
Masalah kecelakaan kerja telah diselesaikan dengan baik oleh Jak.
Jak sebenarnya ingin sekali bertemu dengan Tiana. Tapi, ternyata dewa keberuntungan tidak berpihak. Ia tidak menemukan Tiana di mana pun ketika di rumah sakit.
Dengan langkah gontai. Pria itu kembali. Ketika ia berjalan, ia melihat Reena tengah berlari dengan menutup hidungnya.
Jak melihat dengan jelas jika hidung Reena meneteskan darah.
'Nona Reena mimisan?!' gumamnya dalam hati.
Bergegas ia langsung menelpon Devan, atasannya.
"Halo Tuan, saya melihat Nona Reena ke rumah sakit dalam keadaan mimisan!" lapornya ketika Devan menerima telepon darinya.
".....!"
"Baik, Tuan akan saya lakukan!' ujar Jak kemudian memutus sambungan teleponnya.
Baru saja ia hendak menyusul Tiana, Jak melihat sekretaris Reena juga masuk dalam keadaan menangis. Jak menghampiri Kia.
"Nona Kia!" panggilnya.
Kia menoleh sambil menghapus air mata dan ingusnya. Jak bergidik jijik.
"Tuan Jak ... Nona Reena ... huuu ... uuu!"
"Tenangkan dirimu, ceritakan apa yang terjadi?" ucap Jak menenangkan Kia.
Kia menjelaskan apa yang terjadi.
(Flashback on)
Reena yang tengah mengecek pembangunan sebuah super mall di tengah kota, tiba-tiba dihadang oleh beberapa preman.
Kia yang tidak bisa bela diri, harus dilindungi oleh Reena.
Tentu saja tenaga wanita tidak sama dengan tenaga beberapa pria yang mengeroyoknya.
Kia berteriak meminta tolong. Beberapa sekuriti datang untuk menolong. Tapi, para preman itu langsung lari setelah memberi pukulan pada wajah Reena.
Reena yang mendapat pukulan terjatuh dan mimisan.
(flashback end)
Mendengar cerita Kia. Jak langsung geram. Tanpa diperintah oleh siapapun, ia langsung menelpon beberapa orang.
"Ayo kita susul Nona!" titah Jak.
Mereka langsung pergi ke UGD, karena yakin jika Reena berada di sana.
Jak melihat Reena tengah dibaringkan di brangkar. Bajunya penuh dengan tetesan darah.
Wajah Reena juga memar di beberapa tempat. Gadis itu meringis ketika melihat Jak.
"Bang ...!" panggilnya.
Betapa Jak memerah menahan amarah, melihat Nona mudanya seperti itu.
Tangan pria itu terkepal keras hingga buku-bukunya memutih. Rahangnya juga mengeras hingga bunyi gemelutuk karena gigi yang beradu.
Beberapa menit kemudian Devan dan Ken datang. Betapa Devan sangat murka melihat adik keadaan kesayangannya seperti itu.
Aura membunuh langsung tercipta saat itu juga.
"Jak!"
"Ini Tuan," Jak langsung memberikan ponselnya.
__ADS_1
Di sana terlihat rekaman CCTV yang menjelaskan kejadian.
"Perbesar wajah pelakunya. Ken, seret mereka ke markasmu di dunia hitam. Kita akan memotong-motong tangan orang-orang itu!" ujarnya datar.
"Kakak ... jangan lakukan itu, Ree mohon," ujar Reena memohon dengan suara takut.
"Tidak, Sayang. Kau tenanglah," ujar Devan menghampiri Reena.
Sungguh ia menahan segala emosionalnya ketika melihat wajah adiknya yang babak belur.
Devan mengecup kening adiknya. Reena tiba-tiba tertidur dengan tenang. Ternyata obat pereda rasa sakit sudah bekerja.
"Siapa namamu!" tanya Ken pada wanita yang terpaku ketakutan karena aura yang dikeluarkan Devan.
"K-kia," cicit Kia menjawab pertanyaan Ken.
"Kau tunggu Reena hingga sadar!' titah Ken datar.
Kia mengangguk dengan tubuh gemetaran. Ken memindai gadis yang tengah ketakutan itu. Pria itu mengenali baju yang dikenakan Kia.
Ken menghembuskan napasnya.
"Kak ... Kita pergi sekarang?!" tanya Ken datar.
Devan tak menjawab. Setelah memastikan adiknya baik-baik saja. Baru ia memerintahkan Jak dan Ken untuk pergi dari sana.
Tak lama kemudian Rehan datang dengan wajah paniknya. Ketika sampai ruang rawat inap. Ia mendapati Reena dengan kondisi yang mengenaskan.
Kia menjelaskan apa yang terjadi. Rehan langsung menyuruh pulang Kia.
Setelah Kia pulang. Rehan merebahkan dirinya di sisi Reena. Reena terbangun.
"Papa!" panggilnya dengan suara lemah.
"Sstt ... sudah, tidurlah. Papa ada di sini Sayang," ujar Rehan menenangkan.
( Oh ya, hijab Reena sudah terlepas ya, dan kini mengenakan baju rumah sakit).
Pria parubaya itu mengeratkan pelukannya. Reena pun makin masuk ke dalam pelukan hangat sang papa.
