUANYA TIARAP!" bentaknya lagi.


Ken, Devan dan Jak ikut tiarap. Para polisi langsung meringkus preman yang masih tersisa.


Sedangkan yang terluka langsung dibawa ke rumah sakit terdekat untuk ditangani.

__ADS_1


Andreas langsung menghampiri Ken, Devan dan Jak yang juga bertiarap.


"Bangunlah, semuanya sudah ditangani," ujarnya.


Ketiga pria tampan itu berdiri. Ken langsung duduk di kursi sambil memejamkan mata.


Napasnya ngos-ngosan. Lebih dari lima belas orang ia hajar dan mengalami luka serius. Jak juga langsung menggelosor di lantai. Pria itu menghajar juga menghajar KO sama banyak dengan Ken.


"Semuanya ada lima puluh preman yang berhasil diringkus," jelas Andreas.


Devan mengangguk, pria itu hanya sedikit berkeringat.


Ken menatap Devan yang berdiri, kemudian ia melihat jam di pergelangan tangannya.


"Busyet loe! Gue nelpon lu nggak nyampai lima menit yang lalu. Udah nyampe aja. Pake apa Lu kesini?!"


Ketika Ken keluar untuk melihat mobil yang dikendarai oleh kakak sepupunya itu. Terkejutlah dia.



"Koenigsegg Jesko!?" pekiknya kagum.


"Mobil baru?" tanyanya lagi. Devan mengangguk.


"Punyamu, besok baru datang, warna hitam," ujar Devan langsung dipeluk oleh Ken.


"Thanks Bro, you're the best!"


Tiba-tiba, Ken melihat sosok keluar dari semak-semak mengacungkan pistol.


Pistol itu mengarah pada Andreas. Dengan secepat kilat, ia menamengi tubuh Andreas.


DOR!


"Ugh!"


Tembakan mengenai dada atas sebelah kanan Ken.


"KEN!" teriak Devan.


Andreas yang terkejut, jika dia baru saja diselamatkan oleh Ken.


Anak buah Andreas langsung menembak Mang Codet di bahu dan betisnya.


DOR!


DOR!


"Arrgghh!" teriak Mang Codet.


"Panggil ambulan!" teriak Andreas.


"Tidak. Aku langsung akan membawanya. Jak, Ikuti aku, pakai mobil Ken!" titah Devan.


"Baik Tuan!" sigap Jak, langsung mengambil kunci mobil yang tergantung.


"Bertahanlah Ken!' ujar Devan khawatir.


Ken memutar matanya malas.


"Aku tidak akan mati, Kak!'


"Ck ... kau ini!"


"Tolong, hati-hatilah kalian berdua. Anak buahku akan mengawalmu!" ujar Andreas.


Devan mengangguk. Dalam sekejap mobil itu melesat menuju rumah sakit yang baru saja kemarin mereka akuisisi.


Hanya butuh lima belas menit, mereka sampai rumah sakit. Devan langsung berteriak meminta pertolongan.


Kebetulan Tiana tengah menjadi dokter jaga, langsung menghampiri dengan membawa brangkar.


Melihat seseorang terluka tembak. Tanpa basa-basi, Tiana melepas syal yang melilit di lehernya.


Ia menekan luka itu, agar tidak banyak darah yang keluar.


"Siapkan meja operasi!" teriak Tiana memberi perintah pada petugas medis yang lain.


"Bisa beri tahu apa golongan darah korban?" tanya Tiana pada Devan.


Devan yang sedikit panik, tidak ingat. Beruntung Jak datang tepat waktu. Pria itu langsung memberi tahu golongan darah Ken.


"AB negatif?" tanya Tiana, langsung diberi anggukan. oleh Jak.


"Cek bank darah, jika kurang, tolong periksa darah kalian, berharap lah jika sama!" titah Tiana langsung.


"Maaf, golongan darah saya O plus, apa bisa menolong?" tanya Jak.


"Ah ... tidak bisa, jika ia hanya golongan darah AB biasa, baru bisa," jawab Tiana.


"Aku lupa golongan darahku, waktu pembuatan KTP tertulis golongan B," ujar Devan ragu.


"Coba periksa lah, atau kabari keluarganya, pasti salah satu dari mereka memiliki golongan darah yang sama," pinta Tiana.


"Maaf Dok, golongan darah AB min, habis!" lapor seorang perawat wanita dengan napas terengah-engah.


"Kamar operasi siap, Dok!" teriak yang satunya lagi.


"Baik, salah satu dari kalian segera ke bagian administrasi, untuk menandatangani surat persetujuan operasi!' pinta Tiana lagi.


Devan langsung kebagian administrasi, guna melaksanakan permintaan Tiana. Sedang Jak langsung menghubungi Rio Bima selaku ayah Ken, untuk memberi tahu jika Ken membutuhkan darah.


Perkiraan Tiana benar. Ken, kekurangan darah. Tiana langsung keluar menanyakan keberadaan darah.


Andreas yang datang bersama anak buahnya tidak membantu. Semuanya tidak memiliki golongan darah yang sama.


"Dokter Gio, tolong tangani pasien. Saya akan mendonorkan darah saya terlebih dahulu. Pasien sangat membutuhkannya!" titah Tiana.

__ADS_1


Dokter Gio langsung menangani Ken. Tiana langsung menuju ruang lain untuk mendonorkan darahnya.


Dua kantong darah langsung dibawa ke ruang operasi. Rio Bima baru saja datang. Ia memiliki darah yang sama dengan Ken.


