Ijinkan Aku Mencintaimu

Ijinkan Aku Mencintaimu
BONUS PART KIA DAN DEO 3


__ADS_3

Sementara di tempat lain. Deo tengah menyiapkan segala keperluannya untuk meminang gadis yang ia cintai.


Sang ibu juga sangat menyetujui pilihan sang putra.


"Ibu yakin, Kia bisa membahagiakan mu hingga tua nanti," begitu ujarnya.


Deo sangat bahagia. Tapi, berita menggembirakan itu tidak di rasakan oleh Mira sang mantan istri dan kakak ipar Kia.


Entah berapa kali, Mira menelpon pria yang pernah menikahinya karena kecelakaan.


Ya, Deo menikahi Mira karena wanita itu hamil diluar nikah. Deo yang menjadi tersangka utama, karena pria itu tadinya adalah kekasih dari Mira.


Deo yang terbilang masih muda, memang melakukan hubungan terlarang dengan Mira sebelum menikah dan mengakibatkan wanita itu hamil.


Sebagai seorang pria. Deo harus bertanggung jawab atas perbuatannya.


Ketika bayi mereka lahir, Mira menginginkan perpisahan karena Deo waktu itu belum bekerja.


Setelah resmi berpisah. Mira menikah lagi, padahal ia belum habis masa iddahnya.


Kini Sabrina sudah berusia 3 tahun sedang putranya dari suami yang sekarang baru berusia satu setengah tahun.


Ada saja yang Mira lakukan untuk mengganggu ketenangan mantan suaminya ini.


Memang Deo masih memberikan uang untuk membiayai Sabrina, putrinya. Tapi, Mira selalu minta uang lebih, dengan Sabrina yang menjadi alasannya.


"Mas, Sabrina agak demam. Aku mau bawa dia ke bidan!" ujarnya saat itu.


Untuk awal-awal, Deo tidak mempermasalahkan hal itu. Tapi, lambat laun pria itu makin merasa ia dirong-rong oleh mantan istrinya tersebut.


Hingga saat ini, ketika Mira meminta uang lebih dengan alasan sama. Deo mendatangi kediaman Mira.


"Assalamualaikum!" salamnya setelah mengetuk pintu.


Agung, suami Mira keluar.


"Eh ... Deo, wa'alaikum salam! Mari masuk!" ujarnya sambil membalas salam dan mempersilahkan masuk.


"Tidak usah, aku datang ke sini untuk membawa Sabrina ke klinik," tolak Deo halus.


"Loh ... Sabrina sakit? Tapi, kulihat dia baik-baik saja, baru saja aku bermain-main dengannya!"


Mendengar penjelasan Agung, membuat Deo geram. Pria itu langsung memberikan chat yang berisikan permintaan Mira untuk Sabrina.


Agung terdiam. Wajahnya berubah dingin dan sedikit tidak menyenangkan.


"Aku rasa, kau tak perlu lagi memberi uang untuk keperluan Sabrina pada istriku," pinta Agung datar.

__ADS_1


"Buat rekening baru untuk Sabrina, isi rekening itu setiap bulannya. Aku percaya padamu, kau tidak akan menelantarkan putri mu, seperti kau mempercayai ku!" jelasnya lagi.


Deo akhirnya mengangguk. Agung adalah pria baik yang Deo kenal, walau mereka tidak terlalu akrab.


"Baiklah. Apa boleh aku bertemu dengan putriku?" Agung mengangguk.


Mira tengah pergi entah kemana. Agung kedalam rumah dan kembali keluar sambil menggendong Sabrina.


"Ayah!' panggil gadis kecil bertubuh gempal itu.


"Sayang!" Deo merentangkan tangannya.


Gadis kecil itu berlari dengan lucunya. Rambutnya yang keriting dikuncir dua. Matanya bulat dan pipinya yang gembil memerah menggemaskan.


Deo menciumi putrinya hingga terdengar suara lengkingan tawa, dari mulut mungil itu.


"Ayah mau adak Blina dalan-dalan?" (ayah mau ajak Brina jalan-jalan?).


"Iya, Ayah mau ajak Brina jalan-jalan!" ujar Deo mengiyakan.


"Aku ajak Brina dulu," ujar Deo meminta ijin yang tentu saja diberi ijin oleh Agung.


