
Setelah sampai di toko berlian. Devan langsung menggandeng Aira untuk masuk dalam toko itu.
"Coba kalian perlihatkan model cincin terbaru dan termahal!" titah Devan tegas.
Pramuniaga yang rata-rata perempuan hanya diam termangu menatap Devan. Ketampanan pria itu mampu menghipnotis kaum hawa. Bahkan ibu-ibu yang tengah memilih beberapa perhiasan juga ikut tertegun.
"HEI ... APA KALIAN BISU!" teriak Devan mengagetkan.
Semuanya tersentak. Kemudian tersadar jika mereka harus bersikap profesional.
"Maafkan kami Tuan. Ini adalah beberapa model terbaru dan mahal versi kami," jawab seorang pramuniaga gugup.
Namun netra Aira tak bergerak pada cincin bermata hitam. Devan melihat apa yang dipandang Aira.
"Keluarkan yang ini!" perintah Devan sambil menunjuk cincin yang menjadi perhatian istrinya.
Pramuniaga mengeluarkan cincin yang diinginkan Devan.
Devan langsung menyematkannya pada jari Aira.
Sangat pas dan begitu cantik.
"Apa kau suka, Sayang?" Aira langsung mengangguk senang.
Pramuniaga yang melayani tersenyum sinis. Masalahnya ia juga menginginkan cincin tersebut. Ia sudah mengumpulkan uang selama satu tahun untuk membeli cincin yang menjadi incarannya itu.
"Bagaimana jika, anda memilih cincin yang lain Tuan, seperti blue safir ini. Cincin ini lebih mahal dari cincin yang tadi," saran sang pramuniaga menawarkan barang yang lain.
Aira langsung menggeleng. Bahkan ia melihat sepasang cincin berwarna sama dengan cincin yang ia pakai.
"Sayang ... lihat itu!" ujar Aira kegirangan.
Devan melihat cincin yang ditunjuk Aira. Devan tersenyum mengagumi pilihan istrinya.
"Saya juga ambil yang itu!" titah Devan sambil menunjuk cincin yang dimaksud Aira.
"Baik Tuan, berarti yang tadi tidak jadi?" tanya pramuniaga senang.
"Kau pikir, aku tak mampu membayar semuanya?!" tiba-tiba mata Devan berubah kelam, wajahnya datar dan dingin.
Sang pramuniaga menelan ludah kasar. Semua yang ada di ruangan itu mendadak terdiam ketika merasakan aura kelam Devan.
Aira yang sadar, mengelus tangan suaminya. Tapi, tindakan Aira tidak berpengaruh sama sekali. Aira hanya mampu bungkam.
"M-maaf T-tuan!" cicit pramuniaga ketakutan dan langsung mengeluarkan cincin yang diinginkan Devan.
Tiba-tiba manager toko keluar. Melihat sosok yang duduk dengan tampang datar dan dingin, langsung buru-buru keluar.
__ADS_1
Pria berkepala plontos mengenakan baju jas formal itu mendatangi Devan.
"Selamat siang Tuan, ada yang bisa kami bantu?" tanyanya gugup.
"Aku jadi malas membeli di toko ini. Ayo sayang kita cari di toko lain di mana orang-orang waras yang bekerja di sana!" ajak Devan.
"Sayang ...," Aira menahan Devan.
Devan menatap tajam Aira. Tapi, dengan penuh kelembutan dan senyum juga tatapan penuh pemujaan membuat Devan luluh.
"Berterima kasihlah pada istriku. Jika tidak, mungkin kalian besok akan tidur di jalanan!" ujar Devan penuh peringatan.
Manager toko hendak membungkus cincin yang hendak dibeli. Tapi, Devan langsung mengenakannya pada Aira.
Aira juga memasangkan cincin bermata sama untuk Devan.
Devan tersenyum, lalu ia mencium kening Aira. Tentu saja hal itu membuat wanita itu merona malu.
Setelah membayar, sepasang suami istri itu meninggalkan toko.
Manager toko langsung bernapas lega. Ia menatap tajam pada pramuniaga yang melayani Devan tadi.