Tiana keluar dari ruang transfusi darah. Wajahnya terlihat pucat. Salah satu perawat memberikannya segelas susu.Tiana meminumnya.


"Dok, korban kehilangan detak!" tiba-tiba dokter Gio keluar dari ruang operasi.


Semua panik. Tiana langsung masuk ke ruang operasi.


Lebih dari satu jam, Tiana belum keluar dari ruangan. Semua keluarga telah berkumpul.


Devan tengah duduk dengan menopang kepala. Ia menahan emosinya.


"Jak, apa kau tau kabar penembak Ken?" tanya Devan geram.


"Dia masih di kepolisian!" jawab Jak datar.


Aira datang langsung memeluk Devan. Pria itu memejamkan mata. Hatinya yang terbakar amarah perlahan menyusut.


Andreas yang mengetahui itu, tidak bisa melakukan apapun. Jika ia melepaskan Mang Codet dan memberikannya pada Devan. Itu sama saja ia melanggar hukum.


"Lapor komandan! Mang Codet berhasil kabur!" tiba-tiba seorang polisi datang melapor.


"Apa. Brengse*!" teriak Andreas tak sadar, "Kenapa bisa, apa saja kerja kalian, BOD**!"


"Maaf Komandan, sepertinya ia dibantu oleh beberapa oknum!" Andreas mengeraskan rahang.


Devan melepaskan pelukan Aira.


"Ndre. Kau urus oknum itu. Aku akan mengurus Mang Codet!" titah Devan setengah berbisik dengan seringai sadis.


Andreas hanya bisa menghela napas berat. Ia tidak mengiyakan perkataan Devan.


Devan sangat mengerti posisi Andreas. Tapi, ia memberi kode, jika perbuatannya tidak akan melanggar hukum.


"Hukum akan berterima kasih padaku dengan menumpas Mang Codet," bisiknya lagi.


"Jak!' pria yang disebut namanya langsung mengangguk.


Seakan mengerti, ia langsung pergi keluar. Sampai di luar ia bertemu dengan Sean, papanya Aira.


Sean bertanya dan langsung dijelaskan oleh Jak. Sean menawarkan bantuan, Jak, tidak bisa mengambil keputusan.


"Tuan bisa mengajukannya pada Tuan muda Bramantyo," jawab Jak saat itu.


Sean mengangguk, "Baiklah, hati-hati Jak!"


"Baik Tuan dan terima kasih!" Jak langsung masuk ke dalam mobil dengan wajah datar.


Dalam hitungan detik, mobil itu melesat dengan kecepatan tinggi.


Sean datang bertepatan dengan Tiana yang keluar dari ruang operasi.


Rio langsung menanyakan keadaan putranya.


"Korban selamat, ia tadi hanya shock. Sebentar lagi, akan kami pindahkan ke ruang perawatan," jawab Tiana dengan napas lega.


Melihat wajah sahabatnya pucat. Aira yang telah diberi tahu Devan akan tindakan cepat gadis itu, langsung memeluknya erat.


"Terima kasih, Beb. Kamu emang sahabat terbaik," ujar Aira tulus.


"Itu bukan masalah Beb. Gue dokter. Gue bakal lakuin ini juga kok sama pasien lain," ucap Tiana juga tulus.


"Iya, aku tahu. Terima kasih sekali lagi," ujar Aira sambil menguraikan pelukan.


Ken dibawa keluar dengan brangkar dari ruang operasi. Ruang VVIP menjadi ruang perawatan Ken.


Tiana yang menangani langsung keadaan Ken. Setelah semuanya baik-baik saja.


Tiana menjelaskan kondisi Ken pada keluarga.


Rio memeluk Tiana dengan penuh haru. Begitu juga Sinta. Tak henti-hentinya mereka mengucap terima kasih atas kerja cepat yang dilakukan oleh gadis itu.


"Sepertinya, Tante dan lainnya boleh pulang. Saya sarankan hanya satu orang saja yang menjaga," ujar Tiana member perintah dengan nada halus.


Semuanya mengerti. Devan yang akan menjaga adik sepupunya itu. Aira memberi pelukan dan sedikit kecupan di bibir suaminya.


"Besok kami akan datang lagi. Aira akan membawa baju ganti dan makanan," ujarnya.


Devan mengangguk. Dengan cepat ia kembali mencium bibir istrinya itu.


Semuanya telah kembali pulang. Tinggal Devan dan Tiana menunggu kesadaran Ken.


Tak lama berselang, Ken tersadar. Tiana langsung bertindak, memeriksa semuanya.


Setelah diyakini jika pasiennya baik-baik saja. Tiana langsung keluar dari ruang perawatan.


"Hai Bro, gimana rasanya?" tanya Devan sambil tersenyum lebar.


"Gue baik Bro!" jawab Ken sedikit lemah.


"Istirahat Bro. Semuanya pasti gue beresin," ujar Devan lagi.


"Gue mau di Codet itu!" ujar Ken tiba-tiba dengan sorot mata bengis.


"Tenang, dia hanya kroco kecil yang bukan mainan Lu!" ujar Devan menenangkan.


Ken hanya menghela napas. Mungkin karena obat, ia kembali tertidur.


Devan beranjak menuju ranjang satunya lagi. Dengan perlahan ia merebahkan diri. Sungguh, hari ini ia lelah sekali.


Bersambung.


uh oh ... next?


boleh dong jempol nya... hehehehe

__ADS_1


makasih.


__ADS_2