Hari itu, Deo menghabiskan waktu dengan Sabrina, putrinya.


Sedang di tempat lain. Kia sedang berbicara dengan Bondan, sang kakak.


Lina, istri Bondan yang mendengar percakapan suami dan adik iparnya, tiba-tiba menyela.


"Apa nggak salah pilihanmu itu!"


Kia hanya memutar mata malas. Bondan hanya diam.


"Bukannya Abang tidak setuju. Tapi, benar apa kata kakak ipar mu," ujar Bondan kemudian setuju akan perkataan istrinya.


"Aku tidak peduli, Bang!' ujar Kia mantap.


Bondan hanya menghela napas. Jujur, Kia memang sedikit keras kepala. Pria itu juga tidak begitu dekat dengan adik perempuannya itu.


Lina sedikit keberatan jika, Kia menikah. Wanita itu masih menginginkan Kia memberikan uang padanya, walau tidak sebanyak ketika Kia masih numpang di rumahnya.


"Abang terserah padamu saja. Maaf jika selama ini, Abang tidak bisa menjagamu dengan baik. Tapi, jika terjadi apa-apa denganmu, Abang tidak akan diam begitu saja!" tegas Bondan.


Kia hanya menghela napas panjang. Hubungan sedarah dengan Bondan, tidak semerta-merta gadis itu menjadi prioritas pria itu.


Terlebih ketika Bondan memutuskan menikah muda. Kia yang memang sedari awal sudah terbiasa mandiri, tidak ambil pusing.


"Tapi, laki-laki itu duda, Mas! Masa iya, kamu mau ngasih adikmu sama duda sih!' sela Lina tiba-tiba.

__ADS_1


Wanita itu masih berusaha agar Bondan tidak menyetujui pernikahan Kia.


"Sudahlah. Aku tidak masalah! Biar ada yang menjaga dan bertanggung jawab pada adikku! Selama ini, aku nyaris mengabaikannya!" ujar Bondan memberi keputusan.


Lina bungkam setelah suaminya memberi keputusan.


"Aku percaya, pilihan adikku adalah yang terbaik untuknya! lanjut pria itu.


Kia hanya tersenyum miring, sedang Lina memberengut kesal.


"Kapan, mereka akan meminang mu?" tanya Bondan kemudian.


"Tiga hari lagi, Bang!" jawab Kia.


"Apa tiga hari lagi!" teriak Lina panik. "Kita belum bersiap-siap ...."


"Tidak perlu repot-repot. Aku memakai jasa catering untuk semuanya. Sedangkan busana, kita bisa pakai seadanya!" ujar Kia langsung memotong kepanikan Lina.


Bondan hanya mengangguk setuju. Kemudian ia merogoh kantung belakang celananya, mengambil dompet.


Bondan memberikan sebuah kartu sakti.


"Ini ambillah untuk keperluan pernikahan mu!" titah Bondan.


Kia tertegun, sebenarnya ia tak berharap kakak laki-laki nya itu memberi uang.


"Jangan kau pikir aku lepas tangan untuk pernikahan mu, ini tidak banyak dan memang sudah kusiapkan untuk pernikahan mu!' jelas Bondan.


Lina melirik kartu sakti itu. Sebenarnya ia keberatan jika sang suami memberi uang kepada adik iparnya itu.


"Tapi Bang!" Kia berusaha untuk menolak.


Bondan langsung menggenggam kan kartu itu ke telapak tangan Kia.


"Ambil kataku! Dan jangan kau berikan pada siapa pun!" titah tegas Bondan sambil melirik tajam pada sang istri.


Kia akhirnya menerima kartu itu.


"Terima kasih, Bang," ucapnya lirih lalu memeluk Bondan.


Bondan membalas pelukan sang adik. Ada sedikit isak di antara keduanya.


"Besok kita nyekar ya," ajak Bondan sambil mengurai pelukan dan mengusap air mata di pipi Kia.


Kia mengangguk. Bondan mencium kening sang adik. Sudah lama ia tidak berinteraksi secara intim dengan adiknya.


Kia akhirnya pamit. Bondan duduk di kursi. Pikirannya melayang jauh.

__ADS_1


"Ayah ... Ibu ... putrimu sebentar lagi akan menikah!" ujarnya bermonolog.


Bersambung.


__ADS_2