"Beruntung sekali kau hari ini. Jika sekali lagi kau meremehkan pelanggan ku. Aku tak segan-segan memecatmu dan tidak ada satu toko pun yang akan memperkejakan dirimu!" ujar manager penuh ancaman.
Pramuniaga yang cantik itu hanya tertunduk dan meminta maaf.
******
Malam telah tiba. Jaka telah menyelesaikan tugas dan memberikan laporannya pada Devan-bossnya.
Teringat ia dengan mendiang kedua orang tuanya. Jaka Prass adalah yatim-piatu dan seorang anak tunggal.
Dibekali otak cerdas, ia juga memiliki beberapa keahlian. Tubuhnya tegap dan atletis karena sering dibentuk.
Berkali-kali ia menghela napas. Sungguh hatinya diliputi rasa gelisah dan gamang.
Sebenarnya ia menyukai sahabat dari istri Bossnya, Tiana. Gadis itu sering wira-wiri dipikirannya.
Jaka merasakan getaran aneh di dadanya saat melihat aksi gadis itu ketika melawan penjahat, ketika pembukaan rumah sakit.
Wajah cantik Tiana mengusik ingatannya. Bahkan ekspresi takut, gadis itu menjadi hiburannya saat ia melamun.
Namun semua rasa itu tiba-tiba menjadi hambar, ketika sosok gadis dengan berani mengungkapkan perasaannya.
Jak bangkit dari ranjangnya. Kamar dengan nuansa abu-abu itu begitu maskulin.
Pria itu menarik laci dan mengambil amplop berwarna biru langit.
Sepucuk surat yang wangi bunga mawar. Menyeruak dalam penciuman Jak.
Jak kembali membaca isi surat itu.
Assalamualaikum Bang Jak.
Maafkan aku jika terlalu lancang. Tapi, aku tidak bisa menahan ap yang telah kurasakan sejak lama.
__ADS_1
Bang ... mungkin dalam pikiran mu aku hanyalah anak perempuan cilik yang dulu selalu mengganggumu.
Namun, Bang. Sejak itulah aku jatuh cinta padamu.
Kau lah cinta pertama ku setelah Papa dan Bang Devan. Kau lah cinta sebenar-benarnya cinta.
Tadinya kupikir rasa cinta ini hanya sementara karena usiaku masih belia.
Namun, itu salah. Bahkan aku sengaja memilih study ke luar negeri hanya untuk memastikan rasaku.
Ternyata aku benar-benar jatuh cinta padamu, Bang Jak.
Bang ... aku tahu, aku hanyalah wanita. Wanita tak seharusnya menyatakan duluan perasaannya.
Tapi, aku bercermin dari kisah Sayidah Khadijah ra. Beliau menyatakan perasaannya pada Rasulullah Salallah Alaihi Wassalam terlebih dahulu.
Memang aku bukan wanita semulia beliau, dan aku juga tahu kau bukan pria sehebat Rasulullah.
Aku hanya wanita akhir jaman yang penuh dengan dosa dan khilaf.
Untuk itu, aku ungkapkan perasaan ku padamu segera.
Maaf jika ini memberatkan mu, aku tahu jika kau mencintai wanita lain.
Tapi, aku tidak bisa menahan semuanya, lebih baik aku ungkapkan, agar aku tak mati penasaran.
Apapun jawabanmu, aku tunggu, Bang!
Aku siap bahagia dan terluka secara bersamaan. Bukankah efek samping dari cinta adalah dua hal itu?
Aku tunggu jawaban mu.
~RB~
Jak meletakkan lembaran kertas itu di dada. Menekan dengan kedua telapak tangannya.
Jak merasakan debaran yang berbeda. Bahkan lebih kuat dari ketika ia membayangkan Tiana.
Segera pria itu menggeleng.
"Apa mungkin kita bersatu. Perbedaan kita bagaikan langit dan bumi, aku tak mampu menggapai mu!" ujar Jak bermonolog seorang diri.
Jak menetapkan hati, ia telah memilih.
"Bismillahirrahmanirrahim. Semoga pilihanku ini tepat," ujarnya lagi-lagi bermonolog.
BERSAMBUNG.
kira-kira siapa ya yang jadi pilihan Jak?
next?
boleh dong vote,.like and komennya.
makasih
__ADS_1