Air mata Rehan perlahan menetes. Hatinya hancur melihat wajah Reena yang babak belur.
Ia begitu terkejut ketika mendapat laporan dari kepala proyek yang tengah membangun super mall di tengah kota, bahwa putrinya diserang oleh beberapa preman.
Memang kedua putrinya dibekali ilmu bela diri. Semuanya karena Devan yang menyarankan demikian. Agar tidak ada yang berani melecehkan adik-adiknya, begitu penjelasan Devan.
Rehan belum memberi tahu istrinya. Mungkin, jika diberitahu, Linda bisa pingsan.
Sedangkan di tempat lain. Dua preman yang mengeroyok Reena telah tertangkap.
Mereka diseret menggunakan motor dengan tangan dirantai.
Sean yang baru saja selesai rapat dengan para petinggi klan mafia, sangat terkejut akan hal itu.
Pria itu mendatangi Devan, Ken dan Jak. Sean bertanya perihal kejadian sebenarnya.
Jak menceritakan sedetil mungkin. Sean ikut-ikutan marah bukan main.
"Aku yakin, dua preman itu disuruh seseorang," ujar Sean.
"Aku belum bergerak sampai sana. Yang aku pikirkan hanyalah dua Bangs*t ini yang memukuli adikku!" sungut Devan dengan mata memerah marah.
"Jangan khawatir, akan kuseret semua cecunguk dan kepalanya atau siapapun yang terlibat, tanpa ampun!' ujar Sean dingin.
Terdengar teriakan minta ampun dari mulut kedua preman itu.
Ken mengangkat tangannya, bertanda anak buah untuk menghentikan siksaan.
__ADS_1
Ken berjalan. Tangannya mengambil belati dari salah seorang anak buahnya.
Ken berjalan menghampiri. Pria itu menoreh belati pada wajah preman yang sudah babak belur.
"Katakan. Siapa yang menyuruh kalian?" tanyanya sambil sedikit menekan ujung belati pada wajah salah satu preman.
Darah seketika mengucur segaris luka yang ditorehkan Ken pada wajah preman tersebut.
"Bang Borek ...," cicit preman dengan lemah.
Netra Ken langsung bereaksi. Bibirnya tersungging senyum miring.
"Seret Borek bersama antek-anteknya!" titah Ken dengan suara datar.
Sean terkejut dengan nama yang baru saja di dengannya. Ia sangat yakin akan banyak yang terseret jika nama Borek terlibat.
Wajah Sean sangat gembira. Hal itu dilihat dari pandangan Devan.
"Ada apa Pa?!" tanya Devan dengan ekspresi datar.
"Kau akan bahagia karena tangkapan kita besar, Nak!" ujar Sean dengan wajah sinis.
"Maksud Papa?" tanya Devan sedikit tidak mengerti.
"Kau akan lihat nanti, Nak!" jawab Sean masih dengan wajah sinis.
Devan mengendikkan bahunya. Tatapannya datar melihat adik sepupunya tengah asik menyiksa kedua preman yang yang tadi mengeroyok adik perempuannya.
Sementara itu di rumah sakit, Linda ditemani oleh Aira dan Safeera.
Rendra datang menyambut mereka. Pria itu juga sangat shock ketika melihat kondisi kakak iparnya tersebut.
Pria tampan yang mengenakan jas snellinya, itu nampak menenangkan mama mertuanya.
"Mama tenang ya."
Linda hanya berjalan tanpa nyawa. Pikirannya kosong. Sungguh ia tak tahu harus bagaimana.
Ketika sampai kamar, begitu ia melihat wajah putrinya. Linda langsung histeris.
Wanita parubaya itu langsung tak sadarkan diri. Rendra langsung memberikan penanganan.
Ketika sadar, ia langsung meneriakkan nama putrinya.
"Aku ingin bersama putriku!" teriaknya.
Akhirnya Linda digendong Rendra dan dibawa ke brangkar di mana Reena tengah berbaring.
Rehan langsung bangkit dari rebahannya, memberikan tempatnya pada Linda.
Linda langsung memeluk dan mencium hati-hati wajah Reena yang babak belur.
Aira menangis ketika melihat wajah adik iparnya. Saf menenangkan Aira.
"Tenanglah Kak. Hentikan tangismu, kasihan jabang bayinya," ujar Saf.
Mendengar hal itu, Aira berusaha menenangkan diri. Lambat laun dirinya pun tenang walau kesedihan tak lepas dari wajah ayunya.
"Mas Devan dan yang lain mana?" tanya Aira kemudian.
"Oh ... mereka? Mereka bertiga tengah mengurusi kejadian ini," jawab Rehan datar.
"Apa Papa nggak lapor polisi, Pa, biar pelakunya cepat diadili?" tanya Rendra kali ini.
"Sudah. Tenanglah, itu sudah menjadi urusan Devan dan Ken," jawab Rehan menenangkan semuanya.
Rehan mengajak Aira dan Saf untuk pulang. Rendra menyuruh Saf, istrinya untuk menemani Aira di mansion orang tuanya.
__ADS_1
Aira mengecup pucuk kepala Reena, begitu juga Saf. Akhirnya mereka pulang bersama dengan Rehan dan membiarkan Linda menemani Reena yang masih tertidur akibat obat bius.
bersambung.